Obligasi vs RDPT : Mana Yang Dipilih?

Apa bedanya Obligasi dengan RDPT (Reksa Dana Pendapatan Tetap)? Mana yang lebih baik untuk dipilih?

Seperti biasa, kita mulai dari pengertian masing-masing instrumen.

Pengertian obligasi dan RDPT

Obligasi adalah surat pernyataan utang. Kita sebagai investor akan mendapatkan kupon sebagai bunga pinjaman. Jangka waktunya biasa 1-30 tahun. Nanti di akhir periode utang, kita akan mendapatkan kembali pokok pinjaman.

Yang bisa menerbitkan obligasi adalah badan usaha seperti pemerintah dan perusahaan. Kalau pribadi ya tidak bisa. Kita juga tidak akan percaya ke individu bukan.

SBN ritel macam SBR,ORI,ST,SR juga termasuk obligasi nih. Tapi untuk skala yang lebih besar, obligasi perlu modal puluhan hingga ratusan juta.

Sementara RDPT adalah reksa dana yang mengelola dana investor ke pendapatan tetap (obligasi). Jadi istilahnya seperti investasi di obligasi secara tidak langsung.

Perbedaan obligasi dan RDPT

1. Imbal hasil

Jika berinvestasi di obligasi, kita mendapat keuntungan dari kupon yang dibayarkan (setiap bulan/kuartal/semester) dan dari capital gain saat diperjualbelikan di pasar sekunder.

Nah kalau investasi di RDPT, keuntungan yang didapat adalah dari kenaikan NAB (Nilai Aktiva Bersih).

2. Pajak

Kalau secara potongan pajak, kupon obligasi akan dipotong 15% final. Sementara RDPT? Tidak potong pajak karena bukan objek pajak.

Kok begitu?

Karena saat MI kelola dana di obligasi, mereka sudah kena potong pajak. Jadi kita tidak akan dipotong pajak lagi. Ya sama saja jadinya. Hanya kita langsung terima bersihnya saja.

3 Risiko

Karena sifatnya meminjamkan uang ke badan usaha, risikonya adalah gagal bayar (peminjam tidak bisa bayar pokok dan bunga pinjaman) atau telat bayar.

Kalau obligasi keluaran pemerintah sih aman (free risk).

Kalau RDPT, kita menyerahkan kepada MI untuk mengelola dana kita, termasuk risk management. Mereka yang menimbang obligasi mana yang aman untuk investasi.

Namun jika salah kelola, bisa juga RDPT membuat kita rugi atau bahkan kehilangan modal kita. Jadi tetap hati-hati memilih MI.

Saya memilih RDPT dari pada obligasi

Jenis obligasi yang hingga saat ini saya coba hanya jenis SBN ritel. Jadi bisa dibilang saya kurang pengalaman di instrumen obligasi.

Namun ada beberapa hal yang membuat saya tidak memilih investasi di obligasi secara langsung, antara lain:

1. Modal

Ini sih faktor utama tidak bisa investasi di obligasi. Modal untuk beli obligasi relatif besar untuk saya. Biasanya minimum Rp 100 juta (dan kelipatannya).

Karena mentok di modal, maka pindahlah saya ke RDPT yang lebih manusiawi untuk saya..haha

Iya, memang baru diluncurkan oleh Digibank (DBS) fitur supaya kita bisa membeli obligasi dengan modal minimum Rp 1 juta saja. Belum saya coba, mungkin nanti akan saya review jika tertarik mencobanya.

2. Return

Jujur saja, saya lebih percaya MI dapat menghasilkan return lebih tinggi daripada saya beli obligasi sendiri. Coba kita bandingkan ya.

Ini adalah return RDPT di aplikasi Bibit selama 1 tahun terakhir (diurut dari return tertinggi). Sekitar 12%-13%/tahun. Yang lebih kecil ada, tapi kalau kita mau beli, pasti cari di barisan return tinggi bukan.

Obligasi vs rdpt
Sumber: Bibit

Dan dibandingkan dengan return dari obligasi. Yang dibaca bukan rate kuponnya, tapi dari yield nya. Yield menghitung return komposisi dari kupon, harga beli dan tanggal jatuh temponya. Sekarang antara 6%-8%/tahun.

Obligasi vs rdpt 2
Sumber : Digibank

Bahkan saat yield obligasi tertinggi di tahun 2020, sekitar 8%-9% untuk FR0072.

yield obligasi fr0072
Sumber : BCA

Mungkin kalau obligasi korporasi dengan risiko lebih besar, return yang didapat juga akan lebih tinggi. Tapi saat ini, saya belum menguasai jadi saya lebih memilih RDPT yang bisa menghasilkan secara maksimal.

3. Ada spread jual-beli

spread jual beli obligasi
Sumber : BCA

Obligasi biasanya ada harga jual dan harga beli (ada spread), dan tiap institusi yang menjual bisa menawarkan harga yang berbeda. Agen penjual biasanya mencari keuntungan dari spread ini.

Jadi menambah PR 1 lagi untuk membandingkan harga di setiap agen penjual. Berbeda dengan saham, yang harganya sudah transparan di sekuritas mana pun kita membelinya. Atau dengan reksa dana, beli di Bareksa maupun Bibit harga NAB akan sama.

Kesimpulan

Ya, saya dengan pendapat pribadi memilih RDPT dari pada obligasi. Namun, bukan berarti obligasi lebih buruk ya.

Setiap pribadi akan punya pendapatnya masing-masing berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan analisanya.

Anyway, kalau kamu mau coba investasi di reksa dana Bibit, kamu bisa cek post saya di sini.

Dan kalau kamu mau buka akun di Bibit, bisa masukkan kode referral saya : margaret. Kamu akan dapat cashback dalam bentuk reksa dana senilai Rp 25.000. Terima kasih.

Kalau mau sharing atau bertanya, bisa komen atau email saya saja.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply