P2P LENDING : IYA ATAU TIDAK ?

P2P Lending (Peer To Peer Lending) adalah penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan Pemberi Pinjaman dengan Penerima Pinjaman dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet (Wikipedia).

Simpelnya, P2P Lending adalah kegiatan pinjam meminjam berbasis online. Itu sebabnya akan ada beberapa unsur dalam P2P Lending, yaitu :

  1. Penerima Pinjaman / Borrower
  2. Pemberi Pinjaman / Lender
  3. Platform yang dibuat oleh Perusahaan Fintech
  4. Online
P2P Lending

Untuk kali ini, kita akan bahas P2P dari sisi sebagai Lender.

Dasar Hukum P2P Lending

Memberi pinjaman itu hal yang agak berisiko bukan? Kita memberi pinjaman kepada orang yang dikenal saja ada kemungkinan gagal bayar atau kreditnya macet. Apalagi P2P ini memberi pinjaman kepada orang atau perusahaan yang belum kita kenal.

Jika tidak ada dasar hukumnya, besar kemungkinan Lender adalah pihak yang paling dirugikan.

P2P Lending mulai dikenal tahun 2005 di Inggris kemudian mulai menyebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia sendiri, Perusahaan Penyelenggara P2P yang sudah terdaftar dan berizin di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sejumlah 113 perusahaan (per 15 Mei 2019). Daftar Perusahaan tersebut bisa kamu cek di Website OJK.

Dasar Hukum P2P Lending diatur dalam Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016. Untuk keamanan, sangat dianjurkan untuk melakukan transaksi P2P Lending di Platform Perusahaan yang telah terdaftar dan berizin di OJK.

Cara Kerja P2P Lending

Awalnya, kita perlu mendaftar dalam platform dahulu. Data diri harus benar karena akan dicek oleh perusahaan.

Jika registrasi telah disetujui, kita dapat mengakses dashboard website. Di sana terdapat daftar pengajuan pinjaman berisi data pinjaman, grade peminjam, tingkat bunga pinjaman, tujuan pinjaman, riwayat pinjaman sebelumnya dan jaminan pinjaman.

Lender bisa memilih pinjaman yang ingin didanai olehnya. Tetaplah berhati-hati dalam memilih pinjaman, jangan tergiur dengan bunga tinggi yang ditawarkan.

Uang yang dipinjamkan akan dipindahtangankan ke Borrower dengan perantara Perusahaan Fintech sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati. Pada saat jatuh tempo, Lender akan mendapat pokok hutang dan bunga.

Bunga yang diperoleh akan dipotong Pajak Penghasilan sebesar 15% (Non Final). Jadi harus kita laporkan sebagai tambahan penghasilan dalam SPT Tahunan. Kita akan mendapatkan Bukti Potong PPh sebagai dasar laporan SPT Tahunan.

Keuntungan Investasi Dalam P2P Lending

1. Suku Bunga Relatif Tinggi

Berapa suku bunga deposito? Kemungkinan sekitar 5-7%/tahun. P2P Lending menawarkan suku bunga lebih tinggi untuk menarik investor bergabung. Suku bunga P2P berada di kisaran 10-20%/tahun. Jika suku bunga P2P setara dengan deposito, saya sarankan lebih baik berpindah ke deposito saja yang sudah pasti aman.

2. Online

Mulai dari proses registrasi hingga peminjaman dilakukan secara online. Jadi tidak perlu datang ke perusahaan fintech tersebut. Proses peminjaman juga relatif mudah asalkan Lender dapat mengoperasikan komputer/hp.

3. Modal Relatif Murah

Modal untuk meminjamkan relatif murah. Kita dapat memulai pendanaan dengan Rp 100.000, namun ada juga minimum Rp 1.000.000 tergantung kebijakan perusahaan penyelenggara.

Risiko Investasi P2P Lending

1. Risiko Likuiditas

Saat kita meminjamkan uang, kita berada dalam kontrak sehingga kita tidak dapat mengambil dana yang kita pinjamkan hingga jatuh tempo. Sebaiknya dana yang diinvestasikan adalah “dana dingin” (tidak dipakai dalam waktu dekat).

2. Risiko Gagal Bayar / Kredit Macet

Dalam hal risiko, P2P Lending memang berada lebih tinggi dari pada Deposito atau SBN. Itu sebabnya suku bunga yang ditawarkan juga lebih tinggi.

Meskipun sudah memiliki payung hukum, tidak menutup kemungkinan pinjaman kita bisa gagal bayar atau macet. Itu sebabnya harus berhati-hati dalam memilih Borrower yang akan didanai. Dan risiko ini ditanggung Lender ya. Kita tidak bisa menuntut Perusahaan P2P untuk bertanggung jawab.

Untuk meminimalisir risiko ini, berikut ada beberapa saran yang mungkin bisa dipertimbangkan:

  • Jangan mudah tergiur suku bunga yang terlalu tinggi. Biasanya suku bunga tinggi dikarenakan Credit Score Borrower yang kurang baik (risiko tinggi).
  • Cek Riwayat Peminjam. Di sana akan tertera berapa kali dia meminjam, tepat waktu/terlambat untuk kredit sebelumnya.
  • Jaminan Pinjaman. Lebih baik memilih pinjaman yang memberikan jaminan dalam bentuk giro mundur atau escrow account. Jika kredit macet, perusahaan berhak mencairkan jaminan untuk membayar Lender.
  • Pilih platform yang berkualitas yang sudah banyak digunakan orang banyak. Jika platform yang belum berpengalaman, berpotensi besar kesulitan dalam hal penagihan kredit macet.
  • Cek TKB90 Platform tersebut. Itu adalah tingkat keberhasilan platform tersebut dalam memfasilitasi penyelesaian kewajiban peminjam dalam waktu 90 hari sejak jatuh tempo. Mendekati 100% akan semakin baik.

Minimalisir Risiko P2P Lending

Lalu apakah Perusahaan P2P hanya akan menyerahkan risiko kepada Lender tanpa usaha untuk meminimalir? Jika iya, mereka justru menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat dan tidak akan survive di industri fintech. Perusahaan P2P juga terancam tutup jika jasa yang mereka tawarkan tidak diminati.

Itu sebabnya muncul upaya dalam mengurangi risiko yang kemungkinan akan terjadi dan dampak risiko, disebut mitigasi risiko. Namun kebijakan perusahaan akan berbeda satu dengan lain. Kita dapat bertanya dengan platform tersebut mengenai kebijakan yang mereka miliki sebelum mulai mendanai.

Berikut beberapa upaya meminimalisir risiko dari perusahaan penyelenggara P2P Lending :

1. Asuransi

Asuransi Jiwa untuk Peminjam. Jika peminjam meninggal dunia maka Lender menerima kembali pokok pinjaman dari perusahaan asuransi. Pokok pinjaman saja karena bunga pinjaman tidak ditanggung oleh asuransi.

2. Credit Score

Credit Score yang diterapkan oleh perusahaan penyelenggara kepada peminjam. Jadi jangan anggap remeh dengan credit score peminjam. Credit Score ini dibuat dengan indikator dari riwayat pembayaran kredit sebelumnya. Semakin baik credit score, peminjam semakin direkomendasikan untuk didanai.

3. Langkah Collection Berlapis

Pilihlah perusahaan fintech yang mau berusaha untuk lender dalam menyelesaikan proses collection. Biasanya upaya mereka disertai dengan Surat Peringatan, penagihan ke Borrower langsung, hingga pencairan jaminan yang dilakukan oleh Perusahaan.

Kesimpulan

Investasi P2P memang terhitung baru. Peraturannya saja baru jadi tahun 2016. Tapi secara imbal hasil, sebenarnya investasi ini cukup memuaskan. Hanya saja risiko yang harus ditanggung juga tinggi.

Baiknya cek dulu profil risiko sebelum memulai berinvestasi dalam P2P Lending. Tapi P2P jelas hal yang patut untuk dicoba sebab masa depannya berpotensi besar untuk berkembang lebih baik.

Kalau kamu tidak tertarik dalam memulai investasi dalam P2P Lending, kamu bisa cek beberapa instrumen investasi lainnya di sini.

Post selanjutnya, saya mau bahas cara mendaftar dan memulai pendanaan di P2P Lending.

Jika bermanfaat, kamu bisa bantu share post ini. Terima kasih.

3 Replies to “P2P LENDING : IYA ATAU TIDAK ?”

  1. […] P2P Lending adalah kegiatan pinjam meminjam berbasis online. Kita sudah bahas mengenai pengenalan P2P Lending dan keuntungan serta risikonya dalam post P2P Lending : Iya Atau Tidak?. […]

  2. […] Untuk mengetahui tentang P2P Lending, bisa baca dulu di sini. […]

  3. […] P2P Lending itu apa? Pengenalan mengenai instrumen ini dapat kamu cek di sini. […]

Leave a Reply