Analisa Saham: ADES, Si Produsen AMDK Merek Nestle

analisa saham ADES

Apa yang terlintas di pikiran saat ada kode saham ADES? Kita pasti langsung berpikir ini perusahaan produsen air minum dalam kemasan (AMDK) merek Ades.

Nyatanya, salah!

Penasaran dengan kinerja ADES? Coba kita bahas secara keseluruhan. Posting ini menggunakan data yang diambil pada tanggal 12 Desember 2020 ya.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Latar belakang saham ADES

PT Akasha Wira International, Tbk, sang pemilik kode saham ADES sudah berdiri sejak tahun 1985. Bergerak di sektor consumer goods, berfokus di bidang AMDK. Pertama kali IPO sejak tahun 1994.

Dengan market capital sebesar sebesar 800 miliar, saham ini memang termasuk third liner. Masa’ setelah 26 tahun IPO, perusahaan masih di third liner? Namun apakah artinya perusahaannya jelek? Belum tentu.

Dan untuk yang bilang ADES itu adalah produsen merek Ades, silakan cek daftar produk dari perusahaan.

Industri air kemasanAdes + Vica (mulai 1986)
Nestle Pure Life (mulai 2004)
Vica Royal sebagai pengganti merek Ades (sejak 2007), karena license agreement dengan Coca Cola untuk merek Ades berakhir
Kontrak tolling dengan Coca Cola untuk produksi Ades
KosmetikMakarizo sejak 2010
Susu kedelaiPureal sejak 2014
Distribusi kosmetikmerek Wella dan Clairol

Jadi ADES itu memproduksi AMDK merek Nestle Pure Life dan Vica. Sudah tidak memiliki lisensi merek Ades sejak 2007. Ades sepenuhnya milik Coca Cola dan perusahaan hingga saat ini memiliki perjanjian tolling saja.

Dan ternyata perusahaan bukan hanya produsen air minum, tapi juga kosmetik dan susu kedelai. Baru tahu? Saya juga. Setelah membaca laporan tahunan perusahaan.

Pemegang Saham

Untuk saat ini ADES dikuasai Water Partner Bottling SA (Swiss) sebesar 91.52% sementara publik sebesar 8.48%. WPB dulunya adalah joint venture Nestle dan anak perusahaan Coca Cola. Tahun 2008, WPB diakuisisi oleh Sofos Pte Ltd (SIN). Maka inilah turnaround point bagi perusahaan.

Laba rugi ADES

Dilihat dari tahun 2008, perusahaan mengalami peningkatan sales yang signifikan. Namun di 3 tahun terakhir, kelihatannya agak stagnan.

Sales saham ADES
Sumber : Stockbit

Apalagi kalau melihat net income perusahaan. Mereka bahkan sempat merugi tahun 2008.

Sumber : Stockbit

Beruntung setelah tahun 2008, perusahaan mengalami perbaikan. Ini terjadi karena pada tahun tersebut, perusahaan diambil alih oleh manajemen yang baru. Sebelum 2008, perusahaan mengalami rugi bertahun-tahun, mengindikasikan manajemen yang lama cukup buruk.

Anyway, kalau kamu menyadarinya, dalam 3 tahun terakhir sales perusahaan yang stagnan menghasilkan profit yang meningkat. Kok bisa?

Karena efisiensi. Perusahaan mengakali sales yang tidak terlalu bertumbuh dengan mengurangi beban operasional. Alhasil, net income-nya tetap bisa bertumbuh. Namun, ini bukan solusi untuk jangka panjang. Perusahaan tidak akan bisa terus mengurangi beban operasionalnya. In the long run, perusahaan tetap harus meningkatkan sales.

Info dari PubEx 2020, kalau rencananya perusahaan mau melakukan inovasi terbaru dengan memproduksi sanitizer dan disinfektan. Hasilnya, perlu kita lihat dalam 1-2 tahun ke depan.

Per Q3 2020, net income perusahaan juga masih meningkat, 74M berbanding 47M di Q3 2019. Impresif sih untuk masa pandemi seperti sekarang.

ROE mereka juga stabil di 12%-17%. Jadi secara GCG, manajemen bekerja cukup baik bagi pemegang sahamnya.

Balance sheet ADES

Posisi aset lancar perusahaan yang didominasi dengan Kas, Piutang dan Persediaan terus meningkat dibandingkan dengan liabilitas lancar yang semakin mengecil. Tahun 2019, current ratio berada di posisi 2x, which is good.

Total aset dan ekuitas perusahaan juga terus meningkat tahun demi tahun. dengan DER yang terus mengecil. Tahun 2019, perusahaan menutup tahun dengan DER hanya 5%.

Dan saya harus bilang ini sebuah keberuntungan bagi perusahaan. Memulai tahun 2020, perusahaan memiliki debt (hutang berbunga) sebesar 27M, yang mereka lunasi Januari 2020 sebelum pandemi datang.

Maka selama pandemi, perusahaan sudah debt-free dan tidak perlu membayar bunga pinjaman lagi.

No Dividend

Sayangnya, perusahaan belum pernah bagi dividen sejak IPO. Dari IPO sampai 2008, perusahaan rugi. Retained earning-nya sampai minus 543M. Hingga 2019, sisa R/E minus 38M. Jadi selama 11 tahun, manajemen menebus kesalahan manajemen lama sekitar 505M.

Mungkin bisa jadi akan ada dividen setelah saldo laba mereka positif (tapi juga belum pasti juga ya). Ini tergantung para pemegang saham terutama pemegang saham pengendali.

Valuasi saham ADES

Valuasi saham ADES
Sumber : Stockbit

Rata-rata PER ADES selama 5 tahun terakhir = 12.57x.

Per tanggal 12 Desember 2020, PE perusahaan ada di 7.58x (Rp 1.430), yang artinya masih di bawah rata-ratanya. Ada sekitar MOS 65% dari PE 7 ke PE 12. Jika ADES bisa mencapai PE rata-ratanya, maka harganya akan mencapai Rp 2.000. Dengan asumsi EPS Q3 2020 {TTM) = Rp 188 ya.

Nanti bisa lihat lagi kinerjanya di tutup buku 2020 yang akan rilis sekitar Maret/April 2021.

Jadi beli atau tidak? Tergantung diri sendiri. Kan kamu juga harus do your own research baru bisa meyakinkan diri sendiri mengambil keputusan untuk beli/tidak dan akan jual kapan. It’s not my decision.

Kesimpulan

ADES ini memang bukan saham untuk semua orang. Market cap yang kecil mungkin bisa jadi sentimen negatif untuk orang atau justru bisa jadi potensi menemukan barang bagus saat yang lain belum sadar. Institusi besar jelas tidak melirik emiten kecil.

Saya hanya tertarik setelah melihat grafik harga sahamnya yang jomplang dengan pergerakan EPS nya. Makanya terlihat saham ini masih murah. Apalagi jika profit konsisten meningkat.

Dan kalau mencari dividen, perusahaan ini jelas tidak akan masuk dalam pilihan kamu.

Just in case kamu penasaran, market share ADMK merek Nestle masih sangat kecil. Tidak sampai 1% dari market yang ada. Padahal saya lebih suka beli air mineral merek ini, ternyata jaringannya belum luas. Yang terbesar jelas merek Aqua.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Analisa PWON atau BJTM vs BJBR.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

2 Replies to “Analisa Saham: ADES, Si Produsen AMDK Merek Nestle”

  1. Menarik ulasannya. Saya suka krn bahas plus dan minusnya. Jarang ada yang review saham secara obyektif. Mo nambahin soal manajemen lama. Manajemen ADES yang dulu keliatannya emang bermasalah. Kalo google PT Ades Alfindo Putrasetia Tbk, ada muncul beberapa kasus, salah satunya soal penyesatan informasi angka produksi dan penjualan. Ruginya juga numpuk. Warisan beban yang ga ringan tapi hebatnya pelan-pelan bisa dibenahi manajemen baru. Thanks untuk insightnya!

    1. Thank you tambahan infonya.

Leave a Reply