Tag Archives: reksa dana

Tips Memilih Produk Reksa Dana di Bibit

Bagi pemula yang baru registrasi Bibit, mungkin masih bingung bagaimana cara memilih produk reksa dana.

Makanya mari kita bahas tips memilih produk reksa dana. Kali ini khusus dari aplikasi Bibit ya. Tapi secara garis besar caranya sama kok dipakai di aplikasi manapun.

Sekali lagi, pilihan kita ga ada yang benar atau salah. Sejalannya waktu diri sendiri yang akan belajar menilai pilihan kita adalah benar atau salah.

Apa itu Bibit?

Bibit itu seperti supermarket nya produk reksa dana. Di sana ada kumpulan produk yang diterbitkan oleh banyak Manajer Investasi (MI).

Lengkapnya, kamu bisa baca dulu review mengenai Bibit.

Kalau mau install aplikasinya, bisa klik di sini untuk Android atau untuk Apple.

Kamu bisa masukkan kode referral saya : margaret. Nanti kamu akan mendapatkan kupon senilai Rp 25 ribu yang dapat di-redeem dengan reksa dana Majoris Sukuk Negara Indonesia. Terima kasih.

Okay, setelah registrasi dan account sudah diverifikasi, maka silakan memilih produk reksa dana untuk masing-masing jenis. Tapi yang mana? Bagaimana cara memilihnya?

Berikut ini saya coba bagikan tips yang saya gunakan dalam memilih ya.

Tips memilih reksa dana di Bibit

1. Leave it to Robo Advisor

tips rekomendasi bibit

Setelah mengikuti kuisioner profil risiko, kamu pasti ketemu yang namanya rekomendasi robo advisor seperti foto di atas. Kalau kamu ga mau pusing, ya sudah ikuti saja rekomendasinya.

Bibit juga tidak mungkin rekomendasi produk yang jelek kok.

Tapi kalau kamu ga yakin, ga sreg atau ingin belajar memilih sendiri, maka kita lanjut ke tips selanjutnya.

2. Memilih reksa dana pasar uang (RDPU)

tips memilih RD di bibit

Kalau memilih untuk RDPU, cari saja yang memberi return paling tinggi karena RDPU itu minim risiko.

Mau lebih detail, cari yang total AUM nya besar. Semakin besar maka artinya semakin dipercaya oleh nasabah.

3. Memilih reksa dana obligasi (RDO)

Masih dengan cara yang sama seperti #2 tapi dengan beberapa tambahan, yakni:

Cari return paling tinggi dan konsisten selama 1,3,5 tahun. Karena RDO adalah perjalanan yang lebih panjang dari pada RDPU, maka kita harus cek konsistensinya juga.

Dalam hal ini, kita tidak akan menemukan produk yang sempurna. Tapi carilah yang mendekati ekspektasi kita.

Lalu cek ke fund fact sheet produk tersebut. Cari yang kinerjanya lebih tinggi dari pada benchmark indeks secara konsisten (>1 tahun).

kinerja reksa dana

Terkadang saya lihat expense ratio juga. Bukan hal yang utama memang, karena nilai return itu sudah nett setelah dipotong expense ratio. Hanya untuk mengecek seberapa efisien MI tersebut dalam mengelola dana.

4. Memilih reksa dana saham (RDS)

Point ini agak tricky sih, tergantung point of view sih.

Jenis RDS

Ada 2 jenis RDS, yang aktif dikelola MI dan yang pasif. Tentukan dulu mau yang mana.

  1. RDS aktif = karena dikelola MI secara aktif, jadi butuh usaha lebih. Jadi tidak aneh kalau expense ratio lebih tinggi. Tapi dengan demikian biasanya MI dituntut untuk memberikan return lebih tinggi juga.
  2. RDS pasif = lebih dikenal dengan RD Indeks. Secara pasif dikelola untuk mengikuti indeks. Expense ratio lebih rendah karena returnnya hanya mengikuti indeks namun mengurangi risiko kesalahan yang dilakukan MI.

Detailnya bisa kamu baca di perbedaan reksa dana, reksa dana indeks dan ETF.

Kalau sudah menentukan jenis RDS, kamu jadi sudah memikirkan ekspektasi return yang akan kamu dapat.

Kombinasi return dan expense ratio

Dimana-mana memang point utama investasi ya cari return, maka carilah return maksimal yang sudah konsisten dalam 1,3,5 tahun. Tapi dengan expense ratio minimum. Dibandingkan dengan RDS lain dari jenis yang sama.

AUM (dana kelolaan)

Besar berarti kepercayaan investor, kecil berarti keleluasaan mengelola dana. Pilihlah kombinasi keduanya.

Untuk RDS, akan lebih mudah dimengerti kalau kita buka fund fact sheet produk tersebut.

Sekian sharing saya mengenai tips memilih reksa dana. Bisa dipakai di aplikasi lain juga kok. Tips nya tidak bersifat mutlak ya. Saya hanya share cara saya. Orang lain boleh punya cara yang berbeda.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Kenapa Memilih Investasi Reksa Dana?

Banyak orang bertanya kalau bisa investasi langsung, kenapa harus investasi di reksa dana melalui Manager Investasi (MI)?

Melalui post ini, saya mau coba menjelaskan pendapat saya masih berinvestasi dalam reksa dana dari pada investasi instrumen secara langsung.

Bagi yang belum mengenal reksa dana, bisa coba baca dulu mengenai pengenalan reksa dana.

Kenapa pakai reksa dana pasar uang

Reksa dana pasar uang (RDPU) adalah reksa dana yang berinvestasi pada deposito dan surat utang jangka pendek (jatuh tempo <1 tahun).

Lalu kepada mau pakai RDPU? Sementara kita bisa depositokan uang kita sendiri di bank.

Bagi saya, RDPU lebih menguntungkan dari pada penempatan deposito langsung di bank. Kamu bisa cek return 1 tahun terakhir dari deposito bank dan RDPU yang ada di aplikasi reksa dana.

Kelebihan RDPU

Investor ritel bisa deposito di bank? Bisa.

Tapi investor ritel tidak punya jaringan/network yang seluas MI untuk mencari bank yang menawarkan suku bunga tertinggi.

Bahkan dalam bank yang sama, suku bunga ritel dengan penempatan jutaan pasti berbeda dengan suku bunga untuk MI yang mengelola dana miliaran rupiah.

Ritel juga jarang ada yang mengerti beli obligasi jangka pendek.

Dengan alasan di atas, saya sudah tidak melakukan penempatan deposito lagi di bank. Taruh saja di RDPU dan biarkan profesional yang mencarikan penawaran terbaik.

RDPU biasa dipakai untuk mengumpulkan dana jangka pendek. Kalau ada rencana yang dipakai dananya dalam tempo 1 tahun, atau untuk menyimpan dana darurat (emergency fund).

Saya pernah bahas mengenai RDPU vs Deposito.

Kenapa pakai reksa dana obligasi

RD kedua adalah reksa dana obligasi (RDO) atau reksa dana pendapatan tetap (RDPT). Reksa dana yang menempatkan dananya dalam instrumen obligasi (surat utang), baik obligasi pemerintah ataupun perusahaan.

Return yang didapat akan lebih tinggi dari pada RDPU dengan kita memberi waktu kepada MI untuk mengelola lebih lama. Kemungkinan dalam jangka pendek, kinerja RDPT belum terlalu berkembang, makanya kamu akan salah pilih kalau hanya melihat performa MI dalam 1 tahun saja.

Kenapa pakai RDO? Karena saya tidak mengerti obligasi.

Kalau buat sebagian besar orang mengenal deposito, maka obligasi termasuk instrumen yang jarang orang kenal. Penempatan minimum saja tergolong mahal, antara 50 juta hingga 100 juta.

Maka sebagai ritel, saya tidak terlalu ambil pusing dan biarkan profesional yang mengelolanya.

RDPT cocok untuk kamu yang punya rencana akan mengumpulkan dana dan memakai dana tersebut dalam waktu 3-5 tahun. Dari pada ditempatkan di instrumen jangka pendek, rendah risiko. Lebih baik ambil risiko lebih tinggi sebab ada time frame yang lebih panjang.

Time frame lebih panjang akan menurunkan risiko kita dalam instrumen lho.

Saya pernah bahas mengenai obligasi di Obligasi vs RDPT.

Kenapa pakai RD saham

Reksa dana saham (RDS) adalah reksa dana yang paling terkenal sepertinya. MI mengelola portofolio ke instrumen saham (mayoritas). Dan para investor ritel tertarik masuk ke sana dengan imbal hasil yang lebih tinggi daripada RDPU ataupun RDPT.

Kita pilih investasi di RDS kalau kita:

  • Punya time frame panjang >5 tahun untuk dana tersebut. Jadi jangan bermain api dengan memakai dana 1 tahun atau dana sehari-hari.
  • Tidak punya waktu, tidak punya ketertarikan untuk terjun dalam dunia saham.

Pilih saja mau yang dikelola MI secara aktif dengan harapan capaian return lebih tinggi dari indeks saham dengan membayar management fee lebih besar, atau secara pasif (RD Indeks) yang pergerakannya hanya mengikuti indeks saham dengan membayar management fee lebih kecil.

Keduanya punya keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Maka dimana kita bisa beli reksa dana?

Ada banyak cara membelinya, baik langsung ke MI atau ke bank atau ke marketplace reksa dana. Saya memilih opsi yang terakhir.

Kamu bisa coba di:

  1. Bibit – saya rekomen ini untuk pemula karena langkah-langkahnya mudah dimengerti.
  2. Bareksa – kalau ingin lebih banyak pilihan.
  3. Ajaib – platform yang bisa reksa dana dan saham sekaligus. 1 platform untuk 2 instrumen.
  4. Dan masih ada lagi yang lain, kamu bisa searching.

Kalau kamu bingung mau pilih platform mana, saya pernah review mengenai Bibit dan Bareksa.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Memilih Reksa Dana Saham atau Saham?

Bagi yang masih bingung memilih instrumen investasinya, baik reksa dana saham atau saham, coba baca dulu post ini. Semoga bisa memutuskan begitu selesai membaca.

Sebelumnya kita harus mengerti dulu kalau yang namanya reksa dana saham (RDS) itu berbeda dengan saham. Coba kita break down apa saja perbedaannya dulu.

Perbedaan reksa dana saham dan saham

1. Definisi

Saham itu kita beli kepemilikan atas suatu perusahaan secara langsung. Yang sudah go public atau listing di BEI tentunya. Nama kita tercatat sebagai pemilik dari perusahaan, meskipun hanya 0.00000…%.

Sementara kalau di Reksa dana saham (RDS), kita patungan dengan investor lain untuk membeli perusahaan tersebut melalui Manager Investasi (MI). Jadi kita membeli perusahaan secara tidak langsung.

Dari definisi yang sudah berbeda, maka akan mempengaruhi faktor yang lain.

2. Pengambil keputusan

Karena saham, kita ambil keputusan sendiri. Tanggung jawab lebih besar, jadi kita harus belajar lebih baik.

Sementara RDS, kita mempercayakan uang kita dikelola oleh MI. Jadi MI-lah nanti yang akan mengambil keputusan dalam mengelola portofolio. Kita hanya perlu mengevaluasi kinerja MI tersebut apakah sudah bekerja baik atau tidak.

Patokannya dengan apa? Bandingkan dengan kinerja benchmark. Kalau saham, biasa patokannya dengan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan).

3. Modal

Kedua instrumen sebenarnya tidak lagi memerlukan modal besar untuk memulai. Kita hanya perlu minimal Rp 100.000 untuk membeli produk RDS. Bahkan jaman sekarang sudah ada produk yang minimal Rp 10.000 (walaupun belum banyak).

Sementara untuk saham, kita perlu minimal harga 1 lot saham perusahaan yang mau kita beli. (1 lot = 100 lembar).

Misal, beli saham SIDO di Rp 800/lembar, kita perlu minimal Rp 80.000 untuk membeli 1 lot saham tersebut. Atau saham BBRI di Rp 4.300/lembar, maka siapkan Rp 430.000/lot. Jadi modal minimalnya tergantung kita mau beli saham apa.

4. Keuntungan

Kita bisa dapat keuntungan dari saham melalui capital gain (jual lebih tinggi daripada harga beli) atau dari dividen. Begitu keuntungan terealisasi, dana akan ditransfer ke rekening dana nasabah (RDN) H+2. Tentunya setelah dipotong pajak.

Transaksi penjualan saham dikenai pajak 0.1% final dan dividen kena pajak 10% final.

Sementara RDS akan menerima capital gain dan dividen yang sama namun tidak secara langsung dalam bentuk uang. Keuntungan tersebut akan dihitung oleh MI dan menambah nilai NAB (Nilai Aktiva Bersih) unit yang kita miliki, alias harga unit produk tersebut jadi naik.

Karena sudah dipotong pajak saat dikelola MI, maka kita tidak dikenai pajak lagi saat mencairkan/menjual unit RDS kita.

5. Risiko

Keduanya berisiko kok, hanya tipenya saja yang berbeda. Karena saham dikelola sama diri sendiri, kita bertanggung jawab sama risikonya secara langsung. Kalau beli saham yang salah atau di harga yang salah, itu benar-benar risiko kita. Tidak boleh menyalahkan siapa pun.

Sementara RDS dikelola oleh MI. Risiko? Ya tetap ada. Memang semua MI pasti punya kinerja baik? Jadi MI itu susah lho, banyak regulasi yang harus diikuti dan itu membatasi cara kerja mereka. Kalau kita salah milih MI, tidak aneh juga kalau investasi kita tidak berkembang atau malah rugi.

6. Fee reksa dana saham dan saham

Secara fee, memang lebih murah dalam saham. Saham hanya menetapkan fee untuk sekuritas sekitar 0.13%-0.19% per transaksi (jual/beli).

Sementara RDS harus lebih tinggi. Namanya juga kita pakai jasa profesional untuk mengelola investasi kita, jadi harus bayar fee dong. Kan mereka juga harus digaji. Kisaran 2%-4% per tahun, tergantung MI. Bisa cek di fund fact sheet mereka.

Bagi yang mau tahu cara baca fund fact sheet, bisa cek post Prospektus dan Fund Fact Sheet Reksa Dana.

perbedaan reksa dana saham dan saham

Jadi reksa dana saham atau saham?

Jawabannya tergantung. Kamu lebih cocok yang mana? Kamu lebih cocok mengendarai sendiri atau disetir oleh MI. Dan tidak ada jawaban yang salah.

Kalau opini saya, bagi yang baru mulai mengenal investasi, coba dulu dengan RDS akan lebih baik. Setidaknya we can feel the ride dulu di dunia saham dengan dikendarai oleh MI. Percaya dengan yang lebih pengalaman dan profesional.

RDS juga cocok untuk kamu yang berpikir tidak punya cukup waktu dan kemampuan untuk mengelola investasi sendiri.

Tapi kalau kamu punya keinginan lebih untuk belajar lebih dalam, ingin punya pengalaman mengelola investasi sendiri, bisa meluangkan waktu sedikit untuk research saham, atau punya ketertarikan di bidang saham, ya kenapa tidak mencoba saham ya kan.

Saya memilih saham ketimbang reksa dana saham

Kalau saya? Saya memilih saham. Dan ini beberapa yang jadi pertimbangan kenapa demikian.

1. Lebih punya kebebasan

Sebagai investor saham, kita punya kebebasan membeli saham yang kita sukai. Jangan harapkan hal tersebut dalam RDS. Portofolio RDS sudah menjadi wewenang dari MI.

Pernah lihat fund fact sheet sudah produk RDS? Isinya daftar top 5 saham terbesar yang dipegang MI itu. Dan belum tentu kita sependapat.

Lebih dari ini, MI sendiri bekerja dengan limitasi regulasi yang ada. Pernah dengar beberapa rules yang mereka harus jalani?

  • Tidak boleh investasikan >10% dari dana kelolaan ke 1 perusahaan saja.
  • Tidak boleh jadi pemegang saham >5% dari suatu perusahaan.
  • Biasanya ditekan untuk membeli saham-saham bluechip saja. Kalau beli perusahaan kecil dan gagal, tekanannya lebih besar
  • Dan lainnya bisa dicek dalam POJK 33/POJK.04/2017.

Jadi kalau melihat keterbatasan yang terjadi di MI, bisa disimpulkan kalau investor ritel punya privilege lebih dibandingkan MI.

2. Punya ketertarikan

Kalau tidak menarik untuk kita, lebih baik serahkan saja tugas itu ke orang yang lebih profesional. Tapi kalau saya, saya punya ketertarikan lebih di bidang saham, mau belajar lebih dan paham lebih baik.

Mudah? Belum tentu. Seperti yang para ahli bilang, it’s not a rocket science. Tapi kalau bukan dari background keuangan, tetap saja merasakan struggle untuk belajar segalanya dari awal.

3. Reward

Saya tidak bilang keuntungan yang didapat dari saham lebih besar dari pada RDS. Saya juga tidak akan mengatakan kalau investor saham lebih pintar dari pada MI. Tapi ini tentang bagaimana rasanya mendapat keuntungan dari hasil pemikiran sendiri.

Memetik buah dari hasil menanam sendiri rasanya jadi lebih manis ketimbang ditanam oleh orang lain. Tapi sekali lagi, ini sifatnya subjektif. Saya hanya memaparkan opini saja.

Apakah saya meninggalkan RDS?

Tidak juga.

Portofolio saya masih ada sebagian di RDS, tapi tipenya bukan yang secara aktif dikelola oleh MI. Melainkan yang dikelola secara pasif oleh MI, namanya Reksa Dana Indeks.

Mengurangi risiko pengambilan keputusan, saya memilih reksa dana indeks yang kinerjanya hanya mengikuti indeks acuannya. Pekerjaan MI juga jadi lebih mudah daripada RDS aktif.

Kalau mau tahu bedanya, kamu bisa cek di post Perbedaan reksa dana, reksa dana indeks dan ETF.

Demikian pendapat saya tentang RDS dan saham. Semoga bisa membantu kamu dalam memutuskan.

Perlu tanya lebih dalam? Boleh message saya di kolom komentar. Will try my best to help you.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Panik Saat Pasar Saham Turun

Kalau kamu investor saham, baik secara langsung maupun melalui reksa dana saham, maka post ini sungguh didedikasikan buat kamu. Saat pasar saham turun, apakah kamu merasa takut? Wajar.

Tapi jangan sampai panik berlebihan.

Kenapa demikian?

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Berikut ini kita bahas dahulu penyebab kita bisa panik.

5 Alasan kita bisa panik berlebihan saat pasar saham turun

1. Jika kita pakai uang dapur

Rule #1 jika memulai investasi adalah pakai dana dingin. Artinya, kita tidak akan menggunakan dana tersebut dalam waktu 20 bulan ke depan.

Kalau kita ada dana yang sudah ditabung untuk membayar pendidikan anak atau pernikahan tahun depan, maka menginvestasikannya dalam saham bukanlah pilihan bijak. Kenapa?

Karena kita tidak tahu apa yang terjadi pada pasar dalam waktu dekat.

Kita harus menyisihkan dahulu dana darurat sebelum investasi. Keamanan akan memberikan ketenangan diri.

Bayangkan kalau kamu mulai investasi di November 2019 menggunakan dana yang akan kamu pakai untuk menikah di bulan Mei 2020. Apa iya rencanamu tidak akan terganggu?

2. Jika awalnya kita investasi hanya ikut-ikutan

Pernah dengar nasehat “Do your own research“? Ini adalah nasehat terbaik yang pernah saya dapatkan dan terbukti saat market crash.

Kalau kita investasi atas dasar ikut-ikutan, baik ikut profesional, analis, teman, keluarga, kita tidak akan punya planning yang pasti. Rekomendasi memang boleh, tapi kita juga harus research sendiri.

Sama seperti kita mau memilih HP baru untuk diri sendiri. Demikian juga dengan saham yang mau kita pilih. Cari tahu apa kelebihan, kekurangan dan cocokkan dengan diri sendiri.

Rencanakan sejak awal, kita mau beli di harga berapa? berapa nilai yang bisa perusahaan itu capai menggunakan perhitungan sendiri. Dengan demikian, kita akan yakin dengan pilihan kita.

Jika demikian, tidak akan ada lagi yang bertanya “apakah saham XXXX harus dijual atau hold?”, “beli sekarang atau tunggu?”, atau malah “what should I do now?

Percayalah pada diri sendiri. Jika pun ada kesalahan, biar itu jadi pembelajaran yang berharga untuk kita. Kita akan menjadi lebih baik, belajar lebih banyak dari sebuah kegagalan.

Kalau kamu bilang kamu tidak bisa analisa fundamental perusahaan, coba cek post Cara Filter Saham Secara Fundamental.

3. Jika kita terlalu banyak menerima informasi

Kalau jaman dulu, susah sekali mencari informasi tentang perusahaan, saham, dan pasar saham.

Tapi kalau di jaman sekarang, malah susah sekali menyaring informasi yang baik untuk kita cerna. Karena terlalu banyak informasi yang beredar, malah menimbulkan bias bagi diri sendiri.

Ketakutan jadi muncul lebih mudah dengan membaca berita, rumor, pendapat profesional.

Lebih baik kroscek dulu info yang kita dapatkan. Dan juga jangan terlalu terbawa perasaan dengan berita tersebut.

4. Terlalu sering buka aplikasi saham

Jika kamu seorang trader, maka ga akan aneh kalau kamu standby di depan aplikasi saham selama pasar berlangsung. Tapi apa yang terjadi kalau kamu seorang investor?

Ini yang akan kita lihat dalam jangka pendek (1 bulan)
Ini yang kita lihat dalam jangka panjang (5 tahun)

Kalau kita sering lihat pergerakan saham setiap jam, menit bahkan detik, turun sedikit saja akan memicu emosi kita. Padahal jika kita zoom out itu hanya akan jadi gejolak kecil.

Silakan saja meng-update pergerakan saham asal jangan terbawa suasana. Saat turun, takut rugi. Saat naik, takut ketinggalan kereta (FOMO).

5. Memang profil risiko tidak cocok

Tidak perlu memaksakan diri kalau memang profil risiko tidak cocok dengan volatilitas saham yang cepat. Ketenangan jiwa jauh lebih penting dari pada profit yang dijanjikan.

Profil risiko bukan hanya bicara tentang kepribadian, tapi juga usia. Usia yang sudah lanjut, lebih rentan terhadap risiko.

Kalau kamu tidak bisa tidur nyenyak setiap malam hanya karena memikirkan saham kamu sedang turun. Atau justru malah emosi dan melampiaskan ke sekitar. Bukankah malah merusak kehidupan kita?

Ada banyak cara untuk mencapai tujuan keuangan kita. Juga ada banyak investasi lain yang tersedia. Kamu hanya perlu mencari mana yang cocok dengan kamu. Saham bukan satu-satunya jalan.

Mungkin ada alasan lain penyebab kepanikan kita. Yang lainnya, bisa kamu bantu share di kolom komentar ya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? DO NOT PANIC!!

Sesimple itu diucapkan, tapi sesulit itu dilakukan. Betul?haha

Sebagai penenang, ada beberapa point yang mau saya share untuk saling menguatkan. Semoga bermanfaat.

4 Alasan agar kita tidak panik saat pasar saham turun

A. Penurunan pasar saham hanya sementara

Kembali ke ilmu alamiah, bahwa di dunia ini segala hal sifatnya adalah sementara, termasuk pasar saham yang turun.

Pernah tidak pasar mengalami downturn tiba-tiba karena krisis seperti tahun 2020, kemudian tidak pernah kembali ke posisi awal saat recovery? 1998? 2008? Lalu bagaimana dengan 2020?

Memang belum tentu tahun 2020 langsung recovery, bisa saja menunggu 1 tahun kemudian. Di saat sekarang, kesabaran adalah kunci.

B. Ingat planning awal

Coba ingat kembali rencana awal kita beli saham tersebut. Menjadi investor, maka time frame kita pastinya jangka panjang (5-10 tahun). Jadi jika ada market crash di tahun pertama, apa yang harus kita lakukan?

Kembali ke planning karena tidak ada hal baik yang bisa kita putuskan di saat panik dan takut.

C. Fundamental perusahaan tidak berubah secepat itu

Jika pasar jatuh, tidak demikian dengan fundamental perusahaan (jika kita beli perusahaan yang bagus). Fundamental perusahaan (aset, ekuitas, kinerja) tidak berubah secepat harga berubah.

Apakah perusahaan tersebut rontok H-1 sebelum harganya jatuh? Tentu tidak. Pasar saham sudah bercampur dengan emosi manusia. Itu sebabnya harga saham bisa naik dan turun dalam waktu singkat padahal fundamentalnya tidak ada sentimen apa pun.

Selama kita mengevaluasi kinerja perusahaan yang kita miliki, dan masih baik-baik saja maka dalam jangka panjang, harga saham akan mengikuti fundamental kembali.

D. Anggap seperti sale

Jika kita beli barang bagus, bukannya senang kalau dalam posisi murah / sale? Demikian juga dengan sebuah perusahaan. Kenapa justru berubah pikiran menjadi takut?

Jika demikian, kenapa kita tidak membeli lebih banyak di saat sale? Jelas dengan mempertimbangkan money management ya. Jangan semua uang dimasukkan ke saham.

Jadi kita sudah mencapai akhir di post ini. Semoga bisa menguatkan para investor dalam menghadapi market yang belum stabil di masa pandemi ini.

Setelah krisis ini berakhir, kita akan keluar menjadi pemenang dan orang yang lebih berpengalaman. Ini pelajaran yang berharga lho, terjadinya hanya beberapa tahun sekali.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

BIBIT : Dana Tabungan dan Dana Pensiun

Di aplikasi Bibit ada yang namanya dana tabungan dan dana pensiun nih. Memang apa bedanya? Nah, post ini akan coba bahas.

Bagi yang belum tahu atau belum daftar Bibit, bisa cek post tentang Review Bibit dulu.

Link download Bibit tinggal klik di sini.

Bagi yang baru daftar, bisa masukkan kode promo margaret untuk mendapatkan cashback senilai Rp 25.000 setelah pembelian reksa dana pertama kamu.

Nah untuk yang sudah menggunakan aplikasi Bibit mungkin bingung kenapa ada 2 jenis pilihan, dana tabungan dan dana pensiun. Mari kita cek ya.

Beda dana tabungan dan dana pensiun

Dana Tabungan

Pilih dana tabungan kalau kamu mau beli produk reksa dana secara satuan. Misal mau beli reksa dana pasar uang atau obligasi atau saham SAJA. Maka beli melalui dana tabungan.

Dana Pensiun

Nah, kalau di dana pensiun, kita dibuatkan 1 portofolio dengan 3 jenis reksa dana, yaitu reksa dana pasar uang (RDPU), reksa dana obligasi (RDO), dan reksa dana saham (RDS).

Komposisi portofolionya akan disesuaikan dengan profil risiko investor.

Kalau profil kita konservatif, akan lebih condong ke RDPU dan RDO. Sedangkan yang agresif pasti lebih banyak porsi ke RDS.

Satu hal yang perlu saya ingatkan, kalau profil risiko itu tidak ada yang lebih baik. Score 1 bukan yang terburuk, dan 10 bukan yang terbaik. Itu hanya untuk membedakan persentase jenis reksa dana.

Rekomendasi Robo

Rekomendasi Robo dalam dana pensiun masih bisa diubah sesuai keinginan kita. Namanya juga rekomendasi, jadi tidak harus diikuti.

Yang dapat diubah adalah:

  • Profil risiko. Jika kita merasa tidak cocok dengan hasil test. Bisa diatur sesuai keinginan, lalu berpengaruh ke persentase jenis reksa dana.
  • Pilihan produk reksa dana. Sebelum investasi di dana pensiun, cek dulu rekomendasi produk dari tiap jenis RD. Mungkin ada yang tidak cocok, jadi bisa diganti.
portofolio dana pensiun bibit

Kemudahan di Bibit

1. Pindah portofolio

Produk RD kita yang ada, baik dalam dana tabungan atau dana pensiun bisa saling dipindahkan, tanpa biaya dan langsung pindah. Memang tidak sulit karena hanya memindahkan portofolio. Toh produknya sudah dibeli dan tidak mengalami perubahan jumlah unit.

Setelah pindah, persentase dana pensiun pasti berubah, betul?

Nah untuk top up selanjutnya, Robo akan melakukan rebalancing portofolio. Jadi setelah pembelian, komposisi akan kembali ke persentase awal. Efisien bukan?

Itu gunanya persentase di dana pensiun. Karena sampai seterusnya, alokasinya akan tetap dijaga.

Kalau kamu ingin memiliki salah satu produk lebih banyak daripada yang ditentukan dalam alokasi, kamu tinggal pindahkan ke dana tabungan.

2. Switch Produk

Kamu punya produk RDO, tapi kamu tidak terlalu suka dengan produk ini. Ingin kamu pindahkan ke RDS saja. Bisa! Dengan catatan, kedua produk RD ini berasal dari 1 Manager Investasi (MI) yang sama. MI nya pun tidak semua bisa memfasilitasi demikian.

Biaya switch produk adalah gratis (namanya juga di 1 MI), tapi butuh waktu minimal 2 hari kerja untuk transaksi selesai.

Sekian dulu mengenai dana tabungan dan dana pensiun di Bibit ya. Jika ada yang mau ditanya silakan di kolom komentar.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Obligasi vs RDPT : Mana Yang Dipilih?

Apa bedanya Obligasi dengan RDPT (Reksa Dana Pendapatan Tetap)? Mana yang lebih baik untuk dipilih?

Seperti biasa, kita mulai dari pengertian masing-masing instrumen.

Pengertian obligasi dan RDPT

Obligasi adalah surat pernyataan utang. Kita sebagai investor akan mendapatkan kupon sebagai bunga pinjaman. Jangka waktunya biasa 1-30 tahun. Nanti di akhir periode utang, kita akan mendapatkan kembali pokok pinjaman.

Yang bisa menerbitkan obligasi adalah badan usaha seperti pemerintah dan perusahaan. Kalau pribadi ya tidak bisa. Kita juga tidak akan percaya ke individu bukan.

SBN ritel macam SBR,ORI,ST,SR juga termasuk obligasi nih. Tapi untuk skala yang lebih besar, obligasi perlu modal puluhan hingga ratusan juta.

Sementara RDPT adalah reksa dana yang mengelola dana investor ke pendapatan tetap (obligasi). Jadi istilahnya seperti investasi di obligasi secara tidak langsung.

Perbedaan obligasi dan RDPT

1. Imbal hasil

Jika berinvestasi di obligasi, kita mendapat keuntungan dari kupon yang dibayarkan (setiap bulan/kuartal/semester) dan dari capital gain saat diperjualbelikan di pasar sekunder.

Nah kalau investasi di RDPT, keuntungan yang didapat adalah dari kenaikan NAB (Nilai Aktiva Bersih).

2. Pajak

Kalau secara potongan pajak, kupon obligasi akan dipotong 15% final. Sementara RDPT? Tidak potong pajak karena bukan objek pajak.

Kok begitu?

Karena saat MI kelola dana di obligasi, mereka sudah kena potong pajak. Jadi kita tidak akan dipotong pajak lagi. Ya sama saja jadinya. Hanya kita langsung terima bersihnya saja.

3 Risiko

Karena sifatnya meminjamkan uang ke badan usaha, risikonya adalah gagal bayar (peminjam tidak bisa bayar pokok dan bunga pinjaman) atau telat bayar.

Kalau obligasi keluaran pemerintah sih aman (free risk).

Kalau RDPT, kita menyerahkan kepada MI untuk mengelola dana kita, termasuk risk management. Mereka yang menimbang obligasi mana yang aman untuk investasi.

Namun jika salah kelola, bisa juga RDPT membuat kita rugi atau bahkan kehilangan modal kita. Jadi tetap hati-hati memilih MI.

Saya memilih RDPT dari pada obligasi

Jenis obligasi yang hingga saat ini saya coba hanya jenis SBN ritel. Jadi bisa dibilang saya kurang pengalaman di instrumen obligasi.

Namun ada beberapa hal yang membuat saya tidak memilih investasi di obligasi secara langsung, antara lain:

1. Modal

Ini sih faktor utama tidak bisa investasi di obligasi. Modal untuk beli obligasi relatif besar untuk saya. Biasanya minimum Rp 100 juta (dan kelipatannya).

Karena mentok di modal, maka pindahlah saya ke RDPT yang lebih manusiawi untuk saya..haha

Iya, memang baru diluncurkan oleh Digibank (DBS) fitur supaya kita bisa membeli obligasi dengan modal minimum Rp 1 juta saja. Belum saya coba, mungkin nanti akan saya review jika tertarik mencobanya.

2. Return

Jujur saja, saya lebih percaya MI dapat menghasilkan return lebih tinggi daripada saya beli obligasi sendiri. Coba kita bandingkan ya.

Ini adalah return RDPT di aplikasi Bibit selama 1 tahun terakhir (diurut dari return tertinggi). Sekitar 12%-13%/tahun. Yang lebih kecil ada, tapi kalau kita mau beli, pasti cari di barisan return tinggi bukan.

Obligasi vs rdpt
Sumber: Bibit

Dan dibandingkan dengan return dari obligasi. Yang dibaca bukan rate kuponnya, tapi dari yield nya. Yield menghitung return komposisi dari kupon, harga beli dan tanggal jatuh temponya. Sekarang antara 6%-8%/tahun.

Sumber : Digibank

Bahkan saat yield obligasi tertinggi di tahun 2020, sekitar 8%-9% untuk FR0072.

yield obligasi fr0072
Sumber : BCA

Mungkin kalau obligasi korporasi dengan risiko lebih besar, return yang didapat juga akan lebih tinggi. Tapi saat ini, saya belum menguasai jadi saya lebih memilih RDPT yang bisa menghasilkan secara maksimal.

3. Ada spread jual-beli

spread jual beli obligasi
Sumber : BCA

Obligasi biasanya ada harga jual dan harga beli (ada spread), dan tiap institusi yang menjual bisa menawarkan harga yang berbeda. Agen penjual biasanya mencari keuntungan dari spread ini.

Jadi menambah PR 1 lagi untuk membandingkan harga di setiap agen penjual. Berbeda dengan saham, yang harganya sudah transparan di sekuritas mana pun kita membelinya. Atau dengan reksa dana, beli di Bareksa maupun Bibit harga NAB akan sama.

Kesimpulan

Ya, saya dengan pendapat pribadi memilih RDPT dari pada obligasi. Namun, bukan berarti obligasi lebih buruk ya.

Setiap pribadi akan punya pendapatnya masing-masing berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan analisanya.

Anyway, kalau kamu mau coba investasi di reksa dana Bibit, kamu bisa cek post saya di sini.

Dan kalau kamu mau buka akun di Bibit, bisa masukkan kode referral saya : margaret. Kamu akan dapat cashback dalam bentuk reksa dana senilai Rp 25.000. Terima kasih.

Kalau mau sharing atau bertanya, bisa komen atau email saya saja.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Perbedaan Reksa Dana, Reksa Dana Indeks, dan ETF

Reksa dana, reksa dana indeks dan ETF (Exchange Traded Fund). Jika dihadapkan kepada ketiga pilihan, manakah yang akan kita pilih? Untuk memilih itu, maka kita perlu mengetahui karakteristik dan perbedaan masing-masing produk tersebut.

Pengertian dan karakteristik

1. Reksa dana

Reksa dana (Mutual Fund) adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya di investasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi. (BEI)

Reksa dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas.

Keuntungan reksa dana adalah:

  • Terjangkau. Reksa dana memang didesain untuk investor yang tidak memiliki modal besar. Pembelian minimum suatu produk bisa dengan Rp 10.000 saja.
  • Efisien. Jika kita tidak memiliki waktu untuk memilih produk investasi, tidak memiliki keahlian atau pengetahuan memadai, tidak perlu kuatir karena sang manager investasi (MI) yang akan bekerja untuk mengatur portofolio.
  • Diversifikasi. Dengan MI berinvestasi di berbagai macam produk, maka portofolio kita otomatis akan terdiversifikasi. Diversifikasi baik dalam investasi untuk mengurangi risiko.

Namun yang belum banyak orang sadari, reksa dana memerlukan MI untuk beroperasi. MI adalah orang-orang profesional yang ahli dalam bidang investasi. Itu artinya investasi kita dikelola secara aktif (active management) sehingga akan ada management fee yang harus dibayarkan ke MI selama mereka mengelola dana kita.

Berapa management fee yang investor tanggung? Kisaran 2%-4%/tahun. Kita bisa cek sendiri di fund fact sheet setiap produk.

Asumsi kita investasikan Rp 10juta dalam 1 produk, maka otomatis 2.50% (Rp 250.000)/tahun. Mahal? Relatif.

Cukup diingat, management fee akan tetap dibayar apapun kondisi kinerja portofolionya. Jika untung besar, maka management fee jelas bukan masalah berarti. Namun jika seperti tahun 2020, yang seluruh produk reksa dana saham amblas menjadi minus, management fee jelas menambah beban dalam investasi kita.

Detail reksa dana bisa dibaca di post ini.

2. Reksa dana indeks

Maka muncul reksa dana jenis baru yaitu reksa dana indeks.

Reksa Dana Indeks (Index fund) adalah Reksa Dana yang dikelola untuk mendapatkan hasil investasi yang mirip dengan suatu indeks yang dijadikan acuan, baik itu indeks obligasi maupun indeks saham.

Indeks yang menjadi acuan bisa banyak pilihan, seperti:

  • LQ45 : indeks 45 saham terlikuid dan kapitalisasi besar di bursa.
  • IDX30 : mirip dengan indeks LQ45 namun dengan jumlah lebih kecil, 30 saham acuan.
  • Sri Kehati : indeks berisi 25 saham memiliki kesadaran terhadap lingkungan hidup, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik (Sustainable and Responsible Investment = SRI). Biasa tidak ada saham batu bara di dalamnya.

Jadi, 1x pembelian kita (top up) di produk reksa dana indeks, akan diinvestasikan ke seluruh saham dalam indeks acuan tersebut.

Dengan mengetahui saham yang akan dibeli, maka reksa dana indeks tidak memerlukan tenaga ahli untuk menganalisa, memutuskan dan mengelola portofolio. Jadi management fee dalam reksa dana dapat berkurang drastis di reksa dana indeks. Namanya passive management.

Mari kita cek salah satu reksa dana indeks yang ada. Contoh Avrist Indeks IDX30, management fee maksimum 1%.

fund fact sheet reksa dana indeks Avrist IDX30
Kenapa management fee reksa dana indeks lebih murah dari pada reksa dana?

Reksa dana memakai MI yang ahli untuk menganalisis saham,obligasi mana untuk diinvestasikan.
Sementara reksa dana indeks tidak memerlukan keahlian khusus. Tugas MI hanya membagi dana sesuai indeks acuan.
.

Cara membedakan reksa dana indeks?

Dalam setiap produk reksa dana indeks, pasti tercantum kata “indeks / index fund
daftar reksa dana indeks

3. ETF

Exchange Traded Fund (ETF) adalah reksa dana yang diperdagangkan di bursa efek. ETF merupakan kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya dicatat dan diperdagangkan di bursa efek seperti halnya saham. (Wikipedia)

Jadi ETF itu sama persis dengan reksa dana indeks. 1 perbedaannya adalah ETF bisa diperdagangkan di bursa, bisa jual/beli dan harganya bisa naik/turun.

Berikut contoh beberapa ETF yang sudah terdaftar. Ada tercantum kata “ETF”, jenis kategori Saham, dan biasa kodenya dimulai dengan huruf “X”.

contoh daftar etf

Mana yang lebih baik? Reksa dana, reksa dana indeks atau ETF?

Seperti biasa saya katakan, setiap produk punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pilih yang cocok dengan diri sendiri.

  • Kalau menurutmu kinerja reksa dana bisa mendapat return yang lebih tinggi dari pada reksa dana indeks atau ETF, meskipun harus menanggung management fee lebih tinggi, maka Reksa Dana bisa jadi pilihan yang tepat.
  • Atau kalau kamu mau reksa dana indeks karena management fee yang lebih rendah dan kinerja indeks acuannya sudah cukup memenuhi ekspektasimu, silakan.
  • Atau malah kamu mau memiliki reksa dana indeks yang bisa diperdagangkan di bursa? Silakan memilih ETF.

Oh ya, 1 pertimbangan bagi yang mau memilih ETF di Indonesia. ETF ini masih tergolong baru di Indonesia, jadi peminatnya masih sedikit. Artinya pasar belum ramai dan transaksi jual/beli masih sedikit. Dana kamu menjadi tidak likuid di pasar.

transaksi ETF XIID

Ini contoh transaksi XIID (ETF Index IDX30), selama 01/01/20-04/07/20, hanya ada 3 transaksi saja. Jadi pastikan dana ETF adalah dana super dingin, yang tidak akan dipakai dalam waktu panjang sekali.

Kalau mau beli reksa dana dan reksa dana indeks, bisa beli di agen penjual reksa dana online. Saya pernah review 2 platform pembelian reksa dana, yaitu Bareksa dan Bibit, silakan dibaca.

Untuk ETF, bisa beli di sekuritas saham.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Review : BIBIT, Marketplace Reksa Dana

Bibit adalah salah satu platform untuk membeli reksa dana dan sudah terdaftar di OJK sebagai APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana). Semacam marketplace yang menjual berbagai produk reksa dana dari banyak manajer investasi.

Untuk mengenal reksa dana, kamu bisa cek di sini.

Lalu apa yang membedakan Bibit dengan platform reksa dana lain? Apa aplikasinya layak untuk dicoba?

Kelebihan Bibit

Pertama mengenai kelebihan Bibit (Ini berdasarkan review pribadi dan tidak di-endorse pihak mana pun ya).

Kelebihan BIBIT
Sumber : Bibit

1. Terdaftar dan diawasi oleh OJK

Ada 64 perusahaan APERD yang terdaftar di OJK, dan Bibit salah satunya. Pastikan kita selalu berinvestasi di platform yang sudah terdaftar di OJK ya. Itu menjamin keamanan investasi (menghindarkan kita dari investasi bodong).

2. Online

Saya termasuk orang yang tidak suka harus pergi ke bank / lembaga keuangan untuk bertransaksi. Bagi saya, adalah sebuah nilai plus yang penting jika ada perusahaan yang menunjang seluruh transaksi dengan online.

Bibit sendiri melayani proses profil risiko, registrasi, hingga pembelian dan penjualan secara online (full online).

Dan proses registrasi akun juga cepat. Hanya perlu beberapa menit hingga selesai. Akun baru akan segera diverifikasi oleh Bibit dan KSEI. Sekitar 1-3 jam akun sudah diverifikasi dan siap untuk digunakan (jika akunmu tidak terkendala).

3. UI/UX design

First impression saat menggunakan Bibit adalah exciting. Desainnya bagus dan aplikasinya mudah digunakan. Aplikasinya juga belum pernah hang/error. Fitur-fiturnya menarik untuk digunakan.

4. Terjangkau

Memang produk reksa dana sekarang sudah terjangkau. Biasa minimum pembelian Rp 100.000,-. Namun di Bibit, saya menemukan produk yang minimum pembeliannya adalah Rp 10.000. Jadi ga ada alasan kalau bilang investasi itu mahal.

Fee pembelian juga gratis. Ini memang wajar di banyak marketplace online. Yang masih membebankan fee biasanya adalah bank.

5. Fitur menarik

Ada banyak fitur yang membuat penasaran untuk dicoba, antara lain:

a. Robo Advisor

Dikutip dari Bibit, Robo Advisor adalah teknologi yang membantu merancang portofolio supaya selalu optimal berdasarkan umur, profil risiko dan tujuan hidup. Teknologi didukung oleh riset pemenang Nobel Prize Harry Markowitz yang dinamakan Modern Portfolio Theory.

Fitur ini sangat berguna untuk pemula yang bingung untuk merancang portofolio reksa dananya. Jadi secara otomatis akan dibuatkan oleh robo ini setelah melihat jawaban profil risiko kita.

Sudah saya coba dan pilihannya menarik walaupun sarannya tidak wajib diikuti oleh investor. Jangan terlalu terpaku dengan pilihan robo. Kita bisa mengubahnya sesuai keinginan.

Portofolio buatan robo advisor nanti akan membagi menjadi 3 jenis reksa dana, yaitu : pasar uang, obligasi, saham (ada pilihan untuk syariah). Proporsinya nanti berbeda untuk masing-masing investor. Portofolio ini yang nantinya disebut Dana Pensiun.

b. Dana Pensiun Vs Dana Tabungan

Bibit menyebut portofolio yang dirancang oleh robo advisor sebagai dana pensiun. 1 kali pembelian akan langsung dibagi proporsional ke beberapa jenis reksa dana.

Sedangkan dana tabungan adalah reksa dana yang investor pilih sendiri. Ini adalah jenis yang lazim ada di marketplace lain.

c. Nabung rutin

Aktifkan fitur ini untuk menjadwalkan pembelian reksa dana setiap bulan. Jadi buat yang sering lupa untuk nabung, cocok sekali memakai fitur ini. Yang otomatis dibuat adalah pembelian reksa dana, bukan pembayarannya ya.

Metode pembayarannya tidak autodebet. Pilih e-wallet atau transfer ke virtual account. Jadi kita pasti sadar jika akan didebet karena pembayaran transaksi ini tetap membutuhkan ijin dari pemilik rekening.

d. Gift card reksa dana

Fitur ini adalah untuk mengirimkan hadiah dalam bentuk saldo reksa dana ke penerima. Ada desain kartu ucapannya juga, mirip seperti gift card Tokopedia.

e. Expense ratio

Expense ratio ini muncul di daftar reksa dana yang akan dipilih. Rasio ini mengukur berapa besar biaya untuk mengelola reksa dana. Semakin kecil rasionya berarti kinerja manajer investasi semakin efisien. Ini bisa menjadi bahan pertimbangan memilih manajer investasi.

f. Komunitas Bibit di Telegram

Bibit mengumpulkan para investor (baik yang sudah registrasi maupun belum registrasi) dalam group chat Telegram. Fungsinya agar para investor bisa bertukar pikiran, saling tanya jawab dan bertukar pengetahuan.

Membernya saat ini sudah mencapai 45ribu++, jadi kebayang kan berapa banyak isi group chat tersebut. Alhasil, tidak ada yang saya baca. Setiap kali buka group sudah ribuan chat yang belum dibaca 😅😅

g. Support by chat dengan tim Bibit

Di dalam aplikasi terdapat menu Support yang memudahkan kita untuk chat dengan tim Bibit (bukan mesin). Dan katanya akan dijawab sebelum 2 jam. Pernah coba? Saya belum pernah.

h. Notifikasi ahli waris

Ini yang belum pernah ada di aplikasi lain. Di sini kita bisa menambahkan ahli waris yang akan menerima notifikasi lewat email/SMS jika kita sudah tidak aktif dalam jangka waktu tertentu (kita yang setup).

Dengan notifikasi tersebut membuat si ahli waris tidak kehilangan haknya jika investor tidak memberitahukan daftar harta yang dapat diklaim.

Kekurangan Bibit

1. Pilihan produk reksa dana lebih sedikit

Jika dibandingkan dengan Bareksa, produk yang ditawarkan Bibit memang lebih sedikit sehingga pilihan menjadi berkurang. Per tanggal 17 Juni 2020, Bibit menawarkan 17 produk RD pasar uang, 26 untuk RD obligasi, 35 untuk RD saham, dan 21 untuk RD syariah.

Sisi positifnya, sedikitnya pilihan dapat mengurangi kebingungan memilih produk. Namun menjadi negatif jika investor sudah memiliki produk incaran namun tidak menemukannya di Bibit.

2. Hanya bisa di HP

Aplikasi Bibit hanya tersedia di HP (mobile phone). Sementara jika mau melihat prospektus / fund fact sheet lebih enak dibaca di komputer. Tapi ini masalah selera saja.

Metode Pembayaran di Bibit

Bank Bibit

Beberapa pilihan metode pembayaran Bibit adalah:

  • GOPAY (e-wallet)
  • LinkAja (e-wallet)
  • Virtual account:
    • CIMB Niaga
    • BRI
    • BNI
    • Permata Bank
    • update 07/07/20: Sekarang bertambah dengan VA BCA
  • Bill payment : Bank Mandiri
  • Transfer bank

Kalau bank kamu di luar dari daftar virtual account, lebih baik membayar dengan e-wallet saja untuk meminimalisir biaya admin antar bank.

Cara registrasi Bibit

Jika tertarik untuk menggunakan Bibit, kamu bisa install aplikasinya di Playstore. Berikut link install nya:

Setelah install bisa ikuti langkah-langkahnya, mudah kok.

  1. Isi pertanyaan mengenai profil risiko
  2. Registrasi data diri (berikut foto KTP dan selfie dengan KTP)
  3. Verifikasi email
  4. Tunggu verifikasi oleh Bibit dan KSEI
  5. Selesai, akun siap digunakan.

Jangan lupa untuk masukkan kode referral saya, margaret, saat pendaftaran untuk mendapatkan cashback reksadana (bukan tunai) senilai Rp 25.000. Terima kasih.

Disclaimer : Post ini adalah review jujur dan tidak untuk mempromosikan atau menjatuhkan pihak tertentu.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Prospektus dan Fund Fact Sheet Reksa Dana

Kalau mau investasi di reksa dana, kemungkinan kita akan bingung dalam memilih produk yang cocok. Ada ratusan reksa dana yang bisa dibeli. Salah satu caranya menyeleksi adalah dengan membaca prospektus dan fund fact sheet produk tersebut.

Sebelumnya kamu bisa visit post sebelumnya tentang:

Nah, kali ini kita bahas apa saja yang tercantum dalam prospektus dan fund fact sheet (FFS) sebuah produk reksa dana.

Saya pakai contoh produk bernama Sucorinvest Equity Fund. (Disclaimer: Produk ini tidak ada dalam portofolio saya dan tidak untuk mempromosikan pihak tertentu.)

Prospektus Reksa Dana

Prospektus reksa dana adalah informasi produk tersebut secara menyeluruh. Isinya bisa kita lihat di bawah ini:

Prospektus reksa dana
Sumber : Bareksa

Biasanya prospektus berisi sekitar 30-200 halaman per produk. Iya memang banyak, tapi yang perlu diperhatikan cukup beberapa.

  1. Informasi Manajer Investasi (MI) dan Bank Kustodian. Pastikan mereka sudah terdaftar di OJK.
  2. Tujuan dan kebijakan investasi yang diambil. Entah diinvestasikan ke jenis pasar uang / saham / campuran bisa dilihat di sana.
  3. Risiko investasi.
  4. Biaya yang dibebankan.

Sejauh ini, saya hanya baca poin-poin di atas saja. (info ya kalau ada poin penting yang belum diperhatikan).

Fund Fact Sheet (FFS)

Kalau fund fact sheet (FFS) biasa hanya 1-2 lembar ringkasan performa. Jadi harusnya investor lebih memperhatikan informasi di FFS.

Nama produk reksa dana dan nama MI tercantum di atas laporan. Laporan biasa diterbitkan setiap bulan (performa bulan sebelumnya).

fund fact sheet reksa dana
fund fact sheet reksa dana
ff

Penting untuk dibaca mengenai tujuan investasi dan alokasinya. Cocok tidak dengan profil investor kita.

kinerja FFS

Kinerja produk sejak peluncuran, 5 tahun, 3 tahun, 1 tahun, 6 bulan, 3 bulan, 1 bulan, YTD (Year to date = awal tahun hingga tanggal laporan). Kemudian dibandingkan dengan tolak ukur (indeks saham IHSG).

  • Artinya jika lebih tinggi dari acuan = bagus.
  • Jika lebih rendah dari acuan = tidak bagus.
biaya dan risiko FFS

Ada daftar biaya yang ditanggung (di prospektus juga muncul), bank kustodian dan risiko reksa dana.

Untuk produk ini, risiko termasuk tinggi karena nilai NAB bisa berfluktasi cepat. Cek lagi dengan profil risiko ya.

Demikian contoh isi propektus dan FFS sebuah reksa dana, semoga bisa membantu.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Cara Lapor Pajak Untuk Reksa Dana

Bagi kamu yang sudah atau berencana memiliki investasi reksa dana, namun masih bingung bagaimana cara lapor pajak terkait reksa dana dalam SPT Tahunan Pribadi, boleh coba cek langkah-langkah di bawah ini.

Sebelumnya, kalau kamu belum mengerti tentang instrumen reksa dana, boleh kenalan dulu di post Pengertian Tentang Reksa Dana.

Reksa Dana Instrumen Yang Tidak Dipotong Pajak

Sudah tahu belum kalau investasi di reksa dana tidak dipotong pajak penghasilan? Peraturannya diatur dalam Undang-Undang Pasar Modal No 8 Tahun 1995 berbunyi demikian:

Reksa Dana dapat berbentuk :

1. Perseroan; atau
2. Kontrak investasi kolektif.

UU Pasar Modal No 8 Tahun 1995 Pasal 18 Ayat 1

Kemudian disambung ke Undang-Undang Perpajakan UU No 36/2008, berbunyi:

Yang dikecualikan dari objek pajak adalah:

bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif;

Undang-Undang Perpajakan UU No 36/2008 tentang Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat 3 poin (i)

Alasan Reksa Dana Tidak Dipotong Pajak?

Jawabannya karena masing-masing investasi dalam reksa dana sudah dipotong pajak saat dikelola oleh Manajer Investasi (MI).

Misalkan MI menginvestasikan dana kelolaan nasabah ke deposito, saham, dan obligasi. Masing-masing instrumen sudah memotong pajak saat dikembalikan ke MI. Jadi saat nasabah mau mencairkan dananya, dana yang dia terima sudah Nett (bersih setelah dipotong pajak).

Reksa Dana Tetap Harus Dilapor Dalam SPT

Investasi di reksa dana memang tidak dipotong pajak, tapi tetap harus lapor pajak saat SPT Tahunan.

SPT Tahunan itu apa?

SPT Tahunan itu adalah surat yang oleh Wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan atau pembayaran pajak, objek pajak dan atau bukan objek pajak dan atau harta dan kewajiban, menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Wikipedia

Yang wajib lapor SPT Tahunan adalah orang pribadi dan badan usaha yang memiliki NPWP.

Nah, untuk post ini khusus bahas laporan SPT untuk orang pribadi. SPT Orang Pribadi ada 3 jenis : 1770, 1770 S, 1770 SS. Apapun jenis SPTnya, cara pengisiannya kurang lebih tetap sama.

Cara Lapor Reksa Dana dalam SPT

Ada 2 pos yang harus diisi dalam laporan SPT jika kita memiliki reksa dana, yaitu sebagai harta dan sebagai pendapatan.

1. Reksa Dana Sebagai Harta

Kita akan lapor reksa dana kita sebagai harta jika :

Di akhir periode tahunan, yaitu 31 Desember, reksa dana itu masih menjadi milik kita.

Kalau sudah dicairkan sebelum 31 Desember, ya jangan dilapor. Artinya sudah tidak punya reksa dana lagi.

Contoh :

  • Tanggal 02 Maret 2018, Dewi membeli produk reksa dana A senilai Rp 3.000.000,-.
  • Sejak pembelian hingga 31 Desember 2018, Dewi tidak melakukan transaksi jual/beli.
  • Tanggal 31 Desember 2018, reksa dana A menjadi Rp 3.200.000,-.

Cara isi laporannya bagaimana?

Lapor Harta Reksa Dana dalam SPT

Catatan :

  1. Isi di Tabel dengan judul “Harta Pada Akhir Tahun”
  2. Kode Harta untuk Reksa Dana = 036
  3. Tahun Perolehan adalah tahun dimana reksa dana dibeli.
  4. Isi dengan Harga Perolehan, bukan Harga Pasar/Harga Perkiraan Terakhir. Dalam contoh, diisi dengan Rp 3.000.000,- walaupun dananya sudah berkembang menjadi Rp 3.200.000,-.
  5. Keterangan diisi dengan Nama Produk Reksa Dana dan Agen Penjual.

2. Reksa Dana Sebagai Pendapatan

Kita akan lapor reksa dana kita sebagai pendapatan jika :

Sepanjang tahun laporan, ada reksa dana yang dicairkan dan untung.

Contoh :

  • Tanggal 02 Mei 2018, Mel beli reksa dana B senilai Rp 5.000.000,-
  • Tanggal 10 Mei 2018, Mel jual reksa dana B seluruhnya dengan nilai Rp 5.100.000,-
    • Berarti Mel untung Rp 100.000,-
  • Tanggal 15 Mei 2018, Mel beli reksa dana C senilai Rp 10.000.000,-
  • Tanggal 20 Mei 2018, Mel jual reksa dana C seluruhnya dengan harga Rp 9.800.000,-
    • Berarti Mel rugi Rp 200.000,-

Cara isi laporannya bagaimana?

Lapor Pendapatan Reksa Dana dalam SPT

Catatan :

  1. Isi di tabel berjudul “Penghasilan Yang Tidak Termasuk Objek Pajak”
  2. Keuntungan dari Reksa Dana diisi di Jenis Penghasilan Lainnya Yang Tidak Termasuk Objek Pajak
  3. Jumlah yang diisi adalah nilai keuntungan saja, dalam contoh senilai Rp 100.000,-. Kerugiannya tidak perlu dilaporkan.

Penutup

Sebenarnya pengisian laporan SPT Tahunan tidaklah sulit. Yang terpenting adalah kelengkapan data selama 1 tahun yang dilaporkan.

Untuk reksa dana, seberapa besar atau kecil nilainya sebaiknya dilaporkan. Pelaporan tidak akan membuat kamu dikenakan pajak tambahan.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.