Tag Archives: Investasi

Review Saham: LSIP (LonSum) Q2 2021

Apa yang terlintas jika bicara perusahaan kelapa sawit / CPO? Biasanya langsung ingat dengan LSIP, perusahaan grup Indofood. Kenapa bisa LSIP yang terkenal? Bagaimana kinerjanya?

Disclaimer : Posting ini sebagai journal penulis. Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Latar belakang perusahaan

PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) sering disebut dengan LonSum karena didirikan tahun 1906 oleh perusahaan perkebunan berbasis di London, sementara lahan perkebunan pertama berada di Sumatera Utara.

Hingga pada tahun 1996 perusahaan listing di bursa efek dan pada tahun 2007 diakuisisi oleh grup Indofood melalui PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). SIMP sendiri terkenal dengan produk minyak goreng merek Bimoli dan margarin Palmia. Jadi hasil produksi LSIP disalurkan menjadi bahan baku SIMP.

Siapa saja shareholders saham LSIP?

  • PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) = 59.51%
  • Indofood Agri Resources Ltd = 0.11%
  • Publik = 40.38%

Apa yang diproduksi LSIP?

produk saham LSIP
Sumber : Pubex LSIP

1. Kelapa Sawit (CPO)

Kelapa sawit sebagai produk utama LSIP menyumbang 94% pendapatan perusahaan. Perusahaan memiliki 96 ribu hektar lahan di Sumut, Sumsel, Kaltim dengan 13 pabrik. Plus, perusahaan kerja sama dengan petani plasma dengan lahan 31 ribu hektar.

Sehingga memiliki kapasitas produksi 2.8 juta ton TBS (tandan buah segar) setiap tahun.

2. Karet

Perusahaan memiliki 16 ribu hektar kebun karet dan 4 pabrik yang berada di Sumut, Sumsel, Sulsel. Menyumbang sekitar 4% dari pendapatan perusahaan.

3. Lain-lain

Perusahaan juga memproduksi benih bibit kelapa sawit diberi nama SumBio. Ada kakao di Sulawesi, Jatim, dan perkebunan teh di Jabar dengan teh celup Kahuripan. Tidak terlalu besar memang, hanya menyumbang sekitar 2% dari pendapatan.

Laba rugi keuangan

Seperti halnya perusahaan coal, tahun 2021 perusahaan CPO manapun seharusnya akan profit. Adalah sebuah pertanyaan kalau perusahaan CPO malah merugi di tahun ini. Jika melihat pergerakan harga CPO dunia, malah seharusnya laba perusahaan kelapa sawit meningkat dari tahun 2020.

Market cap LSIP memang “hanya” 9T dibandingkan 20T AALI ataupun 12T SMAR. Namun kalau urusan margin, LSIP yang paling profitable. LSIP bisa membukukan net income margin hingga 20%, paling tinggi di sektornya. Jika ditarik 10 tahun, rata-rata NIM LSIP berada di kisaran 15%, jadi tahun 2021 memang katalis untuk CPO.

LSIP memang bukan perusahaan yang pendapatannya konsisten naik, karena tergolong price taker. Jadi pendapatan mereka tergantung dengan demand dan harga pasar. Tapi saat harga CPO melambung, kita tahu siapa yang paling menguntungkan bukan?

Per Q2 2021 perusahaan membukukan:

  • sales perusahaan 2.1T (4.2T annualized) = naik 23% dari 2020
  • gross profit 755M (1.5T annualized) = naik 40% dari 2020
  • net income 500M (1T annualized) = naik 46% dari 2020

Kalau lihat begini langsung auto menarik kan.

Balance sheet

Perusahaan memiliki asset 11.6T terbagi menjadi aset lancar 3.6T dan tidak lancar 7.9T.

3.6T aset lancar pun isinya 2.6T (74%) adalah kas dan setara kas. Jadi lumayan cash rich. Current ratio nya saja mencapai 4x karena besarnya cash yang dimiliki.

Sementara di aset tidak lancar 7.9T mayoritas berisi 3.2T tanaman produktif, 3T untuk aset tetap.

Liabilitas perusahaan hanya 1.8T berbanding ekuitas mencapai 9.7T. Liabilitas pun tidak ada yang hutang berbunga. Jadi sungguh aman kalau saya pikir.

Dividen

Perusahaan selalu konsisten bagi dividen kok, memang grup Indofood termasuk rajin bagi dividen walaupun tidak besar. Paling besar dividen yang dibagikan DPR 40%.

Jadi jika asumsi net income 2021 1T, maka dividen estimasi adalah 400M atau setara Rp 59/lembar. Jika pakai harga saat ini (20/11/21) = 1,375/lembar. Maka kita dapat dividend yield = 4.2% (not bad).

Valuasi saham LSIP

Kalau melihat kinerja dan kondisi keuangan LSIP, seperti jarang ada yang menolak perusahaan bagus ini. Bagi yang tertarik, coba lanjut ke valuasi saham LSIP ini.

Menggunakan asumsi yang sama di atas, jika NI 2021 adalah 1T, maka harga saat ini di 1,375 memberikan PE 9x (yield = 11%).

Bandingkan dengan perusahaan lain, PE AALI 10x, SMAR 5x dan SGRO 6x.

Dilihat dari PBV Std Deviation 5Y, rata-rata ada di 0.93x sementara saat ini PBV LSIP ada di 0.96x in fair range. Tapi kalau ekuitasnya akan naik seiring profit naik di 2021, maka PBV jadi 0.89x.

Intinya, perusahaan bagus, tapi at the fair price saja. Naik sih kemungkinan besar terjadi, tapi seberapa besar MOSnya. Buat saya tidak terlalu tinggi. Jadi harus melewatkan LSIP di harga 1,375 dulu.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Review saham SGRO (CPO juga).

Review EASYCASH: P2P Lending Platform

Platform P2P Lending sekarang banyak pilihan, dan terakhir baru saja mencoba P2P lending bernama Easycash. Bagaimana cara kerjanya? Berikut ini review nya.

Disclaimer : Post ini adalah review jujur dan tidak untuk mempromosikan atau menjatuhkan pihak tertentu.

Siapa Easycash?

Hal pertama kalau mau registrasi di platform P2P lending manapun di Indonesia, coba selalu cek ke daftar penyelenggara dari OJK. Apakah platform tersebut sudah terdaftar atau belum.

Sumber : OJK 06/10/2021

Easycash dengan nama PT Indonesia Fintopia Technology telah terdaftar dan berizin di OJK sejak 16 Oktober 2020. Jadi platform ini legal.

PT Indonesia Fintopia Technology sendiri adalah anak usaha dari Fintopia Inc asal China yang berdiri sejak 2015.

Kalau sudah pernah kenal dengan platform P2P lending bernama Asetku, Easycash ini hampir mirip dengan Asetku.

Berapa range return nya?

Rate Easycash

Range nya mulai 10%-20% per tahun. Rate yang ditawarkan ini bisa berubah tergantung kebutuhan pendanaan. Kadang bisa lebih tinggi jika banyak peminjam dan butuh pendanaan. Tapi juga bisa lebih rendah jika pendanaan mencukupi kuota.

Dan tempo peminjamannya antara 30 hari hingga 12 bulan. Saya prefer selalu ambil tempo pendek sih.

Sementara pilihan bank untuk top up pendanaan adalah BCA dan BRI saja. Agak sedikit pilihan memang.

TKB90 = 100%

Hingga saat ini, TKB90 Easycash tercatat 100%. Artinya, belum ada yang telat bayar, apalagi gagal bayar.

*TKB90 adalah tingkat keberhasilan platform tersebut dalam memfasilitasi penyelesaian kewajiban peminjam dalam waktu 90 hari sejak jatuh tempo. Mendekati 100% akan semakin baik.

Tipikal cara kerja platform P2P lending adalah menggunakan asuransi atau menggunakan profit perusahaan untuk membayar pinjaman yang terlambat.

Untuk Easycash sendiri telah bekerja sama dengan Asuransi Intra Asia dalam hal jika terjadi risiko kredit maka akan diklaim senilai pokok pinjaman kita.

Minimum pendanaan

Pendanaan di Easycash tergolong terjangkau, minimum Rp 100 ribu saja.

  • Kita harus top up dulu ke BALANCE melalui virtual account BCA/BRI.
  • Tunggu 5-10 menit sampai transfer kita masuk ke BALANCE
  • Kemudian pilih periode yang mau didanai
  • Isi nominal pendanaan (maksimal senilai di balance)

Kalau sudah jatuh tempo, akan masuk ke Balance lagi. Tinggal kita tarik / withdraw ke bank kita jika sudah tidak mau pendanaan.

Kalau berminat pendanaan di Easycash

Tinggal registrasi di link ini dari HP kamu. Cukup daftarkan No HP, KTP dan nomor rekening bank.

Kemudian tolong isi kode referral, W1YwEaiw. Terima kasih.

Jika mengisi kode referral

Sebagai registrasi awal, kalau kamu mengisi kode referral, kamu akan mendapat : 2 kupon pendanaan awal untuk rate di atas rata-rata.

Kupon Easycash

Sementara saya akan mendapat daily reward setara 18%/tahun sepanjang tempo pendanaan yang kamu lakukan.

Kesimpulan mengenai Easycash

Easycash masih mayoritas tergolong kredit konsumtif ya, karena dipinjamkan ke individu.

Legal, berizin OJK dan di cover asuransi jika terjadi gagal bayar.

Rate juga di range yang standar, bukan terlalu tinggi atau rendah.

Sekian, semoga bermanfaat.

Baca juga : Review Uangme atau Investree, atau Cara hitung pajak P2P Lending.

Review Saham: SGRO (Sampoerna Agro) Q3 2021

Kalau bahas saham perusahaan kelapa sawit / CPO, rasanya ga jauh-jauh dari LSIP, AALI, ataupun SMAR. Namun kali ini yang mau dibahas bukan ketiga perusahaan itu, melainkan saham SGRO, PT Sampoerna Agro Tbk. Lho kok SGRO?

Disclaimer : Posting ini sebagai journal penulis. Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Kenapa bahas saham SGRO?

Seiring naiknya harga acuan CPO dunia, rasanya ingin juga mengambil peluang dari momentum ini.

LSIP (menurut saya ya) merupakan perusahaan terbaik di industri ini, namun karena MOS nya sudah kecil, tidaklah jadi membeli saham ini.

Hingga ketemulah saham SGRO yang dibahas di website Pak Teguh Hidayat. Tapi bukan berarti karena dibahas atau direkomendasi orang lain, kita langsung beli tanpa analisa. Secara screening, sepertinya cukup oke. Sampailah pada akhirnya membahas saham SGRO ini. Apakah cocok dengan kriteria masing-masing?

Latar belakang perusahaan

PT Sampoerna Agro ini berdiri dengan nama PT Selapan Jaya di Sumatera Selatan tahun 1993. Baru kemudian diakuisisi oleh Grup Sampoerna di tahun 2007, namanya diganti menjadi Sampoerna Agro. Di tahun yang sama, perusahaan langsung listing di BEI. Sungguh gerak yang cepat dari grup Sampoerna ya.

Saat ini pemegang saham perusahaan adalah:

shareholders saham SGRO
Sumber : Laporan Tahunan SGRO

SGRO tidak hanya mengakuisisi 1 perusahaan saja. Tercatat ada 21 entitas anak yang sudah beroperasi dan 11 entitas anak yang sedang dalam tahap pengembangan.

Apa saja yang dijual oleh perusahaan?

  • Produk kelapa sawit : minyak sawit (CPO), Inti Sawit (Palm Kernel), Benih/Bibit dengan merek DxP Sriwijaya.
  • Produk non kelapa sawit : sagu dan karet. Untuk karet masih belum beroperasi.

Daerah operasionalnya pun telah berkembang menjadi 308 ribu hektar di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Namun yang tertanam baru 169 ribu hektar, alias baru 55% dari total lahan. Di mana saja?

  • Minyak sawit : SumSel (85 ribu ha), KalBar dan KalTeng (50 ribu ha)
  • Sagu : Riau (13 ribu ha)
  • Karet : KalBar (21 ribu ha)

Masih ada 139 ribu hektar yang bisa diperluas dan tentu saja butuh modal dan waktu.

Seberapa besar perusahaan?

Biasanya untuk melihat seberapa besar suatu perusahaan, kita perlu bandingkan dengan peers nya.

  1. Market cap SGRO saat ini (31/10/2021) = 4.2T. Sementara LSIP 9.5T, SMAR 12.8T dan terbesar adalah AALI 20.6T
  2. Untuk asset SGRO memiliki 9.7T, LSIP 11.6T, SMAR 37T, dan AALI 29T.
  3. Ekuitas SGRO adalah 4.1T, LSIP 9.8T, SMAR 13T, AALI 20T.
  4. Sales SGRO annualized 5.4T, LSIP 4.3T, SMAR 53T, AALI 25T.

Jelas terlihat kalau asset SGRO dan SMAR sebagian berasal dari liabilitas yang cukup besar, sementara LSIP dan AALI mayoritas berasal dari ekuitas. Dalam hal ini, saya tidak terlalu suka dengan SGRO sebenarnya.

Namun tidak bisa ambil kesimpulan hanya dengan 1 metrik saja bukan. Jadi mari kita lanjut.

Balance sheet perusahaan

1. Asset

Asset perusahaan terdiri dari 16% aset lancar senilai 1.5T dan 84% aset tidak lancar setara 8.2T. Tipikal perusahaan perkebunan, aset tidak lancarnya biasanya lebih besar karena berisi tanaman produktif dan aset tetap sebagai operasional mereka.

Aset lancarnya senilai 1.5T tersebut terbagi menjadi 38% cash, 8% piutang usaha, 9% piutang lain-lain (ke petani plasma), 28% persediaan, 14% aset biologis, dan 4% untuk lain-lain.

Fyi, mengenai petani plasma adalah mitra perusahaan yang kerjasama dengan perusahaan. Diberikan pembinaan, lahan mereka dibangun untuk siap ditanami, diberikan kredit di bank dengan perusahaan sebagai penjamin. Nanti petani tersebut harus menjual hasil panennya ke perusahaan dan mencicil biaya pembangunan kebun.

Untuk asel lancar sendiri seharusnya berada di level aman, karena current ratio = 1x berbanding dengan kewajiban lancar. Bukan tipikal cash rich memang, tapi cukup aman untuk operasional.

Sementara aset tidak lancar 8.2T terdiri dari 1.9T aset tetap, 2.2T tanaman produktif-menghasilkan, dan 3.1T tanaman produktif-belum menghasilkan. Memang banyak yang belum menghasilkan.

Untuk luas lahan sendiri, sebenarnya SGRO memiliki 135 ribu ha yang tertanam sawit, berbanding LSIP memiliki 96 ribu ha. Namun komposisi SGRO lebih banyak yang belum menghasilkan. Kemungkinan perlu waktu sekitar 4 tahun untuk menjadi tanaman menghasilkan. Artinya, perusahaan masih akan grow dalam hal volume produksai (jika tidak ada perubahan signifikan). Kalau harga jual kan tergantung pasar.

2. Debt

Ini adalah yang paling menarik perhatian saat menganalisa SGRO. Debt (utang berbunga) nya bukan di level biasa saya sukai untuk miliki. Debt senilai 3.4T dari total liabilitas 5.4T.

Jika dibandingkan dengan ekuitasnya, maka menghasilkan DER 0.82. Untuk sebagian orang biasanya masih acceptable untuk level ini sebenarnya.

Debt ini juga selalu naik setiap tahun, dari 400M (2011) menjadi 3.4T (2021) dengan kenaikan 688% dalam 10 tahun. Kenaikan ini jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan ekuitas yang hanya 72% dalam 10 tahun.

Cash flow

Untuk cash flow operasional, SGRO sebenarnya selalu positif setiap tahun. Tidak bisa selalu konsisten bertumbuh karena harga dipengaruhi harga pasaran CPO. Yang pasti, tidak pernah nombok.

Namun, karena perusahaan masih fokus dalam pengembangan, maka banyak biaya keluar di cash flow investasi yang biasanya lebih tinggi daripada CFO nya.

Akhirnya jalan satu-satunya adalah dengan pinjaman bank atau obligasi. Itu sebabnya debt nya naik drastis. Hasilnya muncul dengan kenaikan di tanaman produktif dan aset tetap perusahaan yang konsisten naik juga.

Sayangnya, debt ini mengeluarkan biaya yang lumayan besar. Selama 10 tahun, total biaya bunga pinjaman dan emisi mencapai 2.6T. Sebenarnya sih sedih lihatnya, pinjaman untuk dicicil ke beban keuangan. Tapi itulah bisnis. Kalau mau tunggu dari CFO, kapan terkumpul modal untuk pengembangan lahan.

Beruntung di tahun 2020-2021, harga CPO yang naik memberi kesempatan bagi perusahaan mengurangi pinjamannya.

Income Statement

Baru kali ini kita bahas tentang penjualannya. Karena perusahaan CPO menjual tergantung harga acuan CPO, maka tahun 2020-2021 adalah hal yang menguntungkan untuk mereka.

Dari awal tahun 2020, CPO berada di harga MYR 3,100/ton, turun di April-Mei 2020 karena pandemi ke harga MYR 1,900/ton, namun langsung melejit di akhir 2020 menjadi MYR 3,600/ton. Bahkan terus naik hingga Q3 2021 mencapai MYR 4,500/ton.

Jadi tidaklah aneh kalau penjualan perusahaan CPO (manapun) meningkat di tahun 2020-2021. Meskipun volume produksi menurun karena musim kemarau pun, harganya malah semakin naik karena supply berkurang.

Per Q3 2021, SGRO membukukan penjualan 3.9T. Ini adalah yang tertinggi sepanjang masa. Major customer mereka saat ini adalah Sumber Indah Perkasa (grup Sinarmas), LDC Indonesia dan Wahana Citra Nabati. Mayoritas penjualan di Indonesia.

Net income Q3 2021 mencapai 510M masih belum melewati pencapaian 2011 di 541M. Namun masih menyisakan 3 bulan lagi, seharusnya bisa melewati capaian tahun 2011. Kalau disetahunkan, net income perusahaan bisa mencapai 680M.

Sayang dalam margin, tahun 2021 masih 13% sementara 2011 bisa menghasilkan margin 17%. Tahu kenapa? Karena beban keuangan memakan 5%. Sementara tahun 2011 perusahaan masih minim debt.

Valuasi saham SGRO

Just in case, kamu berniat membeli SGRO. Berapa harga yang wajar? (perhitungan saya bisa saja salah atau berbeda dengan yang lain ya).

Jika menutup tahun 2021 dengan net income estimasi 680M, maka PE menjadi 6x. Karena PER rata-rata perusahaan tidak stabil, maka saya coba ambil PE 2011 (kala performa terbaik perusahaan) adalah 10x. jadi masih ada MOS 67%.

PE 6x itu setara earning yield 16.7% di harga sekarang 2230/lembar. Bukanlah yield yang buruk. Apalagi jika perusahaan membagikan dividen tahun depan walaupun biasa dividen yield hanya 1-2% saja.

Kalau saya hitung per Q3 2021, harga SGRO bisa mencapai 3500 (MOS 56%). Setara dengan harga 2011 di 3500 dengan net income 541M.

Sentimen bagi perusahaan CPO

Sentimen yang mempengaruhi perusahaan (bukan hanya SGRO), antara lain:

  1. Harga acuan CPO jelas. Makin naik, penjualan akan naik. Tapi kalau naik terus, harga minyak goreng (produk CPO) juga akan naik. Kita yang jadi customer juga akan kena imbasnya.
  2. Volume produksi (supply) kalau meningkat di harga tinggi bisa jadi peluang.
  3. Program pemerintah B30 untuk menjamin demand bagi perusahaan. Namun jika harga solar (substitusi) lebih murah, harusnya berpindah ke solar.
  4. Harga acuan soybeans sebagai substitusi CPO. Kalau salah satu turun, yang lain seharusnya akan mengikuti. Demand akan memilih bahan baku lebih murah.
  5. Barrier entry yang tinggi karena harus punya lahan luas, izin pembebasan lahan juga diperketat demi menahan global warming.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga review tentang SMDR, PWON, ICBP.

Review Saham: SMDR (Samudera Indonesia) Q2 2021

Saham yang kali ini akan dibahas berasal dari sektor transportasi laut (pelayaran), salah satunya adalah saham SMDR, PT Samudera Indonesia. Tertarik banget sama sektor ini karena harga container yang terus melambung bisa jadi peluang untuk perusahaan pelayaran.

Disclaimer : Posting ini sebagai journal penulis. Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Latar belakang saham SMDR

PT Samudera Indonesia didirikan oleh Soedarpo Sastroatomo tahun 1964. Perjalanan panjang hingga 1999, perusahaan akhirnya listing di BEI. Hingga 2021, perusahaan masih dikelola oleh generasi kedua dan ketiga keluarga Sastroatomo dengan memegang jabatan direktur dan komisaris.

Untuk daftar pemegang saham SMDR adalah sebagai berikut:

PT Samudera Indonesia Tangguh58%
PT Ngrumat Bundo Utomo14%
Publik28%
Total100%

Perusahaan sudah beroperasi, bukan hanya di Indonesia, melainkan hingga mancanegara, antara lain: UAE, Pakistan, India, Sri Lanka, China, Hongkong dan Asia Tenggara.

Business lines perusahaan juga sudah terintegrasi dari shipping, ports, logistics, properti hingga service. Jaringan sistem yang terintegrasi inilah yang menjadi moat perusahaan dari para pesaingnya. Dapat menjangkau ke mancanegara hingga memiliki banyak produk yang ditawarkan untuk klien secara menyeluruh.

Shipping rates terus meningkat

Akhir tahun 2020 hingga pertengahan 2021, harga shipping rates terus meningkat. Alasannya karena ketidakseimbangan pengiriman. Container yang dikirim keluar dari 1 negara (China salah satunya), tidak ada jalur pengiriman kembali ke negara asal, sehingga supply container terganggu.

Harga container 40feet dari $2,000-2,500 (sebelum pandemi), menjadi $10,000-12,500 (pertengahan tahun 2021). Hingga saat ini belum ada tanda penurunan.

Shipment by air (udara) juga masih lebih mahal sehingga tidak bisa menjadi substitusi pengiriman laut. Untuk container 40ft setara 26,000kg @ $7-$10/kg.

Karena harga shipping ini menjadi sumber pendapatan perusahaan pelayaran seperti SMDR, maka hal ini bisa menjadi potensi kenaikan pendapatan perusahaan.

Pendapatan

revenue SMDR
Sumber : Stockbit

Kalau melihat history, pendapatan perusahaan tidaklah impresif, konsisten menurun sejak tahun 2012. Hingga Q2 2021, perusahaan telah membukukan pendapatan sebesar $274juta (Jika disetahunkan menjadi $528juta. Bukan all time high revenue, tapi jelas akan lebih baik dari tahun 2020.

Sementara dari sisi net income, perusahaan biasanya membukukan margin 1%-3% kecuali tahun 2019-2020 yang justru merugi dikarenakan impairment dan loss on disposal asset.

Namun melihat ke Q2 2021, untuk sementara Net Income Margin yang dibukukan adalah 9%. Memang tahun yang spesial untuk SMDR.

Jika tetap mengambil margin 9%, maka estimasi net income untuk 2021 adalah sebesar $47juta alias PE 3x.

Valuasi saham SMDR

Untuk PE 3x adalah murah dibandingkan history tahun-tahun sebelumnya sebesar 6-10x. Untuk mencapai PE 6x saja sudah menjadi 100% dari harga saat ini di Rp 705 (08/10/2021). Tapi akankah sejauh itu? I don’t think so juga sih, karena net income 2 tahun terakhir juga merugi. Sulit menggunakan PE untuk valuasi.

valuasi saham SMDR

Melihat P/S harga sahamnya sudah lebih mahal dari yang rata-ratanya. Market telah mengapresiasi harga sahamnya lebih cepat sebelum peningkatan kinerjanya dibukukan.

Harga saham sudah naik 159% (sejak 1 tahun lalu), sementara revenue baru naik 12%.

Saya coba menggunakan Price/Operating Income setiap tahunnya dengan average 3x. Sementara untuk saat ini, sudah mencapai 4x.

Struktur modal SMDR

Dari sisi balance sheet, SMDR termasuk yang cukup sehat (bukan yang wah) bagi saya. Meskipun liabilitas > ekuitas, memang bukan tipe favorit tapi setelah dijabarkan mayoritas liabilitas adalah utang usaha yang menunjang operasional. Selama operasional berjalan lancar, utang usaha tersebut akan terus terbayar dan berulang lagi.

Sementara untuk debt nya sebesar 35% dari ekuitas yang saya anggap masih reasonable.

Untuk assetnya terdiri dari $147juta cash (23% asset), $113juta piutang (18% asset), dan $278juta aset tetap dan hak guna (45% asset). Usaha pelayaran memang tidak memerlukan banyak inventory, karena tidak ada yang dijual.

Penutup

Bagi saya, saham SMDR punya potensi untuk mendapat profit tinggi tahun ini atau bisa sampai tahun 2022. Namun harga yang sudah naik membatalkan saya untuk tertarik.

Yes, saya terlambat menemukan perusahaan ini sehingga melewatkan kesempatan yang ada. Jika ada yang tertarik, saya pikir harganya bisa tetap naik, namun tidak bisa terlalu tinggi. Sekitar Rp 750-800 adalah perkiraan saya (yang mungkin juga bisa salah).

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : review saham undervalued lainnya, DPNS atau ICBP.

Investasi Saham Vs P2P Lending

Kalau bingung dalam memilih investasi saham atau P2P lending, post ini mau bahas pertimbangan sebelum memilihnya.

Bagi yang belum mengerti dengan saham maupun P2P lending, bisa cek dulu link di bawah:

Nah karena memiliki karakter yang berbeda, maka pilihlah instrumen yang cocok dengan diri kita sendiri.

1. Investasi Saham

Investasi saham itu tipenya investasi berdasarkan kepemilikan (OWNership investment). Jadi dengan memiliki saham sama artinya dengan kita memiliki bisnis/perusahaan di balik lembaran saham tersebut.

Kelebihan saham

A. Potensi return yang besar

Kalau kita bisa memilih saham yang benar, maka tidak menutup kemungkinan berpotensi memberikan return yang sangat besar sampai dengan tidak terbatas. Artinya, return kita bisa mencapai ratusan persen bukanlah hal yang mustahil.

B. Akses yang mudah

Cara buka rekening saham? Mudah, online pun sekarang bisa.

Cek pergerakan harga saham? Banyak aplikasi yang bisa mengakomodir.

Ingin tahu laporan dan informasi terbaru dari perusahaan yang dimiliki? Mudah.

Jaman sekarang, investasi saham menjadi mudah untuk dilakukan. Berbeda dengan jaman 80-an, 90-an dimana informasi dan akses masih minim.

C. Pajak rendah

Yang dibahas saat ini khusus investasi saham di Indonesia saja ya. Berapa pajak untuk penghasilan dari saham?

Selama kita memiliki saham tersebut (tidak jual-jual), maka kenaikan return kita bukan objek pajak. Selama belum dijual, tidak dikenakan pajak walaupun naik banyak.

Maka saat jual saham, pajak yang dikenakan adalah 0.10% dari transaksi jual (final).

Kalau di saat memiliki saham, kita mendapat dividen. Maka pajaknya adalah 10% dari dividen tersebut (final).

Pembayaran pajak dari saham pun tidak sulit. Sudah otomatis dipotong dari sistem sebelum kita menerima penghasilannya. Sisanya, hanya perlu dilaporkan 1x/tahun saat SPT Tahunan.

D. Likuid

Instrumen saham termasuk yang likuid untuk dicairkan. Kita bisa jual saham kita kapanpun selama bursa saham buka (Senin-Jumat). Bahkan diperbolehkan kalau mau beli dan jual saham di 1 hari yang sama. Itu terserah keputusan kita.

Tapi uang hasil penjualan baru bisa ditarik H+2 dari transaksi ya, menunggu segala administrasi selesai.

Kekurangan saham

A. Potensi rugi juga besar

Kalau potensi keuntungan dari saham bisa mencapai tak terbatas, maka potensi kerugian dari saham bisa mencapai 100% JIKA salah memilih saham.

Makanya, untuk terjun ke saham setidaknya kita perlu belajar lebih dahulu cara memilih saham. Karena transaksi atas keputusan diri sendiri, maka kita yang bertanggung jawab atas kerugian yang bisa timbul. Tidak bisa menyalahkan orang lain yang memberikan rekomendasi. Be wise, jangan beli karena ikut-ikutan saja.

B. Capek mental

Kalau baru terjun di saham, rasanya sangat excited. Selama bursa saham dibuka, selalu diikuti pergerakan harga sahamnya. Tapi justru itu yang tidak aman untuk pemula karena harga sangat berfluktuatif.

Istilahnya FOMO (Fear of missing out).

Harga naik sedikit takut ketinggalan untuk beli.

Harga turun sedikit takut ketinggalan untuk jual.

Ga tenang deh, malah jadi capek mental kan.

Nah, ini beberapa kelebihan dan kekurangan investasi saham. Bagaimana dengan P2P lending?

2. Investasi P2P Lending

Kelebihan P2P Lending

Berbeda dengan saham, investasi P2P lending sifatnya LOANership investment. Investasi karena meminjamkan, bukan memiliki.

A. Mudah dan simple

Sama dengan saham, P2P lending juga memberikan kemudahan dalam registrasi di aplikasi manapun. Dan sekarang semuanya dilakukan dengan online dan cepat. Cukup waktu 1-2 jam, kita sudah bisa bertransaksi di aplikasi P2P lending yang diinginkan.

Sistem P2P lending juga simple. Meminjamkan uang lalu akan dikembalikan pokok dan bunganya. Tidak perlu proses pembelajaran yang rumit dan mendalam soal itu. Asal memiliki modal dan memilih platform P2P yang benar.

B. Return pasti dan tinggi

Tipikal loanership investment adalah return dan periode pinjaman sudah ditentukan di muka. Tinggal keputusan di pihak kita untuk take or leave the deal. Kita akan terima bunga tersebut saat jatuh tempo pinjaman selesai.

Untuk tingkat return, biasanya lebih tinggi dari pada deposito. Karena deposito relatif lebih aman, dijamin oleh LPS.

Sementara P2P lending, karena tidak dijamin maka harus menawarkan return lebih tinggi supaya menarik. Kisaran 8%-20%/tahun.

C. Alternatif income

Biasanya P2P lending menawarkan tenor pendek, kisaran mingguan-bulanan. Sepertinya belum pernah ketemu yang sampai 1 tahun. Jadi, bunga P2P lending bisa jadi income tambahan untuk kita. Passive income bisa bertambah 1 jenis.

Kekurangan P2P Lending

A. Potensi risiko juga tinggi

Seperti yang sudah di mention di atas, P2P lending tidak dijamin sehingga lebih berisiko. Jika terjadi gagal bayar, bukan hanya bunga yang hilang, namun modal/pokok juga bisa hilang. Maka potensi rugi juga bisa mencapai 100%.

Namun jaman sekarang muncul platform P2P lending yang memberikan mitigasi risiko dengan menggunakan asuransi. Sehingga menjaga keamanan modal lender. Pintar-pintarnya kita sebagai investor dalam memilih platform.

B. Pajak lumayan tinggi

Dalam hal pajak, P2P lending menggunakan sistem tiering PPh 21.

tarif pph 21 (saham vs p2p lending)
Sumber : klikpajak.id

Jadi semakin tinggi penghasilan setahun, maka tarif pajak untuk penghasilan P2P lending akan semakin besar juga. Kalau mau detailnya, saya pernah sharing mengenai pajak P2P lending di sini.

Jangan senang dulu kalau dibilang return P2P lending 12%. Potong dulu dengan tarif pajak kamu, baru dapat nett return. Jangan sampai return-nya lebih rendah daripada instrumen lain yang lebih aman dan mudah.

Kesimpulan Saham Vs P2P Lending

Jadi mau pilih mana?

Kalau mau belajar dan memiliki timeframe yang panjang, saham boleh jadi pilihan yang bijak.

Tapi kalau mau passive income, maka pilihlah P2P lending. Karena saham bukan untuk passive income, lebih cocok ke membangun wealth untuk masa depan.

Tidak ada 1 instrumen yang lebih baik daripada yang lainnya. Tinggal tergantung kecocokan dan kebutuhan investor saja.

Kalaupun mau dikombinasikan juga sah-sah saja. Saya pun demikian, masih berinvestasi di P2P lending maupun saham. Proporsinya tergantung diri sendiri saja karena preferensi manusia berbeda-beda.

Sekian sharing mengenai saham dan P2P lending. Semoga bermanfaat.

Review Saham: DPNS (Duta Pertiwi Nusantara) Q2 2021

Sering bahas saham-saham kapitalisasi besar, kali ini saya coba bahas saham kapitalisasi lebih kecil, yaitu DPNS (PT Duta Pertiwi Nusantara). Apa saja yang menarik?

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Kenapa saham DPNS menarik?

Sadarkah kalau membeli saham kapitalisasi besar, biasanya sudah di harga premium? Misal BBCA di PER 28x dan PBV 4x. Dengan arti, kalau beli di harga saat ini Rp 33,000 maka perlu waktu 28 tahun untuk balik modal (dalam kondisi yang sama seperti saat ini). Tentu hal itu akan lebih cepat, melihat BBCA adalah perusahaan yang luar biasa pertumbuhannya. Tapi mungkinkah harganya segera mencapai Rp 66,000 dalam waktu 3-5 tahun? I don’t think so.

Maka kita cari di emiten yang undervalue di kapitalisasi lebih kecil dan pasar tidak sedang menghargainya wajar. Hal itu memberikan potensi return lebih tinggi, demikian juga dengan risikonya. Setidaknya cari dengan MOS yang tinggi sehingga modal kita aman.

Ketemulah dengan DPNS yang berada di PER 8x dan PBV 0.44x Beda jauh ya dengan BBCA. Secara sektor memang kalah pamor. DPNS dan INCI berada di sektor yang sama dan keduanya dihargai amat murah oleh pasar. Tapi ini murah atau murahan?

Jadi bolehlah kita bahas untuk mengetahuinya.

Latar belakang DPNS

PT Duta Pertiwi Nusantara adalah perusahaan di bidang perekat kayu lapis, bahan kimia dan soon to be pertambangan batu bara. Berdiri sejak 1982 dan berdomisili di Pontianak, Kalimantan.

Pendirinya adalah Pak Siang Hadi Widjaja dan Pak Ng Tjie Koang yang saat ini masih menjabat sebagai direktur utama dan komisaris utama perusahaan.

Pemegang saham perusahaan saat ini adalah:

Pemegang Saham% Kepemilikan
PT Dutapermana Makmur (dimiliki oleh Siang Hadi W dan Ng Tjie Koang)51.18%
The NT TST CO S/A Cim Investment Fund8.62%
Siang Hadi Widjaja5.71%
Bank Julius Baer and Co. Ltd Singapore6.81%
Ng Tjie Koang0.20%
Publik27.48%
Sumber : Laporan Tahunan 2020

Pendapatan

Sumber : Stockbit

Kalau melihat tren pendapatannya, DPNS jelas bukan perusahaan yang bertumbuh. Dan itu bukan hal positif memang. Baik Penjualan maupun Net profit nya tidaklah berkembang. Tapi sebagaimanapun stagnan perusahaan ini, tidak pernah perusahaan mengalami kerugian.

Pendapatannya berkisar di 100M-140M/tahun. Sales mereka pun didominasi oleh 2 customers, yaitu PT Erna Djuliawati (78%) dan PT Sabak Indah (13%). Hal ini agak berisiko karena hanya bergantung pada sedikit customer.

Sumber: Stockbit

Thanks to their management, yang berbekal dari bidang keuangan. Ya, Pak Siang Hadi Widjaja adalah mantan direktur dari Bank Buana (sebelum diakuisisi oleh UOB). Mungkin itu sebabnya, meskipun penjualan dari operasional tidak memadai, namun perusahaan ditunjang juga dari pendapatan dari aset keuangan.

Tercatat pendapatan lain perusahaan berkisar sekitar 6M-8M/tahun, berkontribusi sekitar 5%-7%.

Sementara net income perusahaan berkisar 2M-10M/tahun (dengan tahun terburuk di 2020), net income margin 4%-10%.

Saat ini sudah jalan hingga Q2 2021, dan secara mengejutkan penjualan dan net income perusahaan mengalami kenaikan signifikan. Kita bisa lihat proyeksi DPNS untuk tahun 2021 melalui paparan public expose mereka. Pendapatan diprediksi mencapai 112M (naik 16% dari tahun 2020) sementara hingga Q2 2021 sudah mencapai 60M (naik 25% dari Q2 2020).

Net income diproyeksi menghasilkan 13M (naik 300% dari 2020 yang hanya 3M). Akankah tahun 2021 menjadi turnaround story dari DPNS?

Aset lancar perusahaan

Dari aset lancar, perusahaan memiliki 49% cash and equivalent senilai 103M (cash rich juga ya ini DPNS).

Di urutan kedua proporsi terbesar mereka bukan inventory ataupun piutang, melainkan aset keuangan mereka yang mencapai 46M (22%). Aset keuangan ini yang tadi di-mention di atas menghasilkan sekitar 6M-8M/tahun. Kalau hitungan kasar, return aset keuangan mereka sekitar 13%/tahun ya. Not bad lha.

Baru selanjutnya ada inventory (18%) dan piutang usaha (7%). Karena perusahaan masih kecil, jadi piutang mereka dirincikan hingga nama customer. Piutang mereka juga terhitung lancar. Hanya ada 1 customer yang piutangnya macet.

Kalau penjualannya stagnan, beda halnya dengan aset perusahaan. Aset mereka konsisten bertumbuh selama 8 tahun terakhir sekitar 3%/tahun.

Jadi secara likuiditas, perusahaan berada di posisi yang aman.

Properti investasi

Perusahaan memiliki properti investasi di Jakarta, berupa tanah dan bangunan di Kebon Jeruk seluas 1,159 m2 yang tercatat diperoleh dengan harga 1.7M. Saat ini kedua properti tersebut dinilai 24M dari NJOP PBB 2020 (menurut pengakuan perusahaan di LK ya).

Dan sebuah ruang perkantoran di daerah Sudirman diperoleh dengan harga 1.4M, disewakan ke anak usaha (PT Intitirta Primasakti 479 juta/tahun) atau setara return 34%.

Beban eksplorasi ditangguhkan

Kalau membaca daftar aset perusahaan, ada beban eksplorasi ditangguhkan yang proporsinya cukup besar, 114M hingga Q2 2021. Ini adalah biaya eksplorasi pertambangan batubara melalui anak usahanya, PT Intitirta Primasakti. Dengan area eksplorasi seluas 25,000 hektar di Jambi.

Perusahaan berencana untuk membentuk konsorsium dan memenangkan project pembangunan pembangkit listrik mulut tambang Jambi-2 dengan kapasitas 2x300MW.

Akankah berhasil? Tidak tahu. Setiap mulai usaha selalu ada kemungkinan berhasil, tapi juga ada risiko gagal.

Tapi jika berhasil, ini akan jadi kesempatan emas untuk perusahaan.

No debt

Meskipun hutang bukan hal buruk, namun companies that have no debt can’t go bankrupt (Peter Lynch). Jadi perusahaan dengan no debt atau debt yang kecil terlihat lebih menarik.

Perusahaan tidak memiliki beban untuk membayar bunga pinjaman setiap tahun dan terikat dengan pemberi pinjaman.

Namun bukan berarti perusahaan tidak butuh modal. Mereka justru berhutang 16M kepada direkturnya, Siang Hadi Widjaja, tanpa bunga dan tanpa tenor. Direktur menunjukkan kalau dia tidak cari uang melalui bunga pinjaman atas utang yang diberikan kepada perusahaannya sendiri.

Valuasi saham DPNS

Nah, kalau tertarik dengan perusahaan ini, saya coba memvaluasi saham DPNS.

Kalau menghitung nilai likuidasi perusahaan dengan nilai properti yang sudah di-adjust, namun tidak menghitung biaya-biaya dibayar di muka, pajak, dan beban eksplorasi yang ditangguhkan karena belum menghasilkan. Dikurangi dengan semua liabilitas. Maka secara kasar, harga per saham berada di kisaran Rp 418 – 425/lembar (MOS = 22%).

Tapi kalau menggunakan PER, nilai yang didapatkan akan semakin besar.

valuasi saham DPNS

PER rata-rata selama 5 tahun adalah 16x, sementara saat ini berada di PE 8x (harga Rp 346). Oleh karena net income Q2 2021 meningkat, maka PE menjadi kecil. Maka untuk ke PE 16x, maka MOS nya akan mencapai 100%.

Tapi akankah mencapai angka sekian? Bisa jika perusahaan menjaga konsistensi atau malah melebihi ekspektasi. Tapi kalaupun meleset, saya pikir angka likuidasinya di Rp 418 berada di bottom line nya.

Saham ini memang termasuk undervalued buat saya, tapi MOSnya masih belum cukup besar. Mungkin bisa menunggu hasil Q4 2021 apakah sesuai proyeksi atau menunggu pasar menghargai saham DPNS ini lebih rendah dari saat ini. Opsi kedua seperti lebih cepat dicapai.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : review saham undervalued lainnya, ADES, PWON atau PBID.

Review Saham: PWON (Pakuwon Jati) 2020

Kapan saham properti akan bangkit? Pasti itu yang ditanyakan banyak orang sejak pandemi dimulai Maret 2020 dan hingga kini belum menemukan jawabannya. Salah satunya dengan saham PWON (Pakuwon Jati).

Jawabannya “ga tau”.

Jadi daripada kita menanyakan kapan, lebih baik kita bahas tentang kinerja tahun 2020 saja.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Bagi yang mau penjelasan singkat mengenai latar belakang PWON, sudah pernah dibahas sebelumnya di sini.

Jadi apa yang mau kita bahas tentang PWON di sepanjang 2020?

Saham PWON labanya menurun

Itu yang paling ditakuti investor bukan? Dengar suatu emiten mengalami penurunan pendapatan bahkan labanya. Pendapatan 2020 turun 45% dari tahun 2019, menjadi 4T. Sementara labanya turun 65% menjadi 930M.

Jadi tidaklah aneh kalau harga sahamnya juga turun signifikan 20% YTD.

Okay, coba kita bahas lebih dalam. Memang betul bisnis properti, perkantoran dan mall kan memang yang terdampak parah selama pandemi. Tapi point baiknya adalah mereka masih laba lho dan bukan merugi.

Dan margin laba mereka masih double digit, yaitu 23% selama suffer begini. Fyi, rata-rata margin laba mereka di kisaran 33%-38% di tahun-tahun sebelumnya.

Jadi bisnis PWON sebenarnya adalah bisnis yang profitable dengan margin yang cukup tinggi. Selain tahun 2020, PWON juga secara konsisten meningkatkan pendapatan dan labanya.

Pengaruh ke Balance Sheet

1. Cash

Cash perusahaan berkurang 1.4T menjadi 2.8T. Dari aktivitas operasi, PWON menghasilkan 1.4T kemudian menggunakannya 1.7T untuk investasi dan 1T untuk bayar pinjaman.

Salah satu transaksi besar yang terjadi adalah perusahaan membeli Hartono Mall Yogya, Hartono Mall Solo dan Marriott Hotel Yogya senilai 1.1T di tahun 2020. Yang menurut saya adalah deal yang bagus karena harga wajar senilai 1.2T. Meskipun mengeluarkan modal besar, cash mengalami penurunan, namun likuiditas masih tetap terjaga.

Kontribusi pendapatan dari akuisisi bisnis di Yogya dan Solo (1 bulan operasi) adalah sekitar 17M. Jika disetahunkan menjadi 198M. Maka 198M/1.1T = menghasilkan return 18%pa. Ini hitungan kasar dan selama masih pandemi ya.

2. Persediaan, Properti Investasi dan Aset Tetap

Karena bisnis properti, maka klasifikasi aset mereka berbeda-beda meskipun bentuknya sama-sama bangunan.

  • Persediaan = properti untuk dijual (termasuk di dalamnya yang masih dikembangkan)
  • Properti Investasi = properti untuk disewakan (plaza, apartemen, perkantoran)
  • Aset Tetap = properti untuk operasional (termasuk hotel, peralatan, kendaraan, furniture dan lainnya)

Apapun yang terjadi tidak menghentikan perusahaan untuk melanjutkan pembangunan. Tahun 2020, PWON menyelesaikan pembangunan Kota Kasablanka tahap 2 (Jakarta) dan Tunjungan Plaza VI (Surabaya) senilai 2T. Kemudian membeli Hartono Mall Yogya, Hartono Mall Solo dan Marriott Hotel Yogya.

Itupun mereka masih mengembangkan pembangunan di Pakuwon Mall Mansion, East Coast Mansion, Grand Pakuwon dan beberapa lokasi lainnya.

Dan mereka sedang dalam proses ekspansi juga ke Bekasi Superblock dengan rencana 4 kondominium, 2 hotel dan 1 mall. Tahap 1 rencananya akan diselesaikan pada tahun 2024.

Secara umum, perusahaan memiliki portofolio di Surabaya, Jakarta, Yogyakarta dan selanjutnya Bekasi. Ini yang saya sukai, mereka tetap fokus untuk ekspansi.

Perusahaan lain mungkin ada yang menahan pembangunan di masa krisis, tapi PWON tetap menjalankan rencananya tentunya karena sudah diperhitungkan sebelumnya.

3. Liabilitas

Liabilitas perusahaan sebesar 8.8T berbanding dengan 17T ekuitas untuk menghasilkan 26T aset. Artinya liabilitas 33% dan ekuitas 67% dalam struktur modal perusahaan. Cukup aman ya.

Liabilitasnya terbagi menjadi 3 jenis menurut saya:

  1. Utang tak berbunga = utang usaha, utang pajak, deposit penyewa, imbalan paska kerja senilai 1.4T.
  2. Utang berbunga = obligasi dan utang bank, senilai 3.9T.
  3. Utang yang tidak dibayar dengan uang = sewa diterima di muka dan DP penjualan senilai 3.5T.

Dengan asumsi utang tak berbunga akan lancar dibayarkan selama operasional perusahaan tidak mengalami hambatan, serta DP penjualan dan sewa diterima di muka hanya masalah waktu setelah penyerahan unit atau jasa. Maka yang tersisa adalah mengenai utang berbunga.

Debt yang terbesar adalah utang obligasi yang akan jatuh tempo tahun 2024 senilai $250juta dengan bunga 5%. Kalau dihitung, tidak mungkin perusahaan mau mengumpulkan cash dari hasil operasi bertahun-tahun untuk membayar utang obligasi. Itu sama saja dengan memilih stagnan tanpa pembangunan.

Jadi kemungkinan melunasi obligasi dengan menerbitkan obligasi baru. Rencana ini lebih masuk akal ketimbang mengorbankan rencana pembangunan yang berjalan.

Dalam PubEx 2021, perusahaan akan menerbitkan obligasi sebesar $400juta dengan bunga 4.875% dan tenor 8 tahun.

Obligasi saham PWON 2028
Sumber : PubEX PWON

Cash Flow Saham PWON

Sankey Diagram PWON

Mengambil data dari tahun 2015 hingga 2020, maka dapat kita lihat kalau cash in perusahaan berasal dari Net Income dan beban depresiasi (modalnya sudah dikeluarkan di awal). Kemudian cash tersebut dipakai sebagian besar untuk capex dan persediaan (intinya membangun properti), membayar sedikit dividen, utang dan menambah cash.

So far, melihatnya PWON masih dalam proses bertumbuh dengan agresif, jadi tidak aneh kalau perusahaan tidak memprioritaskan dividen yang besar. Daripada membagi dividen besar, tapi kekurangan modal sehingga perlu utang lebih besar atau right issue, perusahaan memilih mengerem dividen mereka.

Absen bagi dividen 2 tahun

Buat dividend hunter, PWON sudah pasti lepas dari radar mereka. Sudah 2 tahun, perusahaan tidak membagikan dividen atas laba tahun buku 2019 dan 2020. Shareholders mereka mungkin ada yang kecewa atas putusan ini.

Seperti yang sudah di-mention sebelumnya, PWON memang bukan perusahaan royal dividen. Apalagi di masa krisis dan perusahaan masih membutuhkan banyak dana untuk pembangunan, maka tidak aneh jika perusahaan menahan labanya untuk operasional perusahaan. Jalan perusahaan masih panjang, demikian juga seharusnya dengan kesabaran shareholders. Kenapa bisa bilang panjang?

Land bank PWON

Karena land bank PWON masih banyak dan akan dibangun dalam waktu 10 tahun ke depan, terutama daerah Surabaya.

Land bank PWON
Sumber : PubEX PWON

Valuasi Saham PWON

Jadi berapa harga yang kita berikan untuk emiten yang sedang suffering? karena kalau pakai PER pasti kelihatannya sekarang mahal. Jadi kita coba pakai PBV ya, karena Book Value perusahaan tidak terdampak drastis selama tahun lalu.

Sumber : Stockbit

PBV saham PWON yang rata-rata 5 tahun berada di 2.50x sekarang ada di 1.31x. Ada margin sebesar 90% untuk kembali ke 2.50x. Kalaupun target tersebut akan missed, harusnya tidak akan meleset 100% kan.

Fyi, harga properti dan aset tetap perusahaan tahun 2020 = 14T. Namun nilai wajar yang diestimasi adalah sekitar 25T. Jika nilai wajar tersebut benar, maka harga saham terdekatnya adalah sekitar 583/lembar (MoS = 44% dari harga saat ini Rp 404).

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Review Saham: IGAR, Si Produsen Kemasan

Bagi yang tertarik dengan saham farmasi, mau info saja kalau kita tidak hanya bisa beli saham farmasi, tapi juga ada perusahaan pendukung yang bisa kita beli. Salah satunya adalah perusahaan kemasan (flexible packaging). Yang mau kita bahas saat ini adalah saham IGAR, PT Champion Pacific Indonesia. Bagaimana kinerja perusahaannya?

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Profil saham IGAR

PT Champion Pacific Indonesia (IGAR) pertama kali didirikan pada tahun 1975 dengan nama PT Igar Jaya. Setelah diambil alih PT Kingsford Holdings (perusahaan asal Jepang) tahun 2010, maka perusahaan berubah nama menjadi PT Champion Pacific Indonesia.

Komposisi pemegang saham IGAR hingga saat ini adalah sebagai berikut:

  • PT Kingsford Holdings = 79.42%
    • PT Kingsford Holdings dikendalikan oleh Fujimori Kogyo Co, Ltd dan Mitsui & Co. (Asia Pacific) Pte. Ltd.
  • PT Kalbe Farma Tbk = 5.40%
  • Masyarakat (<5%) = 15.18%

Jadi tidak aneh kalau beberapa direksi dan komisaris mereka ada yang warga negara Jepang sebagai perwakilan dari induk perusahaan.

Bisnis IGAR berasal dari produksi kemasan plastik. Mayoritas pelanggan mereka adalah perusahaan farmasi, tapi perusahaan non farmasi juga ada.

Kinerja perusahaan

To be honest, sepanjang 10 tahun IGAR bukanlah perusahaan yang wah. Pertumbuhan sales dan labanya sekitar 2%-4%/tahun. Tapi di perusahaan yang cenderung stabil ini, kita tidak pernah menemukan 1 tahun pun mengalami kerugian bahkan di masa pandemi.

Penjualan 2020 perusahaan sebesar 739M dengan segmen farmasi mendominasi 86%, sementara non farmasi menyumbang 14% dari penjualan. Customer nya banyak dan tersebar. Tidak ada 1 main customer yang membeli >10% dari penjualan, jadi perusahaan tidak bergantung pada customer mana pun.

Sementara beli bahan baku dari beberapa supplier baik luar negeri maupun dalam negeri. Major supplier nya adalah Kokusai Pulp and Paper Co., Ltd (luar negeri). Jadi ada risiko mata uang asing setidaknya kalau IDR sedang melemah terhadap USD/Valas lain.

Dari sisi margin, perusahaan menghasilkan gross profit sebesar 16%-18%, hingga net income margin nya menghasilkan sekitar 4%-7%. Not bad.

Keterangan12M 202012M 201912M 201812M 201712M 2016
 Total Pendapatan100%100%100%100%100%
 Total Beban Pokok Penjualan-83%-84%-87%-83%-82%
 Laba Kotor17%16%13%17%18%
 Total Beban Usaha-7%-6%-6%-5%-6%
 Laba Usaha10%10%7%12%12%
 Penghasilan/beban Lain-lain1%1%1%1%0%
 Laba Sebelum Pajak11%11%8%13%12%
 Beban Pajak Penghasilan-3%-3%-2%-3%-3%
 Laba Bersih Tahun Berjalan8%8%6%9%9%
 Laba Bersih Yang Dapat Diatribusi6%6%4%7%6%
Margin Laba Rugi IGAR

Balance sheet

Jika sudah pernah mengecek laporan perusahaan, yang paling menarik perhatian pasti CASH perusahaan. Bagaimana tidak, cash nya tercatat 240M (2020) dari total aset 666M. Artinya, 36% aset perusahaan dalam bentuk cash. Sisanya baru terbagi-bagi antara piutang usaha, persediaan dan aset tetap.

Perusahaan juga debt free. Tidak ada utang berbunga baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Sehat? Most likely yes. Perusahaan tergolong aman dan mungkin kecil bangkrut, setidaknya jika tidak ada kabar buruk mendadak.

Liabilitasnya hanya 72M, berbanding ekuitas yang sebesar 594M. Bahkan dengan cash, perusahaan dapat melunasi semua liabilitasnya.

Valuasi saham IGAR

Jika berminat membeli saham IGAR, di harga berapa yang cocok? Sekali lagi, cara orang memvaluasi saham bisa berbeda pandangan ya.

Kalau pakai PE Standard Deviation 10Y, kelihatannya memang masih murah. Hal ini juga karena IGAR pernah mencapai PE 25x, jadi PE saat ini, 7x kelihatan murah. Namanya juga relative valuation.

Dengan Price 426 dan EPS (TTM Q1 2021) 56, maka PE = Price/EPS = 7x.

Sementara Yield = EPS/Price = 13%. Yield sekian tentu masih make sense jika dibandingkan dengan yield deposito saat ini yang hanya 3%-4%.

Terlebih jika kita beli saat ini, market cap IGAR adalah 414M, kita mendapat perusahaan yang cash di dalamnya senilai 278M (Q1 2021). Asumsinya seperti membeli 414M kemudian mendapat cashback 278M. Dengan menghitung kepentingan non pengendali, maka Enterprise value IGAR menjadi 313M (Rp 321/lembar saham). Ini angka nett yang kita beli.

Yield nya menjadi 56/321 = 17%.

Jika tertarik di angka sekian, maka silakan melakukan research lebih lanjut tentang saham IGAR ini.

Apa yang kurang dari saham IGAR ini?

1. Minim dividen

Jangan terlalu berharap dividen dari perusahaan ini. Meskipun rajin membagi dividen, tapi yieldnya hanya senilai 1%. Dividen tahun buku 2020 belum dibagikan, kita tunggu RUPS mendatang untuk pengumumannya.

2. Too much Cash

Hanya pendapat pribadi, kalau cash rich memang aman bagi perusahaan. Tapi terlalu banyak juga tidak saya sukai.

Dengan melihat data historis, perusahaan sepertinya tidak berencana untuk melakukan ekspansi usaha yang membutuhkan banyak dana. Tidak juga memiliki banyak utang untuk dilunasi. Lalu perlu diapakan cash dalam perusahaan?

Jika perusahaan memiliki banyak cash, namun tidak ada rencana penggunaannya. Maka lebih baik dikembalikan ke pemegang saham dalam bentuk dividen atau buyback saham.

RUPS rencananya akan diadakan tanggal 28 Juni 2021. Coba cek hasil dari RUPS tersebut, apakah perusahaan akan terus menimbun cash nya.

Cash di masa krisis memberi keamanan bagi perusahaan. Cash di masa inflasi juga adalah boomerang karena tidak dapat berkembang dan termakan inflasi juga nantinya.

Masa’ kita yang individu saja tidak ingin taruh uang di bank karena termakan inflasi, kemudian membeli perusahaan yang justru tidak mempertimbangkan faktor inflasi?

3. Tidak likuid

Bagi yang berminat pada saham IGAR, mohon diketahui dulu kalau saham ini tidak terlalu likuid. Turnover hariannya sekitar 100jtaan jika dibandingkan dengan ICBP yang turnover harian mencapai 20M. Beda market cap juga sih keduanya. Trader mungkin tidak akan menyukai jenis saham ini.

Kalau investor justru peluang untuk mengakumulasi saham sebelum ditemukan oleh smart money.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : review saham PBID.

Saat portofolio saham turun (Studi kasus : ICBP)

Kalau portofolio saham turun dan loss, jangan langsung merasa buntu. Here’s my sharing story as an investor.

Ya, sharing ini mungkin berguna bagi investor. Bukan bagi trader. Kenapa?

Karena sudah jadi rumus trader, jika portofolio merah, seorang trader harus berani cutloss menurut trading plan nya. Jika tidak, maka kamu bukan trader sejati.

Back to the topic, kalau investor bagaimana menghadapi situasi saham turun? Tapi yang pasti, kenali dulu penyebabnya.

4 Alasan kenapa saham turun

1. Kondisi perusahaan sedang tidak baik

First of all, pastikan kita sudah kerjain PR sebelum beli saham. Saham yang dibeli adalah perusahaan bagus (menurut diri sendiri), bukan kata orang, bukan kata teman.

Dan ketahui bahwa perusahaan tidak bisa selamanya berjalan mulus. Contoh paling dekat adalah pandemi covid sejak tahun 2020. Karena pandemi, banyak perusahaan yang kinerjanya menurun. Mulai dari omset berkurang, jualan tidak laku, toko ditutup, sampai biaya yang terus keluar.

Kemudian coba tanya diri sendiri, apakah kondisi ini permanen atau sementara?

Kalau sementara, bukannya itu justru kesempatan? Kapan lagi beli perusahaan (yang menurutmu bagus) di harga yang lebih murah.

Kalau kita berani beli saham di harga Rp 1000, kenapa takut beli di harga Rp 500? Sekali lagi, poinnya adalah conviction (keyakinan diri sendiri) yang didapat setelah research dan analisa.

2. Pasar sedang irasional

Hampir mirip dengan #1, tapi kali ini sumbernya adalah sang Mr. Market yang sering banget bertindak irasional.

Pasar sering bergerak dengan sentimen jangka pendek, sementara investor harusnya tidak terpengaruh akan hal tersebut. Di era modern sekarang, filter berita justru harus jadi poin penting.

Cukai rokok naik? Harga emiten rokok anjlok. Padahal hal itu terjadi setiap tahun, kenapa harus dibesar-besarkan oleh pasar. Perusahaan rokok juga pasti sudah terbiasa.

Tidak bagi dividen? harga saham emiten anjlok. Padahal tidak lihat alasan di balik keputusan tersebut.

Dan untuk alasan ini, harus dianggap sebagai kesempatan juga dari pada penyesalan. Kita tidak gagal atau tidak bodoh hanya karena harga saham yang kita pilih tidak sejalan dengan Mr. Market.

3. Salah memilih sejak awal

Meskipun sudah research dan kerjakan PR, tidak menutup kemungkinan kalau kita salah menilai. Dan setelah research ulang, ternyata hasilnya berbeda dengan yang diharapkan secara permanen.

Jika memang demikian, maka terima kenyataan tersebut. Cut your loss dan ambil sebagai pelajaran berharga.

4. Beli kemahalan

Tapi jika kita memang beli perusahaan bagus, di harga yang kemahalan. Itu juga tidak akan jadi investasi yang bagus.

Apakah kesalahan itu harus cut loss?

Sesungguhnya keputusan memang di tangan masing-masing.

Tapi kalau saya, saya memilih hold selama perusahaan itu masih bagus ya. Bayar kesalahan kita dengan menunggu lebih lama (bayar pakai waktu).

Pernah ga? Pernah lha. Studi kasus kali ini pakai ICBP.

Beli ICBP 2 tahun floating loss

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

saham ICBP turun 2 tahun
Sumber : Google

Beli di tahun 2019, sekitar harga Rp 12000. Kesalahan awal adalah anchoring. Karena dari awal IPO, ICBP konsisten naik dan sempat mencapai harga Rp 17000, maka beli di 12000 tidaklah mahal dan akan kembali ke 17000. Hal itu bukan jaminan di saham.

Dan hari ini, harga ICBP adalah Rp 8125. Harusnya floating loss 30% dari hasil 2 tahun.

Secara perusahaan ini bagus, brand sudah internasional, tapi beli kemahalan. Tetap tidak bisa jadi investasi yang bagus (setidaknya selama 2 tahun ini).

Disebut kemahalan bukan karena harganya ya. Tapi cek PER nya.

Apa itu PER, bisa dicek penjelasannya di sini.

saham ICBP turun
Sumber : Stockbit

Di saat harga 12000, PE ICBP = 29x (tertinggi selama 3 tahun terakhir). Rata-ratanya saja hanya 23x.

Lalu kenapa tidak cut loss? Ini alasan saya, mungkin berbeda dengan yang lain.

  1. Kinerja perusahaan tidak menurun hingga saat ini (bahkan di masa pandemi).
  2. Saya pilih bayar waktu dibanding dengan bayar harga dengan kerugian.
Sumber : Stockbit

Profit ICBP masih konsisten naik.

Tapi ada hal baik di kondisi saat ini. selama 2 tahun terakhir, emiten ICBP berubah dari kemahalan menjadi kemurahan, dengan PE 14x.

Dalam grafik pun terlihat bahwa harga dan profit sudah tidak searah, artinya nanti harga akan mengikuti grafik profit tersebut. Jadi saya memilih average down ICBP.

Ini hanya keyakinan saya. Apakah analisa simple ini benar? Lihat beberapa tahun lagi untuk mengetahuinya.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Dividen Bebas Pajak, Investor Harus Bagaimana?

Investor saham dapat insentif bebas pajak untuk dividen, sudah tahu belum? Bagaimana cara kerja dan persyaratannya?

Mari cari tahu lebih detail.

Dasar peraturan

Bermula dari UU Cipta Kerja No 11 tahun 2020, maka diterbitkan yang namanya PMK No 18/PMK.03/2021. Peraturannya bisa di download di sini. Kalau mau baca mengenai dividen, bisa langsung lanjut ke Bagian Ketiga dari PMK tersebut.

Apa sih garis besarnya?

Intinya adalah Dividen dibebaskan dari pajak penghasilan.

Fyi, sebelum PMK ini muncul, dividen itu merupakan objek pajak dengan tarif 10%. Jadi kalau kita dapat dividen saham, 10% otomatis langsung dipotong untuk negara. Investor akan langsung terima bersih 90% saja. Nantinya kita tinggal laporkan di SPT Tahunan sebagai penghasilan kena pajak final.

Nah, dengan adanya PMK ini, investor akan terima full 100% tanpa dipotong pajak lagi.

Dalam hal ini, investor saham diuntungkan banget kan.

Dividen yang bebas pajak

Ada dividen jenis apa saja yang dibebaskan pajak?

  1. Dividen dari dalam negeri untuk pribadi.
  2. Dividen dari dalam negeri untuk wajib pajak badan.
  3. Dividen dari luar negeri yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek maupun tidak diperdagangkan.

Untuk kategori 1 ini yang akan kita bahas karena yang bisa saya share dari pengalaman pribadi.

Persyaratan dividen bebas pajak

Ada syaratnya supaya dividen yang kita terima bebas pajak. Kalau tidak dipenuhi, maka kita harus bayar pajak dividen itu 10%.

Syaratnya adalah dividen yang diterima harus diinvestasikan kembali ke instrumen investasi di Indonesia.

Daftar instrumen yang boleh jadi pilihan reinvestasi adalah:

  1. surat berharga Negara Republik Indonesia dan surat berharga syariah Negara Republik Indonesia;
  2. obligasi atau sukuk Badan Usaha Milik Negara yang perdagangannya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan;
  3. obligasi atau sukuk lembaga pembiayaan yang dimiliki oleh pemerintah yang perdagangannya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan;
  4. investasi keuangan pada bank persepsi termasuk bank syariah;
  5. obligasi atau sukuk perusahaan swasta yang perdagangannya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan;
  6. investasi infrastruktur melalui kerja sama pemerintah dengan badan usaha;
  7. investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh pemerintah;
  8. penyertaan modal pada perusahaan yang baru didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham;
  9. penyertaan modal pada perusahaan yang sudah didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham
  10. kerja sama dengan lembaga pengelola investasi;
  11. penggunaan untuk mendukung kegiatan usaha lainnya dalam bentuk penyaluran pinjaman bagi usaha mikro dan kecil di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang usaha mikro, kecil, dan menengah; dan/ atau
  12. bentuk investasi lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Daftar ini copy langsung dari pasal di PMK. Bisa dibilang ini hampir sebagian besar instrumen investasi yang ada di Indonesia bisa jadi pilihan reinvestasi.

Kalau bingung dengan rincian di atas, contohnya bisa diinvestasikan kembali ke:

  • obligasi (baik pemerintah maupun perusahaan Indonesia). SBN, FR, MTN, ORI dll termasuk di dalamnya.
  • Saham. Ini yang paling mudah. Toh dananya sudah ada di RDN saham.
  • Reksa dana.
  • Deposito, tabungan, giro. Produk keuangan bank.
  • investasi lain yang dapat persetujuan OJK.
  • Emas (logam mulia yang kadarnya 99.99% dan ada sertifikat SNI ya), bukan perhiasan.
  • Investasi ke perusahaan Indonesia (pemerintah/swasta).
  • Properti (tidak boleh yang subsidi dari pemerintah).

Kalau ada yang lain, silakan saja selama masih termasuk dari 12 instrumen yang disetujui di atas.

Jangka waktu investasi

Dividen yang sudah bebas pajak, wajib diinvestasikan ke instrumen investasi di Indonesia selama minimal 3 tahun ya.

Kalau tidak, insentif dianggap batal dan pajaknya harus dibayarkan oleh investor ke negara.

Cara lapor dividen bebas pajak

Kalau kamu bertanya, “Negara tahu dari mana kalau kita akan investasikan dividen tersebut?” Di sini caranya.

Kita harus lapor setiap tahun selama 3 tahun yang namanya Laporan Realisasi Investasi (e-reporting) di website DJP online. Tanggal pelaporannya sama seperti SPT Tahunan, 31 Maret tahun berikutnya.

Contoh kalau mau lapor Laporan Realisasi Investasi tahun 2021, paling lambat nanti di 31 Maret 2022. Masih lama sih, tapi prepare dulu data-data sepanjang tahun 2021 supaya ga bingung saat lapor nanti.

Cara lapornya bagaimana?

1. Aktivasi e-reporting

Setelah login akun di DJP Online, klik Profil > Aktivasi Fitur Layanan > eReporting Investasi > Save / Ubah Fitur Layanan. Lihat seperti gambar di bawah.

ereporting divien bebas pajak

2. Cek ke Layanan

Kemudian klik Layanan > di sana sudah ada layanan eReporting Investasi > klik eReporting.

3. klik Lapor

ereporting dividen bebas pajak

Ada 2 yang perlu dilaporkan:

  1. Jumlah dividen yang didapat. Jadi mumpung ini masih awal tahun 2020, mulai buat catatan daftar dividen yang didapat. Nama perusahaan, nominal dividen yang didapat dan nominal yang diinvestasikan kembali.
  2. Jumlah investasi. berisi tanggal investasi, jenis instrumen dan nominal investasinya.

Mulai berlaku

PMK ini diterbitkan 17 Februari 2021, tapi mulai berlaku sejak dari tanggal UU Cipta Kerja diterbitkan yaitu 2 November 2020. Artinya, jika ada yang menerima dividen tahun 2020 bisa minta restitusi (refund) ke DJP yang kadang lama dan sulit.

Berlaku sampai kapan? Sampai ada peraturan baru selanjutnya. Nanti saya update di blog kalau ada ya.

Sekian sharingnya. Semoga membantu ya.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Baca juga : Review saham PBID, Produsen Kantong Plastik