Tag Archives: keuangan

Tips Memilih Produk Reksa Dana di Bibit

Bagi pemula yang baru registrasi Bibit, mungkin masih bingung bagaimana cara memilih produk reksa dana.

Makanya mari kita bahas tips memilih produk reksa dana. Kali ini khusus dari aplikasi Bibit ya. Tapi secara garis besar caranya sama kok dipakai di aplikasi manapun.

Sekali lagi, pilihan kita ga ada yang benar atau salah. Sejalannya waktu diri sendiri yang akan belajar menilai pilihan kita adalah benar atau salah.

Apa itu Bibit?

Bibit itu seperti supermarket nya produk reksa dana. Di sana ada kumpulan produk yang diterbitkan oleh banyak Manajer Investasi (MI).

Lengkapnya, kamu bisa baca dulu review mengenai Bibit.

Kalau mau install aplikasinya, bisa klik di sini untuk Android atau untuk Apple.

Kamu bisa masukkan kode referral saya : margaret. Nanti kamu akan mendapatkan kupon senilai Rp 25 ribu yang dapat di-redeem dengan reksa dana Majoris Sukuk Negara Indonesia. Terima kasih.

Okay, setelah registrasi dan account sudah diverifikasi, maka silakan memilih produk reksa dana untuk masing-masing jenis. Tapi yang mana? Bagaimana cara memilihnya?

Berikut ini saya coba bagikan tips yang saya gunakan dalam memilih ya.

Tips memilih reksa dana di Bibit

1. Leave it to Robo Advisor

tips rekomendasi bibit

Setelah mengikuti kuisioner profil risiko, kamu pasti ketemu yang namanya rekomendasi robo advisor seperti foto di atas. Kalau kamu ga mau pusing, ya sudah ikuti saja rekomendasinya.

Bibit juga tidak mungkin rekomendasi produk yang jelek kok.

Tapi kalau kamu ga yakin, ga sreg atau ingin belajar memilih sendiri, maka kita lanjut ke tips selanjutnya.

2. Memilih reksa dana pasar uang (RDPU)

tips memilih RD di bibit

Kalau memilih untuk RDPU, cari saja yang memberi return paling tinggi karena RDPU itu minim risiko.

Mau lebih detail, cari yang total AUM nya besar. Semakin besar maka artinya semakin dipercaya oleh nasabah.

3. Memilih reksa dana obligasi (RDO)

Masih dengan cara yang sama seperti #2 tapi dengan beberapa tambahan, yakni:

Cari return paling tinggi dan konsisten selama 1,3,5 tahun. Karena RDO adalah perjalanan yang lebih panjang dari pada RDPU, maka kita harus cek konsistensinya juga.

Dalam hal ini, kita tidak akan menemukan produk yang sempurna. Tapi carilah yang mendekati ekspektasi kita.

Lalu cek ke fund fact sheet produk tersebut. Cari yang kinerjanya lebih tinggi dari pada benchmark indeks secara konsisten (>1 tahun).

kinerja reksa dana

Terkadang saya lihat expense ratio juga. Bukan hal yang utama memang, karena nilai return itu sudah nett setelah dipotong expense ratio. Hanya untuk mengecek seberapa efisien MI tersebut dalam mengelola dana.

4. Memilih reksa dana saham (RDS)

Point ini agak tricky sih, tergantung point of view sih.

Jenis RDS

Ada 2 jenis RDS, yang aktif dikelola MI dan yang pasif. Tentukan dulu mau yang mana.

  1. RDS aktif = karena dikelola MI secara aktif, jadi butuh usaha lebih. Jadi tidak aneh kalau expense ratio lebih tinggi. Tapi dengan demikian biasanya MI dituntut untuk memberikan return lebih tinggi juga.
  2. RDS pasif = lebih dikenal dengan RD Indeks. Secara pasif dikelola untuk mengikuti indeks. Expense ratio lebih rendah karena returnnya hanya mengikuti indeks namun mengurangi risiko kesalahan yang dilakukan MI.

Detailnya bisa kamu baca di perbedaan reksa dana, reksa dana indeks dan ETF.

Kalau sudah menentukan jenis RDS, kamu jadi sudah memikirkan ekspektasi return yang akan kamu dapat.

Kombinasi return dan expense ratio

Dimana-mana memang point utama investasi ya cari return, maka carilah return maksimal yang sudah konsisten dalam 1,3,5 tahun. Tapi dengan expense ratio minimum. Dibandingkan dengan RDS lain dari jenis yang sama.

AUM (dana kelolaan)

Besar berarti kepercayaan investor, kecil berarti keleluasaan mengelola dana. Pilihlah kombinasi keduanya.

Untuk RDS, akan lebih mudah dimengerti kalau kita buka fund fact sheet produk tersebut.

Sekian sharing saya mengenai tips memilih reksa dana. Bisa dipakai di aplikasi lain juga kok. Tips nya tidak bersifat mutlak ya. Saya hanya share cara saya. Orang lain boleh punya cara yang berbeda.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Review UangMe : P2P Lending Alternatif Asetku

Sekarang susah untuk pendanaan di Asetku tidak? Kalau iya, sekarang kita mau bahas P2P lending alternatifnya, yakni UangMe.

Kenapa perlu alternatif dan bagaimana kinerja UangMe? Mari kita bahas secara lengkap ya.

Sulit mendanai di Asetku

Berawal dari semakin sulitnya mendanai di Asetku. Memang platform ini sedang naik daun di kalangan P2P Lending. Kenapa Asetku bisa booming gitu?

Ulasan lengkapnya bisa kamu baca di Review Asetku.

Dengan banyaknya lender yang mendanai, namun ga sebanyak borrower, maka Asetku sekarang menerapkan sistem kuota.

Kebayang kan lender yang segitu banyak rebut-rebutan untuk mendanai. Terlambat 1 menit saja kuota langsung habis.

Sampai akhirnya mulai berpikir harus cari alternatif lain untuk mendanai P2P lending yang tidak perlu rebutan begini.

Maka ketemulah UANGME.

Company profile

UangMe sendiri memiliki nama perusahaan PT Uangme Fintek Indonesia, dengan shareholders PT. Intidana Wijaya (Indonesia) dan Pixiu Technology Ltd (Hong Kong).

Mungkin karena shareholdersnya sebagian adalah perusahaan asing, maka website dan aplikasinya menggunakan bahasa Inggris.

Kalau kita search lebih dalam PT Intidana Wijaya dimiliki oleh Kentjana Widjaja yang merupakan komisaris utama dari Ranch Market (RANC). PT Intidana Wijaya sendiri juga adalah pemegang saham dari Bank ICBC Indonesia.

Status di OJK

Per tanggal 06 Januari 2021, UangMe sudah berstatus berizin di OJK. Dia merupakan salah satu dari 41 perusahaan yang sudah berizin, sementara 108 lainnya masih berstatus terdaftar.

Jadi sudah resmi dan berizin ya.

Cara kerja UangMe

Cara kerja UangMe hampir sama dengan Asetku. Pinjamannya diberikan ke pinjaman konsumtif dan didiversifikasi ke beberapa borrower.

Kita sebagai lender hanya perlu memilih tenor yang kita inginkan.

Daftar tenornya juga hanya 4 kok, jadi ga banyak pilihan.

review uangme interest rate

Nanti setelah jatuh tempo, dana kita akan langsung ditransfer ke rekening terdaftar. Kalau mau rollover, nanti dikasih tambahan bunga 0.20%.

Simple dan mudah.

Minimal pendanaan

Minimal pendanaan di UangMe dimulai dari Rp 1 juta dengan kelipatan Rp 100 ribu.

Nominal ini masih lebih kecil dibanding Asetku, dengan minimal Rp 3 juta saat ini.

Bank yang bekerja sama

Pilihlah bank yang sama dengan bank kita. Buat saya ini penting, karena ga mau kena biaya admin saat transfer masuk atau transfer keluar.

bank uangme

Pendanaan di UangMe, aman atau tidak?

Hingga saat ini (06 Maret 2021), TKB90 = 100%. Artinya, tidak ada gagal bayar.

Dan selama saya pendanaan (sejak Januari 2021), memang belum pernah terjadi telat bayar atau gagal bayar.

Kok bisa? Bagaimana mereka mengelola risiko?

Saya hanya research di google ya (jadi belum terkonfirmasi oleh pihak UangMe). UangMe mengasuransikan ke Sinarmas Insurtech yang akan menggantikan 80% modal investor. Sementara 20% akan ditanggung pihak UangMe.

However, jika mulai ada keterlambatan pembayaran atau bahkan gagal bayar, itu sudah merupakan signal bagi investor ya. Sebab risiko akan selalu ada.

Kesimpulan

Kelebihan

  • Sudah berizin dari OJK
  • Cara pendanaannya mudah
  • TKB90 = 100% (belum ada telat bayar/ gagal bayar)
  • Bank yang bekerja sama juga sudah banyak
  • Minimal pendanaan Rp 1 juta (kelipatan Rp 100 ribu)
  • Kuota unlimited, jadi tidak perlu rebutan untuk pendanaan

Kekurangan

  • Kalau dibandingkan Asetku, bunga yang ditawarkan lebih kecil. Kisaran 13%-14.5% (Fyi Asetku kisaran 15%-24%).
  • Cara mitigasi risikonya kurang terbuka, sementara Asetku menjelaskan menggunakan asuransi yang akan ganti 100%.

Dengan alasan ini, maka seperti awal saya katakan kalau UangMe saat ini sifatnya adalah alternatif, bukan pilihan utama.

Kalau berminat pendanaan di UangMe

Kalau berminat pendanaan di UangMe, kamu bisa install aplikasinya di sini.

Tolong isi kode referral / kode undangan saya, u6vp. Terima kasih.

Nanti kamu akan dapat 2 kupon experience masing-masing senilai Rp 500 ribu. Kupon ini untuk digunakan saat pendanaan saja ya. Gunanya untuk mendapatkan bunga lebih. (bukan dikasih uang Rp 500 ribu ya).

Disclaimer : Post ini adalah review jujur dan tidak untuk mempromosikan atau menjatuhkan pihak tertentu.

Baca juga : Review Investree P2P lending produktif.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Review Saham : DLTA, Produsen Bir Milik Pemda DKI

Kalau bicara soal saham bir, sepertinya hanya ada 2 besar emiten di BEI. Mereka adalah MLBI (Multi Bintang) dan DLTA (Delta Djakarta). Lalu setelah screening sedikit, ternyata lebih menarik DLTA.

Yuk mari dibahas lebih lanjut.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Kenalan dengan saham DLTA

PT Delta Djakarta sudah berdiri sejak 1932, berarti sebelum Indonesia merdeka. Hingga tahun 1984, DLTA mencatatkan sahamnya dalam BEI (dulunya BEJ).

Pemegang saham DLTA adalah sebagai berikut:

Sumber : Laporan Tahunan Perusahaan

San Miguel Malaysia adalah pemegang saham terbesar dengan 58.33% merupakan anak usaha dari San Miguel Corporation asal Filipina. Mereka sudah memiliki saham DLTA sejak tahun 1990. Bahkan jajaran direksi dan komisarisnya sebagian berasal dari perwakilan San Miguel Group.

Sementara Pemda DKI Jakarta memegang 26.25% kepemilikan dari perusahaan. Sisanya 15.42% dipegang oleh publik.

Jadi, 84.58% (mayoritas) dipegang oleh 2 institusi yang tidak akan mudah melepaskan kepemilikian saham hanya untuk profit taking. Jika mayoritas kepemilikan dipegang oleh publik, ada kemungkinan harga saham akan sangat berfluktuasi.

Produk DLTA

produk saham DLTA
Nama ProdukKeterangan
Anker BirProduk unggulan perusahaan sejak 1932
Anker StoutBir hitam
Anker LycheeBir rendah alkohol rasa leci
CarlsbergDiproduksi di bawah lisensi Carlsberg, salah satu merek bir terkenal di dunia
San Miguel Pale PilsenMerek bir tertua di Asia Tenggara, diproduksi di bawah lisensi San Miguel
San Mig LightBir kalori rendah
San Miguel Cerveza NegraBir hitam kental. Bisa diekspor ke Thailand dan Vietnam.
Kuda PutihBir ekonomis di Indonesia
BataviaUntuk ekspor ke Taiwan

Kompetitornya DLTA siapa? Jelas Multi Bintang Indonesia (MLBI) yang punya produk Bir Bintang, Heineken hingga Green Sands. Juga ada Bali Hai Brewery Indonesia dengan produknya, Bali Hai. Mereka pemegang sebagian besar market share di Indonesia.

Untungnya pemain di industri bir Indonesia hanya sedikit. Dan DLTA termasuk produsen yang sudah lama berdiri dan punya nama di pasar. Butuh usaha ekstra untuk pemain baru masuk ke pasar bir Indonesia.

Kinerja DLTA

1. Laba rugi

Mulai dari Sales, penjualan perusahaan memang bukan tipe yang konsisten naik. Ada masa penjualan turun karena regulasi pemerintah dan cukai yang naik. Hal ini juga terjadi di penjualan MLBI.

Sales saham DLTA 2008-2019

Kalau dihitung dari 2008-2019, penjualan meningkat dari 674M menjadi 827M (naik 153M dalam 11 tahun, atau CAGR 2%) bukan hal yang impresif. Artinya, perusahaan bir memang tidak bisa berkembang signifikan dari tahun ke tahun. Mereka tipikal yang slow growth.

Tapi coba kita cek gross profit-nya.

Kita ambil data 3 tahun terakhir saja ya. Karena kalau makin panjang, gambarnya makin kecil dan ga kelihatan.

Asli, COGS produsen bir itu cukup minim. Gross profit nya bisa capai sekitar 70%, which is profitable.

Jadi kalaupun sales mereka stagnan atau slow growth, mereka tetap profit tahun ke tahun.

Lalu gimana dengan Net Profit?

net profit DLTA
Sumber : Stockbit

Net profit-nya secara konsisten selalu meningkat. Kecuali tahun 2015 adalah tahun pertama dimana regulasi pemerintah melarang penjualan alkohol di minimarket. Jadi ya drop gitu penjualan dan labanya. Tapi mereka recovery di tahun-tahun berikutnya.

Net Income Margin perusahaan pun masih tebal, sekitar 33%-38%/tahun.

Gimana dengan tahun 2020? Tidak usah ditanya lagi. Pasti turun.

Apa yang bisa diharapkan oleh produsen bir jika pandemi masih ada? Restoran, bar, dan sejenisnya mana ada yang bisa buka hingga malam. Jadi mana ada juga yang minum bir. Tujuan wisata juga sepi dari wisatawan. Padahal bir dikonsumsi jika ada liburan atau acara.

Jadi jangan harapkan melihat pertumbuhan di laba rugi perusahaan tahun ini. Their focus should be to survive rather than to grow.

Penjualan mereka 349M (Q3 2020) berbanding 606M (Q3 2019), turun 42.4%.

Net income 74M (Q3 2020) berbanding 221M (Q3 2019), turun 66.5%.

Meskipun turun, namun perusahaan masih profit. Itu adalah hal yang positif. Net income margin berkurang menjadi 20.2% karena beban usaha mereka hanya hampir sama dengan tahun lalu.

Per Q3 2020, ROA dan ROE DLTA berada di 6% dan 7%. Turun jauh dari rata-rata tahun sebelumnya, ROA 22% dan ROE 26%.

Saya pikir ini bisa jadi kesempatan. Nanti akan dibahas di kesimpulan.

Next, kita lihat ke Balance Sheet mereka.

2. Balance Sheet

Garis besarnya, total asset dan total equity mereka selalu konsisten naik selama 10 tahun terakhir dengan CAGR sekitar 8%-9%. Hanya ada beberapa hal yang menarik dari balance sheet DLTA.

Cash

Cash rich memang bagus. Current account jadi besar akan menghasilkan current ratio dan quick ratio yang tinggi. Tapi terlalu banyak juga tidak baik (hanya pendapat pribadi).

Cash DLTA ada 844M di tahun 2019 atau setara 65% dari total aset lancar. Current ratio juga berada di posisi 8x, yang artinya aset lancar 8x lipat lebih besar dari pada kewajiban lancarnya.

Kalau memang tidak direncanakan untuk ekspansi atau lainnya, maka akan lebih berguna juga DLTA buyback saham atau membagi dividen ke shareholders.

Namun di sisi lain, cash rich ini juga keuntungan bagi perusahaan selama masa pandemi. Walaupun perusahaan terdampak parah oleh pandemi ini, namun mereka bisa survive hingga saat ini. Cash perusahaan tidak terganggu, hanya menurun dari 844M (Q4 2019) menjadi 651M (Q3 2020).

Debt

DLTA is debt-free company. Jarang memang menemukan perusahaan yang tidak memiliki hutang berbunga. Untuk apa berhutang kalau cash mereka saja sudah amat banyak.

Tidak ada debt, artinya mengurangi beban bunga pinjaman juga. Sehingga tidak menambah beban perusahaan di masa sepi penjualan.

Inventory

Bagi yang menghitung days to sell inventory DLTA mungkin hasilnya akan jelek. Sepanjang tahun 2019, days inventory perusahaan cukup panjang yaitu 323 hari (11 bulan).

Kebayang kan umur bir yang biasanya bertahan 6-9 bulan, apa tidak rusak?

Ternyata ini karena inventory perusahaan juga berisi material packaging dan containers. Nyatanya, yang bahan baku dan barang jadi bir hanya 10% dari total inventory.

Jika hanya menghitung bahan baku hingga barang jadi bir saja, days inventory bisa memendek menjadi sekitar 38 hari (1 bulan).

Piutang usaha

Ini mungkin salah satu kelemahan DLTA. Kebijakan piutang yang melonggar. Selama 3 tahun terakhir, A/R perusahaan meningkat 35% padahal penjualan hanya naik 6% di periode yang sama.

A/R >120 hari pun menumpuk dari tahun ke tahun menjadi 21M dari total A/R 216M (gross) pada akhir tahun 2019.

3. Cash flow

Cash flow operasional DLTA cukup simpel. Uang yang diterima hampir 50% dibayarkan untuk cukai dan pajak, sisanya untuk supplier dan karyawan. Setiap tahun cash flow operasional perusahaan selalu positif.

Investing cash flow setiap tahun hanya terpakai sekitar 10-20M untuk perolehan aset tetap, kebanyakan untuk mesin dan equipment.

Sementara financing cash flow yang cukup besar setiap tahun, dipakai untuk membayar dividen.

Dividen Saham DLTA

Jika dilihat 5 tahun terakhir, cash in DLTA yang berasal dari net income sebagian besar dipakai untuk pembagian dividen, menambah porsi cash dan sedikit capex di aset tetap.

Untuk yang cari saham dividen, DLTA boleh jadi salah satu alternatif nih. DPR mereka setiap tahun selalu >50% dari net income.

Kita coba hitung. Jika menggunakan dividen tahun 2020, senilai Rp 390/lembar. Dan harga saham per 03/02/2021 Rp 3.800. Maka dividend yield sebesar 10.26%. Lumayan untuk harga saat ini.

Untuk tahun buku 2020, mungkin perusahaan akan mengurangi nilai dividen karena net income pun berkurang. Tapi bisa disimpan untuk beberapa tahun ke depan setelah pandemi berakhir dan operasional sudah pulih kembali.

Valuasi saham DLTA

PER 3Y rata-rata ada di 15.79. Kalau pakai EPS tahun 2019, yakni Rp 397, maka harga sahamnya sekitar Rp 6.200. Sementara sekarang ada di harga Rp 3.800 (03/02/2021).

PBV 3Y rata-rata ada di 3.23x. Dengan BV tahun 2019, di Rp 1.500, maka estimasi harga saham di Rp 4.800.

Jika menggunakan EPS dan BV tahun 2020, maka kita akan melihat DLTA kemahalan. Kita tidak bisa mengukur kinerja mereka tahun 2020 karena pandemi berada di luar kontrol management.

Ada potensi naik, tapi berapa valuasi pasti dan MOS nya saya kembali ke pribadi masing-masing dalam menghitungnya.

Kesimpulan

Perusahaan bagus, management bagus. Margin tinggi membuat DLTA perusahaan yang profitable. Bukan hanya DLTA, sepertinya semua perusahaan bir punya margin yang tebal.

Tidak terlalu banyak saingan dalam industri bir. Top 3 hanya MLBI, DLTA dan Bali Hai. Tapi pasar juga tidak terlalu berkembang. Indonesia bukan negara yang mengkonsumsi bir secara reguler.

Kecuali wisata Indonesia berkembang sehingga mengundang banyak turis datang dan tempat wisata semakin banyak. Industri bir memang berbanding lurus dengan pariwisata.

Beban berat muncul jika melihat cukai minuman alkohol. Hampir sama seperti rokok, pemerintah selalu menaikkan cukai alkohol. Belum lagi ada rencana RUU larangan minuman alkohol (belum diputuskan memang). Ini adalah tantangan yang harus dihadapi industri bir.

Tapi kalau mau membeli kepemilikan saham DLTA, lebih baik di saat harga masih terpuruk.

Yang pasti, operasional perusahaan baru bisa pulih setelah pandemi covid berlalu. Jadi tidak bisa mengharapkan pergerakan yang cepat dari saham ini.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Analisa ADES, MTDL atau PWON.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Analisa Saham: MTDL, Metrodata Electronics Q3 2020

Jaman modern seperti sekarang ini, tidak jarang banyak yang tertarik dengan emiten elektronik dan teknologi seperti saham MTDL. Bagaimana kinerja mereka?

Seberapa menarik emiten satu ini dan bagaimana prospek ke depannya?

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Latar belakang saham MTDL

PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) itu berdiri sejak 1983 dan baru IPO tahun 1990. MTDL merupakan perusahaan dari grup Ciputra dengan Candra Ciputra sebagai presiden komisaris dari perusahaan. Terlihat dari pemegang sahamnya seperti di bawah.

MTDL bergerak di bidang teknologi dengan membagi menjadi 3 bidang usaha, yaitu:

  1. DISTRIBUSI = perdagangan software, hardware, dan perlengkapannya.
  2. SOLUSI = jasa maintenance produk dan sistem, sewa software dan hardware, perdagangan server.
  3. KONSULTASI = konsultasi, implementasi dan training.

Seperti tipikal perusahaan grup seperti Ciputra, setiap bidang usaha selalu mendirikan entitas anak yang berfokus pada 1 bidang saja.

Perusahaan tidak memproduksi produk, melainkan menjual-belikan produk dari merek-merek komputer terkemuka. Ada sekitar 204 merek produk yang mereka jual, seperti HP, Asus, Lenovo dan lainnya.

Laba rugi MTDL

Pendapatan MTDL
Sumber: Stockbit

Dilihat dari history, perusahaan selalu konsisten meningkatkan penjualannya setiap tahun sekitar 12%-14%. Per Q3 2020, perusahaan telah membukukan pendapatan sebesar 10T (sama dengan Q3 2019), alias no growth. Berarti pandemi covid juga turut berdampak terhadap kinerja perusahaan.

Untuk tahun 2021, perusahaan menargetkan penjualan mereka akan naik 8%.

Laba bersih MTDL
Sumber : Stockbit

Sementara untuk laba bersih, terjadi peningkatan sekitar 14%-17% setiap tahun. Untuk Q3 2020, perusahaan membukukan laba bersih 268M (naik 3% dari Q3 2020 sebesar 259M).

Dan tahun 2021, MTDL menargetkan pertumbuhan laba bersih sebesar 10%.

Penjualan MTDL
Sumber : Annual Report 2019

Hingga saat ini pendapatan terbesar didapat dengan penjualan hardware sebesar 79% dari total pendapatan. Sementara yang paling profitable justru dari jasa dan pendapatan leasing, walaupun proporsinya tidak sampai 10% dari total pendapatan.

Margin laba bersih (Net Profit Margin) perusahaan memang kecil, hanya sekitar 2%, karena mayoritas bisnis perusahaan adalah perdagangan. Jangan dibandingkan dengan perusahaan yang manufaktur.

Meskipun demikian, kinerja management terhadap pemegang saham cenderung baik. Dilihat dari ROE perusahaan yang stabil di kisaran 16%-22%.

Balance sheet MTDL

Apakah perusahaan sehat? Yes.

Dengan current ratio stabil di posisi 2x, artinya secara likuiditas jangka pendek, perusahaan bisa survive.

Debt (hutang berbunga) perusahaan juga sangat kecil, hanya sekitar 1% dari ekuitas mereka. Besarnya liabilitas mereka hanya karena hutang usaha yang tidak perlu bayar bunga.

Asset dan ekuitas yang terus bertumbuh, dan rajin membagikan dividen setiap tahun ke pemegang saham.

Cash flow perusahaan dari operasional juga mayoritas positif, walaupun tidak selalu meningkat.

Dividen

MTDL memang rajin bagi dividen setiap tahun, tapi mereka bukan emiten yang membaginya dengan jumlah besar ya.

Dividend payout ratio mereka hanya sekitar 15%-22%. Artinya jika EPS mereka Rp 145/lembar, mereka hanya akan bagi dividen sebesar Rp 33/lembar. Dengan harga saai ini di Rp 1.630 (09/01/2021), maka dividen yieldnya hanya 2% saja.

Investor yang pegang saham MTDL jelas bukan mengharapkan dividen sebagai bagian dari keuntungan. Yang mereka targetkan adalah kenaikan harga saham tersebut untuk mendapat capital gain.

Gimana cara meningkatkan harga saham? Kalau kinerja perusahaan juga meningkat. Itu sebabnya perusahaan menahan sebagian besar laba bersih (80%) untuk dipakai mengembangkan perusahaan.

Valuasi saham MTDL

valuasi saham MTDL
Sumber : Stockbit

MTDL memang perusahaan bagus. Namun untuk harga saham, saya tidak bisa bilang it’s a good deal to buy. PER nya naik drastis sejak tahun 2019 pernah mencapai 14x dan sekarang ada di PE 10.96x, padahal rata-rata 5 tahun terakhir, perusahaan berada di PE 8.21x.

Investor membayar lebih mahal karena perusahaannya stabil bertumbuh dan bertahan di masa sulit sepanjang pandemi covid. Jika kondisi kembali normal, perusahaan diharapkan akan terus bertumbuh.

Growth EPS perusahaan sekitar 13% (CAGR 9 tahun), sementara harga saham mereka sudah melaju lebih dulu dengan growth 38% (CAGR 9 tahun).

Sentimen tahun 2021

Untuk MTDL, management sendiri sudah memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 8% dan laba bersih sebesar 10%. Dapatkah terjadi?

Kemungkinan besar, bisa. Mengingat sejak pandemi covid, semakin banyak orang yang memerlukan alat teknologi seperti komputer, laptop untuk bekerja di rumah.

Juga dengan berkembangnya teknologi digital di Indonesia, jelas menjadi potensi yang baik bagi perusahaan.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya. Website MTDL bisa kita cek di sini.

Baca juga : Analisa PWON atau BJTM vs BJBR.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Memilih Reksa Dana Saham atau Saham?

Bagi yang masih bingung memilih instrumen investasinya, baik reksa dana saham atau saham, coba baca dulu post ini. Semoga bisa memutuskan begitu selesai membaca.

Sebelumnya kita harus mengerti dulu kalau yang namanya reksa dana saham (RDS) itu berbeda dengan saham. Coba kita break down apa saja perbedaannya dulu.

Perbedaan reksa dana saham dan saham

1. Definisi

Saham itu kita beli kepemilikan atas suatu perusahaan secara langsung. Yang sudah go public atau listing di BEI tentunya. Nama kita tercatat sebagai pemilik dari perusahaan, meskipun hanya 0.00000…%.

Sementara kalau di Reksa dana saham (RDS), kita patungan dengan investor lain untuk membeli perusahaan tersebut melalui Manager Investasi (MI). Jadi kita membeli perusahaan secara tidak langsung.

Dari definisi yang sudah berbeda, maka akan mempengaruhi faktor yang lain.

2. Pengambil keputusan

Karena saham, kita ambil keputusan sendiri. Tanggung jawab lebih besar, jadi kita harus belajar lebih baik.

Sementara RDS, kita mempercayakan uang kita dikelola oleh MI. Jadi MI-lah nanti yang akan mengambil keputusan dalam mengelola portofolio. Kita hanya perlu mengevaluasi kinerja MI tersebut apakah sudah bekerja baik atau tidak.

Patokannya dengan apa? Bandingkan dengan kinerja benchmark. Kalau saham, biasa patokannya dengan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan).

3. Modal

Kedua instrumen sebenarnya tidak lagi memerlukan modal besar untuk memulai. Kita hanya perlu minimal Rp 100.000 untuk membeli produk RDS. Bahkan jaman sekarang sudah ada produk yang minimal Rp 10.000 (walaupun belum banyak).

Sementara untuk saham, kita perlu minimal harga 1 lot saham perusahaan yang mau kita beli. (1 lot = 100 lembar).

Misal, beli saham SIDO di Rp 800/lembar, kita perlu minimal Rp 80.000 untuk membeli 1 lot saham tersebut. Atau saham BBRI di Rp 4.300/lembar, maka siapkan Rp 430.000/lot. Jadi modal minimalnya tergantung kita mau beli saham apa.

4. Keuntungan

Kita bisa dapat keuntungan dari saham melalui capital gain (jual lebih tinggi daripada harga beli) atau dari dividen. Begitu keuntungan terealisasi, dana akan ditransfer ke rekening dana nasabah (RDN) H+2. Tentunya setelah dipotong pajak.

Transaksi penjualan saham dikenai pajak 0.1% final dan dividen kena pajak 10% final.

Sementara RDS akan menerima capital gain dan dividen yang sama namun tidak secara langsung dalam bentuk uang. Keuntungan tersebut akan dihitung oleh MI dan menambah nilai NAB (Nilai Aktiva Bersih) unit yang kita miliki, alias harga unit produk tersebut jadi naik.

Karena sudah dipotong pajak saat dikelola MI, maka kita tidak dikenai pajak lagi saat mencairkan/menjual unit RDS kita.

5. Risiko

Keduanya berisiko kok, hanya tipenya saja yang berbeda. Karena saham dikelola sama diri sendiri, kita bertanggung jawab sama risikonya secara langsung. Kalau beli saham yang salah atau di harga yang salah, itu benar-benar risiko kita. Tidak boleh menyalahkan siapa pun.

Sementara RDS dikelola oleh MI. Risiko? Ya tetap ada. Memang semua MI pasti punya kinerja baik? Jadi MI itu susah lho, banyak regulasi yang harus diikuti dan itu membatasi cara kerja mereka. Kalau kita salah milih MI, tidak aneh juga kalau investasi kita tidak berkembang atau malah rugi.

6. Fee reksa dana saham dan saham

Secara fee, memang lebih murah dalam saham. Saham hanya menetapkan fee untuk sekuritas sekitar 0.13%-0.19% per transaksi (jual/beli).

Sementara RDS harus lebih tinggi. Namanya juga kita pakai jasa profesional untuk mengelola investasi kita, jadi harus bayar fee dong. Kan mereka juga harus digaji. Kisaran 2%-4% per tahun, tergantung MI. Bisa cek di fund fact sheet mereka.

Bagi yang mau tahu cara baca fund fact sheet, bisa cek post Prospektus dan Fund Fact Sheet Reksa Dana.

perbedaan reksa dana saham dan saham

Jadi reksa dana saham atau saham?

Jawabannya tergantung. Kamu lebih cocok yang mana? Kamu lebih cocok mengendarai sendiri atau disetir oleh MI. Dan tidak ada jawaban yang salah.

Kalau opini saya, bagi yang baru mulai mengenal investasi, coba dulu dengan RDS akan lebih baik. Setidaknya we can feel the ride dulu di dunia saham dengan dikendarai oleh MI. Percaya dengan yang lebih pengalaman dan profesional.

RDS juga cocok untuk kamu yang berpikir tidak punya cukup waktu dan kemampuan untuk mengelola investasi sendiri.

Tapi kalau kamu punya keinginan lebih untuk belajar lebih dalam, ingin punya pengalaman mengelola investasi sendiri, bisa meluangkan waktu sedikit untuk research saham, atau punya ketertarikan di bidang saham, ya kenapa tidak mencoba saham ya kan.

Saya memilih saham ketimbang reksa dana saham

Kalau saya? Saya memilih saham. Dan ini beberapa yang jadi pertimbangan kenapa demikian.

1. Lebih punya kebebasan

Sebagai investor saham, kita punya kebebasan membeli saham yang kita sukai. Jangan harapkan hal tersebut dalam RDS. Portofolio RDS sudah menjadi wewenang dari MI.

Pernah lihat fund fact sheet sudah produk RDS? Isinya daftar top 5 saham terbesar yang dipegang MI itu. Dan belum tentu kita sependapat.

Lebih dari ini, MI sendiri bekerja dengan limitasi regulasi yang ada. Pernah dengar beberapa rules yang mereka harus jalani?

  • Tidak boleh investasikan >10% dari dana kelolaan ke 1 perusahaan saja.
  • Tidak boleh jadi pemegang saham >5% dari suatu perusahaan.
  • Biasanya ditekan untuk membeli saham-saham bluechip saja. Kalau beli perusahaan kecil dan gagal, tekanannya lebih besar
  • Dan lainnya bisa dicek dalam POJK 33/POJK.04/2017.

Jadi kalau melihat keterbatasan yang terjadi di MI, bisa disimpulkan kalau investor ritel punya privilege lebih dibandingkan MI.

2. Punya ketertarikan

Kalau tidak menarik untuk kita, lebih baik serahkan saja tugas itu ke orang yang lebih profesional. Tapi kalau saya, saya punya ketertarikan lebih di bidang saham, mau belajar lebih dan paham lebih baik.

Mudah? Belum tentu. Seperti yang para ahli bilang, it’s not a rocket science. Tapi kalau bukan dari background keuangan, tetap saja merasakan struggle untuk belajar segalanya dari awal.

3. Reward

Saya tidak bilang keuntungan yang didapat dari saham lebih besar dari pada RDS. Saya juga tidak akan mengatakan kalau investor saham lebih pintar dari pada MI. Tapi ini tentang bagaimana rasanya mendapat keuntungan dari hasil pemikiran sendiri.

Memetik buah dari hasil menanam sendiri rasanya jadi lebih manis ketimbang ditanam oleh orang lain. Tapi sekali lagi, ini sifatnya subjektif. Saya hanya memaparkan opini saja.

Apakah saya meninggalkan RDS?

Tidak juga.

Portofolio saya masih ada sebagian di RDS, tapi tipenya bukan yang secara aktif dikelola oleh MI. Melainkan yang dikelola secara pasif oleh MI, namanya Reksa Dana Indeks.

Mengurangi risiko pengambilan keputusan, saya memilih reksa dana indeks yang kinerjanya hanya mengikuti indeks acuannya. Pekerjaan MI juga jadi lebih mudah daripada RDS aktif.

Kalau mau tahu bedanya, kamu bisa cek di post Perbedaan reksa dana, reksa dana indeks dan ETF.

Demikian pendapat saya tentang RDS dan saham. Semoga bisa membantu kamu dalam memutuskan.

Perlu tanya lebih dalam? Boleh message saya di kolom komentar. Will try my best to help you.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Sharing Story : Menghadapi Telat Bayar di Investree

Sebagai lender P2P Lending, kita pasti ada risiko pinjaman kita telat bayar atau bahkan gagal bayar. Post ini adalah sharing saya menghadapi pendanaan yang telat bayar di Investree.

Disclaimer: Ini hanya sharing pribadi, tidak bermaksud untuk mempromosikan atau menjatuhkan pihak manapun. Keputusan investasi adalah tanggung jawab setiap individu.

Ada beberapa post sebelumnya yang mungkin bisa kamu baca sebelum melanjutkan baca post ini, yaitu:

Jadi, mari kita lanjut tentang gagal bayar di Investree.

Pertama kenal Investree

Investree adalah platform pertama saya kenal P2P Lending. Thanks to Felicia Putri Tjiasaka, karena Channel Youtube nya yang mengenalkan saya pertama kali dengan P2P Lending. Kalau kamu mau nonton, saya ada taruh link Youtube-nya di sini.

Jadi bayangkan seberapa panik kalau kita sebagai first timer, kemudian kena telat bayar dari lending yang kita danai.

Namanya juga P2P lending, telat bayar atau gagal bayar sudah jadi risiko yang perlu diketahui lender. Tapi kenyataannya praktek tidak semudah teori, dan menjalani tidak semudah bicara bukan?

Buat yang lagi mencari solusi atau kuatir tentang gagal bayar pendanaan, ini adalah beberapa poin yang saya share dari kejadian sebelumnya.

1. Telat bayar? Don’t be panic!

pemberitahuan telat bayar Investree

Jadi kalau pendanaan kita mengalami keterlambatan (tidak lunas di tanggal jatuh tempo), maka Investree akan mengirimkan email pemberitahuan di H+1 jatuh tempo.

Jadi kalau mau panik, don’t be. Karena ini baru telat bayar, pokok dan bunga pinjaman kita masih akan diusahakan untuk kembali.

Bagusnya, Investree akan selalu mengirimkan notifikasi seperti ini untuk semua lending yang mengalami keterlambatan pembayaran. Kalau kamu ingin bertanya atau komplain, Investree juga menyediakan media email atau telepon untuk menghubungi CS mereka.

2. Contact Investree

Yes, I know that Investree sudah menginformasikan ke kita mengenai telat bayar borrower. Tapi berhubung saya bukan orang yang sabar menanti, saya ingin tahu sudah sampai mana proses penagihannya, apa alasan keterlambatan, bagaimana solusinya.

Maka saya hubungi CS Investree untuk menanyakan hal tersebut jika saya merasa keterlambatan sudah cukup lama dan tanpa update tambahan dari platform.

Dan saya mengapresiasi penjelasan yang dilakukan oleh pihak Investree. Mereka memberitahukan secara detail mengenai pendanaan tersebut dan usaha yang dilakukan. Seperti contoh di bawah.

penjelasan telat bayar Investree

3. Menunggu hingga akhirnya dibayar

Let Investree do their job professionally, saya hanya bisa menanti hingga pinjaman tersebut dibayarkan.

Sampai hari ini saya menulis post ini (20 November 2020), menurut pengalaman saya bahwa Investree adalah platform yang bisa mengalami telat bayar, tapi saya belum pernah mengalami sampai gagal bayar / default (dan semoga tidak akan pernah terjadi di kemudian hari).

Bunga pinjaman yang kita terima adalah bunga yang dihitung sejak awal pinjaman hingga pembayaran. Jadi lender hanya rugi waktu, tapi tidak mengalami kerugian dari bunga yang diterima.

4. Eliminate the borrower

Mohon maaf sekali, tapi saya tidak akan mendanai borrower tersebut jika pernah telat bayar parah di pendanaan saya sebelumnya.

Kenapa? Karena masih ada opsi borrower lain dengan catatan clean sheet (belum pernah telat bayar).

Mungkin akan lain ceritanya jika semua borrower yang ada sudah punya catatan telat bayar. Tapi saat ini, mungkin belum waktunya.

Dan sepertinya borrower yang sudah telat bayar terlalu lama juga tidak lagi diijinkan untuk mengajukan pinjaman, makanya total pinjaman saat ini = 0.

Kesimpulan

Ya, Investree tidak bisa memberi kita jaminan jika tidak akan mengalami telat bayar. That’s why TKB90 mereka < 100%.

Tapi saya juga bisa melihat usaha yang dilakukan Investree dalam penagihan supaya yang telat bayar tidak menjadi gagal bayar. And I appreciate their effort.

Anyway, kalau kamu tertarik untuk register di Investree, kamu bisa klik link ini. Feel free jika kamu mau mengisikan referral code saya, KD6LV. Terima kasih!

Tapi kalau kamu merasa Investree tidak cocok dengan karakter kamu, tidak masalah. Kamu bisa menemukan investasi lain yang cocok dengan pribadi masing-masing. Banyak jalan menuju Roma, bukan.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

5 Saham LQ45 Yang Masih Murah

Post kali ini kita bahas mengenai saham-saham di LQ45 yang masih murah untuk dibeli dan kemungkinan akan berpotensi memberikan capital gain jika kembali ke posisi sebelum pandemi.

Ini hanya screening awal ya, silakan lanjutkan dengan analisa mendalam, baik teknikal maupun fundamental, sesuai tipe masing-masing.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Indeks LQ45

Sudah pernah dengar LQ45? Bagi yang belum tahu, LQ45 adalah kumpulan 45 saham yang dipilih dari 700 saham beredar di IHSG. Yang masuk dalam LQ45 adalah saham-saham yang likuid dan berkapitalisasi besar.

Indeks ini sendiri akan di-update setiap 6 bulan (Februari dan Agustus).

5 Saham LQ45 yang tergolong masih murah

Murah, dalam hal ini bukan soal nominal harga saham per lembar ya. Jika demikian, maka Rp 1.000/lembar akan lebih mahal dari pada Rp 50/lembar. Padahal tidak begitu dalam menilai saham.

Analoginya, apa kita mau beli HP dengan harga Rp 2 juta (kualitas bagus) atau Rp 50.000 tapi sudah rusak?

Murah yang saya maksud adalah dalam hal PER (Price to Earning Ratio). Jadi sudah dibandingkan dengan Earning perusahaan. Meskipun berpatok pada 1 rasio saja juga bisa misleaded, namun kita tidak bahas itu di post kali ini.

Kali ini kita pakai 1 rasio yang simple dulu, nanti selanjutnya silakan untuk menganalisa lebih mendalam.

Posisi harga LQ45 (YTD)

Saham LQ45 murah
Sumber : Google

Coba kita lihat dulu posisi LQ45 secara keseluruhan year-to-date (YTD). Artinya harga dari 1 Januari 2020 hingga hari ini 06 November 2020.

Di atas terlihat kalau Januari, LQ45 ada di posisi Rp 1.011. Sementara pandemi terjadi, LQ45 juga merasakan dampaknya. Hingga saat ini baru bisa kembali ke Rp 834. Masih turun 17% dari posisi Januari.

Jika kamu termasuk pihak yang percaya IHSG akan rebound untuk kembali ke track semula, maka boleh jadi sekarang saatnya beli. Kira-kira mana aja nih dari LQ45 yang terhitung masih murah?

1. HMSP (HM Sampoerna)

Pilihan pertama dari LQ45 yang masih murah adalah HMSP. Perusahaan rokok satu ini buat saya sudah solid. Hanya karena masalah pandemi yang berdampak pada penjualan rokok sehingga pendapatan dan net income mereka bisa menurun.

Hingga saat ini harga sahamnya sudah turun 31% YTD (dibandingkan awal tahun 2020). Secara PE Standard Deviation, HMSP sekarang diperdagangkan di PE 14.20x dimasa rata-rata di PE 32x.

Jika diharapkan kembali ke PE rata-ratanya, maka masih ada MOS sekitar 56%. Let’s say kalau kita tidak yakin HMSP akan kembali ke PE 32x, namun dengan fundamental yang baik, tidak mungkin juga kinerja harga HMSP malah menurun saat earning-nya naik.

HMSP juga termasuk royal sama shareholders mereka. dengan dividend payout ratio mereka 100% di setiap tahun. Artinya, mereka membagikan semua laba mereka kepada pemegang saham mereka.

Dividend yield yang lumayan, 8.3% untuk harga saat ini di Rp 1.445.

2. TLKM (Telekomunikasi Indonesia)

Tidak ada yang salah dengan kinerja TLKM sepanjang tahun 2020.

Sumber : Stockbit

Net Income TLKM tidak naik atau turun secara drastis, tapi harganya terus menurun hingga mencapai PE 14.85x (rata-rata 5 tahun, PE 20x). Bukankah ini peluang yang bagus?

Hingga saat ini harga TLKM Rp 2.830 (sudah turun 27.62% dari awal tahun 2020 di harga Rp 3.910). Dividend yield juga lumayan 5.4%. Dipegang oleh Pemerintah Indonesia dan punya economic moat yang lebar, adalah beberapa keunggulan bagi TLKM.

3. PWON (Pakuwon Jati)

Dari sektor properti ada PWON yang harganya masih belum kembali ke harga normalnya karena pandemi. Memang untuk kinerja tahun 2020, PWON tidak bisa berbicara banyak dengan mall yang sempat ditutup sementara, hingga properti yang lesu.

Harga saat ini di Rp 422/lembar masih turun 26% dari awal tahun di Rp 570. PWON sekarang setara PE 11x, dimana rata-ratanya di PE 14.42x.

Melihat kondisi pandemi yang membaik di Indonesia, apalagi jika sudah terjadi pemulihan total. Omnibus law yang juga memberi dampak positif bagi emiten satu ini. Sehingga masih ada potensi upside untuk PWON.

Kalau mau baca lebih lengkap mengenai PWON, ada analisanya di Analisa Saham : PWON (PT Pakuwon Jati) per Q2 2020.

4. ITMG / PTBA

Saya tidak bisa memutuskan antara ITMG atau PTBA dari sektor pertambangan batubara. Pasalnya, keduanya berada di sektor yang sama, dengan posisi yang juga hampir mirip.

Keduanya emiten yang royal dalam hal dividen. Kamu bisa baca daftar saham dengan dividen tinggi tahun 2020, dan mereka ada dalam daftar tersebut.

Batubara ini sifatnya siklikal. Jadi kalau sudah turun, akan murah sekali. Tapi kalau naik jika bisa drastis. Semuanya tergantung pada harga acuan batubara.

PTBA diuntungkan karena merupakan perusahaan milik negara Indonesia, namun ITMG juga tidak kalah dengan management nya yang bagus dari Thailand.

PTBA ada di harga Rp 1.990, PE 6.87x (biasanya PE 8.91x). Harganya sudah turun 24% YTD.

Sementara ITMG ada di harga Rp 8.550, PE 7.89x (biasanya PE 10x). Harganya sudah turun 25% YTD.

5. ICBP (Indofood CBP)

Ini emiten yang tetap berlari kencang bahkan selama pandemi dengan Revenue dan Net Income yang tetap naik sepanjang tahun 2020, namun harga sahamnya masih lambat.

Harga sahamnya di Rp 9.875, PE 19.71x (biasanya 26.67x lho). Memang sektor consumer biasanya dihargai lebih premium karena tahan dari kondisi krisis dan terbilang bisa bertahan lama.

Jadi ini peluang atau zonk? Kamu saja yang menentukan ya.

Penutup

Sebenarnya ada lebih dari 5 emiten di LQ45 yang harganya belum kembali ke harga awal tahun, tapi saya pilih 5 saja karena saya pikir nothing’s wrong dengan fundamental perusahaan. Hanya waktunya saja belum kembali ke track.

Oh ya, post ini diterbitkan di bulan November setelah pemilihan presiden US diputuskan. Berita mengenai presiden US bisa jadi katalis pasar baik positif maupun negatif, namun hanya jangka pendek.

Kalau untuk jangka panjang, baiknya cek fundamental saja. Dan beli saat harga masih murah.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Rasio Keuangan Sektor Perbankan

Dalam analisa fundamental suatu perusahaan, biasanya kita pakai beberapa rasio sebagai alat bantu analisa. Dalam sektor perbankan, ada rasio keuangan tambahan yang perlu kita ketahui. Apa saja itu?

6 Rasio keuangan perbankan

1. NPL

NPL (Non Performing Loan) itu menghitung berapa persen kredit bermasalah dari total kredit yang berlangsung.

Sebelumnya kita ketahui dulu kalau ada 5 kategori dalam kredit, yaitu:

NoKategori kreditLama tunggakan
1Lancar0 hari
2Dalam perhatian1-90 hari
3Kurang lancar91-120 hari
4Diragukan121-180 hari
5Macet>180 hari

Nah, ini lho yang menjadi dasar perhitungan NPL. NPL sendiri terbagi jadi 2 jenis, NPL Gross dan NPL Nett.

NPL Gross = (Jumlah kredit kategori 3+4+5) / Total kredit
NPL Nett = Jumlah kredit kategori 5 / Total kredit

Standar yang berlaku :

NPL Gross < 5%
NPL Nett < 2%

Semakin kecil NPL dalam suatu bank, maka akan semakin bagus. Karena kredit bermasalah dinilai kecil untuk menjaga profit yang didapat.

2. CAR

CAR (Capital Adequacy Ratio) adalah rasio kecukupan modal yang berguna untuk menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi bank.

CAR = Modal / ATMR x 100%
  • Modal = Modal Inti (tier 1) + Modal pelengkap (tier 2)
  • ATMR = Aset tertimbang menurut risiko (Risk Weighted Asset / AWR)

Kalau kesulitan menghitung manual, perusahaan akan selalu mencantumkannya dalam Laporan Tahunan mereka.

Standar yang berlaku :

CAR > 8% (standar BI), semakin tinggi semakin baik.

Kalau kamu mau menaikkan standar penilaianmu sendiri, juga boleh. Nyatanya, Bank Buku IV memiliki CAR kisaran 18%-23%.

3. NIM

NIM (Net Interest Margin) menghitung persentase pendapatan bunga dari kredit yang disalurkan oleh bank. Oleh sebab itu, semakin tinggi NIM akan semakin bagus bagi sebuah bank.

NIM = Pendapatan Bunga / Aktiva produktif x 100%

Standarnya :

NIM > 5%

NIM sendiri bisa mengindikasikan selisih bunga kredit yang disalurkan dengan bunga yang dibayar ke nasabah.

4. LDR

LDR (Loan to Deposit Ratio) menghitung berapa loan dibanding dengan deposit nasabah.

LDR = Total kredit yang disalurkan / Total dana pihak ketiga x 100%

Standar yang berlaku :

LDR > 80%

Tapi hati-hati, terlalu tinggi atau terlalu rendah juga tidak baik bagi bank tersebut.

LDR terlalu rendah jelas mengurangi potensi pendapatan karena kredit yang disalurkan masih bisa ditingkatkan.

Namun LDR yang terlalu tinggi juga tidak baik, karena berisiko pada likuiditas bank. Ga mungkin kan saat kredit sedang disalurkan, nasabah tidak bisa mengambil dana mereka.

Oleh sebab itu, sebaiknya masih ada spare bagi bank untuk mengelola dana pihak ketiga mereka semaksimal mungkin. Menghasilkan pendapatan tapi juga menjaga likuiditas perusahaan.

5. CASA

CASA (Current Account to Saving Account) mau menghitung berapa sih dana murah yang didapatkan perusahaan.

Sebelumnya, kita bagi dulu dana pihak ketiga suatu bank biasanya didapat dalam 3 jenis :

  1. Tabungan (saving account)
  2. Giro (current account)
  3. Deposito (deposit account)

Dari ketiga jenis di atas, tabungan dan giro disebut sebagai dana murah. Bank hanya perlu membayar sekitar 0%-1% ke nasabah. Sementara deposito agak lebih mahal karena bank perlu membayar sekitar 4%-6% sesuai suku bunga acuan dari BI.

CASA = (Jumlah Tabungan+Giro) / (Jumlah Tabungan+Giro+Deposito) x 100%

Standarnya :

CASA > 50%

Semakin tinggi CASA, semakin baik karena bank dapat mengumpulkan dana dari pihak ketiga tanpa membayar mahal.

Namun CASA yang terlalu tinggi menunjukkan komposisi rekening tabungan dan giro yang terlalu tinggi dibanding rekening deposito. Berpotensi risiko karena tabungan dan giro dapat ditarik nasabah sewaktu-waktu. Sementara deposito mengikat dana nasabah lebih lama sesuai tenor.

6. BOPO

BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) mengukur seberapa efisien suatu bang dalam menghasilkan pendapatan operasionalnya.

BOPO = beban operasional / pendapatan operasional x 100%

Kalau di rasio ini kita lihat yang lebih kecil akan semakin baik dan efisien. Standarnya adalah :

BOPO < 80%

Penutup

Jadi itu semua adalah rasio keuangan yang bisa dipakai dalam sektor perbankan. Kalau kesulitan hitung manual, kita bisa dapatkan rasio tersebut dalam Laporan Tahunan setiap emiten. Sudah direkap untuk beberapa tahun terakhir.

Rasio keuangan perbankan BBRI
Sumber : IDX

Baca juga :

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

BJTM vs BJBR, Mana Yang Kamu Pilih?

Post kali ini mau bahas tentang BJTM dan BJBR, 2 bank pembangunan daerah yang sudah listing di BEI. Mana yang lebih baik untuk dibeli sahamnya?

Sekilas tentang BJTM dan BJBR

Bank di Indonesia ada sekitar 100++, dan yang terdaftar di BEI ada 44 emiten. Jadi yang suka dengan sektor perbankan, pilihan kita ga hanya 4 bank Buku IV yang superior saja.

Berikut ini ada 2 bank pembangunan daerah asal Jawa Timur (BJTM) dan Jawa Barat (BJBR).

1. BJTM (BPD Jawa Timur)

BJTM berdiri sejak tahun 1961. Komposisi pemegang saham hampir 80% dikuasai oleh Pemda dan Kabupaten di Jawa Timur. Sementara masyarakat memegang 20% kepemilikan. It’s a good sign karena perusahaan dipegang oleh pemerintah.

Kalau pemegang saham mayoritas adalah masyarakat, harga saham bisa amat volatile.

Bidang usahanya adalah menyimpan dana masyarakat dan Pemda serta Pemkot, kemudian menyalurkan kredit dalam bentuk kredit multi guna, modal kerja, pegawai, maupun properti.

2. BJBR (BPD Jawa Barat dan Banten)

BJBR sendiri berdiri di tahun yang sama dengan BJTM, 1961. Namun BJBR lebih dulu listing di BEI pada tahun 2010.

Tipikal bank pembangunan daerah, maka pemegang saham mayoritas adalah Pemda dan Pemkot Jabar dan Banten (75%). Sementara 25% dipegang oleh masyarakat.

BJTM vs BJBR : Kinerja Perusahaan

1. Revenue

Mulai dari pendapatan masing-masing perusahaan dulu ya.

Revenue BJTM
Total pendapatan BJTM tahun 2011-2019. Sumber : Stockbit
Revenue BJBR
Total pendapatan BJBR tahun 2009 – 2019. Sumber : Stockbit

Revenue keduanya secara konsisten terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Yang menarik adalah BJTM perlu waktu 8 tahun agar revenue-nya sekitar 2,7T menjadi 6T (2x lipat). Di rentang waktu yang sama, BJBR meningkatkan revenue-nya dari 6T menjadi 12T (2x lipat). Rentang waktu yang sama dan peningkatan yang hampir mirip.

Untuk Q2 2020, sementara BJTM mencatatkan pendapatan sebesar 2,8T (naik 2.40% dari Q2 2019). Sedangkan BJBR mencatatkan pendapatan sebesar 6T (naik 3.6% dari Q2 2019). Jadi meskipun pandemi, operasional kedua bank masih terjaga.

2. Margin

Kita akan lihat perbedaan dari sisi margin, baik gross profit maupun net profit mereka.

INCOME STATEMENTBJTMBJBR
Dalam PersentaseQ4 2019Q4 2019
 Total Pendapatan100%100%
 Total Beban Pokok Penjualan-32%-50%
 Laba Kotor69%50%
 Total Beban Usaha-38%-33%
 Laba Usaha31%17%
 Penghasilan/beban Lain-lain1%-1%
 Laba Sebelum Pajak32%16%
 Beban Pajak Penghasilan-8%-3%
 Laba Bersih Tahun Berjalan24%13%
 Pendapatan Komprehensif Lain0%1%
 Jumlah Laba Komprehensif24%14%
 Laba Bersih Yang Dapat Diatribu…24%13%

Dilihat dari margin, terlihat BJTM lebih menguntungkan dibandingkan dengan BJBR. Mulai dari gross profit kedua perusahaan sudah berbeda. BJTM bisa menghasilkan 69% berbanding BJBR dengan 50%.

Ada 2 kemungkinan, entah BJTM memberikan kredit dengan bunga lebih tinggi atau BJTM mendapat sumber dana yang lebih murah daripada BJBR. Yuk coba cek ke NIM (Net Interest Margin).

NIM itu margin interest dari kredit yang disalurkan dengan yang diberikan ke nasabah. NIM BJTM sebesar 6.11% sementara BJBR 5.75%. Data NIM ini bisa kita cek dalam Laporan Tahunan. (fyi, NIM standar > 5%).

However, BJBR dengan gross profit 50% dan net profit margin 13% juga bukan hal yang buruk. Kita bisa cek ke bank-bank lain yang listing.

3. NPL (Non Performing Loan)

Kalau bahas sektor perbankan, NPL itu termasuk rasio yang penting. Ini menghitung berapa kredit macet mereka. Percuma kan kalau mencatatkan pendapatan jika kredit macetnya juga tinggi.

NPL nett 2019, BJTM 0.71% vs BJBR 0.81%. Keduanya cukup aman karena standarnya NPL yang baik < 2%.

4. ROE dan ROA

ROE 2019, BJTM vs BJBR adalah 18% vs 13%.

ROA 2019, BJTM vs BJBR adalah 2.73% vs 1.26%.

Yups, BJTM mengungguli saudaranya BJBR dalam hal kinerja. Meskipun kinerja BJBR juga sudah baik.

Balance Sheet

BJTM dan BJBR memberikan peningkatan asset dan ekuitas dari tahun ke tahun. Artinya perusahaan bertumbuh.

Asset BJTM sudah sebesar 76T, sementara BJBR memiliki 123T. Sebagian besar asset bank memang berasal dari liabilitas dana nasabah.

Melihat ke ekuitas, BJTM memiliki 9T dan BJBR memiliki 12T. Dengan demikian, jika dibagi dengan jumlah saham beredar maka nilai book value (BV) kedua perusahaan adalah Rp 612/lembar (BJTM) dan Rp 1.218/lembar (BJBR).

Debt BJBR

Sayangnya, BJBR juga memiliki hutang obligasi sebesar 8,9T untuk menopang operasionalnya.

Satu hal yang bisa mengecilkan profit BJBR adalah adalah hutang obligasi yang diterbitkan, sehingga perusahaan harus membayar beban bunga. Beban ini juga menjadi bagian mengurangi profit perusahaan. Sementara BJTM tidak memiliki hutang obligasi.

Valuasi BJTM dan BJBR

Okay, menurut saya kedua perusahaan sebenarnya bagus dan dalam kondisi yang sehat. Tapi perusahaan bagus belum tentu bisa dibeli. Tunggu di valuasi yang terdiskon.

Saat ini kira-kira di mana posisi mereka?

1. BJTM

Valuasi BJTM

Jika menggunakan PE Standar Deviasi 3 tahun, saat ini BJTM ada di PE 6.43x di mana rata-rata 3 tahun ada di PE 7.74x. Artinya harga BJTM saat ini sedang terdiskon sekitar 17%.

2. BJBR

Valuasi BJBR

Justru saat ini BJBR yang sedang terdiskon dalam. PE rata-rata 3 tahun BJBR ada di posisi 12.18x. Dan saat ini sedang berada di PE 6.60x. Di lihat demikian maka BJBR memberikan diskon hampir 45%.

Hanya berharap BJBR tetap memberikan pertumbuhan yang sama atau bahkan lebih, maka PE akan kembali ke rata-rata.

Dividen BJTM dan BJBR

Dalam hal dividen, kedua perusahaan termasuk emiten yang rajin dan royal kepada shareholders mereka. Tidak pernah absen membagikan dividen setiap tahun dan yield yang diberikan juga termasuk tinggi.

Itu sebabnya saya pernah memasukkan kedua emiten ini ke dalam daftar emiten pembagi dividen tertinggi di tahun 2020.

Untuk tahun 2020, BJBR membagikan dividen Rp 94/lembar saham dan BJTM Rp 48/lembar saham. Tapi ga adil kalau membandingkan dengan nominal. Bandingkan dengan dividen yield (dividen/harga saham).

Untuk BJBR, di harga saham Rp 1.050 maka yield-nya adalah 8.95%.

Untuk BJTM, di harga saham Rp 570 maka yield-nya adalah 8.42%.

Keduanya memberikan yield yang hampir sama dan layak untuk dinantikan di tahun 2021. Kenapa? Coba bandingkan dengan rate deposito sekitar 3%-4% atau SBN ritel sekitar 5%-6%.

Jika mereka mendapatkan profit yang sama atau lebih tinggi dari tahun lalu, kemungkinan mereka akan memberikan dividen dalam jumlah yang sama atau bahkan lebih tinggi.

Sebaiknya simpan sejak harga saham mereka masih murah. Jangan sudah naik dan premium. Yield yang diterima pun akan berkurang.

Kesimpulan

Jadi mau pilih mana pun itu terserah pada pribadi masing-masing. Post ini dibuat hanya untuk membandingkan beberapa aspek. Sebelum memutuskan kita perlu melakukan research lebih dalam. Dan itu adalah tanggung jawab investor.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Baca juga : Analisa saham PWON (Pakuwon Jati)

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Rasio Likuiditas : Current Ratio, Quick Ratio dan Cash Ratio

Dalam analisa saham secara fundamental, kita sering menggunakan rasio untuk mengukur likuiditas perusahaan, baik current ratio, quick ratio maupun cash ratio.

Baca juga : Cara filter saham secara fundamental

Likuiditas termasuk salah satu faktor penting dalam menilai kesehatan perusahaan. Rasio likuiditas membantu kita mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek.

Kita bahas dulu 3 rasio yang mengukur likuiditas suatu perusahaan.

Rasio Likuiditas

1. Current Ratio

Sesuai namanya, current ratio dihitung dengan membagi current asset (aset lancar) dengan current liabilities (utang lancar).

CURRENT RATIO = CURRENT ASSET / CURRENT LIABILITIES

Menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar utang jangka pendek menggunakan aset jangka pendek mereka.

Mengapa aset jangka pendek?

Untuk membayar utang lancar (utang yang akan jatuh tempo kurang dari 1 tahun), perusahaan membutuhkan aset lancar juga (yang dapat menjadi cash secepat mungkin).

Tidak mungkin untuk membayar utang ke supplier, perusahaan sampai harus menjual bangunan atau kendaraan kantor. Itu namanya perusahaan sudah tidak sehat.

Perusahaan dikatakan sehat jika mampu membayar utang jangka pendek dengan aset jangka pendeknya, baik kas & setara kas, piutang usaha, maupun persediaan barang. Artinya, operasional perusahaan dapat berjalan lancar (tidak mandek).

RULE OF THUMB : CURRENT RATIO = 1 - 5

Idealnya, current asset bernilai 1x, 2x hingga 5x lipat dari pada current liabilities.

Current ratio < 1 dianggap agak berisiko, karena akan kesulitan membayar utang lancar keseluruhan. Jika current asset sudah habis membayar current liabilities, dan masih kurang. Dengan apa lagi perusahaan akan membayar?

Current ratio > 5 juga dianggap kurang baik, karena perusahaan dianggap tidak efisien. Entah memiliki persediaan yang terlalu banyak atau piutang yang menggunung.

Tapi standar itu belum tentu berlaku di semua perusahaan. Ada yang memiliki current ratio kecil, karena memang model bisnisnya demikian. Contoh : perusahaan infrastruktur ataupun telekomunikasi lazim demikian.

Yang penting tahu alasannya dan make sense jika terdapat pengecualian di luar standar.

2. Quick Ratio

Kadang disebut juga dengan acid test ratio. Berbeda dengan current ratio, quick ratio hanya menggunakan kas dan piutang.

QUICK RATIO = (CASH & EQUIVALENT + RECEIVABLES) / CURRENT LIABILITIES

Rasio ini tidak menghitung persediaan untuk mengukur kemampuan bayar utang lancar. Kenapa?

Karena persediaan dianggap kurang likuid jika diperlukan segera menjadi kas. Perlu waktu untuk menjualnya dan mengkonversi menjadi kas. Ada juga persediaan yang sifatnya slow-moving (jarang dipakai) atau malah sudah lewat masanya.

Kalau kita punya perusahaan telekomunikasi, persediaan 2G tidak akan laku dijual di era 4G. Meskipun bisa dijual, kemungkinan persediaan akan dihargai lebih murah dari harga belinya.

RULE OF THUMB : CURRENT RATIO = 1 - 5

Standarnya tetap sama seperti current ratio, antara 1-5. Dengan catatan yang sama juga, ada industri/perusahaan yang memang model bisnisnya tidak bisa memenuhi kriteria tersebut.

Di luar standar bukan berarti pasti buruk. Cari tahu dulu penyebabnya.

3. Cash Ratio

Yang ketiga lebih mengerucut. Dengan mengeluarkan piutang, cash ratio hanya mengukur kemampuan membayar utang lancar dengan kas & setara kas.

CASH RATIO = CASH & EQUIVALENT / CURRENT LIABILITIES
RULE OF THUMB : CASH RATIO = 0.5 - 1

Kenapa rasio likuiditas penting?

Bagi kita sebagai investor, tentu lebih menyukai perusahaan yang sehat secara finansial. Perusahaan yang kesulitan membayar utang lancar akan menimbulkan masalah selanjutnya.

Jika utang tidak dibayar, supplier tidak akan memberikan persediaan yang dibutuhkan untuk operasional. Tidak ada persediaan, maka tidak akan ada penjualan.

Meskipun demikian, rasio ini hanyalah perhitungan menggunakan data masa lalu. Kita juga tidak bisa memprediksi masa depan.

Ada masanya jika krisis bisa saja terjadi dan mengganggu perusahaan yang sehat sekalipun. Di masa operasional tidak dapat berjalan normal, sementara utang lancar tetap akan mendekati jatuh tempo.

Rasio hanya alat bantu untuk melihat perusahaan yang akan kita beli. Setiap perusahaan berbeda dan kita tidak bisa menggunakan standar rasio kepada siapa saja.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.