Review UangMe : P2P Lending Alternatif Asetku

Sekarang susah untuk pendanaan di Asetku tidak? Kalau iya, sekarang kita mau bahas P2P lending alternatifnya, yakni UangMe.

Kenapa perlu alternatif dan bagaimana kinerja UangMe? Mari kita bahas secara lengkap ya.

Sulit mendanai di Asetku

Berawal dari semakin sulitnya mendanai di Asetku. Memang platform ini sedang naik daun di kalangan P2P Lending. Kenapa Asetku bisa booming gitu?

Ulasan lengkapnya bisa kamu baca di Review Asetku.

Dengan banyaknya lender yang mendanai, namun ga sebanyak borrower, maka Asetku sekarang menerapkan sistem kuota.

Kebayang kan lender yang segitu banyak rebut-rebutan untuk mendanai. Terlambat 1 menit saja kuota langsung habis.

Sampai akhirnya mulai berpikir harus cari alternatif lain untuk mendanai P2P lending yang tidak perlu rebutan begini.

Maka ketemulah UANGME.

Company profile

UangMe sendiri memiliki nama perusahaan PT Uangme Fintek Indonesia, dengan shareholders PT. Intidana Wijaya (Indonesia) dan Pixiu Technology Ltd (Hong Kong).

Mungkin karena shareholdersnya sebagian adalah perusahaan asing, maka website dan aplikasinya menggunakan bahasa Inggris.

Kalau kita search lebih dalam PT Intidana Wijaya dimiliki oleh Kentjana Widjaja yang merupakan komisaris utama dari Ranch Market (RANC). PT Intidana Wijaya sendiri juga adalah pemegang saham dari Bank ICBC Indonesia.

Status di OJK

Per tanggal 06 Januari 2021, UangMe sudah berstatus berizin di OJK. Dia merupakan salah satu dari 41 perusahaan yang sudah berizin, sementara 108 lainnya masih berstatus terdaftar.

Jadi sudah resmi dan berizin ya.

Cara kerja UangMe

Cara kerja UangMe hampir sama dengan Asetku. Pinjamannya diberikan ke pinjaman konsumtif dan didiversifikasi ke beberapa borrower.

Kita sebagai lender hanya perlu memilih tenor yang kita inginkan.

Daftar tenornya juga hanya 4 kok, jadi ga banyak pilihan.

review uangme interest rate

Nanti setelah jatuh tempo, dana kita akan langsung ditransfer ke rekening terdaftar. Kalau mau rollover, nanti dikasih tambahan bunga 0.20%.

Simple dan mudah.

Minimal pendanaan

Minimal pendanaan di UangMe dimulai dari Rp 1 juta dengan kelipatan Rp 100 ribu.

Nominal ini masih lebih kecil dibanding Asetku, dengan minimal Rp 3 juta saat ini.

Bank yang bekerja sama

Pilihlah bank yang sama dengan bank kita. Buat saya ini penting, karena ga mau kena biaya admin saat transfer masuk atau transfer keluar.

bank uangme

Pendanaan di UangMe, aman atau tidak?

Hingga saat ini (06 Maret 2021), TKB90 = 100%. Artinya, tidak ada gagal bayar.

Dan selama saya pendanaan (sejak Januari 2021), memang belum pernah terjadi telat bayar atau gagal bayar.

Kok bisa? Bagaimana mereka mengelola risiko?

Saya hanya research di google ya (jadi belum terkonfirmasi oleh pihak UangMe). UangMe mengasuransikan ke Sinarmas Insurtech yang akan menggantikan 80% modal investor. Sementara 20% akan ditanggung pihak UangMe.

However, jika mulai ada keterlambatan pembayaran atau bahkan gagal bayar, itu sudah merupakan signal bagi investor ya. Sebab risiko akan selalu ada.

Kesimpulan

Kelebihan

  • Sudah berizin dari OJK
  • Cara pendanaannya mudah
  • TKB90 = 100% (belum ada telat bayar/ gagal bayar)
  • Bank yang bekerja sama juga sudah banyak
  • Minimal pendanaan Rp 1 juta (kelipatan Rp 100 ribu)
  • Kuota unlimited, jadi tidak perlu rebutan untuk pendanaan

Kekurangan

  • Kalau dibandingkan Asetku, bunga yang ditawarkan lebih kecil. Kisaran 13%-14.5% (Fyi Asetku kisaran 15%-24%).
  • Cara mitigasi risikonya kurang terbuka, sementara Asetku menjelaskan menggunakan asuransi yang akan ganti 100%.

Dengan alasan ini, maka seperti awal saya katakan kalau UangMe saat ini sifatnya adalah alternatif, bukan pilihan utama.

Kalau berminat pendanaan di UangMe

Kalau berminat pendanaan di UangMe, kamu bisa install aplikasinya di sini.

Tolong isi kode referral / kode undangan saya, u6vp. Terima kasih.

Nanti kamu akan dapat 2 kupon experience masing-masing senilai Rp 500 ribu. Kupon ini untuk digunakan saat pendanaan saja ya. Gunanya untuk mendapatkan bunga lebih. (bukan dikasih uang Rp 500 ribu ya).

Disclaimer : Post ini adalah review jujur dan tidak untuk mempromosikan atau menjatuhkan pihak tertentu.

Baca juga : Review Investree P2P lending produktif.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Review Saham: MLBI, Produsen Bir Bintang

Kalau post sebelumnya sudah membahas tentang DLTA (produsen bir Anker), kali ini kita bahas saingannya, saham MLBI, produsen bir Bintang.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Profil saham MLBI

PT Multi Bintang Indonesia awalnya berdiri tahun 1929 di Medan, sempat berpindah ke Surabaya hingga akhirnya kantor pusatnya berdomisili di Jakarta. Pabrik brewery nya sendiri ada di Tangerang dan Sampang Agung Mojokerto.

IPO tahun 1981, MLBI melepas kepemilikannya kepada publik sebesar 18.22%. Sementara kepemilikan mayoritas, 81.78% tetap dipegang oleh Heineken International BV.

Heineken ini memang serius banget membangun MLBI. Setelah sempat diambil alih oleh pihak lain, pada akhirnya perusahaan ini kembali ke tangan Heineken. Hingga saat ini jajaran direksi dan komisarisnya sebagian besar berasal dari perwakilan Heineken Group.

Produk MLBI

merek saham MLBI
Sumber : website MLBI

Apa aja sih yang dijual oleh perusahaan? Dibanding DLTA, mereka punya banyak jenis produk yang ditawarkan.

Nama merekKeterangan
Bir BintangBir andalan MLBI
HeinekenBir premium kelas international
Bintang Radler (Lemon dan Orange)Perpaduan bir Bintang dengan natural citrus juice (alkohol 2%)
Bintang Zero 0%Minuman non alkohol
Bintang Radler Lemon 0%Minuman karbonasi bebas alkohol dipadukan dengan natural lemon juice
Strongbow (Gold Apple dan Dark Fruits)Merek cider berskala global
Fayrouz (nanas dan pir)Minuman bersoda dengan jus buah dan sparkling water
Green Sands (Lime & Apple, Lime & Grape, Lime & Lychee)Minuman ringan berkarbonasi

Jadi secara umum, mereka punya produk bir, cider (alkohol) dan minuman bersoda (non alkohol).

Pada tahun 2019, produk alkohol menyumbang 88% dari penjualan, Sementara 12% berasal dari penjualan non alkohol dan terus bertumbuh setiap tahun. It’s a good sign dari perusahaan bahwa mereka tidak hanya mau bergantung pada 1 sumber pendapatan. Meskipun perlu waktu panjang untuk memasarkan dan mendapat market share di pasar non-alkohol.

Anak usaha perusahaan

Secara management, saya bilang MLBI punya management yang rapi dan bagus. Mereka mendirikan 2 anak usaha untuk membagi beberapa pekerjaan.

MLBI berfokus untuk memproduksi minuman beralkohol, mempunyai 2 anak usaha, yaitu:

  1. PT Multi Bintang Niaga, untuk mengatur distribusi dan memasarkan produk mereka.
  2. PT Tirta Prima Indonesia, untuk memproduksi minuman non-alkohol.

Laba rugi MLBI

Setiap tahun perusahaan konsisten meningkatkan penjualannya sebesar 4%-5% per tahun. Pertumbuhan penjualan memang tidak terlalu impresif, kemungkinan karena perusahaan sudah memegang market share terbesar. Dengan total penjualan sebesar 3.7T (2019), MLBI menjadi market leader di bidang minuman bir.

Kalau sudah market leader memang sulit berkembang pesat kecuali ada market baru yang dibuka.

Untuk Q3 2020, perusahaan baru mencatatkan penjualan sebesar 1.29T, turun 47% dari Q3 2019. Tidak usah bingung dengan penurunan ini. Semua memang terdampak pandemi, termasuk MLBI.

Sama seperti DLTA, perusahaan bir memang punya margin tebal jadi sangat profitable. Dengan COGS rata-rata di 38% maka gross profit perusahaan ada di sekitar 62%. Jika sudah dipotong dengan biaya dan pajak, maka net income perusahaan menjadi 30%-34%.

Hanya untuk tahun 2020 tidaklah demikian. per Q3 2020, gross profit yang didapat “hanya” 45% dengan net income margin “hanya” 11%. Not bad, setidaknya masih profit bukan.

Balance sheet

Balance sheet MLBI mungkin bukan tergolong yang sehat-sehat banget, tapi aman lha menurut saya pribadi. Coba kita bahas yang menarik ya.

Asset dan equity nya selalu bertumbuh setiap tahun, tentu hal yang baik. Sayangnya untuk saat ini sebagian besar asset berasal dari liabilities dari pada equity nya.

1. Cash

I don’t know memang MLBI terlalu pede atau apa sampai tidak menyisakan banyak cash dalam assetnya. Dengan liabilities yang banyak, tapi cash nya cukup minim.

Cash (2019) hanya 78M berbanding liabilitas jangka pendek yang sebesar 1.5T. Saat operasional tidak berjalan normal, perusahaan bisa mengalami masalah likuiditas.

Terbukti seperti tahun 2020, perusahaan perlu mencairkan pinjaman bank sekitar 350M untuk menjaga operasional usahanya.

2. Piutang usaha

Piutang usaha perusahaan bertumbuh 18%/tahun, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penjualannya yang 4%-5%/tahun. Jika di breakdown, bagian piutang yang sudah lewat jatuh tempo juga selalu naik setiap tahun.

Apakah akan semakin buruk di tahun 2020?

3. Fixed asset

Setiap tahun perusahaan pasti selalu menyisihkan budget untuk capex sekitar 300-200M. Artinya, selalu ada pemeliharaan atau pembaharuan untuk aset tetap perusahaan.

Terlebih dari yang saya baca, perusahaan berkomitmen menggunakan energi terbarukan dalam proses produksinya. Salah satunya dengan fasilitas pembangkit listrik biomassa. Sudah berjalan di pabrik Sampang Agung, dan sedang dalam proses pembangunan di pabrik Tangerang.

4. Liabilitas jangka pendek

Liabilitas MLBI sebagian besar berasal dari akun ini. Karena untuk liabilitas jangka panjang, tidak terdapat banyak transaksi.

Karena liabilitas jangka pendeknya yang tinggi, jadi current ratio menjadi kecil sekitar 0.73x. Artinya, warning untuk likuiditas perusahaan dalam jangka pendek.

a. Debt

Debt perusahaan berasal dari 2 sumber, yaitu utang ke bank dan utang ke pihak berelasi, Heineken Asia Pacific. Keduanya sama-sama bayar bunga, tapi saya merasa lebih aman utang ke pihak berelasi.

Setidaknya, kalau perusahaan harus macet bayar utang atau bunga, Heineken tidak akan mempailitkan perusahaan 1 grupnya.

Akhir tahun 2019, MLBI memiliki utang ke pihak berelasi 300M dan ke bank 50M. Sepanjang tahun 2020, MLBI mencairkan pinjamannya dari bank sebesar 350M lagi.

Perusahaan memang sudah standby plafon kredit di beberapa bank, jadi dipakai jika dibutuhkan. Makanya mungkin saya bilang mereka pede tidak simpan banyak cash.

b. Accrued expense and other

Untuk MLBI, akun ini justru pemegang utang terbesar. Mencapai sekitar 30%-40% dari total liabilitas, akun ini berisi iklan dan promosi, cukai, transport, pembelian asset yang belum dibayar hingga jasa teknik dan royalti.

Tidak berbunga memang, tapi ini biaya reguler yang harus dibayarkan perusahaan setiap tahun jadi ya tetap harus menjaga kemampuan untuk membayarnya. Di lain pihak, ini justru tanda kepercayaan vendor yang memberikan utang kepada perusahaan.

Dividen saham MLBI

Saya menilai saham ini tipikal slow grower. Selain perusahaan sudah besar, pasar bir di Indonesia juga memang tidak meningkat drastis setiap tahun. Jika tidak terlalu berharap dari pertumbuhan perusahaan, maka biasanya perusahaan memberikan dividen cukup tinggi.

Biasanya perusahaan membagi semua net income mereka menjadi dividen untuk pemegang saham mereka (DPR = 100%). Sayang di tahun 2020, mereka tidak bisa bagi dividen karena perusahaan terdampak pandemi, operasional menjadi lebih ketat.

Meski demikian, dividend yield MLBI tidak terlalu tinggi juga, hanya sekitar 4%-5% dari harga pada tahun pembagian. Itu karena harga sahamnya sudah sangat premium.

Valuasi saham MLBI

Harga saham MLBI memang sudah luar biasa premium. Rata-rata PER 5 tahun terakhirnya sekitar 28x, dan PBV nya sekitar di 34x. Untuk kondisi normal, saham ini jelas bukan favorit bagi saya.

Selama 9 tahun terakhir, harganya naik 21%/tahun dari 2,700 menjadi 15,500/saham. Sementara di kurun waktu yang sama, EPS nya naik 12%/tahun dari 210 menjadi 572.

Namun ada kesempatan di tahun ini untuk beli saham MLBI dengan harga yang didiskon. Per tanggal 28/02 harganya berada di Rp 8,950 (alias turun 42% dari 2019). Dan PBV saat ini adalah 14x.

Kesimpulan

Perusahaan bagus dengan management yang baik. Bahkan laporan mereka menjelaskan secara terbuka kondisi perusahaan, tantangan dan strategi yang mereka miliki. Kita bisa belajar banyak dari laporan yang disajikan. Membuktikan bahwa management menjelaskan dengan baik kepada shareholders sebagai bagian dari pemilik, bukan sekedar pemegang lembaran saham.

Menggunakan anomali yang terjadi saat ini untuk menunggu kinerja perusahaan kembali normal. Jika tahun 2020 dengan operasional tidak lancar saja harga saham 8,950 lalu bagaimana jika operasional sudah kembali normal?

Tapi akankah kembali ke PER 28x dan PBV 34x? Saya tidak terlalu yakin.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Review saham DLTA, PT Delta Djakarta.

Review Saham : DLTA, Produsen Bir Milik Pemda DKI

Kalau bicara soal saham bir, sepertinya hanya ada 2 besar emiten di BEI. Mereka adalah MLBI (Multi Bintang) dan DLTA (Delta Djakarta). Lalu setelah screening sedikit, ternyata lebih menarik DLTA.

Yuk mari dibahas lebih lanjut.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Kenalan dengan saham DLTA

PT Delta Djakarta sudah berdiri sejak 1932, berarti sebelum Indonesia merdeka. Hingga tahun 1984, DLTA mencatatkan sahamnya dalam BEI (dulunya BEJ).

Pemegang saham DLTA adalah sebagai berikut:

Sumber : Laporan Tahunan Perusahaan

San Miguel Malaysia adalah pemegang saham terbesar dengan 58.33% merupakan anak usaha dari San Miguel Corporation asal Filipina. Mereka sudah memiliki saham DLTA sejak tahun 1990. Bahkan jajaran direksi dan komisarisnya sebagian berasal dari perwakilan San Miguel Group.

Sementara Pemda DKI Jakarta memegang 26.25% kepemilikan dari perusahaan. Sisanya 15.42% dipegang oleh publik.

Jadi, 84.58% (mayoritas) dipegang oleh 2 institusi yang tidak akan mudah melepaskan kepemilikian saham hanya untuk profit taking. Jika mayoritas kepemilikan dipegang oleh publik, ada kemungkinan harga saham akan sangat berfluktuasi.

Produk DLTA

produk saham DLTA
Nama ProdukKeterangan
Anker BirProduk unggulan perusahaan sejak 1932
Anker StoutBir hitam
Anker LycheeBir rendah alkohol rasa leci
CarlsbergDiproduksi di bawah lisensi Carlsberg, salah satu merek bir terkenal di dunia
San Miguel Pale PilsenMerek bir tertua di Asia Tenggara, diproduksi di bawah lisensi San Miguel
San Mig LightBir kalori rendah
San Miguel Cerveza NegraBir hitam kental. Bisa diekspor ke Thailand dan Vietnam.
Kuda PutihBir ekonomis di Indonesia
BataviaUntuk ekspor ke Taiwan

Kompetitornya DLTA siapa? Jelas Multi Bintang Indonesia (MLBI) yang punya produk Bir Bintang, Heineken hingga Green Sands. Juga ada Bali Hai Brewery Indonesia dengan produknya, Bali Hai. Mereka pemegang sebagian besar market share di Indonesia.

Untungnya pemain di industri bir Indonesia hanya sedikit. Dan DLTA termasuk produsen yang sudah lama berdiri dan punya nama di pasar. Butuh usaha ekstra untuk pemain baru masuk ke pasar bir Indonesia.

Kinerja DLTA

1. Laba rugi

Mulai dari Sales, penjualan perusahaan memang bukan tipe yang konsisten naik. Ada masa penjualan turun karena regulasi pemerintah dan cukai yang naik. Hal ini juga terjadi di penjualan MLBI.

Sales saham DLTA 2008-2019

Kalau dihitung dari 2008-2019, penjualan meningkat dari 674M menjadi 827M (naik 153M dalam 11 tahun, atau CAGR 2%) bukan hal yang impresif. Artinya, perusahaan bir memang tidak bisa berkembang signifikan dari tahun ke tahun. Mereka tipikal yang slow growth.

Tapi coba kita cek gross profit-nya.

Kita ambil data 3 tahun terakhir saja ya. Karena kalau makin panjang, gambarnya makin kecil dan ga kelihatan.

Asli, COGS produsen bir itu cukup minim. Gross profit nya bisa capai sekitar 70%, which is profitable.

Jadi kalaupun sales mereka stagnan atau slow growth, mereka tetap profit tahun ke tahun.

Lalu gimana dengan Net Profit?

net profit DLTA
Sumber : Stockbit

Net profit-nya secara konsisten selalu meningkat. Kecuali tahun 2015 adalah tahun pertama dimana regulasi pemerintah melarang penjualan alkohol di minimarket. Jadi ya drop gitu penjualan dan labanya. Tapi mereka recovery di tahun-tahun berikutnya.

Net Income Margin perusahaan pun masih tebal, sekitar 33%-38%/tahun.

Gimana dengan tahun 2020? Tidak usah ditanya lagi. Pasti turun.

Apa yang bisa diharapkan oleh produsen bir jika pandemi masih ada? Restoran, bar, dan sejenisnya mana ada yang bisa buka hingga malam. Jadi mana ada juga yang minum bir. Tujuan wisata juga sepi dari wisatawan. Padahal bir dikonsumsi jika ada liburan atau acara.

Jadi jangan harapkan melihat pertumbuhan di laba rugi perusahaan tahun ini. Their focus should be to survive rather than to grow.

Penjualan mereka 349M (Q3 2020) berbanding 606M (Q3 2019), turun 42.4%.

Net income 74M (Q3 2020) berbanding 221M (Q3 2019), turun 66.5%.

Meskipun turun, namun perusahaan masih profit. Itu adalah hal yang positif. Net income margin berkurang menjadi 20.2% karena beban usaha mereka hanya hampir sama dengan tahun lalu.

Per Q3 2020, ROA dan ROE DLTA berada di 6% dan 7%. Turun jauh dari rata-rata tahun sebelumnya, ROA 22% dan ROE 26%.

Saya pikir ini bisa jadi kesempatan. Nanti akan dibahas di kesimpulan.

Next, kita lihat ke Balance Sheet mereka.

2. Balance Sheet

Garis besarnya, total asset dan total equity mereka selalu konsisten naik selama 10 tahun terakhir dengan CAGR sekitar 8%-9%. Hanya ada beberapa hal yang menarik dari balance sheet DLTA.

Cash

Cash rich memang bagus. Current account jadi besar akan menghasilkan current ratio dan quick ratio yang tinggi. Tapi terlalu banyak juga tidak baik (hanya pendapat pribadi).

Cash DLTA ada 844M di tahun 2019 atau setara 65% dari total aset lancar. Current ratio juga berada di posisi 8x, yang artinya aset lancar 8x lipat lebih besar dari pada kewajiban lancarnya.

Kalau memang tidak direncanakan untuk ekspansi atau lainnya, maka akan lebih berguna juga DLTA buyback saham atau membagi dividen ke shareholders.

Namun di sisi lain, cash rich ini juga keuntungan bagi perusahaan selama masa pandemi. Walaupun perusahaan terdampak parah oleh pandemi ini, namun mereka bisa survive hingga saat ini. Cash perusahaan tidak terganggu, hanya menurun dari 844M (Q4 2019) menjadi 651M (Q3 2020).

Debt

DLTA is debt-free company. Jarang memang menemukan perusahaan yang tidak memiliki hutang berbunga. Untuk apa berhutang kalau cash mereka saja sudah amat banyak.

Tidak ada debt, artinya mengurangi beban bunga pinjaman juga. Sehingga tidak menambah beban perusahaan di masa sepi penjualan.

Inventory

Bagi yang menghitung days to sell inventory DLTA mungkin hasilnya akan jelek. Sepanjang tahun 2019, days inventory perusahaan cukup panjang yaitu 323 hari (11 bulan).

Kebayang kan umur bir yang biasanya bertahan 6-9 bulan, apa tidak rusak?

Ternyata ini karena inventory perusahaan juga berisi material packaging dan containers. Nyatanya, yang bahan baku dan barang jadi bir hanya 10% dari total inventory.

Jika hanya menghitung bahan baku hingga barang jadi bir saja, days inventory bisa memendek menjadi sekitar 38 hari (1 bulan).

Piutang usaha

Ini mungkin salah satu kelemahan DLTA. Kebijakan piutang yang melonggar. Selama 3 tahun terakhir, A/R perusahaan meningkat 35% padahal penjualan hanya naik 6% di periode yang sama.

A/R >120 hari pun menumpuk dari tahun ke tahun menjadi 21M dari total A/R 216M (gross) pada akhir tahun 2019.

3. Cash flow

Cash flow operasional DLTA cukup simpel. Uang yang diterima hampir 50% dibayarkan untuk cukai dan pajak, sisanya untuk supplier dan karyawan. Setiap tahun cash flow operasional perusahaan selalu positif.

Investing cash flow setiap tahun hanya terpakai sekitar 10-20M untuk perolehan aset tetap, kebanyakan untuk mesin dan equipment.

Sementara financing cash flow yang cukup besar setiap tahun, dipakai untuk membayar dividen.

Dividen Saham DLTA

Jika dilihat 5 tahun terakhir, cash in DLTA yang berasal dari net income sebagian besar dipakai untuk pembagian dividen, menambah porsi cash dan sedikit capex di aset tetap.

Untuk yang cari saham dividen, DLTA boleh jadi salah satu alternatif nih. DPR mereka setiap tahun selalu >50% dari net income.

Kita coba hitung. Jika menggunakan dividen tahun 2020, senilai Rp 390/lembar. Dan harga saham per 03/02/2021 Rp 3.800. Maka dividend yield sebesar 10.26%. Lumayan untuk harga saat ini.

Untuk tahun buku 2020, mungkin perusahaan akan mengurangi nilai dividen karena net income pun berkurang. Tapi bisa disimpan untuk beberapa tahun ke depan setelah pandemi berakhir dan operasional sudah pulih kembali.

Valuasi saham DLTA

PER 3Y rata-rata ada di 15.79. Kalau pakai EPS tahun 2019, yakni Rp 397, maka harga sahamnya sekitar Rp 6.200. Sementara sekarang ada di harga Rp 3.800 (03/02/2021).

PBV 3Y rata-rata ada di 3.23x. Dengan BV tahun 2019, di Rp 1.500, maka estimasi harga saham di Rp 4.800.

Jika menggunakan EPS dan BV tahun 2020, maka kita akan melihat DLTA kemahalan. Kita tidak bisa mengukur kinerja mereka tahun 2020 karena pandemi berada di luar kontrol management.

Ada potensi naik, tapi berapa valuasi pasti dan MOS nya saya kembali ke pribadi masing-masing dalam menghitungnya.

Kesimpulan

Perusahaan bagus, management bagus. Margin tinggi membuat DLTA perusahaan yang profitable. Bukan hanya DLTA, sepertinya semua perusahaan bir punya margin yang tebal.

Tidak terlalu banyak saingan dalam industri bir. Top 3 hanya MLBI, DLTA dan Bali Hai. Tapi pasar juga tidak terlalu berkembang. Indonesia bukan negara yang mengkonsumsi bir secara reguler.

Kecuali wisata Indonesia berkembang sehingga mengundang banyak turis datang dan tempat wisata semakin banyak. Industri bir memang berbanding lurus dengan pariwisata.

Beban berat muncul jika melihat cukai minuman alkohol. Hampir sama seperti rokok, pemerintah selalu menaikkan cukai alkohol. Belum lagi ada rencana RUU larangan minuman alkohol (belum diputuskan memang). Ini adalah tantangan yang harus dihadapi industri bir.

Tapi kalau mau membeli kepemilikan saham DLTA, lebih baik di saat harga masih terpuruk.

Yang pasti, operasional perusahaan baru bisa pulih setelah pandemi covid berlalu. Jadi tidak bisa mengharapkan pergerakan yang cepat dari saham ini.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Analisa ADES, MTDL atau PWON.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Analisa Saham: MTDL, Metrodata Electronics Q3 2020

Jaman modern seperti sekarang ini, tidak jarang banyak yang tertarik dengan emiten elektronik dan teknologi seperti saham MTDL. Bagaimana kinerja mereka?

Seberapa menarik emiten satu ini dan bagaimana prospek ke depannya?

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Latar belakang saham MTDL

PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) itu berdiri sejak 1983 dan baru IPO tahun 1990. MTDL merupakan perusahaan dari grup Ciputra dengan Candra Ciputra sebagai presiden komisaris dari perusahaan. Terlihat dari pemegang sahamnya seperti di bawah.

MTDL bergerak di bidang teknologi dengan membagi menjadi 3 bidang usaha, yaitu:

  1. DISTRIBUSI = perdagangan software, hardware, dan perlengkapannya.
  2. SOLUSI = jasa maintenance produk dan sistem, sewa software dan hardware, perdagangan server.
  3. KONSULTASI = konsultasi, implementasi dan training.

Seperti tipikal perusahaan grup seperti Ciputra, setiap bidang usaha selalu mendirikan entitas anak yang berfokus pada 1 bidang saja.

Perusahaan tidak memproduksi produk, melainkan menjual-belikan produk dari merek-merek komputer terkemuka. Ada sekitar 204 merek produk yang mereka jual, seperti HP, Asus, Lenovo dan lainnya.

Laba rugi MTDL

Pendapatan MTDL
Sumber: Stockbit

Dilihat dari history, perusahaan selalu konsisten meningkatkan penjualannya setiap tahun sekitar 12%-14%. Per Q3 2020, perusahaan telah membukukan pendapatan sebesar 10T (sama dengan Q3 2019), alias no growth. Berarti pandemi covid juga turut berdampak terhadap kinerja perusahaan.

Untuk tahun 2021, perusahaan menargetkan penjualan mereka akan naik 8%.

Laba bersih MTDL
Sumber : Stockbit

Sementara untuk laba bersih, terjadi peningkatan sekitar 14%-17% setiap tahun. Untuk Q3 2020, perusahaan membukukan laba bersih 268M (naik 3% dari Q3 2020 sebesar 259M).

Dan tahun 2021, MTDL menargetkan pertumbuhan laba bersih sebesar 10%.

Penjualan MTDL
Sumber : Annual Report 2019

Hingga saat ini pendapatan terbesar didapat dengan penjualan hardware sebesar 79% dari total pendapatan. Sementara yang paling profitable justru dari jasa dan pendapatan leasing, walaupun proporsinya tidak sampai 10% dari total pendapatan.

Margin laba bersih (Net Profit Margin) perusahaan memang kecil, hanya sekitar 2%, karena mayoritas bisnis perusahaan adalah perdagangan. Jangan dibandingkan dengan perusahaan yang manufaktur.

Meskipun demikian, kinerja management terhadap pemegang saham cenderung baik. Dilihat dari ROE perusahaan yang stabil di kisaran 16%-22%.

Balance sheet MTDL

Apakah perusahaan sehat? Yes.

Dengan current ratio stabil di posisi 2x, artinya secara likuiditas jangka pendek, perusahaan bisa survive.

Debt (hutang berbunga) perusahaan juga sangat kecil, hanya sekitar 1% dari ekuitas mereka. Besarnya liabilitas mereka hanya karena hutang usaha yang tidak perlu bayar bunga.

Asset dan ekuitas yang terus bertumbuh, dan rajin membagikan dividen setiap tahun ke pemegang saham.

Cash flow perusahaan dari operasional juga mayoritas positif, walaupun tidak selalu meningkat.

Dividen

MTDL memang rajin bagi dividen setiap tahun, tapi mereka bukan emiten yang membaginya dengan jumlah besar ya.

Dividend payout ratio mereka hanya sekitar 15%-22%. Artinya jika EPS mereka Rp 145/lembar, mereka hanya akan bagi dividen sebesar Rp 33/lembar. Dengan harga saai ini di Rp 1.630 (09/01/2021), maka dividen yieldnya hanya 2% saja.

Investor yang pegang saham MTDL jelas bukan mengharapkan dividen sebagai bagian dari keuntungan. Yang mereka targetkan adalah kenaikan harga saham tersebut untuk mendapat capital gain.

Gimana cara meningkatkan harga saham? Kalau kinerja perusahaan juga meningkat. Itu sebabnya perusahaan menahan sebagian besar laba bersih (80%) untuk dipakai mengembangkan perusahaan.

Valuasi saham MTDL

valuasi saham MTDL
Sumber : Stockbit

MTDL memang perusahaan bagus. Namun untuk harga saham, saya tidak bisa bilang it’s a good deal to buy. PER nya naik drastis sejak tahun 2019 pernah mencapai 14x dan sekarang ada di PE 10.96x, padahal rata-rata 5 tahun terakhir, perusahaan berada di PE 8.21x.

Investor membayar lebih mahal karena perusahaannya stabil bertumbuh dan bertahan di masa sulit sepanjang pandemi covid. Jika kondisi kembali normal, perusahaan diharapkan akan terus bertumbuh.

Growth EPS perusahaan sekitar 13% (CAGR 9 tahun), sementara harga saham mereka sudah melaju lebih dulu dengan growth 38% (CAGR 9 tahun).

Sentimen tahun 2021

Untuk MTDL, management sendiri sudah memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 8% dan laba bersih sebesar 10%. Dapatkah terjadi?

Kemungkinan besar, bisa. Mengingat sejak pandemi covid, semakin banyak orang yang memerlukan alat teknologi seperti komputer, laptop untuk bekerja di rumah.

Juga dengan berkembangnya teknologi digital di Indonesia, jelas menjadi potensi yang baik bagi perusahaan.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya. Website MTDL bisa kita cek di sini.

Baca juga : Analisa PWON atau BJTM vs BJBR.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Analisa Saham: ADES, Si Produsen AMDK Merek Nestle

Apa yang terlintas di pikiran saat ada kode saham ADES? Kita pasti langsung berpikir ini perusahaan produsen air minum dalam kemasan (AMDK) merek Ades.

Nyatanya, salah!

Penasaran dengan kinerja ADES? Coba kita bahas secara keseluruhan. Posting ini menggunakan data yang diambil pada tanggal 12 Desember 2020 ya.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Latar belakang saham ADES

PT Akasha Wira International, Tbk, sang pemilik kode saham ADES sudah berdiri sejak tahun 1985. Bergerak di sektor consumer goods, berfokus di bidang AMDK. Pertama kali IPO sejak tahun 1994.

Dengan market capital sebesar sebesar 800 miliar, saham ini memang termasuk third liner. Masa’ setelah 26 tahun IPO, perusahaan masih di third liner? Namun apakah artinya perusahaannya jelek? Belum tentu.

Dan untuk yang bilang ADES itu adalah produsen merek Ades, silakan cek daftar produk dari perusahaan.

Industri air kemasanAdes + Vica (mulai 1986)
Nestle Pure Life (mulai 2004)
Vica Royal sebagai pengganti merek Ades (sejak 2007), karena license agreement dengan Coca Cola untuk merek Ades berakhir
Kontrak tolling dengan Coca Cola untuk produksi Ades
KosmetikMakarizo sejak 2010
Susu kedelaiPureal sejak 2014
Distribusi kosmetikmerek Wella dan Clairol

Jadi ADES itu memproduksi AMDK merek Nestle Pure Life dan Vica. Sudah tidak memiliki lisensi merek Ades sejak 2007. Ades sepenuhnya milik Coca Cola dan perusahaan hingga saat ini memiliki perjanjian tolling saja.

Dan ternyata perusahaan bukan hanya produsen air minum, tapi juga kosmetik dan susu kedelai. Baru tahu? Saya juga. Setelah membaca laporan tahunan perusahaan.

Pemegang Saham

Untuk saat ini ADES dikuasai Water Partner Bottling SA (Swiss) sebesar 91.52% sementara publik sebesar 8.48%. WPB dulunya adalah joint venture Nestle dan anak perusahaan Coca Cola. Tahun 2008, WPB diakuisisi oleh Sofos Pte Ltd (SIN). Maka inilah turnaround point bagi perusahaan.

Laba rugi ADES

Dilihat dari tahun 2008, perusahaan mengalami peningkatan sales yang signifikan. Namun di 3 tahun terakhir, kelihatannya agak stagnan.

Sales saham ADES
Sumber : Stockbit

Apalagi kalau melihat net income perusahaan. Mereka bahkan sempat merugi tahun 2008.

Sumber : Stockbit

Beruntung setelah tahun 2008, perusahaan mengalami perbaikan. Ini terjadi karena pada tahun tersebut, perusahaan diambil alih oleh manajemen yang baru. Sebelum 2008, perusahaan mengalami rugi bertahun-tahun, mengindikasikan manajemen yang lama cukup buruk.

Anyway, kalau kamu menyadarinya, dalam 3 tahun terakhir sales perusahaan yang stagnan menghasilkan profit yang meningkat. Kok bisa?

Karena efisiensi. Perusahaan mengakali sales yang tidak terlalu bertumbuh dengan mengurangi beban operasional. Alhasil, net income-nya tetap bisa bertumbuh. Namun, ini bukan solusi untuk jangka panjang. Perusahaan tidak akan bisa terus mengurangi beban operasionalnya. In the long run, perusahaan tetap harus meningkatkan sales.

Info dari PubEx 2020, kalau rencananya perusahaan mau melakukan inovasi terbaru dengan memproduksi sanitizer dan disinfektan. Hasilnya, perlu kita lihat dalam 1-2 tahun ke depan.

Per Q3 2020, net income perusahaan juga masih meningkat, 74M berbanding 47M di Q3 2019. Impresif sih untuk masa pandemi seperti sekarang.

ROE mereka juga stabil di 12%-17%. Jadi secara GCG, manajemen bekerja cukup baik bagi pemegang sahamnya.

Balance sheet ADES

Posisi aset lancar perusahaan yang didominasi dengan Kas, Piutang dan Persediaan terus meningkat dibandingkan dengan liabilitas lancar yang semakin mengecil. Tahun 2019, current ratio berada di posisi 2x, which is good.

Total aset dan ekuitas perusahaan juga terus meningkat tahun demi tahun. dengan DER yang terus mengecil. Tahun 2019, perusahaan menutup tahun dengan DER hanya 5%.

Dan saya harus bilang ini sebuah keberuntungan bagi perusahaan. Memulai tahun 2020, perusahaan memiliki debt (hutang berbunga) sebesar 27M, yang mereka lunasi Januari 2020 sebelum pandemi datang.

Maka selama pandemi, perusahaan sudah debt-free dan tidak perlu membayar bunga pinjaman lagi.

No Dividend

Sayangnya, perusahaan belum pernah bagi dividen sejak IPO. Dari IPO sampai 2008, perusahaan rugi. Retained earning-nya sampai minus 543M. Hingga 2019, sisa R/E minus 38M. Jadi selama 11 tahun, manajemen menebus kesalahan manajemen lama sekitar 505M.

Mungkin bisa jadi akan ada dividen setelah saldo laba mereka positif (tapi juga belum pasti juga ya). Ini tergantung para pemegang saham terutama pemegang saham pengendali.

Valuasi saham ADES

Valuasi saham ADES
Sumber : Stockbit

Rata-rata PER ADES selama 5 tahun terakhir = 12.57x.

Per tanggal 12 Desember 2020, PE perusahaan ada di 7.58x (Rp 1.430), yang artinya masih di bawah rata-ratanya. Ada sekitar MOS 65% dari PE 7 ke PE 12. Jika ADES bisa mencapai PE rata-ratanya, maka harganya akan mencapai Rp 2.000. Dengan asumsi EPS Q3 2020 {TTM) = Rp 188 ya.

Nanti bisa lihat lagi kinerjanya di tutup buku 2020 yang akan rilis sekitar Maret/April 2021.

Jadi beli atau tidak? Tergantung diri sendiri. Kan kamu juga harus do your own research baru bisa meyakinkan diri sendiri mengambil keputusan untuk beli/tidak dan akan jual kapan. It’s not my decision.

Kesimpulan

ADES ini memang bukan saham untuk semua orang. Market cap yang kecil mungkin bisa jadi sentimen negatif untuk orang atau justru bisa jadi potensi menemukan barang bagus saat yang lain belum sadar. Institusi besar jelas tidak melirik emiten kecil.

Saya hanya tertarik setelah melihat grafik harga sahamnya yang jomplang dengan pergerakan EPS nya. Makanya terlihat saham ini masih murah. Apalagi jika profit konsisten meningkat.

Dan kalau mencari dividen, perusahaan ini jelas tidak akan masuk dalam pilihan kamu.

Just in case kamu penasaran, market share ADMK merek Nestle masih sangat kecil. Tidak sampai 1% dari market yang ada. Padahal saya lebih suka beli air mineral merek ini, ternyata jaringannya belum luas. Yang terbesar jelas merek Aqua.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Analisa PWON atau BJTM vs BJBR.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Kenapa Memilih Investasi Reksa Dana?

Banyak orang bertanya kalau bisa investasi langsung, kenapa harus investasi di reksa dana melalui Manager Investasi (MI)?

Melalui post ini, saya mau coba menjelaskan pendapat saya masih berinvestasi dalam reksa dana dari pada investasi instrumen secara langsung.

Bagi yang belum mengenal reksa dana, bisa coba baca dulu mengenai pengenalan reksa dana.

Kenapa pakai reksa dana pasar uang

Reksa dana pasar uang (RDPU) adalah reksa dana yang berinvestasi pada deposito dan surat utang jangka pendek (jatuh tempo <1 tahun).

Lalu kepada mau pakai RDPU? Sementara kita bisa depositokan uang kita sendiri di bank.

Bagi saya, RDPU lebih menguntungkan dari pada penempatan deposito langsung di bank. Kamu bisa cek return 1 tahun terakhir dari deposito bank dan RDPU yang ada di aplikasi reksa dana.

Kelebihan RDPU

Investor ritel bisa deposito di bank? Bisa.

Tapi investor ritel tidak punya jaringan/network yang seluas MI untuk mencari bank yang menawarkan suku bunga tertinggi.

Bahkan dalam bank yang sama, suku bunga ritel dengan penempatan jutaan pasti berbeda dengan suku bunga untuk MI yang mengelola dana miliaran rupiah.

Ritel juga jarang ada yang mengerti beli obligasi jangka pendek.

Dengan alasan di atas, saya sudah tidak melakukan penempatan deposito lagi di bank. Taruh saja di RDPU dan biarkan profesional yang mencarikan penawaran terbaik.

RDPU biasa dipakai untuk mengumpulkan dana jangka pendek. Kalau ada rencana yang dipakai dananya dalam tempo 1 tahun, atau untuk menyimpan dana darurat (emergency fund).

Saya pernah bahas mengenai RDPU vs Deposito.

Kenapa pakai reksa dana obligasi

RD kedua adalah reksa dana obligasi (RDO) atau reksa dana pendapatan tetap (RDPT). Reksa dana yang menempatkan dananya dalam instrumen obligasi (surat utang), baik obligasi pemerintah ataupun perusahaan.

Return yang didapat akan lebih tinggi dari pada RDPU dengan kita memberi waktu kepada MI untuk mengelola lebih lama. Kemungkinan dalam jangka pendek, kinerja RDPT belum terlalu berkembang, makanya kamu akan salah pilih kalau hanya melihat performa MI dalam 1 tahun saja.

Kenapa pakai RDO? Karena saya tidak mengerti obligasi.

Kalau buat sebagian besar orang mengenal deposito, maka obligasi termasuk instrumen yang jarang orang kenal. Penempatan minimum saja tergolong mahal, antara 50 juta hingga 100 juta.

Maka sebagai ritel, saya tidak terlalu ambil pusing dan biarkan profesional yang mengelolanya.

RDPT cocok untuk kamu yang punya rencana akan mengumpulkan dana dan memakai dana tersebut dalam waktu 3-5 tahun. Dari pada ditempatkan di instrumen jangka pendek, rendah risiko. Lebih baik ambil risiko lebih tinggi sebab ada time frame yang lebih panjang.

Time frame lebih panjang akan menurunkan risiko kita dalam instrumen lho.

Saya pernah bahas mengenai obligasi di Obligasi vs RDPT.

Kenapa pakai RD saham

Reksa dana saham (RDS) adalah reksa dana yang paling terkenal sepertinya. MI mengelola portofolio ke instrumen saham (mayoritas). Dan para investor ritel tertarik masuk ke sana dengan imbal hasil yang lebih tinggi daripada RDPU ataupun RDPT.

Kita pilih investasi di RDS kalau kita:

  • Punya time frame panjang >5 tahun untuk dana tersebut. Jadi jangan bermain api dengan memakai dana 1 tahun atau dana sehari-hari.
  • Tidak punya waktu, tidak punya ketertarikan untuk terjun dalam dunia saham.

Pilih saja mau yang dikelola MI secara aktif dengan harapan capaian return lebih tinggi dari indeks saham dengan membayar management fee lebih besar, atau secara pasif (RD Indeks) yang pergerakannya hanya mengikuti indeks saham dengan membayar management fee lebih kecil.

Keduanya punya keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Maka dimana kita bisa beli reksa dana?

Ada banyak cara membelinya, baik langsung ke MI atau ke bank atau ke marketplace reksa dana. Saya memilih opsi yang terakhir.

Kamu bisa coba di:

  1. Bibit – saya rekomen ini untuk pemula karena langkah-langkahnya mudah dimengerti.
  2. Bareksa – kalau ingin lebih banyak pilihan.
  3. Ajaib – platform yang bisa reksa dana dan saham sekaligus. 1 platform untuk 2 instrumen.
  4. Dan masih ada lagi yang lain, kamu bisa searching.

Kalau kamu bingung mau pilih platform mana, saya pernah review mengenai Bibit dan Bareksa.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Memilih Reksa Dana Saham atau Saham?

Bagi yang masih bingung memilih instrumen investasinya, baik reksa dana saham atau saham, coba baca dulu post ini. Semoga bisa memutuskan begitu selesai membaca.

Sebelumnya kita harus mengerti dulu kalau yang namanya reksa dana saham (RDS) itu berbeda dengan saham. Coba kita break down apa saja perbedaannya dulu.

Perbedaan reksa dana saham dan saham

1. Definisi

Saham itu kita beli kepemilikan atas suatu perusahaan secara langsung. Yang sudah go public atau listing di BEI tentunya. Nama kita tercatat sebagai pemilik dari perusahaan, meskipun hanya 0.00000…%.

Sementara kalau di Reksa dana saham (RDS), kita patungan dengan investor lain untuk membeli perusahaan tersebut melalui Manager Investasi (MI). Jadi kita membeli perusahaan secara tidak langsung.

Dari definisi yang sudah berbeda, maka akan mempengaruhi faktor yang lain.

2. Pengambil keputusan

Karena saham, kita ambil keputusan sendiri. Tanggung jawab lebih besar, jadi kita harus belajar lebih baik.

Sementara RDS, kita mempercayakan uang kita dikelola oleh MI. Jadi MI-lah nanti yang akan mengambil keputusan dalam mengelola portofolio. Kita hanya perlu mengevaluasi kinerja MI tersebut apakah sudah bekerja baik atau tidak.

Patokannya dengan apa? Bandingkan dengan kinerja benchmark. Kalau saham, biasa patokannya dengan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan).

3. Modal

Kedua instrumen sebenarnya tidak lagi memerlukan modal besar untuk memulai. Kita hanya perlu minimal Rp 100.000 untuk membeli produk RDS. Bahkan jaman sekarang sudah ada produk yang minimal Rp 10.000 (walaupun belum banyak).

Sementara untuk saham, kita perlu minimal harga 1 lot saham perusahaan yang mau kita beli. (1 lot = 100 lembar).

Misal, beli saham SIDO di Rp 800/lembar, kita perlu minimal Rp 80.000 untuk membeli 1 lot saham tersebut. Atau saham BBRI di Rp 4.300/lembar, maka siapkan Rp 430.000/lot. Jadi modal minimalnya tergantung kita mau beli saham apa.

4. Keuntungan

Kita bisa dapat keuntungan dari saham melalui capital gain (jual lebih tinggi daripada harga beli) atau dari dividen. Begitu keuntungan terealisasi, dana akan ditransfer ke rekening dana nasabah (RDN) H+2. Tentunya setelah dipotong pajak.

Transaksi penjualan saham dikenai pajak 0.1% final dan dividen kena pajak 10% final.

Sementara RDS akan menerima capital gain dan dividen yang sama namun tidak secara langsung dalam bentuk uang. Keuntungan tersebut akan dihitung oleh MI dan menambah nilai NAB (Nilai Aktiva Bersih) unit yang kita miliki, alias harga unit produk tersebut jadi naik.

Karena sudah dipotong pajak saat dikelola MI, maka kita tidak dikenai pajak lagi saat mencairkan/menjual unit RDS kita.

5. Risiko

Keduanya berisiko kok, hanya tipenya saja yang berbeda. Karena saham dikelola sama diri sendiri, kita bertanggung jawab sama risikonya secara langsung. Kalau beli saham yang salah atau di harga yang salah, itu benar-benar risiko kita. Tidak boleh menyalahkan siapa pun.

Sementara RDS dikelola oleh MI. Risiko? Ya tetap ada. Memang semua MI pasti punya kinerja baik? Jadi MI itu susah lho, banyak regulasi yang harus diikuti dan itu membatasi cara kerja mereka. Kalau kita salah milih MI, tidak aneh juga kalau investasi kita tidak berkembang atau malah rugi.

6. Fee reksa dana saham dan saham

Secara fee, memang lebih murah dalam saham. Saham hanya menetapkan fee untuk sekuritas sekitar 0.13%-0.19% per transaksi (jual/beli).

Sementara RDS harus lebih tinggi. Namanya juga kita pakai jasa profesional untuk mengelola investasi kita, jadi harus bayar fee dong. Kan mereka juga harus digaji. Kisaran 2%-4% per tahun, tergantung MI. Bisa cek di fund fact sheet mereka.

Bagi yang mau tahu cara baca fund fact sheet, bisa cek post Prospektus dan Fund Fact Sheet Reksa Dana.

perbedaan reksa dana saham dan saham

Jadi reksa dana saham atau saham?

Jawabannya tergantung. Kamu lebih cocok yang mana? Kamu lebih cocok mengendarai sendiri atau disetir oleh MI. Dan tidak ada jawaban yang salah.

Kalau opini saya, bagi yang baru mulai mengenal investasi, coba dulu dengan RDS akan lebih baik. Setidaknya we can feel the ride dulu di dunia saham dengan dikendarai oleh MI. Percaya dengan yang lebih pengalaman dan profesional.

RDS juga cocok untuk kamu yang berpikir tidak punya cukup waktu dan kemampuan untuk mengelola investasi sendiri.

Tapi kalau kamu punya keinginan lebih untuk belajar lebih dalam, ingin punya pengalaman mengelola investasi sendiri, bisa meluangkan waktu sedikit untuk research saham, atau punya ketertarikan di bidang saham, ya kenapa tidak mencoba saham ya kan.

Saya memilih saham ketimbang reksa dana saham

Kalau saya? Saya memilih saham. Dan ini beberapa yang jadi pertimbangan kenapa demikian.

1. Lebih punya kebebasan

Sebagai investor saham, kita punya kebebasan membeli saham yang kita sukai. Jangan harapkan hal tersebut dalam RDS. Portofolio RDS sudah menjadi wewenang dari MI.

Pernah lihat fund fact sheet sudah produk RDS? Isinya daftar top 5 saham terbesar yang dipegang MI itu. Dan belum tentu kita sependapat.

Lebih dari ini, MI sendiri bekerja dengan limitasi regulasi yang ada. Pernah dengar beberapa rules yang mereka harus jalani?

  • Tidak boleh investasikan >10% dari dana kelolaan ke 1 perusahaan saja.
  • Tidak boleh jadi pemegang saham >5% dari suatu perusahaan.
  • Biasanya ditekan untuk membeli saham-saham bluechip saja. Kalau beli perusahaan kecil dan gagal, tekanannya lebih besar
  • Dan lainnya bisa dicek dalam POJK 33/POJK.04/2017.

Jadi kalau melihat keterbatasan yang terjadi di MI, bisa disimpulkan kalau investor ritel punya privilege lebih dibandingkan MI.

2. Punya ketertarikan

Kalau tidak menarik untuk kita, lebih baik serahkan saja tugas itu ke orang yang lebih profesional. Tapi kalau saya, saya punya ketertarikan lebih di bidang saham, mau belajar lebih dan paham lebih baik.

Mudah? Belum tentu. Seperti yang para ahli bilang, it’s not a rocket science. Tapi kalau bukan dari background keuangan, tetap saja merasakan struggle untuk belajar segalanya dari awal.

3. Reward

Saya tidak bilang keuntungan yang didapat dari saham lebih besar dari pada RDS. Saya juga tidak akan mengatakan kalau investor saham lebih pintar dari pada MI. Tapi ini tentang bagaimana rasanya mendapat keuntungan dari hasil pemikiran sendiri.

Memetik buah dari hasil menanam sendiri rasanya jadi lebih manis ketimbang ditanam oleh orang lain. Tapi sekali lagi, ini sifatnya subjektif. Saya hanya memaparkan opini saja.

Apakah saya meninggalkan RDS?

Tidak juga.

Portofolio saya masih ada sebagian di RDS, tapi tipenya bukan yang secara aktif dikelola oleh MI. Melainkan yang dikelola secara pasif oleh MI, namanya Reksa Dana Indeks.

Mengurangi risiko pengambilan keputusan, saya memilih reksa dana indeks yang kinerjanya hanya mengikuti indeks acuannya. Pekerjaan MI juga jadi lebih mudah daripada RDS aktif.

Kalau mau tahu bedanya, kamu bisa cek di post Perbedaan reksa dana, reksa dana indeks dan ETF.

Demikian pendapat saya tentang RDS dan saham. Semoga bisa membantu kamu dalam memutuskan.

Perlu tanya lebih dalam? Boleh message saya di kolom komentar. Will try my best to help you.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Sharing Story : Menghadapi Telat Bayar di Investree

Sebagai lender P2P Lending, kita pasti ada risiko pinjaman kita telat bayar atau bahkan gagal bayar. Post ini adalah sharing saya menghadapi pendanaan yang telat bayar di Investree.

Disclaimer: Ini hanya sharing pribadi, tidak bermaksud untuk mempromosikan atau menjatuhkan pihak manapun. Keputusan investasi adalah tanggung jawab setiap individu.

Ada beberapa post sebelumnya yang mungkin bisa kamu baca sebelum melanjutkan baca post ini, yaitu:

Jadi, mari kita lanjut tentang gagal bayar di Investree.

Pertama kenal Investree

Investree adalah platform pertama saya kenal P2P Lending. Thanks to Felicia Putri Tjiasaka, karena Channel Youtube nya yang mengenalkan saya pertama kali dengan P2P Lending. Kalau kamu mau nonton, saya ada taruh link Youtube-nya di sini.

Jadi bayangkan seberapa panik kalau kita sebagai first timer, kemudian kena telat bayar dari lending yang kita danai.

Namanya juga P2P lending, telat bayar atau gagal bayar sudah jadi risiko yang perlu diketahui lender. Tapi kenyataannya praktek tidak semudah teori, dan menjalani tidak semudah bicara bukan?

Buat yang lagi mencari solusi atau kuatir tentang gagal bayar pendanaan, ini adalah beberapa poin yang saya share dari kejadian sebelumnya.

1. Telat bayar? Don’t be panic!

pemberitahuan telat bayar Investree

Jadi kalau pendanaan kita mengalami keterlambatan (tidak lunas di tanggal jatuh tempo), maka Investree akan mengirimkan email pemberitahuan di H+1 jatuh tempo.

Jadi kalau mau panik, don’t be. Karena ini baru telat bayar, pokok dan bunga pinjaman kita masih akan diusahakan untuk kembali.

Bagusnya, Investree akan selalu mengirimkan notifikasi seperti ini untuk semua lending yang mengalami keterlambatan pembayaran. Kalau kamu ingin bertanya atau komplain, Investree juga menyediakan media email atau telepon untuk menghubungi CS mereka.

2. Contact Investree

Yes, I know that Investree sudah menginformasikan ke kita mengenai telat bayar borrower. Tapi berhubung saya bukan orang yang sabar menanti, saya ingin tahu sudah sampai mana proses penagihannya, apa alasan keterlambatan, bagaimana solusinya.

Maka saya hubungi CS Investree untuk menanyakan hal tersebut jika saya merasa keterlambatan sudah cukup lama dan tanpa update tambahan dari platform.

Dan saya mengapresiasi penjelasan yang dilakukan oleh pihak Investree. Mereka memberitahukan secara detail mengenai pendanaan tersebut dan usaha yang dilakukan. Seperti contoh di bawah.

penjelasan telat bayar Investree

3. Menunggu hingga akhirnya dibayar

Let Investree do their job professionally, saya hanya bisa menanti hingga pinjaman tersebut dibayarkan.

Sampai hari ini saya menulis post ini (20 November 2020), menurut pengalaman saya bahwa Investree adalah platform yang bisa mengalami telat bayar, tapi saya belum pernah mengalami sampai gagal bayar / default (dan semoga tidak akan pernah terjadi di kemudian hari).

Bunga pinjaman yang kita terima adalah bunga yang dihitung sejak awal pinjaman hingga pembayaran. Jadi lender hanya rugi waktu, tapi tidak mengalami kerugian dari bunga yang diterima.

4. Eliminate the borrower

Mohon maaf sekali, tapi saya tidak akan mendanai borrower tersebut jika pernah telat bayar parah di pendanaan saya sebelumnya.

Kenapa? Karena masih ada opsi borrower lain dengan catatan clean sheet (belum pernah telat bayar).

Mungkin akan lain ceritanya jika semua borrower yang ada sudah punya catatan telat bayar. Tapi saat ini, mungkin belum waktunya.

Dan sepertinya borrower yang sudah telat bayar terlalu lama juga tidak lagi diijinkan untuk mengajukan pinjaman, makanya total pinjaman saat ini = 0.

Kesimpulan

Ya, Investree tidak bisa memberi kita jaminan jika tidak akan mengalami telat bayar. That’s why TKB90 mereka < 100%.

Tapi saya juga bisa melihat usaha yang dilakukan Investree dalam penagihan supaya yang telat bayar tidak menjadi gagal bayar. And I appreciate their effort.

Anyway, kalau kamu tertarik untuk register di Investree, kamu bisa klik link ini. Feel free jika kamu mau mengisikan referral code saya, KD6LV. Terima kasih!

Tapi kalau kamu merasa Investree tidak cocok dengan karakter kamu, tidak masalah. Kamu bisa menemukan investasi lain yang cocok dengan pribadi masing-masing. Banyak jalan menuju Roma, bukan.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

5 Saham LQ45 Yang Masih Murah

Post kali ini kita bahas mengenai saham-saham di LQ45 yang masih murah untuk dibeli dan kemungkinan akan berpotensi memberikan capital gain jika kembali ke posisi sebelum pandemi.

Ini hanya screening awal ya, silakan lanjutkan dengan analisa mendalam, baik teknikal maupun fundamental, sesuai tipe masing-masing.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Indeks LQ45

Sudah pernah dengar LQ45? Bagi yang belum tahu, LQ45 adalah kumpulan 45 saham yang dipilih dari 700 saham beredar di IHSG. Yang masuk dalam LQ45 adalah saham-saham yang likuid dan berkapitalisasi besar.

Indeks ini sendiri akan di-update setiap 6 bulan (Februari dan Agustus).

5 Saham LQ45 yang tergolong masih murah

Murah, dalam hal ini bukan soal nominal harga saham per lembar ya. Jika demikian, maka Rp 1.000/lembar akan lebih mahal dari pada Rp 50/lembar. Padahal tidak begitu dalam menilai saham.

Analoginya, apa kita mau beli HP dengan harga Rp 2 juta (kualitas bagus) atau Rp 50.000 tapi sudah rusak?

Murah yang saya maksud adalah dalam hal PER (Price to Earning Ratio). Jadi sudah dibandingkan dengan Earning perusahaan. Meskipun berpatok pada 1 rasio saja juga bisa misleaded, namun kita tidak bahas itu di post kali ini.

Kali ini kita pakai 1 rasio yang simple dulu, nanti selanjutnya silakan untuk menganalisa lebih mendalam.

Posisi harga LQ45 (YTD)

Saham LQ45 murah
Sumber : Google

Coba kita lihat dulu posisi LQ45 secara keseluruhan year-to-date (YTD). Artinya harga dari 1 Januari 2020 hingga hari ini 06 November 2020.

Di atas terlihat kalau Januari, LQ45 ada di posisi Rp 1.011. Sementara pandemi terjadi, LQ45 juga merasakan dampaknya. Hingga saat ini baru bisa kembali ke Rp 834. Masih turun 17% dari posisi Januari.

Jika kamu termasuk pihak yang percaya IHSG akan rebound untuk kembali ke track semula, maka boleh jadi sekarang saatnya beli. Kira-kira mana aja nih dari LQ45 yang terhitung masih murah?

1. HMSP (HM Sampoerna)

Pilihan pertama dari LQ45 yang masih murah adalah HMSP. Perusahaan rokok satu ini buat saya sudah solid. Hanya karena masalah pandemi yang berdampak pada penjualan rokok sehingga pendapatan dan net income mereka bisa menurun.

Hingga saat ini harga sahamnya sudah turun 31% YTD (dibandingkan awal tahun 2020). Secara PE Standard Deviation, HMSP sekarang diperdagangkan di PE 14.20x dimasa rata-rata di PE 32x.

Jika diharapkan kembali ke PE rata-ratanya, maka masih ada MOS sekitar 56%. Let’s say kalau kita tidak yakin HMSP akan kembali ke PE 32x, namun dengan fundamental yang baik, tidak mungkin juga kinerja harga HMSP malah menurun saat earning-nya naik.

HMSP juga termasuk royal sama shareholders mereka. dengan dividend payout ratio mereka 100% di setiap tahun. Artinya, mereka membagikan semua laba mereka kepada pemegang saham mereka.

Dividend yield yang lumayan, 8.3% untuk harga saat ini di Rp 1.445.

2. TLKM (Telekomunikasi Indonesia)

Tidak ada yang salah dengan kinerja TLKM sepanjang tahun 2020.

Sumber : Stockbit

Net Income TLKM tidak naik atau turun secara drastis, tapi harganya terus menurun hingga mencapai PE 14.85x (rata-rata 5 tahun, PE 20x). Bukankah ini peluang yang bagus?

Hingga saat ini harga TLKM Rp 2.830 (sudah turun 27.62% dari awal tahun 2020 di harga Rp 3.910). Dividend yield juga lumayan 5.4%. Dipegang oleh Pemerintah Indonesia dan punya economic moat yang lebar, adalah beberapa keunggulan bagi TLKM.

3. PWON (Pakuwon Jati)

Dari sektor properti ada PWON yang harganya masih belum kembali ke harga normalnya karena pandemi. Memang untuk kinerja tahun 2020, PWON tidak bisa berbicara banyak dengan mall yang sempat ditutup sementara, hingga properti yang lesu.

Harga saat ini di Rp 422/lembar masih turun 26% dari awal tahun di Rp 570. PWON sekarang setara PE 11x, dimana rata-ratanya di PE 14.42x.

Melihat kondisi pandemi yang membaik di Indonesia, apalagi jika sudah terjadi pemulihan total. Omnibus law yang juga memberi dampak positif bagi emiten satu ini. Sehingga masih ada potensi upside untuk PWON.

Kalau mau baca lebih lengkap mengenai PWON, ada analisanya di Analisa Saham : PWON (PT Pakuwon Jati) per Q2 2020.

4. ITMG / PTBA

Saya tidak bisa memutuskan antara ITMG atau PTBA dari sektor pertambangan batubara. Pasalnya, keduanya berada di sektor yang sama, dengan posisi yang juga hampir mirip.

Keduanya emiten yang royal dalam hal dividen. Kamu bisa baca daftar saham dengan dividen tinggi tahun 2020, dan mereka ada dalam daftar tersebut.

Batubara ini sifatnya siklikal. Jadi kalau sudah turun, akan murah sekali. Tapi kalau naik jika bisa drastis. Semuanya tergantung pada harga acuan batubara.

PTBA diuntungkan karena merupakan perusahaan milik negara Indonesia, namun ITMG juga tidak kalah dengan management nya yang bagus dari Thailand.

PTBA ada di harga Rp 1.990, PE 6.87x (biasanya PE 8.91x). Harganya sudah turun 24% YTD.

Sementara ITMG ada di harga Rp 8.550, PE 7.89x (biasanya PE 10x). Harganya sudah turun 25% YTD.

5. ICBP (Indofood CBP)

Ini emiten yang tetap berlari kencang bahkan selama pandemi dengan Revenue dan Net Income yang tetap naik sepanjang tahun 2020, namun harga sahamnya masih lambat.

Harga sahamnya di Rp 9.875, PE 19.71x (biasanya 26.67x lho). Memang sektor consumer biasanya dihargai lebih premium karena tahan dari kondisi krisis dan terbilang bisa bertahan lama.

Jadi ini peluang atau zonk? Kamu saja yang menentukan ya.

Penutup

Sebenarnya ada lebih dari 5 emiten di LQ45 yang harganya belum kembali ke harga awal tahun, tapi saya pilih 5 saja karena saya pikir nothing’s wrong dengan fundamental perusahaan. Hanya waktunya saja belum kembali ke track.

Oh ya, post ini diterbitkan di bulan November setelah pemilihan presiden US diputuskan. Berita mengenai presiden US bisa jadi katalis pasar baik positif maupun negatif, namun hanya jangka pendek.

Kalau untuk jangka panjang, baiknya cek fundamental saja. Dan beli saat harga masih murah.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Rasio Keuangan Sektor Perbankan

Dalam analisa fundamental suatu perusahaan, biasanya kita pakai beberapa rasio sebagai alat bantu analisa. Dalam sektor perbankan, ada rasio keuangan tambahan yang perlu kita ketahui. Apa saja itu?

6 Rasio keuangan perbankan

1. NPL

NPL (Non Performing Loan) itu menghitung berapa persen kredit bermasalah dari total kredit yang berlangsung.

Sebelumnya kita ketahui dulu kalau ada 5 kategori dalam kredit, yaitu:

NoKategori kreditLama tunggakan
1Lancar0 hari
2Dalam perhatian1-90 hari
3Kurang lancar91-120 hari
4Diragukan121-180 hari
5Macet>180 hari

Nah, ini lho yang menjadi dasar perhitungan NPL. NPL sendiri terbagi jadi 2 jenis, NPL Gross dan NPL Nett.

NPL Gross = (Jumlah kredit kategori 3+4+5) / Total kredit
NPL Nett = Jumlah kredit kategori 5 / Total kredit

Standar yang berlaku :

NPL Gross < 5%
NPL Nett < 2%

Semakin kecil NPL dalam suatu bank, maka akan semakin bagus. Karena kredit bermasalah dinilai kecil untuk menjaga profit yang didapat.

2. CAR

CAR (Capital Adequacy Ratio) adalah rasio kecukupan modal yang berguna untuk menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi bank.

CAR = Modal / ATMR x 100%
  • Modal = Modal Inti (tier 1) + Modal pelengkap (tier 2)
  • ATMR = Aset tertimbang menurut risiko (Risk Weighted Asset / AWR)

Kalau kesulitan menghitung manual, perusahaan akan selalu mencantumkannya dalam Laporan Tahunan mereka.

Standar yang berlaku :

CAR > 8% (standar BI), semakin tinggi semakin baik.

Kalau kamu mau menaikkan standar penilaianmu sendiri, juga boleh. Nyatanya, Bank Buku IV memiliki CAR kisaran 18%-23%.

3. NIM

NIM (Net Interest Margin) menghitung persentase pendapatan bunga dari kredit yang disalurkan oleh bank. Oleh sebab itu, semakin tinggi NIM akan semakin bagus bagi sebuah bank.

NIM = Pendapatan Bunga / Aktiva produktif x 100%

Standarnya :

NIM > 5%

NIM sendiri bisa mengindikasikan selisih bunga kredit yang disalurkan dengan bunga yang dibayar ke nasabah.

4. LDR

LDR (Loan to Deposit Ratio) menghitung berapa loan dibanding dengan deposit nasabah.

LDR = Total kredit yang disalurkan / Total dana pihak ketiga x 100%

Standar yang berlaku :

LDR > 80%

Tapi hati-hati, terlalu tinggi atau terlalu rendah juga tidak baik bagi bank tersebut.

LDR terlalu rendah jelas mengurangi potensi pendapatan karena kredit yang disalurkan masih bisa ditingkatkan.

Namun LDR yang terlalu tinggi juga tidak baik, karena berisiko pada likuiditas bank. Ga mungkin kan saat kredit sedang disalurkan, nasabah tidak bisa mengambil dana mereka.

Oleh sebab itu, sebaiknya masih ada spare bagi bank untuk mengelola dana pihak ketiga mereka semaksimal mungkin. Menghasilkan pendapatan tapi juga menjaga likuiditas perusahaan.

5. CASA

CASA (Current Account to Saving Account) mau menghitung berapa sih dana murah yang didapatkan perusahaan.

Sebelumnya, kita bagi dulu dana pihak ketiga suatu bank biasanya didapat dalam 3 jenis :

  1. Tabungan (saving account)
  2. Giro (current account)
  3. Deposito (deposit account)

Dari ketiga jenis di atas, tabungan dan giro disebut sebagai dana murah. Bank hanya perlu membayar sekitar 0%-1% ke nasabah. Sementara deposito agak lebih mahal karena bank perlu membayar sekitar 4%-6% sesuai suku bunga acuan dari BI.

CASA = (Jumlah Tabungan+Giro) / (Jumlah Tabungan+Giro+Deposito) x 100%

Standarnya :

CASA > 50%

Semakin tinggi CASA, semakin baik karena bank dapat mengumpulkan dana dari pihak ketiga tanpa membayar mahal.

Namun CASA yang terlalu tinggi menunjukkan komposisi rekening tabungan dan giro yang terlalu tinggi dibanding rekening deposito. Berpotensi risiko karena tabungan dan giro dapat ditarik nasabah sewaktu-waktu. Sementara deposito mengikat dana nasabah lebih lama sesuai tenor.

6. BOPO

BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) mengukur seberapa efisien suatu bang dalam menghasilkan pendapatan operasionalnya.

BOPO = beban operasional / pendapatan operasional x 100%

Kalau di rasio ini kita lihat yang lebih kecil akan semakin baik dan efisien. Standarnya adalah :

BOPO < 80%

Penutup

Jadi itu semua adalah rasio keuangan yang bisa dipakai dalam sektor perbankan. Kalau kesulitan hitung manual, kita bisa dapatkan rasio tersebut dalam Laporan Tahunan setiap emiten. Sudah direkap untuk beberapa tahun terakhir.

Rasio keuangan perbankan BBRI
Sumber : IDX

Baca juga :

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

All Around Finance Blog