Piramida Keuangan, Kamu Sudah Ada di Level Mana?

Piramida keuangan. Apa itu? Apa manfaatnya?

Itu pertanyaan yang muncul ketika pertama kali mendengarnya. Setelah mempelajarinya, ada banyak insight yang baik dalam piramida keuangan.

Mari kita bahas lebih detail.

Pengertian piramida keuangan

Analoginya seperti kita ingin membangun sebuah rumah. Perlu perencanaan yang baik mulai dari membangun fondasi hingga atapnya. Demikian juga dengan keuangan.

Sekarang keuangan yang akan dibangun berbentuk piramida. Masing-masing layer menunjukkan posisi keuangan.

Piramida keuangan mulai dibangun dari dasar dahulu. Setelah fondasi dasar kuat, baru naik ke level selanjutnya.

Pembagian piramida secara garis besar mirip. Saya menemukan beberapa pandangan membagi piramida. 80% garis besar sama, 20% adalah detail tidak baku.

Berikut ini pembagian layer piramida keuangan. Sekalian kamu bisa cek sudah sampai di level mana.

piramida keuangan
Sumber: https://www.thefreefinancialadvisor.com/

1. Protection = Perlindungan

Sekarang kita berada di level untuk membangun dasar dari keuangan. Tanpa memperhitungkan keuntungan dahulu, kita memprioritaskan untuk perlindungan dari segala sesuatu yang tidak dapat diprediksi.

Di level dasar, keuangan kita bisa menjawab beberapa kebutuhan di bawah ini:

  • Berapa lama uang kita dapat membayar pengeluaran bulanan jika hal darurat terjadi?
  • Apa yang terjadi dengan keluarga jika kita meninggal? Apakah mereka bisa survive tanpa kita?
  • Bagaimana dengan penghasilan jika kita sakit? Bisakah kita membayar tagihan rumah sakit?
  • Apakah penghasilan kita dapat meng-cover pengeluaran, tanpa pinjaman?

Let’s be real. Mulai pikirkan hal ini karena ini menyangkut diri sendiri dan keluarga, orang-orang terdekat. Maka di tahap ini, kita diminta untuk memiliki:

  • Cash flow yang positif, artinya income yang lebih besar dari pada pengeluaran, (Atau setidaknya income = expense supaya tidak timbul hutang).
  • Dana darurat. Besaran berapa? Pertimbangannya tergantung jumlah tanggungan. Bisa cek di post ini.
  • Asuransi. Mulai dari asuransi kesehatan, penyakit kritis, hingga jiwa. (Asuransi jiwa biasa penting untuk tulang punggung keluarga)
  • Asuransi untuk harta, seperti rumah dan kendaraan. Karena butuh biaya besar jika terjadi kerusakan/kehilangan.
  • Wasiat jika meninggal. Setidaknya keluarga tahu apa saja yang harta kita tinggalkan. Jangan malah menghilang karena tidak ada yang mengetahui.

2. Low risk accumulation

Satu level naik jika proteksi sudah direncanakan dengan baik adalah low risk accumulation.

Level ini dimulai dengan mempersiapkan rencana untuk melunasi hutang (bayar cicilan hutang), tabungan untuk rumah, pensiun, pendidikan anak.

Tabungan ini dikumpulkan untuk tujuan hidup yang penting, jadi mulai sesegera mungkin.

Mulai lebih awal walaupun kecil, jauh lebih menguntungkan dari pada mulai dari yang besar namun terlambat.. Mulai dari awal memberikan kesempatan untuk dana bertumbuh secara compounding. (Next, kita bahas compounding effect ya).

3. High risk accumulation

Level ini kita mulai membangun kekayaan. Mulai punya portofolio investasi yang didiversifikasi, seperti saham, properti, obligasi, reksa dana yang bisa memberikan return.

Baca juga: jenis investasi.

Sebelum investasi, cek dulu profil risiko dan usia. Itu menentukan jenis investasi mana yang cocok dengan diri sendiri.

Ada yang memang profilnya konservatif, jadi tidak cocok di investasi saham yang fluktuatif. Akhirnya, justru tidak bisa tidur tenang jika melihat portofolio sedang merah, walaupun itu sifatnya sementara.

Ada juga yang profilnya agresif, jadi gregetan jika memilih investasi yang imbal hasilnya tidak tinggi.

Bagaimanapun portofolio disusun sebijak, sepintar dan senyaman mungkin, sehingga hasilnya bisa memuaskan diri.

4. Distribution

Di sini level keuangan sudah lebih dari cukup, Kekayaan sudah meningkat jauh, sudah tidak perlu memikirkan untuk bekerja karena sudah bisa meng-cover seluruh sisa hidup.

Bersiap untuk pensiun dan mulai untuk mendistribusikan kekayaan. Entah untuk keturunan atau sumbangan.

Buat surat warisan yang profesional mungkin hal yang baik, sehingga jelas pembagian harta secara proporsional. Tidak jarang kan justru keluarga ribut karena harta warisan (macam di sinetron deh).

Kesimpulan piramida keuangan

Piramida keuangan adalah guidance dalam membangun dan merencanakan keuangan. Namun buat saya, guidance itu tidak baku. Buat perencanaan sendiri yang sifatnya pribadi, yang nyaman buat diri sendiri.

Tidak perlu merasa terbeban harus mengikuti level dalam piramida.

Jika merasa melompat level, mulai perbaiki fondasi dulu.

Contoh, asuransi belum ada, tapi sudah mulai investasi. Banyak yang begini? Saya juga dulunya. Lebih tergiur dengan return investasi dibanding proteksi yang tidak memberikan imbal hasil.

Padahal coba pikirkan. Kalau tidak dilindungi, risiko kehilangan akan lebih besar daripada return yang dikejar.

Jadi, kalau sudah tahu mana yang lebih prioritas, mari perbaiki bersama.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *