Review Saham: MLBI, Produsen Bir Bintang

saham MLBI

Kalau post sebelumnya sudah membahas tentang DLTA (produsen bir Anker), kali ini kita bahas saingannya, saham MLBI, produsen bir Bintang.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Profil saham MLBI

PT Multi Bintang Indonesia awalnya berdiri tahun 1929 di Medan, sempat berpindah ke Surabaya hingga akhirnya kantor pusatnya berdomisili di Jakarta. Pabrik brewery nya sendiri ada di Tangerang dan Sampang Agung Mojokerto.

IPO tahun 1981, MLBI melepas kepemilikannya kepada publik sebesar 18.22%. Sementara kepemilikan mayoritas, 81.78% tetap dipegang oleh Heineken International BV.

Heineken ini memang serius banget membangun MLBI. Setelah sempat diambil alih oleh pihak lain, pada akhirnya perusahaan ini kembali ke tangan Heineken. Hingga saat ini jajaran direksi dan komisarisnya sebagian besar berasal dari perwakilan Heineken Group.

Produk MLBI

merek saham MLBI
Sumber : website MLBI

Apa aja sih yang dijual oleh perusahaan? Dibanding DLTA, mereka punya banyak jenis produk yang ditawarkan.

Nama merekKeterangan
Bir BintangBir andalan MLBI
HeinekenBir premium kelas international
Bintang Radler (Lemon dan Orange)Perpaduan bir Bintang dengan natural citrus juice (alkohol 2%)
Bintang Zero 0%Minuman non alkohol
Bintang Radler Lemon 0%Minuman karbonasi bebas alkohol dipadukan dengan natural lemon juice
Strongbow (Gold Apple dan Dark Fruits)Merek cider berskala global
Fayrouz (nanas dan pir)Minuman bersoda dengan jus buah dan sparkling water
Green Sands (Lime & Apple, Lime & Grape, Lime & Lychee)Minuman ringan berkarbonasi

Jadi secara umum, mereka punya produk bir, cider (alkohol) dan minuman bersoda (non alkohol).

Pada tahun 2019, produk alkohol menyumbang 88% dari penjualan, Sementara 12% berasal dari penjualan non alkohol dan terus bertumbuh setiap tahun. It’s a good sign dari perusahaan bahwa mereka tidak hanya mau bergantung pada 1 sumber pendapatan. Meskipun perlu waktu panjang untuk memasarkan dan mendapat market share di pasar non-alkohol.

Anak usaha perusahaan

Secara management, saya bilang MLBI punya management yang rapi dan bagus. Mereka mendirikan 2 anak usaha untuk membagi beberapa pekerjaan.

MLBI berfokus untuk memproduksi minuman beralkohol, mempunyai 2 anak usaha, yaitu:

  1. PT Multi Bintang Niaga, untuk mengatur distribusi dan memasarkan produk mereka.
  2. PT Tirta Prima Indonesia, untuk memproduksi minuman non-alkohol.

Laba rugi MLBI

Setiap tahun perusahaan konsisten meningkatkan penjualannya sebesar 4%-5% per tahun. Pertumbuhan penjualan memang tidak terlalu impresif, kemungkinan karena perusahaan sudah memegang market share terbesar. Dengan total penjualan sebesar 3.7T (2019), MLBI menjadi market leader di bidang minuman bir.

Kalau sudah market leader memang sulit berkembang pesat kecuali ada market baru yang dibuka.

Untuk Q3 2020, perusahaan baru mencatatkan penjualan sebesar 1.29T, turun 47% dari Q3 2019. Tidak usah bingung dengan penurunan ini. Semua memang terdampak pandemi, termasuk MLBI.

Sama seperti DLTA, perusahaan bir memang punya margin tebal jadi sangat profitable. Dengan COGS rata-rata di 38% maka gross profit perusahaan ada di sekitar 62%. Jika sudah dipotong dengan biaya dan pajak, maka net income perusahaan menjadi 30%-34%.

Hanya untuk tahun 2020 tidaklah demikian. per Q3 2020, gross profit yang didapat “hanya” 45% dengan net income margin “hanya” 11%. Not bad, setidaknya masih profit bukan.

Balance sheet

Balance sheet MLBI mungkin bukan tergolong yang sehat-sehat banget, tapi aman lha menurut saya pribadi. Coba kita bahas yang menarik ya.

Asset dan equity nya selalu bertumbuh setiap tahun, tentu hal yang baik. Sayangnya untuk saat ini sebagian besar asset berasal dari liabilities dari pada equity nya.

1. Cash

I don’t know memang MLBI terlalu pede atau apa sampai tidak menyisakan banyak cash dalam assetnya. Dengan liabilities yang banyak, tapi cash nya cukup minim.

Cash (2019) hanya 78M berbanding liabilitas jangka pendek yang sebesar 1.5T. Saat operasional tidak berjalan normal, perusahaan bisa mengalami masalah likuiditas.

Terbukti seperti tahun 2020, perusahaan perlu mencairkan pinjaman bank sekitar 350M untuk menjaga operasional usahanya.

2. Piutang usaha

Piutang usaha perusahaan bertumbuh 18%/tahun, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penjualannya yang 4%-5%/tahun. Jika di breakdown, bagian piutang yang sudah lewat jatuh tempo juga selalu naik setiap tahun.

Apakah akan semakin buruk di tahun 2020?

3. Fixed asset

Setiap tahun perusahaan pasti selalu menyisihkan budget untuk capex sekitar 300-200M. Artinya, selalu ada pemeliharaan atau pembaharuan untuk aset tetap perusahaan.

Terlebih dari yang saya baca, perusahaan berkomitmen menggunakan energi terbarukan dalam proses produksinya. Salah satunya dengan fasilitas pembangkit listrik biomassa. Sudah berjalan di pabrik Sampang Agung, dan sedang dalam proses pembangunan di pabrik Tangerang.

4. Liabilitas jangka pendek

Liabilitas MLBI sebagian besar berasal dari akun ini. Karena untuk liabilitas jangka panjang, tidak terdapat banyak transaksi.

Karena liabilitas jangka pendeknya yang tinggi, jadi current ratio menjadi kecil sekitar 0.73x. Artinya, warning untuk likuiditas perusahaan dalam jangka pendek.

a. Debt

Debt perusahaan berasal dari 2 sumber, yaitu utang ke bank dan utang ke pihak berelasi, Heineken Asia Pacific. Keduanya sama-sama bayar bunga, tapi saya merasa lebih aman utang ke pihak berelasi.

Setidaknya, kalau perusahaan harus macet bayar utang atau bunga, Heineken tidak akan mempailitkan perusahaan 1 grupnya.

Akhir tahun 2019, MLBI memiliki utang ke pihak berelasi 300M dan ke bank 50M. Sepanjang tahun 2020, MLBI mencairkan pinjamannya dari bank sebesar 350M lagi.

Perusahaan memang sudah standby plafon kredit di beberapa bank, jadi dipakai jika dibutuhkan. Makanya mungkin saya bilang mereka pede tidak simpan banyak cash.

b. Accrued expense and other

Untuk MLBI, akun ini justru pemegang utang terbesar. Mencapai sekitar 30%-40% dari total liabilitas, akun ini berisi iklan dan promosi, cukai, transport, pembelian asset yang belum dibayar hingga jasa teknik dan royalti.

Tidak berbunga memang, tapi ini biaya reguler yang harus dibayarkan perusahaan setiap tahun jadi ya tetap harus menjaga kemampuan untuk membayarnya. Di lain pihak, ini justru tanda kepercayaan vendor yang memberikan utang kepada perusahaan.

Dividen saham MLBI

Saya menilai saham ini tipikal slow grower. Selain perusahaan sudah besar, pasar bir di Indonesia juga memang tidak meningkat drastis setiap tahun. Jika tidak terlalu berharap dari pertumbuhan perusahaan, maka biasanya perusahaan memberikan dividen cukup tinggi.

Biasanya perusahaan membagi semua net income mereka menjadi dividen untuk pemegang saham mereka (DPR = 100%). Sayang di tahun 2020, mereka tidak bisa bagi dividen karena perusahaan terdampak pandemi, operasional menjadi lebih ketat.

Meski demikian, dividend yield MLBI tidak terlalu tinggi juga, hanya sekitar 4%-5% dari harga pada tahun pembagian. Itu karena harga sahamnya sudah sangat premium.

Valuasi saham MLBI

Harga saham MLBI memang sudah luar biasa premium. Rata-rata PER 5 tahun terakhirnya sekitar 28x, dan PBV nya sekitar di 34x. Untuk kondisi normal, saham ini jelas bukan favorit bagi saya.

Selama 9 tahun terakhir, harganya naik 21%/tahun dari 2,700 menjadi 15,500/saham. Sementara di kurun waktu yang sama, EPS nya naik 12%/tahun dari 210 menjadi 572.

Namun ada kesempatan di tahun ini untuk beli saham MLBI dengan harga yang didiskon. Per tanggal 28/02 harganya berada di Rp 8,950 (alias turun 42% dari 2019). Dan PBV saat ini adalah 14x.

Kesimpulan

Perusahaan bagus dengan management yang baik. Bahkan laporan mereka menjelaskan secara terbuka kondisi perusahaan, tantangan dan strategi yang mereka miliki. Kita bisa belajar banyak dari laporan yang disajikan. Membuktikan bahwa management menjelaskan dengan baik kepada shareholders sebagai bagian dari pemilik, bukan sekedar pemegang lembaran saham.

Menggunakan anomali yang terjadi saat ini untuk menunggu kinerja perusahaan kembali normal. Jika tahun 2020 dengan operasional tidak lancar saja harga saham 8,950 lalu bagaimana jika operasional sudah kembali normal?

Tapi akankah kembali ke PER 28x dan PBV 34x? Saya tidak terlalu yakin.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Review saham DLTA, PT Delta Djakarta.

Leave a Reply