10 Saham Harga di Bawah Rp 500 Ribu Per Lot

Adakah saham yang bisa dibeli dengan harga Rp 500 ribu? Ada! Banyak, bahkan. Tapi tidak seluruhnya bagus.

Maka di post ini kita bahas saham yang menurut saya bagus dengan harga Rp 500 ribu/lot. Ini hanya pandangan pribadi ya, jadi yang lain boleh saja berbeda pendapat.

Perusahaan yang saya sebut bagus, cara filternya sudah dibahas di sini.

Dengan modal Rp 500.000/lot (1 lot = 100 lembar), artinya kita harus cari saham dengan harga Rp 5.000/lembar saham.

10 Saham harga Rp 500 ribu per lot

Untuk daftar ini saya urutkan berdasarkan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar dahulu.

1. BBRI

BBRI termasuk saham sejuta umat di Indonesia. BBRI adalah emiten kedua dengan market cap terbesar di Indonesia (yang pertama adalah BBCA). Jadi kalau menurutmu saham BBCA sudah terlampau premium (Rp 3,2jt/lot), maka BBRI bisa jadi alternatif pilihan.

Harga per 04/09/2020 = Rp 3.550. Artinya untuk beli 1 lot BBRI, hanya perlu Rp 355.000.

Apakah BBRI perusahaan bagus? Secara garis besar, menurut saya iya. Setiap tahun pendapatan dan laba bersih BBRI konsisten naik. Saya pernah bahas mengenai EPS BBRI selama 10 tahun terakhir, kamu bisa cek di sini.

2. TLKM

TLKM adalah emiten telekomunikasi terbesar Indonesia. Produknya yang dikenal masyarakat adalah Telkomsel dan Indihome. Berlabel perusahaan BUMN, emiten yang dinahkodai Pak Ririek Adriansyah bisa jadi pertimbangan kita.

Harga sahamnya Rp 2.860 (Rp 286.000/lot) membuat PER TLKM berada di kisaran 12-13x (padahal rata-rata TLKM = 19x). Artinya valuasi saat ini TLKM masih tergolong murah dibanding tahun sebelumnya.

3. HMSP

Perusahaan ketiga berasal dari emiten rokok, HM Sampoerna. Harganya memang tidak semahal Gudang Garam, tapi kinerja HMSP juga tergolong bagus.

Harganya saat ini sedang tertekan di posisi Rp 1.640 (Rp 164.000/lot). Jadi dengan modal Rp 500 ribu, kita bisa beli 3 lot malah.

HMSP yang sudah listing di BEI sejak 1990, terhitung emiten yang sudah mature. EPS setiap tahun konsisten naik dan membagi dividen selalu di kisaran 100% dari laba bersih yang mereka miliki. Lumayan banget buat dividend hunter, karena dividend yield HMSP saat ini adalah 7.30%.

Tapi hati-hati dengan industri rokok saat ini ya. Karena pandemi corona, bisa jadi mempengaruhi penjualan rokok. Apalagi jika cukai rokok dinaikkan oleh pemerintah.

4. MYOR

Siapa yang suka produk biskuit Better, Roma, Beng-Beng, Kopiko, Energen atau Le Minerale? Nah, mereka merupakan beberapa produk keluaran Mayora Indah (MYOR).

Dari pada hanya membeli produknya, coba juga beli sahamnya. Harga saat ini di harga Rp 2.490 (Rp 249.000/lot). Kita bisa beli 2 lot untuk Rp 500.000.

Berada di sektor consumer goods, MYOR tergolong emiten yang defensif menghadapi masa krisis. Harga sahamnya tidak akan terlalu volatile karena consumer goods termasuk industri yang terdampak kecil saat krisis karena konsumsi tetap berjalan.

5. TOWR

TOWR adalah perusahaan bidang telekomunikasi. Bidang usahanya menyewakan dan merawat menara telekomunikasi untuk provider. Berlatar belakang Hartono bersaudara, pemilik GGRM dan BBCA, jelas kinerja TOWR cukup menjanjikan.

Membukukan ROE (rata-rata 3 tahun) = 27.93% dan Net Profit Margin di 47% membuat investor boleh tertarik dengan TOWR. Namun sebagai pertimbangan, DER mereka mencapai 269%.

Saat ini berada di harga Rp 1.025 (Rp 102.500/lot), namun sepertinya PER TOWR sudah berada di kisaran 19-20x dari yang rata-rata 3 tahun di 16x.

6. PTBA

Dari sektor pertambangan batu bara, PTBA boleh jadi pilihan. Memproduksi batu bara dengan konsumen utamanya adalah PLN, BUMN satu ini punya kinerja yang apik. Meskipun saat ini harga batu bara dunia sedang terkoreksi, namun manajemen perusahaan punya diversifikasi bidang usaha sebagai antisipasi.

Market cap PTBA saat ini sekitar 24T, harga yang dibanderol Rp 2.100 (Rp 210.000/lot) untuk jadi pemegang saham perusahaan ini.

Di sisi lain, dividen yang dibagikan juga menggiurkan. Dividen yield sebesar 15%.

7. SIDO

SIDO adalah emiten bidang farmasi, tepatnya jamu. Kalau tahu Tolak Angin dan Kuku Bima, itu adalah produk dari Sido Muncul. SIDO sudah terbukti dengan kinerjanya yang bagus selama 10 tahun terakhir.

NPM 28%, ROE 27% dan DER 11%. Jarang ada emiten dengan solid seperti ini. Namun valuasinya jelas sudah premium. Untuk value investing, SIDO jelas sudah tidak masuk hitungan. Berbeda jika kamu adalah growth investor.

Dengan modal Rp 140.000, kita sudah bisa mendapat 1 lot dari perusahaan ini sebab harga terakhir saham ini adalah Rp 1.400.

8. ULTJ

Siapa yang tidak kenal dengan susu Ultra Milk? ULTJ lah produsennya. Seperti SIDO, saya rasa ULTJ juga perusahaan yang sehat. Penjualan dan laba bersih yang konsisten meningkat, ROE yang tinggi serta utang yang kecil.

Utang perusahaan (800M) saja bisa dilunasi dengan hanya uang kas (1.8T) perusahaan.

Harga saat ini adalah Rp 1.730 (Rp 173.000/lot) untuk membeli saham ULTJ.

9. PWON

Pakuwon Jati adalah emiten asal Jawa Timur di bidang properti dan real estate. Properti PWON tersebar di Jawa Timur dan Jakarta.

Meskipun saat pandemi, emiten bidang properti dan konstruksi memang tertekan namun saat ekonomi pulih, PWON bisa jadi akan kembali ke kinerja terbaiknya.

Justru saat seperti ini, investor jangka panjang seharusnya mengambil momentum saat harga saham mereka belum naik. Rp 406 (Rp 40.600/lot) cukup untuk investasi di emiten satu ini. Sementara titik tertinggi PWON pernah mencapati Rp 770 sebelum corona menghantam ekonomi Indonesia.

10. BJTM

Dari bank pembangunan daerah, ada nama BJTM (Bank Jatim) yang harga per lembar sahamnya sekitar Rp 585 (Rp 58.500/lot). Karena bank daerah Jatim, jelas masyarakat luar Jatim tidak terlalu mengenalnya.

Namun performanya relatif bagus dan dividennya juga besar untuk shareholders mereka.

1 hal yang kurang dari emiten ini adalah harga sahamnya yang super slow dalam meningkat. Dibandingkan dengan BJBR, sesama bank pembangunan daerah, harga BJTM memang lebih santai.

Penutup

saham harga di bawah 500 ribu

Meskipun saya sudah memilihkan 10 emiten dengan kinerja bagus di bawah harga Rp 500 ribu/lot, namun selalu diperlukan analisa yang lebih mendalam sebelum kita membelinya.

Karena bagus menurut saya, belum tentu bagus menurut orang lain.

Setiap orang bertanggung jawab sendiri terhadap keputusan investasinya.

Kalau mau aplikasi untuk sumber analisa perusahaan yang gratis ada RTI, Stockbit atau IPOT. Kalau Stockbit, ada reviewnya di sini.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply