Panik Saat Pasar Saham Turun

Panik saat pasar saham turun

Kalau kamu investor saham, baik secara langsung maupun melalui reksa dana saham, maka post ini sungguh didedikasikan buat kamu. Saat pasar saham turun, apakah kamu merasa takut? Wajar.

Tapi jangan sampai panik berlebihan.

Kenapa demikian?

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Berikut ini kita bahas dahulu penyebab kita bisa panik.

5 Alasan kita bisa panik berlebihan saat pasar saham turun

1. Jika kita pakai uang dapur

Rule #1 jika memulai investasi adalah pakai dana dingin. Artinya, kita tidak akan menggunakan dana tersebut dalam waktu 20 bulan ke depan.

Kalau kita ada dana yang sudah ditabung untuk membayar pendidikan anak atau pernikahan tahun depan, maka menginvestasikannya dalam saham bukanlah pilihan bijak. Kenapa?

Karena kita tidak tahu apa yang terjadi pada pasar dalam waktu dekat.

Kita harus menyisihkan dahulu dana darurat sebelum investasi. Keamanan akan memberikan ketenangan diri.

Bayangkan kalau kamu mulai investasi di November 2019 menggunakan dana yang akan kamu pakai untuk menikah di bulan Mei 2020. Apa iya rencanamu tidak akan terganggu?

2. Jika awalnya kita investasi hanya ikut-ikutan

Pernah dengar nasehat “Do your own research“? Ini adalah nasehat terbaik yang pernah saya dapatkan dan terbukti saat market crash.

Kalau kita investasi atas dasar ikut-ikutan, baik ikut profesional, analis, teman, keluarga, kita tidak akan punya planning yang pasti. Rekomendasi memang boleh, tapi kita juga harus research sendiri.

Sama seperti kita mau memilih HP baru untuk diri sendiri. Demikian juga dengan saham yang mau kita pilih. Cari tahu apa kelebihan, kekurangan dan cocokkan dengan diri sendiri.

Rencanakan sejak awal, kita mau beli di harga berapa? berapa nilai yang bisa perusahaan itu capai menggunakan perhitungan sendiri. Dengan demikian, kita akan yakin dengan pilihan kita.

Jika demikian, tidak akan ada lagi yang bertanya “apakah saham XXXX harus dijual atau hold?”, “beli sekarang atau tunggu?”, atau malah “what should I do now?

Percayalah pada diri sendiri. Jika pun ada kesalahan, biar itu jadi pembelajaran yang berharga untuk kita. Kita akan menjadi lebih baik, belajar lebih banyak dari sebuah kegagalan.

Kalau kamu bilang kamu tidak bisa analisa fundamental perusahaan, coba cek post Cara Filter Saham Secara Fundamental.

3. Jika kita terlalu banyak menerima informasi

Kalau jaman dulu, susah sekali mencari informasi tentang perusahaan, saham, dan pasar saham.

Tapi kalau di jaman sekarang, malah susah sekali menyaring informasi yang baik untuk kita cerna. Karena terlalu banyak informasi yang beredar, malah menimbulkan bias bagi diri sendiri.

Ketakutan jadi muncul lebih mudah dengan membaca berita, rumor, pendapat profesional.

Lebih baik kroscek dulu info yang kita dapatkan. Dan juga jangan terlalu terbawa perasaan dengan berita tersebut.

4. Terlalu sering buka aplikasi saham

Jika kamu seorang trader, maka ga akan aneh kalau kamu standby di depan aplikasi saham selama pasar berlangsung. Tapi apa yang terjadi kalau kamu seorang investor?

Ini yang akan kita lihat dalam jangka pendek (1 bulan)
Ini yang kita lihat dalam jangka panjang (5 tahun)

Kalau kita sering lihat pergerakan saham setiap jam, menit bahkan detik, turun sedikit saja akan memicu emosi kita. Padahal jika kita zoom out itu hanya akan jadi gejolak kecil.

Silakan saja meng-update pergerakan saham asal jangan terbawa suasana. Saat turun, takut rugi. Saat naik, takut ketinggalan kereta (FOMO).

5. Memang profil risiko tidak cocok

Tidak perlu memaksakan diri kalau memang profil risiko tidak cocok dengan volatilitas saham yang cepat. Ketenangan jiwa jauh lebih penting dari pada profit yang dijanjikan.

Profil risiko bukan hanya bicara tentang kepribadian, tapi juga usia. Usia yang sudah lanjut, lebih rentan terhadap risiko.

Kalau kamu tidak bisa tidur nyenyak setiap malam hanya karena memikirkan saham kamu sedang turun. Atau justru malah emosi dan melampiaskan ke sekitar. Bukankah malah merusak kehidupan kita?

Ada banyak cara untuk mencapai tujuan keuangan kita. Juga ada banyak investasi lain yang tersedia. Kamu hanya perlu mencari mana yang cocok dengan kamu. Saham bukan satu-satunya jalan.

Mungkin ada alasan lain penyebab kepanikan kita. Yang lainnya, bisa kamu bantu share di kolom komentar ya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? DO NOT PANIC!!

Sesimple itu diucapkan, tapi sesulit itu dilakukan. Betul?haha

Sebagai penenang, ada beberapa point yang mau saya share untuk saling menguatkan. Semoga bermanfaat.

4 Alasan agar kita tidak panik saat pasar saham turun

A. Penurunan pasar saham hanya sementara

Kembali ke ilmu alamiah, bahwa di dunia ini segala hal sifatnya adalah sementara, termasuk pasar saham yang turun.

Pernah tidak pasar mengalami downturn tiba-tiba karena krisis seperti tahun 2020, kemudian tidak pernah kembali ke posisi awal saat recovery? 1998? 2008? Lalu bagaimana dengan 2020?

Memang belum tentu tahun 2020 langsung recovery, bisa saja menunggu 1 tahun kemudian. Di saat sekarang, kesabaran adalah kunci.

B. Ingat planning awal

Coba ingat kembali rencana awal kita beli saham tersebut. Menjadi investor, maka time frame kita pastinya jangka panjang (5-10 tahun). Jadi jika ada market crash di tahun pertama, apa yang harus kita lakukan?

Kembali ke planning karena tidak ada hal baik yang bisa kita putuskan di saat panik dan takut.

C. Fundamental perusahaan tidak berubah secepat itu

Jika pasar jatuh, tidak demikian dengan fundamental perusahaan (jika kita beli perusahaan yang bagus). Fundamental perusahaan (aset, ekuitas, kinerja) tidak berubah secepat harga berubah.

Apakah perusahaan tersebut rontok H-1 sebelum harganya jatuh? Tentu tidak. Pasar saham sudah bercampur dengan emosi manusia. Itu sebabnya harga saham bisa naik dan turun dalam waktu singkat padahal fundamentalnya tidak ada sentimen apa pun.

Selama kita mengevaluasi kinerja perusahaan yang kita miliki, dan masih baik-baik saja maka dalam jangka panjang, harga saham akan mengikuti fundamental kembali.

D. Anggap seperti sale

Jika kita beli barang bagus, bukannya senang kalau dalam posisi murah / sale? Demikian juga dengan sebuah perusahaan. Kenapa justru berubah pikiran menjadi takut?

Jika demikian, kenapa kita tidak membeli lebih banyak di saat sale? Jelas dengan mempertimbangkan money management ya. Jangan semua uang dimasukkan ke saham.

Jadi kita sudah mencapai akhir di post ini. Semoga bisa menguatkan para investor dalam menghadapi market yang belum stabil di masa pandemi ini.

Setelah krisis ini berakhir, kita akan keluar menjadi pemenang dan orang yang lebih berpengalaman. Ini pelajaran yang berharga lho, terjadinya hanya beberapa tahun sekali.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply