Tag Archives: Saham

Review Saham: SMDR (Samudera Indonesia) Q2 2021

Saham yang kali ini akan dibahas berasal dari sektor transportasi laut (pelayaran), salah satunya adalah saham SMDR, PT Samudera Indonesia. Tertarik banget sama sektor ini karena harga container yang terus melambung bisa jadi peluang untuk perusahaan pelayaran.

Disclaimer : Posting ini sebagai journal penulis. Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Latar belakang saham SMDR

PT Samudera Indonesia didirikan oleh Soedarpo Sastroatomo tahun 1964. Perjalanan panjang hingga 1999, perusahaan akhirnya listing di BEI. Hingga 2021, perusahaan masih dikelola oleh generasi kedua dan ketiga keluarga Sastroatomo dengan memegang jabatan direktur dan komisaris.

Untuk daftar pemegang saham SMDR adalah sebagai berikut:

PT Samudera Indonesia Tangguh58%
PT Ngrumat Bundo Utomo14%
Publik28%
Total100%

Perusahaan sudah beroperasi, bukan hanya di Indonesia, melainkan hingga mancanegara, antara lain: UAE, Pakistan, India, Sri Lanka, China, Hongkong dan Asia Tenggara.

Business lines perusahaan juga sudah terintegrasi dari shipping, ports, logistics, properti hingga service. Jaringan sistem yang terintegrasi inilah yang menjadi moat perusahaan dari para pesaingnya. Dapat menjangkau ke mancanegara hingga memiliki banyak produk yang ditawarkan untuk klien secara menyeluruh.

Shipping rates terus meningkat

Akhir tahun 2020 hingga pertengahan 2021, harga shipping rates terus meningkat. Alasannya karena ketidakseimbangan pengiriman. Container yang dikirim keluar dari 1 negara (China salah satunya), tidak ada jalur pengiriman kembali ke negara asal, sehingga supply container terganggu.

Harga container 40feet dari $2,000-2,500 (sebelum pandemi), menjadi $10,000-12,500 (pertengahan tahun 2021). Hingga saat ini belum ada tanda penurunan.

Shipment by air (udara) juga masih lebih mahal sehingga tidak bisa menjadi substitusi pengiriman laut. Untuk container 40ft setara 26,000kg @ $7-$10/kg.

Karena harga shipping ini menjadi sumber pendapatan perusahaan pelayaran seperti SMDR, maka hal ini bisa menjadi potensi kenaikan pendapatan perusahaan.

Pendapatan

revenue SMDR
Sumber : Stockbit

Kalau melihat history, pendapatan perusahaan tidaklah impresif, konsisten menurun sejak tahun 2012. Hingga Q2 2021, perusahaan telah membukukan pendapatan sebesar $274juta (Jika disetahunkan menjadi $528juta. Bukan all time high revenue, tapi jelas akan lebih baik dari tahun 2020.

Sementara dari sisi net income, perusahaan biasanya membukukan margin 1%-3% kecuali tahun 2019-2020 yang justru merugi dikarenakan impairment dan loss on disposal asset.

Namun melihat ke Q2 2021, untuk sementara Net Income Margin yang dibukukan adalah 9%. Memang tahun yang spesial untuk SMDR.

Jika tetap mengambil margin 9%, maka estimasi net income untuk 2021 adalah sebesar $47juta alias PE 3x.

Valuasi saham SMDR

Untuk PE 3x adalah murah dibandingkan history tahun-tahun sebelumnya sebesar 6-10x. Untuk mencapai PE 6x saja sudah menjadi 100% dari harga saat ini di Rp 705 (08/10/2021). Tapi akankah sejauh itu? I don’t think so juga sih, karena net income 2 tahun terakhir juga merugi. Sulit menggunakan PE untuk valuasi.

valuasi saham SMDR

Melihat P/S harga sahamnya sudah lebih mahal dari yang rata-ratanya. Market telah mengapresiasi harga sahamnya lebih cepat sebelum peningkatan kinerjanya dibukukan.

Harga saham sudah naik 159% (sejak 1 tahun lalu), sementara revenue baru naik 12%.

Saya coba menggunakan Price/Operating Income setiap tahunnya dengan average 3x. Sementara untuk saat ini, sudah mencapai 4x.

Struktur modal SMDR

Dari sisi balance sheet, SMDR termasuk yang cukup sehat (bukan yang wah) bagi saya. Meskipun liabilitas > ekuitas, memang bukan tipe favorit tapi setelah dijabarkan mayoritas liabilitas adalah utang usaha yang menunjang operasional. Selama operasional berjalan lancar, utang usaha tersebut akan terus terbayar dan berulang lagi.

Sementara untuk debt nya sebesar 35% dari ekuitas yang saya anggap masih reasonable.

Untuk assetnya terdiri dari $147juta cash (23% asset), $113juta piutang (18% asset), dan $278juta aset tetap dan hak guna (45% asset). Usaha pelayaran memang tidak memerlukan banyak inventory, karena tidak ada yang dijual.

Penutup

Bagi saya, saham SMDR punya potensi untuk mendapat profit tinggi tahun ini atau bisa sampai tahun 2022. Namun harga yang sudah naik membatalkan saya untuk tertarik.

Yes, saya terlambat menemukan perusahaan ini sehingga melewatkan kesempatan yang ada. Jika ada yang tertarik, saya pikir harganya bisa tetap naik, namun tidak bisa terlalu tinggi. Sekitar Rp 750-800 adalah perkiraan saya (yang mungkin juga bisa salah).

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : review saham undervalued lainnya, DPNS atau ICBP.

Investasi Saham Vs P2P Lending

Kalau bingung dalam memilih investasi saham atau P2P lending, post ini mau bahas pertimbangan sebelum memilihnya.

Bagi yang belum mengerti dengan saham maupun P2P lending, bisa cek dulu link di bawah:

Nah karena memiliki karakter yang berbeda, maka pilihlah instrumen yang cocok dengan diri kita sendiri.

1. Investasi Saham

Investasi saham itu tipenya investasi berdasarkan kepemilikan (OWNership investment). Jadi dengan memiliki saham sama artinya dengan kita memiliki bisnis/perusahaan di balik lembaran saham tersebut.

Kelebihan saham

A. Potensi return yang besar

Kalau kita bisa memilih saham yang benar, maka tidak menutup kemungkinan berpotensi memberikan return yang sangat besar sampai dengan tidak terbatas. Artinya, return kita bisa mencapai ratusan persen bukanlah hal yang mustahil.

B. Akses yang mudah

Cara buka rekening saham? Mudah, online pun sekarang bisa.

Cek pergerakan harga saham? Banyak aplikasi yang bisa mengakomodir.

Ingin tahu laporan dan informasi terbaru dari perusahaan yang dimiliki? Mudah.

Jaman sekarang, investasi saham menjadi mudah untuk dilakukan. Berbeda dengan jaman 80-an, 90-an dimana informasi dan akses masih minim.

C. Pajak rendah

Yang dibahas saat ini khusus investasi saham di Indonesia saja ya. Berapa pajak untuk penghasilan dari saham?

Selama kita memiliki saham tersebut (tidak jual-jual), maka kenaikan return kita bukan objek pajak. Selama belum dijual, tidak dikenakan pajak walaupun naik banyak.

Maka saat jual saham, pajak yang dikenakan adalah 0.10% dari transaksi jual (final).

Kalau di saat memiliki saham, kita mendapat dividen. Maka pajaknya adalah 10% dari dividen tersebut (final).

Pembayaran pajak dari saham pun tidak sulit. Sudah otomatis dipotong dari sistem sebelum kita menerima penghasilannya. Sisanya, hanya perlu dilaporkan 1x/tahun saat SPT Tahunan.

D. Likuid

Instrumen saham termasuk yang likuid untuk dicairkan. Kita bisa jual saham kita kapanpun selama bursa saham buka (Senin-Jumat). Bahkan diperbolehkan kalau mau beli dan jual saham di 1 hari yang sama. Itu terserah keputusan kita.

Tapi uang hasil penjualan baru bisa ditarik H+2 dari transaksi ya, menunggu segala administrasi selesai.

Kekurangan saham

A. Potensi rugi juga besar

Kalau potensi keuntungan dari saham bisa mencapai tak terbatas, maka potensi kerugian dari saham bisa mencapai 100% JIKA salah memilih saham.

Makanya, untuk terjun ke saham setidaknya kita perlu belajar lebih dahulu cara memilih saham. Karena transaksi atas keputusan diri sendiri, maka kita yang bertanggung jawab atas kerugian yang bisa timbul. Tidak bisa menyalahkan orang lain yang memberikan rekomendasi. Be wise, jangan beli karena ikut-ikutan saja.

B. Capek mental

Kalau baru terjun di saham, rasanya sangat excited. Selama bursa saham dibuka, selalu diikuti pergerakan harga sahamnya. Tapi justru itu yang tidak aman untuk pemula karena harga sangat berfluktuatif.

Istilahnya FOMO (Fear of missing out).

Harga naik sedikit takut ketinggalan untuk beli.

Harga turun sedikit takut ketinggalan untuk jual.

Ga tenang deh, malah jadi capek mental kan.

Nah, ini beberapa kelebihan dan kekurangan investasi saham. Bagaimana dengan P2P lending?

2. Investasi P2P Lending

Kelebihan P2P Lending

Berbeda dengan saham, investasi P2P lending sifatnya LOANership investment. Investasi karena meminjamkan, bukan memiliki.

A. Mudah dan simple

Sama dengan saham, P2P lending juga memberikan kemudahan dalam registrasi di aplikasi manapun. Dan sekarang semuanya dilakukan dengan online dan cepat. Cukup waktu 1-2 jam, kita sudah bisa bertransaksi di aplikasi P2P lending yang diinginkan.

Sistem P2P lending juga simple. Meminjamkan uang lalu akan dikembalikan pokok dan bunganya. Tidak perlu proses pembelajaran yang rumit dan mendalam soal itu. Asal memiliki modal dan memilih platform P2P yang benar.

B. Return pasti dan tinggi

Tipikal loanership investment adalah return dan periode pinjaman sudah ditentukan di muka. Tinggal keputusan di pihak kita untuk take or leave the deal. Kita akan terima bunga tersebut saat jatuh tempo pinjaman selesai.

Untuk tingkat return, biasanya lebih tinggi dari pada deposito. Karena deposito relatif lebih aman, dijamin oleh LPS.

Sementara P2P lending, karena tidak dijamin maka harus menawarkan return lebih tinggi supaya menarik. Kisaran 8%-20%/tahun.

C. Alternatif income

Biasanya P2P lending menawarkan tenor pendek, kisaran mingguan-bulanan. Sepertinya belum pernah ketemu yang sampai 1 tahun. Jadi, bunga P2P lending bisa jadi income tambahan untuk kita. Passive income bisa bertambah 1 jenis.

Kekurangan P2P Lending

A. Potensi risiko juga tinggi

Seperti yang sudah di mention di atas, P2P lending tidak dijamin sehingga lebih berisiko. Jika terjadi gagal bayar, bukan hanya bunga yang hilang, namun modal/pokok juga bisa hilang. Maka potensi rugi juga bisa mencapai 100%.

Namun jaman sekarang muncul platform P2P lending yang memberikan mitigasi risiko dengan menggunakan asuransi. Sehingga menjaga keamanan modal lender. Pintar-pintarnya kita sebagai investor dalam memilih platform.

B. Pajak lumayan tinggi

Dalam hal pajak, P2P lending menggunakan sistem tiering PPh 21.

tarif pph 21 (saham vs p2p lending)
Sumber : klikpajak.id

Jadi semakin tinggi penghasilan setahun, maka tarif pajak untuk penghasilan P2P lending akan semakin besar juga. Kalau mau detailnya, saya pernah sharing mengenai pajak P2P lending di sini.

Jangan senang dulu kalau dibilang return P2P lending 12%. Potong dulu dengan tarif pajak kamu, baru dapat nett return. Jangan sampai return-nya lebih rendah daripada instrumen lain yang lebih aman dan mudah.

Kesimpulan Saham Vs P2P Lending

Jadi mau pilih mana?

Kalau mau belajar dan memiliki timeframe yang panjang, saham boleh jadi pilihan yang bijak.

Tapi kalau mau passive income, maka pilihlah P2P lending. Karena saham bukan untuk passive income, lebih cocok ke membangun wealth untuk masa depan.

Tidak ada 1 instrumen yang lebih baik daripada yang lainnya. Tinggal tergantung kecocokan dan kebutuhan investor saja.

Kalaupun mau dikombinasikan juga sah-sah saja. Saya pun demikian, masih berinvestasi di P2P lending maupun saham. Proporsinya tergantung diri sendiri saja karena preferensi manusia berbeda-beda.

Sekian sharing mengenai saham dan P2P lending. Semoga bermanfaat.

Review Saham: DPNS (Duta Pertiwi Nusantara) Q2 2021

Sering bahas saham-saham kapitalisasi besar, kali ini saya coba bahas saham kapitalisasi lebih kecil, yaitu DPNS (PT Duta Pertiwi Nusantara). Apa saja yang menarik?

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Kenapa saham DPNS menarik?

Sadarkah kalau membeli saham kapitalisasi besar, biasanya sudah di harga premium? Misal BBCA di PER 28x dan PBV 4x. Dengan arti, kalau beli di harga saat ini Rp 33,000 maka perlu waktu 28 tahun untuk balik modal (dalam kondisi yang sama seperti saat ini). Tentu hal itu akan lebih cepat, melihat BBCA adalah perusahaan yang luar biasa pertumbuhannya. Tapi mungkinkah harganya segera mencapai Rp 66,000 dalam waktu 3-5 tahun? I don’t think so.

Maka kita cari di emiten yang undervalue di kapitalisasi lebih kecil dan pasar tidak sedang menghargainya wajar. Hal itu memberikan potensi return lebih tinggi, demikian juga dengan risikonya. Setidaknya cari dengan MOS yang tinggi sehingga modal kita aman.

Ketemulah dengan DPNS yang berada di PER 8x dan PBV 0.44x Beda jauh ya dengan BBCA. Secara sektor memang kalah pamor. DPNS dan INCI berada di sektor yang sama dan keduanya dihargai amat murah oleh pasar. Tapi ini murah atau murahan?

Jadi bolehlah kita bahas untuk mengetahuinya.

Latar belakang DPNS

PT Duta Pertiwi Nusantara adalah perusahaan di bidang perekat kayu lapis, bahan kimia dan soon to be pertambangan batu bara. Berdiri sejak 1982 dan berdomisili di Pontianak, Kalimantan.

Pendirinya adalah Pak Siang Hadi Widjaja dan Pak Ng Tjie Koang yang saat ini masih menjabat sebagai direktur utama dan komisaris utama perusahaan.

Pemegang saham perusahaan saat ini adalah:

Pemegang Saham% Kepemilikan
PT Dutapermana Makmur (dimiliki oleh Siang Hadi W dan Ng Tjie Koang)51.18%
The NT TST CO S/A Cim Investment Fund8.62%
Siang Hadi Widjaja5.71%
Bank Julius Baer and Co. Ltd Singapore6.81%
Ng Tjie Koang0.20%
Publik27.48%
Sumber : Laporan Tahunan 2020

Pendapatan

Sumber : Stockbit

Kalau melihat tren pendapatannya, DPNS jelas bukan perusahaan yang bertumbuh. Dan itu bukan hal positif memang. Baik Penjualan maupun Net profit nya tidaklah berkembang. Tapi sebagaimanapun stagnan perusahaan ini, tidak pernah perusahaan mengalami kerugian.

Pendapatannya berkisar di 100M-140M/tahun. Sales mereka pun didominasi oleh 2 customers, yaitu PT Erna Djuliawati (78%) dan PT Sabak Indah (13%). Hal ini agak berisiko karena hanya bergantung pada sedikit customer.

Sumber: Stockbit

Thanks to their management, yang berbekal dari bidang keuangan. Ya, Pak Siang Hadi Widjaja adalah mantan direktur dari Bank Buana (sebelum diakuisisi oleh UOB). Mungkin itu sebabnya, meskipun penjualan dari operasional tidak memadai, namun perusahaan ditunjang juga dari pendapatan dari aset keuangan.

Tercatat pendapatan lain perusahaan berkisar sekitar 6M-8M/tahun, berkontribusi sekitar 5%-7%.

Sementara net income perusahaan berkisar 2M-10M/tahun (dengan tahun terburuk di 2020), net income margin 4%-10%.

Saat ini sudah jalan hingga Q2 2021, dan secara mengejutkan penjualan dan net income perusahaan mengalami kenaikan signifikan. Kita bisa lihat proyeksi DPNS untuk tahun 2021 melalui paparan public expose mereka. Pendapatan diprediksi mencapai 112M (naik 16% dari tahun 2020) sementara hingga Q2 2021 sudah mencapai 60M (naik 25% dari Q2 2020).

Net income diproyeksi menghasilkan 13M (naik 300% dari 2020 yang hanya 3M). Akankah tahun 2021 menjadi turnaround story dari DPNS?

Aset lancar perusahaan

Dari aset lancar, perusahaan memiliki 49% cash and equivalent senilai 103M (cash rich juga ya ini DPNS).

Di urutan kedua proporsi terbesar mereka bukan inventory ataupun piutang, melainkan aset keuangan mereka yang mencapai 46M (22%). Aset keuangan ini yang tadi di-mention di atas menghasilkan sekitar 6M-8M/tahun. Kalau hitungan kasar, return aset keuangan mereka sekitar 13%/tahun ya. Not bad lha.

Baru selanjutnya ada inventory (18%) dan piutang usaha (7%). Karena perusahaan masih kecil, jadi piutang mereka dirincikan hingga nama customer. Piutang mereka juga terhitung lancar. Hanya ada 1 customer yang piutangnya macet.

Kalau penjualannya stagnan, beda halnya dengan aset perusahaan. Aset mereka konsisten bertumbuh selama 8 tahun terakhir sekitar 3%/tahun.

Jadi secara likuiditas, perusahaan berada di posisi yang aman.

Properti investasi

Perusahaan memiliki properti investasi di Jakarta, berupa tanah dan bangunan di Kebon Jeruk seluas 1,159 m2 yang tercatat diperoleh dengan harga 1.7M. Saat ini kedua properti tersebut dinilai 24M dari NJOP PBB 2020 (menurut pengakuan perusahaan di LK ya).

Dan sebuah ruang perkantoran di daerah Sudirman diperoleh dengan harga 1.4M, disewakan ke anak usaha (PT Intitirta Primasakti 479 juta/tahun) atau setara return 34%.

Beban eksplorasi ditangguhkan

Kalau membaca daftar aset perusahaan, ada beban eksplorasi ditangguhkan yang proporsinya cukup besar, 114M hingga Q2 2021. Ini adalah biaya eksplorasi pertambangan batubara melalui anak usahanya, PT Intitirta Primasakti. Dengan area eksplorasi seluas 25,000 hektar di Jambi.

Perusahaan berencana untuk membentuk konsorsium dan memenangkan project pembangunan pembangkit listrik mulut tambang Jambi-2 dengan kapasitas 2x300MW.

Akankah berhasil? Tidak tahu. Setiap mulai usaha selalu ada kemungkinan berhasil, tapi juga ada risiko gagal.

Tapi jika berhasil, ini akan jadi kesempatan emas untuk perusahaan.

No debt

Meskipun hutang bukan hal buruk, namun companies that have no debt can’t go bankrupt (Peter Lynch). Jadi perusahaan dengan no debt atau debt yang kecil terlihat lebih menarik.

Perusahaan tidak memiliki beban untuk membayar bunga pinjaman setiap tahun dan terikat dengan pemberi pinjaman.

Namun bukan berarti perusahaan tidak butuh modal. Mereka justru berhutang 16M kepada direkturnya, Siang Hadi Widjaja, tanpa bunga dan tanpa tenor. Direktur menunjukkan kalau dia tidak cari uang melalui bunga pinjaman atas utang yang diberikan kepada perusahaannya sendiri.

Valuasi saham DPNS

Nah, kalau tertarik dengan perusahaan ini, saya coba memvaluasi saham DPNS.

Kalau menghitung nilai likuidasi perusahaan dengan nilai properti yang sudah di-adjust, namun tidak menghitung biaya-biaya dibayar di muka, pajak, dan beban eksplorasi yang ditangguhkan karena belum menghasilkan. Dikurangi dengan semua liabilitas. Maka secara kasar, harga per saham berada di kisaran Rp 418 – 425/lembar (MOS = 22%).

Tapi kalau menggunakan PER, nilai yang didapatkan akan semakin besar.

valuasi saham DPNS

PER rata-rata selama 5 tahun adalah 16x, sementara saat ini berada di PE 8x (harga Rp 346). Oleh karena net income Q2 2021 meningkat, maka PE menjadi kecil. Maka untuk ke PE 16x, maka MOS nya akan mencapai 100%.

Tapi akankah mencapai angka sekian? Bisa jika perusahaan menjaga konsistensi atau malah melebihi ekspektasi. Tapi kalaupun meleset, saya pikir angka likuidasinya di Rp 418 berada di bottom line nya.

Saham ini memang termasuk undervalued buat saya, tapi MOSnya masih belum cukup besar. Mungkin bisa menunggu hasil Q4 2021 apakah sesuai proyeksi atau menunggu pasar menghargai saham DPNS ini lebih rendah dari saat ini. Opsi kedua seperti lebih cepat dicapai.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : review saham undervalued lainnya, ADES, PWON atau PBID.

Review Saham: PWON (Pakuwon Jati) 2020

Kapan saham properti akan bangkit? Pasti itu yang ditanyakan banyak orang sejak pandemi dimulai Maret 2020 dan hingga kini belum menemukan jawabannya. Salah satunya dengan saham PWON (Pakuwon Jati).

Jawabannya “ga tau”.

Jadi daripada kita menanyakan kapan, lebih baik kita bahas tentang kinerja tahun 2020 saja.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Bagi yang mau penjelasan singkat mengenai latar belakang PWON, sudah pernah dibahas sebelumnya di sini.

Jadi apa yang mau kita bahas tentang PWON di sepanjang 2020?

Saham PWON labanya menurun

Itu yang paling ditakuti investor bukan? Dengar suatu emiten mengalami penurunan pendapatan bahkan labanya. Pendapatan 2020 turun 45% dari tahun 2019, menjadi 4T. Sementara labanya turun 65% menjadi 930M.

Jadi tidaklah aneh kalau harga sahamnya juga turun signifikan 20% YTD.

Okay, coba kita bahas lebih dalam. Memang betul bisnis properti, perkantoran dan mall kan memang yang terdampak parah selama pandemi. Tapi point baiknya adalah mereka masih laba lho dan bukan merugi.

Dan margin laba mereka masih double digit, yaitu 23% selama suffer begini. Fyi, rata-rata margin laba mereka di kisaran 33%-38% di tahun-tahun sebelumnya.

Jadi bisnis PWON sebenarnya adalah bisnis yang profitable dengan margin yang cukup tinggi. Selain tahun 2020, PWON juga secara konsisten meningkatkan pendapatan dan labanya.

Pengaruh ke Balance Sheet

1. Cash

Cash perusahaan berkurang 1.4T menjadi 2.8T. Dari aktivitas operasi, PWON menghasilkan 1.4T kemudian menggunakannya 1.7T untuk investasi dan 1T untuk bayar pinjaman.

Salah satu transaksi besar yang terjadi adalah perusahaan membeli Hartono Mall Yogya, Hartono Mall Solo dan Marriott Hotel Yogya senilai 1.1T di tahun 2020. Yang menurut saya adalah deal yang bagus karena harga wajar senilai 1.2T. Meskipun mengeluarkan modal besar, cash mengalami penurunan, namun likuiditas masih tetap terjaga.

Kontribusi pendapatan dari akuisisi bisnis di Yogya dan Solo (1 bulan operasi) adalah sekitar 17M. Jika disetahunkan menjadi 198M. Maka 198M/1.1T = menghasilkan return 18%pa. Ini hitungan kasar dan selama masih pandemi ya.

2. Persediaan, Properti Investasi dan Aset Tetap

Karena bisnis properti, maka klasifikasi aset mereka berbeda-beda meskipun bentuknya sama-sama bangunan.

  • Persediaan = properti untuk dijual (termasuk di dalamnya yang masih dikembangkan)
  • Properti Investasi = properti untuk disewakan (plaza, apartemen, perkantoran)
  • Aset Tetap = properti untuk operasional (termasuk hotel, peralatan, kendaraan, furniture dan lainnya)

Apapun yang terjadi tidak menghentikan perusahaan untuk melanjutkan pembangunan. Tahun 2020, PWON menyelesaikan pembangunan Kota Kasablanka tahap 2 (Jakarta) dan Tunjungan Plaza VI (Surabaya) senilai 2T. Kemudian membeli Hartono Mall Yogya, Hartono Mall Solo dan Marriott Hotel Yogya.

Itupun mereka masih mengembangkan pembangunan di Pakuwon Mall Mansion, East Coast Mansion, Grand Pakuwon dan beberapa lokasi lainnya.

Dan mereka sedang dalam proses ekspansi juga ke Bekasi Superblock dengan rencana 4 kondominium, 2 hotel dan 1 mall. Tahap 1 rencananya akan diselesaikan pada tahun 2024.

Secara umum, perusahaan memiliki portofolio di Surabaya, Jakarta, Yogyakarta dan selanjutnya Bekasi. Ini yang saya sukai, mereka tetap fokus untuk ekspansi.

Perusahaan lain mungkin ada yang menahan pembangunan di masa krisis, tapi PWON tetap menjalankan rencananya tentunya karena sudah diperhitungkan sebelumnya.

3. Liabilitas

Liabilitas perusahaan sebesar 8.8T berbanding dengan 17T ekuitas untuk menghasilkan 26T aset. Artinya liabilitas 33% dan ekuitas 67% dalam struktur modal perusahaan. Cukup aman ya.

Liabilitasnya terbagi menjadi 3 jenis menurut saya:

  1. Utang tak berbunga = utang usaha, utang pajak, deposit penyewa, imbalan paska kerja senilai 1.4T.
  2. Utang berbunga = obligasi dan utang bank, senilai 3.9T.
  3. Utang yang tidak dibayar dengan uang = sewa diterima di muka dan DP penjualan senilai 3.5T.

Dengan asumsi utang tak berbunga akan lancar dibayarkan selama operasional perusahaan tidak mengalami hambatan, serta DP penjualan dan sewa diterima di muka hanya masalah waktu setelah penyerahan unit atau jasa. Maka yang tersisa adalah mengenai utang berbunga.

Debt yang terbesar adalah utang obligasi yang akan jatuh tempo tahun 2024 senilai $250juta dengan bunga 5%. Kalau dihitung, tidak mungkin perusahaan mau mengumpulkan cash dari hasil operasi bertahun-tahun untuk membayar utang obligasi. Itu sama saja dengan memilih stagnan tanpa pembangunan.

Jadi kemungkinan melunasi obligasi dengan menerbitkan obligasi baru. Rencana ini lebih masuk akal ketimbang mengorbankan rencana pembangunan yang berjalan.

Dalam PubEx 2021, perusahaan akan menerbitkan obligasi sebesar $400juta dengan bunga 4.875% dan tenor 8 tahun.

Obligasi saham PWON 2028
Sumber : PubEX PWON

Cash Flow Saham PWON

Sankey Diagram PWON

Mengambil data dari tahun 2015 hingga 2020, maka dapat kita lihat kalau cash in perusahaan berasal dari Net Income dan beban depresiasi (modalnya sudah dikeluarkan di awal). Kemudian cash tersebut dipakai sebagian besar untuk capex dan persediaan (intinya membangun properti), membayar sedikit dividen, utang dan menambah cash.

So far, melihatnya PWON masih dalam proses bertumbuh dengan agresif, jadi tidak aneh kalau perusahaan tidak memprioritaskan dividen yang besar. Daripada membagi dividen besar, tapi kekurangan modal sehingga perlu utang lebih besar atau right issue, perusahaan memilih mengerem dividen mereka.

Absen bagi dividen 2 tahun

Buat dividend hunter, PWON sudah pasti lepas dari radar mereka. Sudah 2 tahun, perusahaan tidak membagikan dividen atas laba tahun buku 2019 dan 2020. Shareholders mereka mungkin ada yang kecewa atas putusan ini.

Seperti yang sudah di-mention sebelumnya, PWON memang bukan perusahaan royal dividen. Apalagi di masa krisis dan perusahaan masih membutuhkan banyak dana untuk pembangunan, maka tidak aneh jika perusahaan menahan labanya untuk operasional perusahaan. Jalan perusahaan masih panjang, demikian juga seharusnya dengan kesabaran shareholders. Kenapa bisa bilang panjang?

Land bank PWON

Karena land bank PWON masih banyak dan akan dibangun dalam waktu 10 tahun ke depan, terutama daerah Surabaya.

Land bank PWON
Sumber : PubEX PWON

Valuasi Saham PWON

Jadi berapa harga yang kita berikan untuk emiten yang sedang suffering? karena kalau pakai PER pasti kelihatannya sekarang mahal. Jadi kita coba pakai PBV ya, karena Book Value perusahaan tidak terdampak drastis selama tahun lalu.

Sumber : Stockbit

PBV saham PWON yang rata-rata 5 tahun berada di 2.50x sekarang ada di 1.31x. Ada margin sebesar 90% untuk kembali ke 2.50x. Kalaupun target tersebut akan missed, harusnya tidak akan meleset 100% kan.

Fyi, harga properti dan aset tetap perusahaan tahun 2020 = 14T. Namun nilai wajar yang diestimasi adalah sekitar 25T. Jika nilai wajar tersebut benar, maka harga saham terdekatnya adalah sekitar 583/lembar (MoS = 44% dari harga saat ini Rp 404).

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Review Saham: IGAR, Si Produsen Kemasan

Bagi yang tertarik dengan saham farmasi, mau info saja kalau kita tidak hanya bisa beli saham farmasi, tapi juga ada perusahaan pendukung yang bisa kita beli. Salah satunya adalah perusahaan kemasan (flexible packaging). Yang mau kita bahas saat ini adalah saham IGAR, PT Champion Pacific Indonesia. Bagaimana kinerja perusahaannya?

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Profil saham IGAR

PT Champion Pacific Indonesia (IGAR) pertama kali didirikan pada tahun 1975 dengan nama PT Igar Jaya. Setelah diambil alih PT Kingsford Holdings (perusahaan asal Jepang) tahun 2010, maka perusahaan berubah nama menjadi PT Champion Pacific Indonesia.

Komposisi pemegang saham IGAR hingga saat ini adalah sebagai berikut:

  • PT Kingsford Holdings = 79.42%
    • PT Kingsford Holdings dikendalikan oleh Fujimori Kogyo Co, Ltd dan Mitsui & Co. (Asia Pacific) Pte. Ltd.
  • PT Kalbe Farma Tbk = 5.40%
  • Masyarakat (<5%) = 15.18%

Jadi tidak aneh kalau beberapa direksi dan komisaris mereka ada yang warga negara Jepang sebagai perwakilan dari induk perusahaan.

Bisnis IGAR berasal dari produksi kemasan plastik. Mayoritas pelanggan mereka adalah perusahaan farmasi, tapi perusahaan non farmasi juga ada.

Kinerja perusahaan

To be honest, sepanjang 10 tahun IGAR bukanlah perusahaan yang wah. Pertumbuhan sales dan labanya sekitar 2%-4%/tahun. Tapi di perusahaan yang cenderung stabil ini, kita tidak pernah menemukan 1 tahun pun mengalami kerugian bahkan di masa pandemi.

Penjualan 2020 perusahaan sebesar 739M dengan segmen farmasi mendominasi 86%, sementara non farmasi menyumbang 14% dari penjualan. Customer nya banyak dan tersebar. Tidak ada 1 main customer yang membeli >10% dari penjualan, jadi perusahaan tidak bergantung pada customer mana pun.

Sementara beli bahan baku dari beberapa supplier baik luar negeri maupun dalam negeri. Major supplier nya adalah Kokusai Pulp and Paper Co., Ltd (luar negeri). Jadi ada risiko mata uang asing setidaknya kalau IDR sedang melemah terhadap USD/Valas lain.

Dari sisi margin, perusahaan menghasilkan gross profit sebesar 16%-18%, hingga net income margin nya menghasilkan sekitar 4%-7%. Not bad.

Keterangan12M 202012M 201912M 201812M 201712M 2016
 Total Pendapatan100%100%100%100%100%
 Total Beban Pokok Penjualan-83%-84%-87%-83%-82%
 Laba Kotor17%16%13%17%18%
 Total Beban Usaha-7%-6%-6%-5%-6%
 Laba Usaha10%10%7%12%12%
 Penghasilan/beban Lain-lain1%1%1%1%0%
 Laba Sebelum Pajak11%11%8%13%12%
 Beban Pajak Penghasilan-3%-3%-2%-3%-3%
 Laba Bersih Tahun Berjalan8%8%6%9%9%
 Laba Bersih Yang Dapat Diatribusi6%6%4%7%6%
Margin Laba Rugi IGAR

Balance sheet

Jika sudah pernah mengecek laporan perusahaan, yang paling menarik perhatian pasti CASH perusahaan. Bagaimana tidak, cash nya tercatat 240M (2020) dari total aset 666M. Artinya, 36% aset perusahaan dalam bentuk cash. Sisanya baru terbagi-bagi antara piutang usaha, persediaan dan aset tetap.

Perusahaan juga debt free. Tidak ada utang berbunga baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Sehat? Most likely yes. Perusahaan tergolong aman dan mungkin kecil bangkrut, setidaknya jika tidak ada kabar buruk mendadak.

Liabilitasnya hanya 72M, berbanding ekuitas yang sebesar 594M. Bahkan dengan cash, perusahaan dapat melunasi semua liabilitasnya.

Valuasi saham IGAR

Jika berminat membeli saham IGAR, di harga berapa yang cocok? Sekali lagi, cara orang memvaluasi saham bisa berbeda pandangan ya.

Kalau pakai PE Standard Deviation 10Y, kelihatannya memang masih murah. Hal ini juga karena IGAR pernah mencapai PE 25x, jadi PE saat ini, 7x kelihatan murah. Namanya juga relative valuation.

Dengan Price 426 dan EPS (TTM Q1 2021) 56, maka PE = Price/EPS = 7x.

Sementara Yield = EPS/Price = 13%. Yield sekian tentu masih make sense jika dibandingkan dengan yield deposito saat ini yang hanya 3%-4%.

Terlebih jika kita beli saat ini, market cap IGAR adalah 414M, kita mendapat perusahaan yang cash di dalamnya senilai 278M (Q1 2021). Asumsinya seperti membeli 414M kemudian mendapat cashback 278M. Dengan menghitung kepentingan non pengendali, maka Enterprise value IGAR menjadi 313M (Rp 321/lembar saham). Ini angka nett yang kita beli.

Yield nya menjadi 56/321 = 17%.

Jika tertarik di angka sekian, maka silakan melakukan research lebih lanjut tentang saham IGAR ini.

Apa yang kurang dari saham IGAR ini?

1. Minim dividen

Jangan terlalu berharap dividen dari perusahaan ini. Meskipun rajin membagi dividen, tapi yieldnya hanya senilai 1%. Dividen tahun buku 2020 belum dibagikan, kita tunggu RUPS mendatang untuk pengumumannya.

2. Too much Cash

Hanya pendapat pribadi, kalau cash rich memang aman bagi perusahaan. Tapi terlalu banyak juga tidak saya sukai.

Dengan melihat data historis, perusahaan sepertinya tidak berencana untuk melakukan ekspansi usaha yang membutuhkan banyak dana. Tidak juga memiliki banyak utang untuk dilunasi. Lalu perlu diapakan cash dalam perusahaan?

Jika perusahaan memiliki banyak cash, namun tidak ada rencana penggunaannya. Maka lebih baik dikembalikan ke pemegang saham dalam bentuk dividen atau buyback saham.

RUPS rencananya akan diadakan tanggal 28 Juni 2021. Coba cek hasil dari RUPS tersebut, apakah perusahaan akan terus menimbun cash nya.

Cash di masa krisis memberi keamanan bagi perusahaan. Cash di masa inflasi juga adalah boomerang karena tidak dapat berkembang dan termakan inflasi juga nantinya.

Masa’ kita yang individu saja tidak ingin taruh uang di bank karena termakan inflasi, kemudian membeli perusahaan yang justru tidak mempertimbangkan faktor inflasi?

3. Tidak likuid

Bagi yang berminat pada saham IGAR, mohon diketahui dulu kalau saham ini tidak terlalu likuid. Turnover hariannya sekitar 100jtaan jika dibandingkan dengan ICBP yang turnover harian mencapai 20M. Beda market cap juga sih keduanya. Trader mungkin tidak akan menyukai jenis saham ini.

Kalau investor justru peluang untuk mengakumulasi saham sebelum ditemukan oleh smart money.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : review saham PBID.

Saat portofolio saham turun (Studi kasus : ICBP)

Kalau portofolio saham turun dan loss, jangan langsung merasa buntu. Here’s my sharing story as an investor.

Ya, sharing ini mungkin berguna bagi investor. Bukan bagi trader. Kenapa?

Karena sudah jadi rumus trader, jika portofolio merah, seorang trader harus berani cutloss menurut trading plan nya. Jika tidak, maka kamu bukan trader sejati.

Back to the topic, kalau investor bagaimana menghadapi situasi saham turun? Tapi yang pasti, kenali dulu penyebabnya.

4 Alasan kenapa saham turun

1. Kondisi perusahaan sedang tidak baik

First of all, pastikan kita sudah kerjain PR sebelum beli saham. Saham yang dibeli adalah perusahaan bagus (menurut diri sendiri), bukan kata orang, bukan kata teman.

Dan ketahui bahwa perusahaan tidak bisa selamanya berjalan mulus. Contoh paling dekat adalah pandemi covid sejak tahun 2020. Karena pandemi, banyak perusahaan yang kinerjanya menurun. Mulai dari omset berkurang, jualan tidak laku, toko ditutup, sampai biaya yang terus keluar.

Kemudian coba tanya diri sendiri, apakah kondisi ini permanen atau sementara?

Kalau sementara, bukannya itu justru kesempatan? Kapan lagi beli perusahaan (yang menurutmu bagus) di harga yang lebih murah.

Kalau kita berani beli saham di harga Rp 1000, kenapa takut beli di harga Rp 500? Sekali lagi, poinnya adalah conviction (keyakinan diri sendiri) yang didapat setelah research dan analisa.

2. Pasar sedang irasional

Hampir mirip dengan #1, tapi kali ini sumbernya adalah sang Mr. Market yang sering banget bertindak irasional.

Pasar sering bergerak dengan sentimen jangka pendek, sementara investor harusnya tidak terpengaruh akan hal tersebut. Di era modern sekarang, filter berita justru harus jadi poin penting.

Cukai rokok naik? Harga emiten rokok anjlok. Padahal hal itu terjadi setiap tahun, kenapa harus dibesar-besarkan oleh pasar. Perusahaan rokok juga pasti sudah terbiasa.

Tidak bagi dividen? harga saham emiten anjlok. Padahal tidak lihat alasan di balik keputusan tersebut.

Dan untuk alasan ini, harus dianggap sebagai kesempatan juga dari pada penyesalan. Kita tidak gagal atau tidak bodoh hanya karena harga saham yang kita pilih tidak sejalan dengan Mr. Market.

3. Salah memilih sejak awal

Meskipun sudah research dan kerjakan PR, tidak menutup kemungkinan kalau kita salah menilai. Dan setelah research ulang, ternyata hasilnya berbeda dengan yang diharapkan secara permanen.

Jika memang demikian, maka terima kenyataan tersebut. Cut your loss dan ambil sebagai pelajaran berharga.

4. Beli kemahalan

Tapi jika kita memang beli perusahaan bagus, di harga yang kemahalan. Itu juga tidak akan jadi investasi yang bagus.

Apakah kesalahan itu harus cut loss?

Sesungguhnya keputusan memang di tangan masing-masing.

Tapi kalau saya, saya memilih hold selama perusahaan itu masih bagus ya. Bayar kesalahan kita dengan menunggu lebih lama (bayar pakai waktu).

Pernah ga? Pernah lha. Studi kasus kali ini pakai ICBP.

Beli ICBP 2 tahun floating loss

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

saham ICBP turun 2 tahun
Sumber : Google

Beli di tahun 2019, sekitar harga Rp 12000. Kesalahan awal adalah anchoring. Karena dari awal IPO, ICBP konsisten naik dan sempat mencapai harga Rp 17000, maka beli di 12000 tidaklah mahal dan akan kembali ke 17000. Hal itu bukan jaminan di saham.

Dan hari ini, harga ICBP adalah Rp 8125. Harusnya floating loss 30% dari hasil 2 tahun.

Secara perusahaan ini bagus, brand sudah internasional, tapi beli kemahalan. Tetap tidak bisa jadi investasi yang bagus (setidaknya selama 2 tahun ini).

Disebut kemahalan bukan karena harganya ya. Tapi cek PER nya.

Apa itu PER, bisa dicek penjelasannya di sini.

saham ICBP turun
Sumber : Stockbit

Di saat harga 12000, PE ICBP = 29x (tertinggi selama 3 tahun terakhir). Rata-ratanya saja hanya 23x.

Lalu kenapa tidak cut loss? Ini alasan saya, mungkin berbeda dengan yang lain.

  1. Kinerja perusahaan tidak menurun hingga saat ini (bahkan di masa pandemi).
  2. Saya pilih bayar waktu dibanding dengan bayar harga dengan kerugian.
Sumber : Stockbit

Profit ICBP masih konsisten naik.

Tapi ada hal baik di kondisi saat ini. selama 2 tahun terakhir, emiten ICBP berubah dari kemahalan menjadi kemurahan, dengan PE 14x.

Dalam grafik pun terlihat bahwa harga dan profit sudah tidak searah, artinya nanti harga akan mengikuti grafik profit tersebut. Jadi saya memilih average down ICBP.

Ini hanya keyakinan saya. Apakah analisa simple ini benar? Lihat beberapa tahun lagi untuk mengetahuinya.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Dividen Bebas Pajak, Investor Harus Bagaimana?

Investor saham dapat insentif bebas pajak untuk dividen, sudah tahu belum? Bagaimana cara kerja dan persyaratannya?

Mari cari tahu lebih detail.

Dasar peraturan

Bermula dari UU Cipta Kerja No 11 tahun 2020, maka diterbitkan yang namanya PMK No 18/PMK.03/2021. Peraturannya bisa di download di sini. Kalau mau baca mengenai dividen, bisa langsung lanjut ke Bagian Ketiga dari PMK tersebut.

Apa sih garis besarnya?

Intinya adalah Dividen dibebaskan dari pajak penghasilan.

Fyi, sebelum PMK ini muncul, dividen itu merupakan objek pajak dengan tarif 10%. Jadi kalau kita dapat dividen saham, 10% otomatis langsung dipotong untuk negara. Investor akan langsung terima bersih 90% saja. Nantinya kita tinggal laporkan di SPT Tahunan sebagai penghasilan kena pajak final.

Nah, dengan adanya PMK ini, investor akan terima full 100% tanpa dipotong pajak lagi.

Dalam hal ini, investor saham diuntungkan banget kan.

Dividen yang bebas pajak

Ada dividen jenis apa saja yang dibebaskan pajak?

  1. Dividen dari dalam negeri untuk pribadi.
  2. Dividen dari dalam negeri untuk wajib pajak badan.
  3. Dividen dari luar negeri yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek maupun tidak diperdagangkan.

Untuk kategori 1 ini yang akan kita bahas karena yang bisa saya share dari pengalaman pribadi.

Persyaratan dividen bebas pajak

Ada syaratnya supaya dividen yang kita terima bebas pajak. Kalau tidak dipenuhi, maka kita harus bayar pajak dividen itu 10%.

Syaratnya adalah dividen yang diterima harus diinvestasikan kembali ke instrumen investasi di Indonesia.

Daftar instrumen yang boleh jadi pilihan reinvestasi adalah:

  1. surat berharga Negara Republik Indonesia dan surat berharga syariah Negara Republik Indonesia;
  2. obligasi atau sukuk Badan Usaha Milik Negara yang perdagangannya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan;
  3. obligasi atau sukuk lembaga pembiayaan yang dimiliki oleh pemerintah yang perdagangannya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan;
  4. investasi keuangan pada bank persepsi termasuk bank syariah;
  5. obligasi atau sukuk perusahaan swasta yang perdagangannya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan;
  6. investasi infrastruktur melalui kerja sama pemerintah dengan badan usaha;
  7. investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh pemerintah;
  8. penyertaan modal pada perusahaan yang baru didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham;
  9. penyertaan modal pada perusahaan yang sudah didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham
  10. kerja sama dengan lembaga pengelola investasi;
  11. penggunaan untuk mendukung kegiatan usaha lainnya dalam bentuk penyaluran pinjaman bagi usaha mikro dan kecil di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang usaha mikro, kecil, dan menengah; dan/ atau
  12. bentuk investasi lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Daftar ini copy langsung dari pasal di PMK. Bisa dibilang ini hampir sebagian besar instrumen investasi yang ada di Indonesia bisa jadi pilihan reinvestasi.

Kalau bingung dengan rincian di atas, contohnya bisa diinvestasikan kembali ke:

  • obligasi (baik pemerintah maupun perusahaan Indonesia). SBN, FR, MTN, ORI dll termasuk di dalamnya.
  • Saham. Ini yang paling mudah. Toh dananya sudah ada di RDN saham.
  • Reksa dana.
  • Deposito, tabungan, giro. Produk keuangan bank.
  • investasi lain yang dapat persetujuan OJK.
  • Emas (logam mulia yang kadarnya 99.99% dan ada sertifikat SNI ya), bukan perhiasan.
  • Investasi ke perusahaan Indonesia (pemerintah/swasta).
  • Properti (tidak boleh yang subsidi dari pemerintah).

Kalau ada yang lain, silakan saja selama masih termasuk dari 12 instrumen yang disetujui di atas.

Jangka waktu investasi

Dividen yang sudah bebas pajak, wajib diinvestasikan ke instrumen investasi di Indonesia selama minimal 3 tahun ya.

Kalau tidak, insentif dianggap batal dan pajaknya harus dibayarkan oleh investor ke negara.

Cara lapor dividen bebas pajak

Kalau kamu bertanya, “Negara tahu dari mana kalau kita akan investasikan dividen tersebut?” Di sini caranya.

Kita harus lapor setiap tahun selama 3 tahun yang namanya Laporan Realisasi Investasi (e-reporting) di website DJP online. Tanggal pelaporannya sama seperti SPT Tahunan, 31 Maret tahun berikutnya.

Contoh kalau mau lapor Laporan Realisasi Investasi tahun 2021, paling lambat nanti di 31 Maret 2022. Masih lama sih, tapi prepare dulu data-data sepanjang tahun 2021 supaya ga bingung saat lapor nanti.

Cara lapornya bagaimana?

1. Aktivasi e-reporting

Setelah login akun di DJP Online, klik Profil > Aktivasi Fitur Layanan > eReporting Investasi > Save / Ubah Fitur Layanan. Lihat seperti gambar di bawah.

ereporting divien bebas pajak

2. Cek ke Layanan

Kemudian klik Layanan > di sana sudah ada layanan eReporting Investasi > klik eReporting.

3. klik Lapor

ereporting dividen bebas pajak

Ada 2 yang perlu dilaporkan:

  1. Jumlah dividen yang didapat. Jadi mumpung ini masih awal tahun 2020, mulai buat catatan daftar dividen yang didapat. Nama perusahaan, nominal dividen yang didapat dan nominal yang diinvestasikan kembali.
  2. Jumlah investasi. berisi tanggal investasi, jenis instrumen dan nominal investasinya.

Mulai berlaku

PMK ini diterbitkan 17 Februari 2021, tapi mulai berlaku sejak dari tanggal UU Cipta Kerja diterbitkan yaitu 2 November 2020. Artinya, jika ada yang menerima dividen tahun 2020 bisa minta restitusi (refund) ke DJP yang kadang lama dan sulit.

Berlaku sampai kapan? Sampai ada peraturan baru selanjutnya. Nanti saya update di blog kalau ada ya.

Sekian sharingnya. Semoga membantu ya.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Baca juga : Review saham PBID, Produsen Kantong Plastik

Review Saham: PBID, Produsen Kantong Plastik

Pertama kali mendengar tentang saham PBID, saya langsung bertanya, apakah perusahaan ini bisa survive atau bahkan berkembang di tengah larangan penggunaan kantong plastik.

Tapi jangan dulu judge the book by its cover, lebih baik kita cari tahu dulu lebih mendalam.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Profil saham PBID

Panca Budi Idaman Tbk (PBID) awalnya berdiri sejak 1979 dengan nama UD Panca Budi. Foundernya adalah Pak Djonny Taslim yang sekarang menjabat sebagai Presiden Direktur Perusahaan. PBID baru listing di BEI sejak 2017.

Djonny Taslim dan keluarga adalah pemegang saham terbesar di PBID. Perusahaan yang masih dipegang oleh foundernya memberi point positif karena management akan berkinerja baik bukan hanya karena salary, namun ada ikatan mendalam karena ini perusahaan yang dibangun sejak awal.

pemegang saham PBID
Sumber : Laporan Tahunan PBID

Hingga saat ini, perusahaan sudah memiliki 8 pabrik di Indonesia dan 1 pabrik di Malaysia.

Produk PBID

Apa yang diproduksi dan dijual oleh perusahaan? Segala yang berhubungan dengan plastik.

TipeMerekKegunaan
PE = elastis, tahan benturan, bersih, tidak berbauTomat, Bengkuang, Jeruk, Cabeuntuk membungkus cairan, benda padat, es
PP = bening, tidak elastis, bersih, tidak berbauWayang, Gapura, Bangkuang, Pusakauntuk membungkus makanan
HDPE = ini kantong plastik yang biasa dipakai belanjaSparta, Pluit, Liberty, Dayanakantong kresek, shopping bag, pembungkus dokumen
Heavy Duty Sacksuntuk bungkus bijih plastik, beras, pupuk, pakan ternak, semen
OthersDus kue, sedotan, dll berbahan plastik
Bijih plastikJual bijih plastik (bahan baku plastik)
market share PBID
Sumber : Pubex

Menurut info, perusahaan merupakan market leader bidang consumer packaging di Jakarta dan Indonesia.

Income Statement

Sumber : Stockbit

Karena PBID baru IPO sejak tahun 2017, maka kita baru memiliki data sejak 2016 ya. Selama 2016-2019, penjualan cenderung naik, namun 2020 lumayan menurun. Skeptis? Jangan dulu.

Sumber: Stockbit

Nyatanya, bottom line dari PBID untuk tahun 2020 malah meningkat. Ini merupakan pencapaian positif bagi perusahaan. Kok bisa penjualan turun, laba bersih malah naik?

Kalau ditelaah, meskipun penjualan turun, namun COGS turun lebih drastis karena efisensi. Sehingga gross profit dan net profit bisa meningkat.

Dalam Miliaran IDR12M 202012M 201912M 201812M 201712M 2016
Penjualan dan pendapatan usaha3,8714,6334,3533,4903,168
Beban pokok penjualan(3,052)(4,031)(3,734)(2,969)(2,778)
Laba kotor819602620521390

Secara segmen, penyumbang terbesar dari penjualan perusahaan adalah kantong plastik (60%), biji plastik (35%), dan lainnya (5%).

Penjualan kantong plastik memberi margin gross profit sekitar 27%, biji plastik 7% dan lainnya 33%.

Secara margin, tahun 2020 juga menjadi tahun yang positif bagi perusahaan.

margin saham pbid

Dari yang dulu hanya bisa mendapat NIM 4%-7%, tahun 2020 PBID bisa NIM double digit 10%.

ROE dan ROA PBID juga menarik : 19% dan 15% untuk tahun 2020.

Here’s just my thought: Berbekal dari tahun krisis (2020), perusahaan menemukan cara operasional yang efisien sehingga hasil bisa positif. Terlebih lagi saat tahun-tahun recovery, di mana ekonomi akan bergerak.

Cash flow

Setelah lihat laporan laba rugi, coba cek ke cash flownya. Jangan laba hanya di laba rugi, tapi tidak bisa menghasilkan cash.

Sumber : Stockbit

Secara umum, CF dari operating positif. Dan dananya dipakai untuk investasi dan financing.

Selama 5 tahun terakhir, cash in perusahaan didapat dari net income dan IPO. Dana tersebut dipakai untuk menambah cash, piutang dan persediaan, capex, bayar bank loan dan bagi dividen.

Balance Sheet

1. Current asset

Current asset perusahaan meningkat 2x lipat dalam waktu 5 tahun, artinya IPO memberi perkembangan signifikan bagi perusahaan.

Current ratio nya juga aman, sekitar 3-4x. Artinya bisa membayar semua liabilitas jangka pendek. Bahkan bisa lunas dengan kas mereka saja.

2. Piutang usaha

PBID tipikal perusahaan yang menjual barang kepada banyak pembeli sehingga tidak bergantung pada 1 customer besar. Kebanyakan mereka jual ke toko dan perorangan. Perusahaan yang menjadi customernya juga banyak dengan piutang yang merata.

3. Capital structure

Dari total aset senilai 2,4T, liabilitasnya hanya 492M dan sisanya ekuitas senilai 1,9T. Jadi L/E = 26%, dimana debt (utang berbunga) = 122M saja (DER = 6%).

Ekuitas perusahaan juga setiap tahun secara konsisten selalu bertumbuh dengan CAGR 5Y 13%.

Dividen saham PBID

Bagi yang mencari dividen di saham PBID, kita biasa bisa mendapat dividend yield sekitar 4%-6%. Sejak IPO, perusahaan loyal membagi dividen walaupun DPR nya terbesar 50% dari laba bersih. Jelas, karena perusahaan masih dalam proses ekspansi sehingga masih perlu dana untuk capex.

Untuk laba tahun 2020 masih belum ada putusan akan dibagi/tidak. Tergantung RUPS yang akan dilaksanakan 14 April 2021 mendatang.

Valuasi saham PBID

Kalau secara perusahaan, saya anggap PBID ini perusahaan yang bagus dan masih bisa terus bertumbuh. Namun berapa valuasi yang pas?

saham pbid
Sumber : Stockbit

Melihat pergerakan harga saham PBID mengikuti kinerja laba perusahaan. Jadi kalau optimis kinerja perusahaan masih bisa naik, maka harga saham juga akan naik. Sebaliknya, jika pesimis, lebih baik jangan masuk ke perusahaan ini.

Maka saya coba menghitung dengan earning’s yield. Berandai sebagai pemilik perusahaan, maka kita harus merogoh kocek 3T (price = 1,605 tanggal 09 April 2021). Dapat menghasilkan return (net income) = 372M/tahun. Maka earning’s yield = 372M/3T = 12.4%.

Bagi saya lumayan untuk setahun mendapat perusahaan yang bisa menghasilkan return di atas. Plus, sebagian akan dikonversi menjadi dividen mungkin sekitar 4% (berdasarkan history tahun sebelumnya).

Jika mau menggunakan PER / PBV standard deviation, Stockbit hanya menyajikan 3 tahun terakhir yang menurut saya kurang panjang untuk menjadi patokan.

FYI, rata-rata PER = 7-8x, EV/CFO = 4-5x, PBV = 1.1-1.4x.

Namun jika harga akan semakin tinggi, lebih baik menimbang ulang apakah bisa menemukan kesempatan lain yang lebih baik.

Kesimpulan

Perusahaan sehat? Yes. Management juga dipercaya karena sekaligus pendiri perusahaan. Terbukti dari ROE yang tinggi.

Profitnya juga dalam trend positif dengan kenaikan 10%/tahun.

Mengenai larangan penggunaan kantong plastik, memang akan berpengaruh terutama di kota besar, namun biasanya itu hanya terjadi di pusat perbelanjaan. Sementara pasar tradisional atau toko kelontong masih menggunakan kantong plastik.

Toh larangan ini sudah berjalan, namun perusahaan masih bisa meningkatkan kinerjanya.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Review saham DLTA, PT Delta Djakarta.

Review Saham: MLBI, Produsen Bir Bintang

Kalau post sebelumnya sudah membahas tentang DLTA (produsen bir Anker), kali ini kita bahas saingannya, saham MLBI, produsen bir Bintang.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Profil saham MLBI

PT Multi Bintang Indonesia awalnya berdiri tahun 1929 di Medan, sempat berpindah ke Surabaya hingga akhirnya kantor pusatnya berdomisili di Jakarta. Pabrik brewery nya sendiri ada di Tangerang dan Sampang Agung Mojokerto.

IPO tahun 1981, MLBI melepas kepemilikannya kepada publik sebesar 18.22%. Sementara kepemilikan mayoritas, 81.78% tetap dipegang oleh Heineken International BV.

Heineken ini memang serius banget membangun MLBI. Setelah sempat diambil alih oleh pihak lain, pada akhirnya perusahaan ini kembali ke tangan Heineken. Hingga saat ini jajaran direksi dan komisarisnya sebagian besar berasal dari perwakilan Heineken Group.

Produk MLBI

merek saham MLBI
Sumber : website MLBI

Apa aja sih yang dijual oleh perusahaan? Dibanding DLTA, mereka punya banyak jenis produk yang ditawarkan.

Nama merekKeterangan
Bir BintangBir andalan MLBI
HeinekenBir premium kelas international
Bintang Radler (Lemon dan Orange)Perpaduan bir Bintang dengan natural citrus juice (alkohol 2%)
Bintang Zero 0%Minuman non alkohol
Bintang Radler Lemon 0%Minuman karbonasi bebas alkohol dipadukan dengan natural lemon juice
Strongbow (Gold Apple dan Dark Fruits)Merek cider berskala global
Fayrouz (nanas dan pir)Minuman bersoda dengan jus buah dan sparkling water
Green Sands (Lime & Apple, Lime & Grape, Lime & Lychee)Minuman ringan berkarbonasi

Jadi secara umum, mereka punya produk bir, cider (alkohol) dan minuman bersoda (non alkohol).

Pada tahun 2019, produk alkohol menyumbang 88% dari penjualan, Sementara 12% berasal dari penjualan non alkohol dan terus bertumbuh setiap tahun. It’s a good sign dari perusahaan bahwa mereka tidak hanya mau bergantung pada 1 sumber pendapatan. Meskipun perlu waktu panjang untuk memasarkan dan mendapat market share di pasar non-alkohol.

Anak usaha perusahaan

Secara management, saya bilang MLBI punya management yang rapi dan bagus. Mereka mendirikan 2 anak usaha untuk membagi beberapa pekerjaan.

MLBI berfokus untuk memproduksi minuman beralkohol, mempunyai 2 anak usaha, yaitu:

  1. PT Multi Bintang Niaga, untuk mengatur distribusi dan memasarkan produk mereka.
  2. PT Tirta Prima Indonesia, untuk memproduksi minuman non-alkohol.

Laba rugi MLBI

Setiap tahun perusahaan konsisten meningkatkan penjualannya sebesar 4%-5% per tahun. Pertumbuhan penjualan memang tidak terlalu impresif, kemungkinan karena perusahaan sudah memegang market share terbesar. Dengan total penjualan sebesar 3.7T (2019), MLBI menjadi market leader di bidang minuman bir.

Kalau sudah market leader memang sulit berkembang pesat kecuali ada market baru yang dibuka.

Untuk Q3 2020, perusahaan baru mencatatkan penjualan sebesar 1.29T, turun 47% dari Q3 2019. Tidak usah bingung dengan penurunan ini. Semua memang terdampak pandemi, termasuk MLBI.

Sama seperti DLTA, perusahaan bir memang punya margin tebal jadi sangat profitable. Dengan COGS rata-rata di 38% maka gross profit perusahaan ada di sekitar 62%. Jika sudah dipotong dengan biaya dan pajak, maka net income perusahaan menjadi 30%-34%.

Hanya untuk tahun 2020 tidaklah demikian. per Q3 2020, gross profit yang didapat “hanya” 45% dengan net income margin “hanya” 11%. Not bad, setidaknya masih profit bukan.

Balance sheet

Balance sheet MLBI mungkin bukan tergolong yang sehat-sehat banget, tapi aman lha menurut saya pribadi. Coba kita bahas yang menarik ya.

Asset dan equity nya selalu bertumbuh setiap tahun, tentu hal yang baik. Sayangnya untuk saat ini sebagian besar asset berasal dari liabilities dari pada equity nya.

1. Cash

I don’t know memang MLBI terlalu pede atau apa sampai tidak menyisakan banyak cash dalam assetnya. Dengan liabilities yang banyak, tapi cash nya cukup minim.

Cash (2019) hanya 78M berbanding liabilitas jangka pendek yang sebesar 1.5T. Saat operasional tidak berjalan normal, perusahaan bisa mengalami masalah likuiditas.

Terbukti seperti tahun 2020, perusahaan perlu mencairkan pinjaman bank sekitar 350M untuk menjaga operasional usahanya.

2. Piutang usaha

Piutang usaha perusahaan bertumbuh 18%/tahun, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penjualannya yang 4%-5%/tahun. Jika di breakdown, bagian piutang yang sudah lewat jatuh tempo juga selalu naik setiap tahun.

Apakah akan semakin buruk di tahun 2020?

3. Fixed asset

Setiap tahun perusahaan pasti selalu menyisihkan budget untuk capex sekitar 300-200M. Artinya, selalu ada pemeliharaan atau pembaharuan untuk aset tetap perusahaan.

Terlebih dari yang saya baca, perusahaan berkomitmen menggunakan energi terbarukan dalam proses produksinya. Salah satunya dengan fasilitas pembangkit listrik biomassa. Sudah berjalan di pabrik Sampang Agung, dan sedang dalam proses pembangunan di pabrik Tangerang.

4. Liabilitas jangka pendek

Liabilitas MLBI sebagian besar berasal dari akun ini. Karena untuk liabilitas jangka panjang, tidak terdapat banyak transaksi.

Karena liabilitas jangka pendeknya yang tinggi, jadi current ratio menjadi kecil sekitar 0.73x. Artinya, warning untuk likuiditas perusahaan dalam jangka pendek.

a. Debt

Debt perusahaan berasal dari 2 sumber, yaitu utang ke bank dan utang ke pihak berelasi, Heineken Asia Pacific. Keduanya sama-sama bayar bunga, tapi saya merasa lebih aman utang ke pihak berelasi.

Setidaknya, kalau perusahaan harus macet bayar utang atau bunga, Heineken tidak akan mempailitkan perusahaan 1 grupnya.

Akhir tahun 2019, MLBI memiliki utang ke pihak berelasi 300M dan ke bank 50M. Sepanjang tahun 2020, MLBI mencairkan pinjamannya dari bank sebesar 350M lagi.

Perusahaan memang sudah standby plafon kredit di beberapa bank, jadi dipakai jika dibutuhkan. Makanya mungkin saya bilang mereka pede tidak simpan banyak cash.

b. Accrued expense and other

Untuk MLBI, akun ini justru pemegang utang terbesar. Mencapai sekitar 30%-40% dari total liabilitas, akun ini berisi iklan dan promosi, cukai, transport, pembelian asset yang belum dibayar hingga jasa teknik dan royalti.

Tidak berbunga memang, tapi ini biaya reguler yang harus dibayarkan perusahaan setiap tahun jadi ya tetap harus menjaga kemampuan untuk membayarnya. Di lain pihak, ini justru tanda kepercayaan vendor yang memberikan utang kepada perusahaan.

Dividen saham MLBI

Saya menilai saham ini tipikal slow grower. Selain perusahaan sudah besar, pasar bir di Indonesia juga memang tidak meningkat drastis setiap tahun. Jika tidak terlalu berharap dari pertumbuhan perusahaan, maka biasanya perusahaan memberikan dividen cukup tinggi.

Biasanya perusahaan membagi semua net income mereka menjadi dividen untuk pemegang saham mereka (DPR = 100%). Sayang di tahun 2020, mereka tidak bisa bagi dividen karena perusahaan terdampak pandemi, operasional menjadi lebih ketat.

Meski demikian, dividend yield MLBI tidak terlalu tinggi juga, hanya sekitar 4%-5% dari harga pada tahun pembagian. Itu karena harga sahamnya sudah sangat premium.

Valuasi saham MLBI

Harga saham MLBI memang sudah luar biasa premium. Rata-rata PER 5 tahun terakhirnya sekitar 28x, dan PBV nya sekitar di 34x. Untuk kondisi normal, saham ini jelas bukan favorit bagi saya.

Selama 9 tahun terakhir, harganya naik 21%/tahun dari 2,700 menjadi 15,500/saham. Sementara di kurun waktu yang sama, EPS nya naik 12%/tahun dari 210 menjadi 572.

Namun ada kesempatan di tahun ini untuk beli saham MLBI dengan harga yang didiskon. Per tanggal 28/02 harganya berada di Rp 8,950 (alias turun 42% dari 2019). Dan PBV saat ini adalah 14x.

Kesimpulan

Perusahaan bagus dengan management yang baik. Bahkan laporan mereka menjelaskan secara terbuka kondisi perusahaan, tantangan dan strategi yang mereka miliki. Kita bisa belajar banyak dari laporan yang disajikan. Membuktikan bahwa management menjelaskan dengan baik kepada shareholders sebagai bagian dari pemilik, bukan sekedar pemegang lembaran saham.

Menggunakan anomali yang terjadi saat ini untuk menunggu kinerja perusahaan kembali normal. Jika tahun 2020 dengan operasional tidak lancar saja harga saham 8,950 lalu bagaimana jika operasional sudah kembali normal?

Tapi akankah kembali ke PER 28x dan PBV 34x? Saya tidak terlalu yakin.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Review saham DLTA, PT Delta Djakarta.

Review Saham : DLTA, Produsen Bir Milik Pemda DKI

Kalau bicara soal saham bir, sepertinya hanya ada 2 besar emiten di BEI. Mereka adalah MLBI (Multi Bintang) dan DLTA (Delta Djakarta). Lalu setelah screening sedikit, ternyata lebih menarik DLTA.

Yuk mari dibahas lebih lanjut.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Kenalan dengan saham DLTA

PT Delta Djakarta sudah berdiri sejak 1932, berarti sebelum Indonesia merdeka. Hingga tahun 1984, DLTA mencatatkan sahamnya dalam BEI (dulunya BEJ).

Pemegang saham DLTA adalah sebagai berikut:

Sumber : Laporan Tahunan Perusahaan

San Miguel Malaysia adalah pemegang saham terbesar dengan 58.33% merupakan anak usaha dari San Miguel Corporation asal Filipina. Mereka sudah memiliki saham DLTA sejak tahun 1990. Bahkan jajaran direksi dan komisarisnya sebagian berasal dari perwakilan San Miguel Group.

Sementara Pemda DKI Jakarta memegang 26.25% kepemilikan dari perusahaan. Sisanya 15.42% dipegang oleh publik.

Jadi, 84.58% (mayoritas) dipegang oleh 2 institusi yang tidak akan mudah melepaskan kepemilikian saham hanya untuk profit taking. Jika mayoritas kepemilikan dipegang oleh publik, ada kemungkinan harga saham akan sangat berfluktuasi.

Produk DLTA

produk saham DLTA
Nama ProdukKeterangan
Anker BirProduk unggulan perusahaan sejak 1932
Anker StoutBir hitam
Anker LycheeBir rendah alkohol rasa leci
CarlsbergDiproduksi di bawah lisensi Carlsberg, salah satu merek bir terkenal di dunia
San Miguel Pale PilsenMerek bir tertua di Asia Tenggara, diproduksi di bawah lisensi San Miguel
San Mig LightBir kalori rendah
San Miguel Cerveza NegraBir hitam kental. Bisa diekspor ke Thailand dan Vietnam.
Kuda PutihBir ekonomis di Indonesia
BataviaUntuk ekspor ke Taiwan

Kompetitornya DLTA siapa? Jelas Multi Bintang Indonesia (MLBI) yang punya produk Bir Bintang, Heineken hingga Green Sands. Juga ada Bali Hai Brewery Indonesia dengan produknya, Bali Hai. Mereka pemegang sebagian besar market share di Indonesia.

Untungnya pemain di industri bir Indonesia hanya sedikit. Dan DLTA termasuk produsen yang sudah lama berdiri dan punya nama di pasar. Butuh usaha ekstra untuk pemain baru masuk ke pasar bir Indonesia.

Kinerja DLTA

1. Laba rugi

Mulai dari Sales, penjualan perusahaan memang bukan tipe yang konsisten naik. Ada masa penjualan turun karena regulasi pemerintah dan cukai yang naik. Hal ini juga terjadi di penjualan MLBI.

Sales saham DLTA 2008-2019

Kalau dihitung dari 2008-2019, penjualan meningkat dari 674M menjadi 827M (naik 153M dalam 11 tahun, atau CAGR 2%) bukan hal yang impresif. Artinya, perusahaan bir memang tidak bisa berkembang signifikan dari tahun ke tahun. Mereka tipikal yang slow growth.

Tapi coba kita cek gross profit-nya.

Kita ambil data 3 tahun terakhir saja ya. Karena kalau makin panjang, gambarnya makin kecil dan ga kelihatan.

Asli, COGS produsen bir itu cukup minim. Gross profit nya bisa capai sekitar 70%, which is profitable.

Jadi kalaupun sales mereka stagnan atau slow growth, mereka tetap profit tahun ke tahun.

Lalu gimana dengan Net Profit?

net profit DLTA
Sumber : Stockbit

Net profit-nya secara konsisten selalu meningkat. Kecuali tahun 2015 adalah tahun pertama dimana regulasi pemerintah melarang penjualan alkohol di minimarket. Jadi ya drop gitu penjualan dan labanya. Tapi mereka recovery di tahun-tahun berikutnya.

Net Income Margin perusahaan pun masih tebal, sekitar 33%-38%/tahun.

Gimana dengan tahun 2020? Tidak usah ditanya lagi. Pasti turun.

Apa yang bisa diharapkan oleh produsen bir jika pandemi masih ada? Restoran, bar, dan sejenisnya mana ada yang bisa buka hingga malam. Jadi mana ada juga yang minum bir. Tujuan wisata juga sepi dari wisatawan. Padahal bir dikonsumsi jika ada liburan atau acara.

Jadi jangan harapkan melihat pertumbuhan di laba rugi perusahaan tahun ini. Their focus should be to survive rather than to grow.

Penjualan mereka 349M (Q3 2020) berbanding 606M (Q3 2019), turun 42.4%.

Net income 74M (Q3 2020) berbanding 221M (Q3 2019), turun 66.5%.

Meskipun turun, namun perusahaan masih profit. Itu adalah hal yang positif. Net income margin berkurang menjadi 20.2% karena beban usaha mereka hanya hampir sama dengan tahun lalu.

Per Q3 2020, ROA dan ROE DLTA berada di 6% dan 7%. Turun jauh dari rata-rata tahun sebelumnya, ROA 22% dan ROE 26%.

Saya pikir ini bisa jadi kesempatan. Nanti akan dibahas di kesimpulan.

Next, kita lihat ke Balance Sheet mereka.

2. Balance Sheet

Garis besarnya, total asset dan total equity mereka selalu konsisten naik selama 10 tahun terakhir dengan CAGR sekitar 8%-9%. Hanya ada beberapa hal yang menarik dari balance sheet DLTA.

Cash

Cash rich memang bagus. Current account jadi besar akan menghasilkan current ratio dan quick ratio yang tinggi. Tapi terlalu banyak juga tidak baik (hanya pendapat pribadi).

Cash DLTA ada 844M di tahun 2019 atau setara 65% dari total aset lancar. Current ratio juga berada di posisi 8x, yang artinya aset lancar 8x lipat lebih besar dari pada kewajiban lancarnya.

Kalau memang tidak direncanakan untuk ekspansi atau lainnya, maka akan lebih berguna juga DLTA buyback saham atau membagi dividen ke shareholders.

Namun di sisi lain, cash rich ini juga keuntungan bagi perusahaan selama masa pandemi. Walaupun perusahaan terdampak parah oleh pandemi ini, namun mereka bisa survive hingga saat ini. Cash perusahaan tidak terganggu, hanya menurun dari 844M (Q4 2019) menjadi 651M (Q3 2020).

Debt

DLTA is debt-free company. Jarang memang menemukan perusahaan yang tidak memiliki hutang berbunga. Untuk apa berhutang kalau cash mereka saja sudah amat banyak.

Tidak ada debt, artinya mengurangi beban bunga pinjaman juga. Sehingga tidak menambah beban perusahaan di masa sepi penjualan.

Inventory

Bagi yang menghitung days to sell inventory DLTA mungkin hasilnya akan jelek. Sepanjang tahun 2019, days inventory perusahaan cukup panjang yaitu 323 hari (11 bulan).

Kebayang kan umur bir yang biasanya bertahan 6-9 bulan, apa tidak rusak?

Ternyata ini karena inventory perusahaan juga berisi material packaging dan containers. Nyatanya, yang bahan baku dan barang jadi bir hanya 10% dari total inventory.

Jika hanya menghitung bahan baku hingga barang jadi bir saja, days inventory bisa memendek menjadi sekitar 38 hari (1 bulan).

Piutang usaha

Ini mungkin salah satu kelemahan DLTA. Kebijakan piutang yang melonggar. Selama 3 tahun terakhir, A/R perusahaan meningkat 35% padahal penjualan hanya naik 6% di periode yang sama.

A/R >120 hari pun menumpuk dari tahun ke tahun menjadi 21M dari total A/R 216M (gross) pada akhir tahun 2019.

3. Cash flow

Cash flow operasional DLTA cukup simpel. Uang yang diterima hampir 50% dibayarkan untuk cukai dan pajak, sisanya untuk supplier dan karyawan. Setiap tahun cash flow operasional perusahaan selalu positif.

Investing cash flow setiap tahun hanya terpakai sekitar 10-20M untuk perolehan aset tetap, kebanyakan untuk mesin dan equipment.

Sementara financing cash flow yang cukup besar setiap tahun, dipakai untuk membayar dividen.

Dividen Saham DLTA

Jika dilihat 5 tahun terakhir, cash in DLTA yang berasal dari net income sebagian besar dipakai untuk pembagian dividen, menambah porsi cash dan sedikit capex di aset tetap.

Untuk yang cari saham dividen, DLTA boleh jadi salah satu alternatif nih. DPR mereka setiap tahun selalu >50% dari net income.

Kita coba hitung. Jika menggunakan dividen tahun 2020, senilai Rp 390/lembar. Dan harga saham per 03/02/2021 Rp 3.800. Maka dividend yield sebesar 10.26%. Lumayan untuk harga saat ini.

Untuk tahun buku 2020, mungkin perusahaan akan mengurangi nilai dividen karena net income pun berkurang. Tapi bisa disimpan untuk beberapa tahun ke depan setelah pandemi berakhir dan operasional sudah pulih kembali.

Valuasi saham DLTA

PER 3Y rata-rata ada di 15.79. Kalau pakai EPS tahun 2019, yakni Rp 397, maka harga sahamnya sekitar Rp 6.200. Sementara sekarang ada di harga Rp 3.800 (03/02/2021).

PBV 3Y rata-rata ada di 3.23x. Dengan BV tahun 2019, di Rp 1.500, maka estimasi harga saham di Rp 4.800.

Jika menggunakan EPS dan BV tahun 2020, maka kita akan melihat DLTA kemahalan. Kita tidak bisa mengukur kinerja mereka tahun 2020 karena pandemi berada di luar kontrol management.

Ada potensi naik, tapi berapa valuasi pasti dan MOS nya saya kembali ke pribadi masing-masing dalam menghitungnya.

Kesimpulan

Perusahaan bagus, management bagus. Margin tinggi membuat DLTA perusahaan yang profitable. Bukan hanya DLTA, sepertinya semua perusahaan bir punya margin yang tebal.

Tidak terlalu banyak saingan dalam industri bir. Top 3 hanya MLBI, DLTA dan Bali Hai. Tapi pasar juga tidak terlalu berkembang. Indonesia bukan negara yang mengkonsumsi bir secara reguler.

Kecuali wisata Indonesia berkembang sehingga mengundang banyak turis datang dan tempat wisata semakin banyak. Industri bir memang berbanding lurus dengan pariwisata.

Beban berat muncul jika melihat cukai minuman alkohol. Hampir sama seperti rokok, pemerintah selalu menaikkan cukai alkohol. Belum lagi ada rencana RUU larangan minuman alkohol (belum diputuskan memang). Ini adalah tantangan yang harus dihadapi industri bir.

Tapi kalau mau membeli kepemilikan saham DLTA, lebih baik di saat harga masih terpuruk.

Yang pasti, operasional perusahaan baru bisa pulih setelah pandemi covid berlalu. Jadi tidak bisa mengharapkan pergerakan yang cepat dari saham ini.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Analisa ADES, MTDL atau PWON.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.