Saat portofolio saham turun (Studi kasus : ICBP)

saham turun ICBP

Kalau portofolio saham turun dan loss, jangan langsung merasa buntu. Here’s my sharing story as an investor.

Ya, sharing ini mungkin berguna bagi investor. Bukan bagi trader. Kenapa?

Karena sudah jadi rumus trader, jika portofolio merah, seorang trader harus berani cutloss menurut trading plan nya. Jika tidak, maka kamu bukan trader sejati.

Back to the topic, kalau investor bagaimana menghadapi situasi saham turun? Tapi yang pasti, kenali dulu penyebabnya.

4 Alasan kenapa saham turun

1. Kondisi perusahaan sedang tidak baik

First of all, pastikan kita sudah kerjain PR sebelum beli saham. Saham yang dibeli adalah perusahaan bagus (menurut diri sendiri), bukan kata orang, bukan kata teman.

Dan ketahui bahwa perusahaan tidak bisa selamanya berjalan mulus. Contoh paling dekat adalah pandemi covid sejak tahun 2020. Karena pandemi, banyak perusahaan yang kinerjanya menurun. Mulai dari omset berkurang, jualan tidak laku, toko ditutup, sampai biaya yang terus keluar.

Kemudian coba tanya diri sendiri, apakah kondisi ini permanen atau sementara?

Kalau sementara, bukannya itu justru kesempatan? Kapan lagi beli perusahaan (yang menurutmu bagus) di harga yang lebih murah.

Kalau kita berani beli saham di harga Rp 1000, kenapa takut beli di harga Rp 500? Sekali lagi, poinnya adalah conviction (keyakinan diri sendiri) yang didapat setelah research dan analisa.

2. Pasar sedang irasional

Hampir mirip dengan #1, tapi kali ini sumbernya adalah sang Mr. Market yang sering banget bertindak irasional.

Pasar sering bergerak dengan sentimen jangka pendek, sementara investor harusnya tidak terpengaruh akan hal tersebut. Di era modern sekarang, filter berita justru harus jadi poin penting.

Cukai rokok naik? Harga emiten rokok anjlok. Padahal hal itu terjadi setiap tahun, kenapa harus dibesar-besarkan oleh pasar. Perusahaan rokok juga pasti sudah terbiasa.

Tidak bagi dividen? harga saham emiten anjlok. Padahal tidak lihat alasan di balik keputusan tersebut.

Dan untuk alasan ini, harus dianggap sebagai kesempatan juga dari pada penyesalan. Kita tidak gagal atau tidak bodoh hanya karena harga saham yang kita pilih tidak sejalan dengan Mr. Market.

3. Salah memilih sejak awal

Meskipun sudah research dan kerjakan PR, tidak menutup kemungkinan kalau kita salah menilai. Dan setelah research ulang, ternyata hasilnya berbeda dengan yang diharapkan secara permanen.

Jika memang demikian, maka terima kenyataan tersebut. Cut your loss dan ambil sebagai pelajaran berharga.

4. Beli kemahalan

Tapi jika kita memang beli perusahaan bagus, di harga yang kemahalan. Itu juga tidak akan jadi investasi yang bagus.

Apakah kesalahan itu harus cut loss?

Sesungguhnya keputusan memang di tangan masing-masing.

Tapi kalau saya, saya memilih hold selama perusahaan itu masih bagus ya. Bayar kesalahan kita dengan menunggu lebih lama (bayar pakai waktu).

Pernah ga? Pernah lha. Studi kasus kali ini pakai ICBP.

Beli ICBP 2 tahun floating loss

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

saham ICBP turun 2 tahun
Sumber : Google

Beli di tahun 2019, sekitar harga Rp 12000. Kesalahan awal adalah anchoring. Karena dari awal IPO, ICBP konsisten naik dan sempat mencapai harga Rp 17000, maka beli di 12000 tidaklah mahal dan akan kembali ke 17000. Hal itu bukan jaminan di saham.

Dan hari ini, harga ICBP adalah Rp 8125. Harusnya floating loss 30% dari hasil 2 tahun.

Secara perusahaan ini bagus, brand sudah internasional, tapi beli kemahalan. Tetap tidak bisa jadi investasi yang bagus (setidaknya selama 2 tahun ini).

Disebut kemahalan bukan karena harganya ya. Tapi cek PER nya.

Apa itu PER, bisa dicek penjelasannya di sini.

saham ICBP turun
Sumber : Stockbit

Di saat harga 12000, PE ICBP = 29x (tertinggi selama 3 tahun terakhir). Rata-ratanya saja hanya 23x.

Lalu kenapa tidak cut loss? Ini alasan saya, mungkin berbeda dengan yang lain.

  1. Kinerja perusahaan tidak menurun hingga saat ini (bahkan di masa pandemi).
  2. Saya pilih bayar waktu dibanding dengan bayar harga dengan kerugian.
Sumber : Stockbit

Profit ICBP masih konsisten naik.

Tapi ada hal baik di kondisi saat ini. selama 2 tahun terakhir, emiten ICBP berubah dari kemahalan menjadi kemurahan, dengan PE 14x.

Dalam grafik pun terlihat bahwa harga dan profit sudah tidak searah, artinya nanti harga akan mengikuti grafik profit tersebut. Jadi saya memilih average down ICBP.

Ini hanya keyakinan saya. Apakah analisa simple ini benar? Lihat beberapa tahun lagi untuk mengetahuinya.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply