reksa dana saham atau saham

Memilih Reksa Dana Saham atau Saham?

Bagi yang masih bingung memilih instrumen investasinya, baik reksa dana saham atau saham, coba baca dulu post ini. Semoga bisa memutuskan begitu selesai membaca.

Sebelumnya kita harus mengerti dulu kalau yang namanya reksa dana saham (RDS) itu berbeda dengan saham. Coba kita break down apa saja perbedaannya dulu.

Perbedaan reksa dana saham dan saham

1. Definisi

Saham itu kita beli kepemilikan atas suatu perusahaan secara langsung. Yang sudah go public atau listing di BEI tentunya. Nama kita tercatat sebagai pemilik dari perusahaan, meskipun hanya 0.00000…%.

Sementara kalau di Reksa dana saham (RDS), kita patungan dengan investor lain untuk membeli perusahaan tersebut melalui Manager Investasi (MI). Jadi kita membeli perusahaan secara tidak langsung.

Dari definisi yang sudah berbeda, maka akan mempengaruhi faktor yang lain.

2. Pengambil keputusan

Karena saham, kita ambil keputusan sendiri. Tanggung jawab lebih besar, jadi kita harus belajar lebih baik.

Sementara RDS, kita mempercayakan uang kita dikelola oleh MI. Jadi MI-lah nanti yang akan mengambil keputusan dalam mengelola portofolio. Kita hanya perlu mengevaluasi kinerja MI tersebut apakah sudah bekerja baik atau tidak.

Patokannya dengan apa? Bandingkan dengan kinerja benchmark. Kalau saham, biasa patokannya dengan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan).

3. Modal

Kedua instrumen sebenarnya tidak lagi memerlukan modal besar untuk memulai. Kita hanya perlu minimal Rp 100.000 untuk membeli produk RDS. Bahkan jaman sekarang sudah ada produk yang minimal Rp 10.000 (walaupun belum banyak).

Sementara untuk saham, kita perlu minimal harga 1 lot saham perusahaan yang mau kita beli. (1 lot = 100 lembar).

Misal, beli saham SIDO di Rp 800/lembar, kita perlu minimal Rp 80.000 untuk membeli 1 lot saham tersebut. Atau saham BBRI di Rp 4.300/lembar, maka siapkan Rp 430.000/lot. Jadi modal minimalnya tergantung kita mau beli saham apa.

4. Keuntungan

Kita bisa dapat keuntungan dari saham melalui capital gain (jual lebih tinggi daripada harga beli) atau dari dividen. Begitu keuntungan terealisasi, dana akan ditransfer ke rekening dana nasabah (RDN) H+2. Tentunya setelah dipotong pajak.

Transaksi penjualan saham dikenai pajak 0.1% final dan dividen kena pajak 10% final.

Sementara RDS akan menerima capital gain dan dividen yang sama namun tidak secara langsung dalam bentuk uang. Keuntungan tersebut akan dihitung oleh MI dan menambah nilai NAB (Nilai Aktiva Bersih) unit yang kita miliki, alias harga unit produk tersebut jadi naik.

Karena sudah dipotong pajak saat dikelola MI, maka kita tidak dikenai pajak lagi saat mencairkan/menjual unit RDS kita.

5. Risiko

Keduanya berisiko kok, hanya tipenya saja yang berbeda. Karena saham dikelola sama diri sendiri, kita bertanggung jawab sama risikonya secara langsung. Kalau beli saham yang salah atau di harga yang salah, itu benar-benar risiko kita. Tidak boleh menyalahkan siapa pun.

Sementara RDS dikelola oleh MI. Risiko? Ya tetap ada. Memang semua MI pasti punya kinerja baik? Jadi MI itu susah lho, banyak regulasi yang harus diikuti dan itu membatasi cara kerja mereka. Kalau kita salah milih MI, tidak aneh juga kalau investasi kita tidak berkembang atau malah rugi.

6. Fee reksa dana saham dan saham

Secara fee, memang lebih murah dalam saham. Saham hanya menetapkan fee untuk sekuritas sekitar 0.13%-0.19% per transaksi (jual/beli).

Sementara RDS harus lebih tinggi. Namanya juga kita pakai jasa profesional untuk mengelola investasi kita, jadi harus bayar fee dong. Kan mereka juga harus digaji. Kisaran 2%-4% per tahun, tergantung MI. Bisa cek di fund fact sheet mereka.

Bagi yang mau tahu cara baca fund fact sheet, bisa cek post Prospektus dan Fund Fact Sheet Reksa Dana.

perbedaan reksa dana saham dan saham

Jadi reksa dana saham atau saham?

Jawabannya tergantung. Kamu lebih cocok yang mana? Kamu lebih cocok mengendarai sendiri atau disetir oleh MI. Dan tidak ada jawaban yang salah.

Kalau opini saya, bagi yang baru mulai mengenal investasi, coba dulu dengan RDS akan lebih baik. Setidaknya we can feel the ride dulu di dunia saham dengan dikendarai oleh MI. Percaya dengan yang lebih pengalaman dan profesional.

RDS juga cocok untuk kamu yang berpikir tidak punya cukup waktu dan kemampuan untuk mengelola investasi sendiri.

Tapi kalau kamu punya keinginan lebih untuk belajar lebih dalam, ingin punya pengalaman mengelola investasi sendiri, bisa meluangkan waktu sedikit untuk research saham, atau punya ketertarikan di bidang saham, ya kenapa tidak mencoba saham ya kan.

Saya memilih saham ketimbang reksa dana saham

Kalau saya? Saya memilih saham. Dan ini beberapa yang jadi pertimbangan kenapa demikian.

1. Lebih punya kebebasan

Sebagai investor saham, kita punya kebebasan membeli saham yang kita sukai. Jangan harapkan hal tersebut dalam RDS. Portofolio RDS sudah menjadi wewenang dari MI.

Pernah lihat fund fact sheet sudah produk RDS? Isinya daftar top 5 saham terbesar yang dipegang MI itu. Dan belum tentu kita sependapat.

Lebih dari ini, MI sendiri bekerja dengan limitasi regulasi yang ada. Pernah dengar beberapa rules yang mereka harus jalani?

  • Tidak boleh investasikan >10% dari dana kelolaan ke 1 perusahaan saja.
  • Tidak boleh jadi pemegang saham >5% dari suatu perusahaan.
  • Biasanya ditekan untuk membeli saham-saham bluechip saja. Kalau beli perusahaan kecil dan gagal, tekanannya lebih besar
  • Dan lainnya bisa dicek dalam POJK 33/POJK.04/2017.

Jadi kalau melihat keterbatasan yang terjadi di MI, bisa disimpulkan kalau investor ritel punya privilege lebih dibandingkan MI.

2. Punya ketertarikan

Kalau tidak menarik untuk kita, lebih baik serahkan saja tugas itu ke orang yang lebih profesional. Tapi kalau saya, saya punya ketertarikan lebih di bidang saham, mau belajar lebih dan paham lebih baik.

Mudah? Belum tentu. Seperti yang para ahli bilang, it’s not a rocket science. Tapi kalau bukan dari background keuangan, tetap saja merasakan struggle untuk belajar segalanya dari awal.

3. Reward

Saya tidak bilang keuntungan yang didapat dari saham lebih besar dari pada RDS. Saya juga tidak akan mengatakan kalau investor saham lebih pintar dari pada MI. Tapi ini tentang bagaimana rasanya mendapat keuntungan dari hasil pemikiran sendiri.

Memetik buah dari hasil menanam sendiri rasanya jadi lebih manis ketimbang ditanam oleh orang lain. Tapi sekali lagi, ini sifatnya subjektif. Saya hanya memaparkan opini saja.

Apakah saya meninggalkan RDS?

Tidak juga.

Portofolio saya masih ada sebagian di RDS, tapi tipenya bukan yang secara aktif dikelola oleh MI. Melainkan yang dikelola secara pasif oleh MI, namanya Reksa Dana Indeks.

Mengurangi risiko pengambilan keputusan, saya memilih reksa dana indeks yang kinerjanya hanya mengikuti indeks acuannya. Pekerjaan MI juga jadi lebih mudah daripada RDS aktif.

Kalau mau tahu bedanya, kamu bisa cek di post Perbedaan reksa dana, reksa dana indeks dan ETF.

Demikian pendapat saya tentang RDS dan saham. Semoga bisa membantu kamu dalam memutuskan.

Perlu tanya lebih dalam? Boleh message saya di kolom komentar. Will try my best to help you.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *