5 Saham LQ45 Yang Masih Murah

5 saham LQ45 murah

Post kali ini kita bahas mengenai saham-saham di LQ45 yang masih murah untuk dibeli dan kemungkinan akan berpotensi memberikan capital gain jika kembali ke posisi sebelum pandemi.

Ini hanya screening awal ya, silakan lanjutkan dengan analisa mendalam, baik teknikal maupun fundamental, sesuai tipe masing-masing.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Indeks LQ45

Sudah pernah dengar LQ45? Bagi yang belum tahu, LQ45 adalah kumpulan 45 saham yang dipilih dari 700 saham beredar di IHSG. Yang masuk dalam LQ45 adalah saham-saham yang likuid dan berkapitalisasi besar.

Indeks ini sendiri akan di-update setiap 6 bulan (Februari dan Agustus).

5 Saham LQ45 yang tergolong masih murah

Murah, dalam hal ini bukan soal nominal harga saham per lembar ya. Jika demikian, maka Rp 1.000/lembar akan lebih mahal dari pada Rp 50/lembar. Padahal tidak begitu dalam menilai saham.

Analoginya, apa kita mau beli HP dengan harga Rp 2 juta (kualitas bagus) atau Rp 50.000 tapi sudah rusak?

Murah yang saya maksud adalah dalam hal PER (Price to Earning Ratio). Jadi sudah dibandingkan dengan Earning perusahaan. Meskipun berpatok pada 1 rasio saja juga bisa misleaded, namun kita tidak bahas itu di post kali ini.

Kali ini kita pakai 1 rasio yang simple dulu, nanti selanjutnya silakan untuk menganalisa lebih mendalam.

Posisi harga LQ45 (YTD)

Saham LQ45 murah
Sumber : Google

Coba kita lihat dulu posisi LQ45 secara keseluruhan year-to-date (YTD). Artinya harga dari 1 Januari 2020 hingga hari ini 06 November 2020.

Di atas terlihat kalau Januari, LQ45 ada di posisi Rp 1.011. Sementara pandemi terjadi, LQ45 juga merasakan dampaknya. Hingga saat ini baru bisa kembali ke Rp 834. Masih turun 17% dari posisi Januari.

Jika kamu termasuk pihak yang percaya IHSG akan rebound untuk kembali ke track semula, maka boleh jadi sekarang saatnya beli. Kira-kira mana aja nih dari LQ45 yang terhitung masih murah?

1. HMSP (HM Sampoerna)

Pilihan pertama dari LQ45 yang masih murah adalah HMSP. Perusahaan rokok satu ini buat saya sudah solid. Hanya karena masalah pandemi yang berdampak pada penjualan rokok sehingga pendapatan dan net income mereka bisa menurun.

Hingga saat ini harga sahamnya sudah turun 31% YTD (dibandingkan awal tahun 2020). Secara PE Standard Deviation, HMSP sekarang diperdagangkan di PE 14.20x dimasa rata-rata di PE 32x.

Jika diharapkan kembali ke PE rata-ratanya, maka masih ada MOS sekitar 56%. Let’s say kalau kita tidak yakin HMSP akan kembali ke PE 32x, namun dengan fundamental yang baik, tidak mungkin juga kinerja harga HMSP malah menurun saat earning-nya naik.

HMSP juga termasuk royal sama shareholders mereka. dengan dividend payout ratio mereka 100% di setiap tahun. Artinya, mereka membagikan semua laba mereka kepada pemegang saham mereka.

Dividend yield yang lumayan, 8.3% untuk harga saat ini di Rp 1.445.

2. TLKM (Telekomunikasi Indonesia)

Tidak ada yang salah dengan kinerja TLKM sepanjang tahun 2020.

Sumber : Stockbit

Net Income TLKM tidak naik atau turun secara drastis, tapi harganya terus menurun hingga mencapai PE 14.85x (rata-rata 5 tahun, PE 20x). Bukankah ini peluang yang bagus?

Hingga saat ini harga TLKM Rp 2.830 (sudah turun 27.62% dari awal tahun 2020 di harga Rp 3.910). Dividend yield juga lumayan 5.4%. Dipegang oleh Pemerintah Indonesia dan punya economic moat yang lebar, adalah beberapa keunggulan bagi TLKM.

3. PWON (Pakuwon Jati)

Dari sektor properti ada PWON yang harganya masih belum kembali ke harga normalnya karena pandemi. Memang untuk kinerja tahun 2020, PWON tidak bisa berbicara banyak dengan mall yang sempat ditutup sementara, hingga properti yang lesu.

Harga saat ini di Rp 422/lembar masih turun 26% dari awal tahun di Rp 570. PWON sekarang setara PE 11x, dimana rata-ratanya di PE 14.42x.

Melihat kondisi pandemi yang membaik di Indonesia, apalagi jika sudah terjadi pemulihan total. Omnibus law yang juga memberi dampak positif bagi emiten satu ini. Sehingga masih ada potensi upside untuk PWON.

Kalau mau baca lebih lengkap mengenai PWON, ada analisanya di Analisa Saham : PWON (PT Pakuwon Jati) per Q2 2020.

4. ITMG / PTBA

Saya tidak bisa memutuskan antara ITMG atau PTBA dari sektor pertambangan batubara. Pasalnya, keduanya berada di sektor yang sama, dengan posisi yang juga hampir mirip.

Keduanya emiten yang royal dalam hal dividen. Kamu bisa baca daftar saham dengan dividen tinggi tahun 2020, dan mereka ada dalam daftar tersebut.

Batubara ini sifatnya siklikal. Jadi kalau sudah turun, akan murah sekali. Tapi kalau naik jika bisa drastis. Semuanya tergantung pada harga acuan batubara.

PTBA diuntungkan karena merupakan perusahaan milik negara Indonesia, namun ITMG juga tidak kalah dengan management nya yang bagus dari Thailand.

PTBA ada di harga Rp 1.990, PE 6.87x (biasanya PE 8.91x). Harganya sudah turun 24% YTD.

Sementara ITMG ada di harga Rp 8.550, PE 7.89x (biasanya PE 10x). Harganya sudah turun 25% YTD.

5. ICBP (Indofood CBP)

Ini emiten yang tetap berlari kencang bahkan selama pandemi dengan Revenue dan Net Income yang tetap naik sepanjang tahun 2020, namun harga sahamnya masih lambat.

Harga sahamnya di Rp 9.875, PE 19.71x (biasanya 26.67x lho). Memang sektor consumer biasanya dihargai lebih premium karena tahan dari kondisi krisis dan terbilang bisa bertahan lama.

Jadi ini peluang atau zonk? Kamu saja yang menentukan ya.

Penutup

Sebenarnya ada lebih dari 5 emiten di LQ45 yang harganya belum kembali ke harga awal tahun, tapi saya pilih 5 saja karena saya pikir nothing’s wrong dengan fundamental perusahaan. Hanya waktunya saja belum kembali ke track.

Oh ya, post ini diterbitkan di bulan November setelah pemilihan presiden US diputuskan. Berita mengenai presiden US bisa jadi katalis pasar baik positif maupun negatif, namun hanya jangka pendek.

Kalau untuk jangka panjang, baiknya cek fundamental saja. Dan beli saat harga masih murah.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply