Investor Vs Trader, Kamu Yang Mana?

Sebelum berinvestasi dalam saham, kita tentukan dulu pendekatan yang kita ambil sebagai investor atau trader. Keduanya sama-sama mencari keuntungan di pasar, namun dengan cara yang berbeda. Apa perbedaannya?

Pengertian investor dan trader

Investor : pihak yang berinvestasi dengan menempatkan dana dalam emiten dengan jangka waktu panjang.

Trader : pihak yang mencari keuntungan dengan berdagang dalam pasar modal dengan jangka waktu yang relatif lebih pendek daripada investor.

Perbedaan investor dan trader

Berikut ini adalah beberapa perbedaan dari seorang investor dan trader.

1. Periode

Investor biasanya menempatkan dana mereka untuk berkembang dalam waktu lama, bisa 5 tahun, 10 tahun, atau bahkan selamanya. Mereka diibaratkan seperti sedang menanam sebuah pohon, dan perlu waktu lama untuk menunggu pohon tersebut berbuah.

Volatilitas harga yang drastis dalam jangka waktu pendek tidak akan mempengaruhi keputusan investor selama perusahaan itu masih bagus secara fundamental.

Sementara trader tidak menunggu selama itu. Mereka seperti pedagang yang membeli murah dan menjual dengan harga lebih tinggi untuk mendapat keuntungan.

Berikut ini beberapa jenis trader berdasarkan periode waktu:

  1. Position trader : jika melakukan transaksi jual beli dalam bulanan atau tahunan.
  2. Swing trader : jika melakukan transaksi jual beli dalam harian atau mingguan.
  3. Day trader : jika melakukan transaksi jual beli dalam 1 hari.
  4. Scalp trader : jika melakukan transaksi jual beli dalam hitungan detik atau menit.
tipe trader saham

2. Analisis

Investor akan menggunakan analisis fundamental dalam menentukan emiten yang dipilihnya. Analisis fundamental menilai bagaimana sebuah perusahaan dijalankan, sehat/tidak, menguntungkan/tidak, proyeksi kinerja di masa depan. Pekerjaannya membaca laporan tahunan, laporan keuangan, public expose, dan lainnya.

Sementara trader akan menggunakan analisis teknikal. Mereka berfokus pada grafik harga di pasar, naik/turun harga, volume, frekuensi. Tidak berfokus pada kinerja perusahaan.

investor (fundamental) dan trader (teknikal)
Sumber : moneyexcel

3. Stop point

Stop point penting bagi trader, namun tidak bagi investor.

Trader harus menentukan dahulu harga jual atas saham yang dibeli, entah saat rugi (cut loss) atau saat untung (take profit). Trader bergerak berdasarkan planning yang sudah dibuat dan melarang menggunakan emosi selama transaksi.

Sementara investor tidak menentukan stop point. Jika investor telah berpuas dengan pencapaiannya atau kisaran target, ia akan menjualnya. Namun investor akan berpikir untuk menjualnya setelah harga mencapai target yang lebih tinggi dari trading karena memakan waktu yang lebih lama.

4. Risiko

Kedua pendekatan memiliki risiko, dan tidak ada risiko yang lebih besar atau kecil.

Bagi trader, your stop is your risk. Ungkapan ini untuk merujuk kepada planning yang sudah dibuat oleh trader. Risiko mereka hanya sebatas stop-loss yang sudah mereka putuskan di awal.

Untuk investor, risiko atas turunnya harga saham tidak berpengaruh pada jangka pendek karena timeframe mereka panjang. Jika fundamental perusahaan bagus, maka harga saham akan mengikuti nilai intrinsiknya di masa depan.

Namun investor memiliki risiko salah menganalisa perusahaan. Jika fundamental perusahaan tidak sebagus yang diperhitungkan, maka investor sebaiknya menghadapi risiko tersebut dengan cut loss (rugi).

Mana yang lebih baik?

Tidak ada yang lebih baik. Itu adalah kedua cara untuk investasi saham. Kita harus menilai sendiri lebih cocok sebagai trader atau investor saham. Kenali diri sendiri dari kemampuan analisa, waktu yang diperlukan, passion yang dimiliki.

Bisakah menjadi investor sekaligus trader?

Bisa. Jika ingin menjalani keduanya, kenapa tidak? Asalkan mampu.

Supaya tidak tercampur, sebaiknya portofolio trading dan investasi berbeda sekuritas. Sehingga kita sendiri tidak kebingungan atau terbawa emosi (perasaan) saat transaksi.

Namun tentukan benar-benar pendekatan yang dipakai dari awal ya.

Jangan sampai jika sudah memutuskan untuk trading saham A, kemudian mengalami penurunan harga. Trader seharusnya cut loss, namun tidak bisa komitmen kepada plan lalu membiarkan menjadi floating loss. Berubah haluan menjadi investor.

Atau sudah berencana menjadi investor jangka panjang, namun malah tidak tahan melihat keuntungan sesaat yang 3%-4%, lalu memilih take profit.

Selamat berinvestasi!

Baca juga : Saham bagus menurut kapitalisasi pasar

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply