Time frame, Faktor Penting Bagi Investor Saham

Time frame itu penting bagi seorang investor saham. Investor ya, mungkin tidak bisa diaplikasikan jika kita seorang trader.

Jadi post ini dibuat setelah mendengar insight dari Ko Chris Angkasa, seorang value investor. Buat yang mau follow, beliau ada channel Youtube dan Instagram (tinggal klik link).

Berawal dari pertanyaan tentang nabung di index fund atau ETF, maka dijelaskanlah mengenai faktor time frame seorang investor.

Buat yang mau tahu apa itu index fund atau ETF, bisa cek post mengenai Perbedaan Reksa Dana, Reksa Dana Indeks dan ETF.

Ada 2 point penting yang didapat mengenai faktor time frame. Apa saja?

1. Time frame yang panjang mengurangi risiko loss

Pertama langsung dikasih grafik.

return investasi saham berdasarkan time frame

Ini adalah grafik total return maksimal hingga minimum dari studi kasus dengan IHSG (Indeks) sebagai contoh dalam periode 1990-2018.

Penjelasannya adalah:

  1. Bar paling kiri adalah total return min hingga max jika kita hold IHSG selama 1 tahun (awal hingga akhir tahun). Kita bisa untung hingga 115%, tapi di saat yang sama juga bisa rugi hingga -51%. Risky? Yes.
  2. Semakin ke kanan, berarti semakin lama kita time frame kita. Hingga yang paling kanan (jika kita hold saham hingga 10 tahun), maka itu membuang potensi rugi kita. Walaupun di saat yang sama potensi keuntungan juga berkurang hingga 26%.

Mau pilih untuk mempertaruhkan dana kita untuk mendapat profit 115% tapi bisa juga hilang 51%, atau profit 26% dengan risk 0% di periode yang lebih panjang. Setiap investor pasti punya pendapat masing-masing.

Itu pakai data historis. Jadi kalau di masa depan berbeda, bisa saja. Tapi biasanya tidak akan jauh-jauh dari masa lalu, kecuali ada kejadian atau perubahan besar yang signifikan.

2. Nabung berkala (DCA)

Untuk penjelasan mengenai Dollar-Cost Averaging (DCA), bisa klik di sini.

Nah kalau holding period membuang risiko rugi, maka pakai 1 langkah lagi untuk menghasilkan profit, nabung berkala.

Dengan periode yang sama, 1990-2019, jika kita menabung saham 1 juta/tahun. Setiap tahun cicil menabung saham naik 10%.

Misalkan,

  • tahun 1990, nabung Rp 1 juta/tahun.
  • tahun 1991, nabung Rp 1,1 juta/tahun.
  • tahun 1992, nabung Rp 1.210.000/tahun.
  • dst hingga 2019 (29 tahun).

Dari modal sekitar Rp 164.494.023 bisa menjadi Rp 627.811.393 (setara 12%/tahun).

12%/tahun adalah return yang cukup untuk melawan inflasi plus bisa mengembangkan kekayaan yang ada.

Kesimpulan

Menjadi investor saham itu ternyata tidak sulit. Asal bisa menahan ketakutan dan keserakahan, maka return 12%/tahun bukan hal yang muluk-muluk karena sudah dibuktikan dari 1990-2019.

Cukup dengan 2 hal yang sudah dijabarkan:

  1. Time frame yang panjang
  2. Nabung berkala

Kalau mau lebih dari 12% jelas bisa, tapi ya harus belajar.

Sekian. Saya buat post ini supaya yang lain juga bisa mendapat pemahaman yang baru. Jangan saya simpan sendiri.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply