Saham DPNS

Review Saham: DPNS (Duta Pertiwi Nusantara) Q2 2021

Sering bahas saham-saham kapitalisasi besar, kali ini saya coba bahas saham kapitalisasi lebih kecil, yaitu DPNS (PT Duta Pertiwi Nusantara). Apa saja yang menarik?

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Kenapa saham DPNS menarik?

Sadarkah kalau membeli saham kapitalisasi besar, biasanya sudah di harga premium? Misal BBCA di PER 28x dan PBV 4x. Dengan arti, kalau beli di harga saat ini Rp 33,000 maka perlu waktu 28 tahun untuk balik modal (dalam kondisi yang sama seperti saat ini). Tentu hal itu akan lebih cepat, melihat BBCA adalah perusahaan yang luar biasa pertumbuhannya. Tapi mungkinkah harganya segera mencapai Rp 66,000 dalam waktu 3-5 tahun? I don’t think so.

Maka kita cari di emiten yang undervalue di kapitalisasi lebih kecil dan pasar tidak sedang menghargainya wajar. Hal itu memberikan potensi return lebih tinggi, demikian juga dengan risikonya. Setidaknya cari dengan MOS yang tinggi sehingga modal kita aman.

Ketemulah dengan DPNS yang berada di PER 8x dan PBV 0.44x Beda jauh ya dengan BBCA. Secara sektor memang kalah pamor. DPNS dan INCI berada di sektor yang sama dan keduanya dihargai amat murah oleh pasar. Tapi ini murah atau murahan?

Jadi bolehlah kita bahas untuk mengetahuinya.

Latar belakang DPNS

PT Duta Pertiwi Nusantara adalah perusahaan di bidang perekat kayu lapis, bahan kimia dan soon to be pertambangan batu bara. Berdiri sejak 1982 dan berdomisili di Pontianak, Kalimantan.

Pendirinya adalah Pak Siang Hadi Widjaja dan Pak Ng Tjie Koang yang saat ini masih menjabat sebagai direktur utama dan komisaris utama perusahaan.

Pemegang saham perusahaan saat ini adalah:

Pemegang Saham% Kepemilikan
PT Dutapermana Makmur (dimiliki oleh Siang Hadi W dan Ng Tjie Koang)51.18%
The NT TST CO S/A Cim Investment Fund8.62%
Siang Hadi Widjaja5.71%
Bank Julius Baer and Co. Ltd Singapore6.81%
Ng Tjie Koang0.20%
Publik27.48%
Sumber : Laporan Tahunan 2020

Pendapatan

Sumber : Stockbit

Kalau melihat tren pendapatannya, DPNS jelas bukan perusahaan yang bertumbuh. Dan itu bukan hal positif memang. Baik Penjualan maupun Net profit nya tidaklah berkembang. Tapi sebagaimanapun stagnan perusahaan ini, tidak pernah perusahaan mengalami kerugian.

Pendapatannya berkisar di 100M-140M/tahun. Sales mereka pun didominasi oleh 2 customers, yaitu PT Erna Djuliawati (78%) dan PT Sabak Indah (13%). Hal ini agak berisiko karena hanya bergantung pada sedikit customer.

Sumber: Stockbit

Thanks to their management, yang berbekal dari bidang keuangan. Ya, Pak Siang Hadi Widjaja adalah mantan direktur dari Bank Buana (sebelum diakuisisi oleh UOB). Mungkin itu sebabnya, meskipun penjualan dari operasional tidak memadai, namun perusahaan ditunjang juga dari pendapatan dari aset keuangan.

Tercatat pendapatan lain perusahaan berkisar sekitar 6M-8M/tahun, berkontribusi sekitar 5%-7%.

Sementara net income perusahaan berkisar 2M-10M/tahun (dengan tahun terburuk di 2020), net income margin 4%-10%.

Saat ini sudah jalan hingga Q2 2021, dan secara mengejutkan penjualan dan net income perusahaan mengalami kenaikan signifikan. Kita bisa lihat proyeksi DPNS untuk tahun 2021 melalui paparan public expose mereka. Pendapatan diprediksi mencapai 112M (naik 16% dari tahun 2020) sementara hingga Q2 2021 sudah mencapai 60M (naik 25% dari Q2 2020).

Net income diproyeksi menghasilkan 13M (naik 300% dari 2020 yang hanya 3M). Akankah tahun 2021 menjadi turnaround story dari DPNS?

Aset lancar perusahaan

Dari aset lancar, perusahaan memiliki 49% cash and equivalent senilai 103M (cash rich juga ya ini DPNS).

Di urutan kedua proporsi terbesar mereka bukan inventory ataupun piutang, melainkan aset keuangan mereka yang mencapai 46M (22%). Aset keuangan ini yang tadi di-mention di atas menghasilkan sekitar 6M-8M/tahun. Kalau hitungan kasar, return aset keuangan mereka sekitar 13%/tahun ya. Not bad lha.

Baru selanjutnya ada inventory (18%) dan piutang usaha (7%). Karena perusahaan masih kecil, jadi piutang mereka dirincikan hingga nama customer. Piutang mereka juga terhitung lancar. Hanya ada 1 customer yang piutangnya macet.

Kalau penjualannya stagnan, beda halnya dengan aset perusahaan. Aset mereka konsisten bertumbuh selama 8 tahun terakhir sekitar 3%/tahun.

Jadi secara likuiditas, perusahaan berada di posisi yang aman.

Properti investasi

Perusahaan memiliki properti investasi di Jakarta, berupa tanah dan bangunan di Kebon Jeruk seluas 1,159 m2 yang tercatat diperoleh dengan harga 1.7M. Saat ini kedua properti tersebut dinilai 24M dari NJOP PBB 2020 (menurut pengakuan perusahaan di LK ya).

Dan sebuah ruang perkantoran di daerah Sudirman diperoleh dengan harga 1.4M, disewakan ke anak usaha (PT Intitirta Primasakti 479 juta/tahun) atau setara return 34%.

Beban eksplorasi ditangguhkan

Kalau membaca daftar aset perusahaan, ada beban eksplorasi ditangguhkan yang proporsinya cukup besar, 114M hingga Q2 2021. Ini adalah biaya eksplorasi pertambangan batubara melalui anak usahanya, PT Intitirta Primasakti. Dengan area eksplorasi seluas 25,000 hektar di Jambi.

Perusahaan berencana untuk membentuk konsorsium dan memenangkan project pembangunan pembangkit listrik mulut tambang Jambi-2 dengan kapasitas 2x300MW.

Akankah berhasil? Tidak tahu. Setiap mulai usaha selalu ada kemungkinan berhasil, tapi juga ada risiko gagal.

Tapi jika berhasil, ini akan jadi kesempatan emas untuk perusahaan.

No debt

Meskipun hutang bukan hal buruk, namun companies that have no debt can’t go bankrupt (Peter Lynch). Jadi perusahaan dengan no debt atau debt yang kecil terlihat lebih menarik.

Perusahaan tidak memiliki beban untuk membayar bunga pinjaman setiap tahun dan terikat dengan pemberi pinjaman.

Namun bukan berarti perusahaan tidak butuh modal. Mereka justru berhutang 16M kepada direkturnya, Siang Hadi Widjaja, tanpa bunga dan tanpa tenor. Direktur menunjukkan kalau dia tidak cari uang melalui bunga pinjaman atas utang yang diberikan kepada perusahaannya sendiri.

Valuasi saham DPNS

Nah, kalau tertarik dengan perusahaan ini, saya coba memvaluasi saham DPNS.

Kalau menghitung nilai likuidasi perusahaan dengan nilai properti yang sudah di-adjust, namun tidak menghitung biaya-biaya dibayar di muka, pajak, dan beban eksplorasi yang ditangguhkan karena belum menghasilkan. Dikurangi dengan semua liabilitas. Maka secara kasar, harga per saham berada di kisaran Rp 418 – 425/lembar (MOS = 22%).

Tapi kalau menggunakan PER, nilai yang didapatkan akan semakin besar.

valuasi saham DPNS

PER rata-rata selama 5 tahun adalah 16x, sementara saat ini berada di PE 8x (harga Rp 346). Oleh karena net income Q2 2021 meningkat, maka PE menjadi kecil. Maka untuk ke PE 16x, maka MOS nya akan mencapai 100%.

Tapi akankah mencapai angka sekian? Bisa jika perusahaan menjaga konsistensi atau malah melebihi ekspektasi. Tapi kalaupun meleset, saya pikir angka likuidasinya di Rp 418 berada di bottom line nya.

Saham ini memang termasuk undervalued buat saya, tapi MOSnya masih belum cukup besar. Mungkin bisa menunggu hasil Q4 2021 apakah sesuai proyeksi atau menunggu pasar menghargai saham DPNS ini lebih rendah dari saat ini. Opsi kedua seperti lebih cepat dicapai.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : review saham undervalued lainnya, ADES, PWON atau PBID.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *