Cara Filter Saham Secara Fundamental

Filter saham secara fundamental ini membahas cara screening saham untuk investing (investasi jangka panjang), bukan untuk trading ya.

Baca juga : Investor vs Trader

Saat post ini dibuat, saham yang telah listing di BEI sudah mendekati 700 perusahaan. Membaca seluruh laporan tahunan dan laporan keuangan seluruh perusahaan jelas bukan hal mudah. Setidaknya kita perlu melakukan filter untuk memperkecil data.

Cara filter saham fundamental

Ingat, filter saham hanya langkah awal. Selanjutnya kita tetap melakukan analisis lanjutan.

Jujur ya, selama ini saya menyaring data saham, saya belum pernah menemukan perusahaan yang benar-benar sempurna. Perusahaan bagus, harga mahal. Harga murah, perusahaannya tidak sempurna. Jadi ya harus kompromi, di sisi mana yang masih dapat kita terima.

Mari kita bahas apa saja kriteria yang saya gunakan untuk filter saham.

1. Profitable (Menguntungkan)

Kita membeli saham = membeli kepemilikan perusahaan.

Tujuan perusahaan adalah menghasilkan keuntungan. Kalau tidak untung, untuk apa?

Maka filter pertama yang saya lakukan adalah mencari perusahaan yang untung secara konsisten setiap tahun.

Konsistensi juga point penting. Saya tidak menyukai perusahaan yang tahun ini profit, kemudian 2 tahun merugi. Artinya, keuntungan kita dari saham tersebut juga tidak akan konsisten. Kecuali, kita mengetahui penyebabnya dan bisa kompromi.

Contoh? Masa pandemi tahun 2020, banyak perusahaan yang mengalami kesulitan, jadi wajar kalau profit menurun atau bahkan merugi. Tahun 2020, bisa jadi pengecualian buat sebagian perusahaan yang berdampak pandemi.

Indikator keuntungan apa?

1.1 EPS (Earning per share)

Rumus EPS

EPS menghitung berapa laba yang diterima per 1 lembar saham. Perusahaan yang baik, EPSnya konsisten positif dan naik. Bandingkan dengan tahun sebelumnya, bukan dengan perusahaan lain.

1.2 NPM (Net Profit Margin)

Rumus NPM unutk filter saham

NPM tertulis dalam %. Semakin tinggi, semakin baik. Untuk dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Bandingkan dengan perusahaan lain dalam sektor (model bisnis) yang sama, juga boleh untuk membandingkan perusahaan mana yang lebih menguntungkan.

1.3 ROE (Return on Equity) / ROIC (Return on Invested Capital)

Rumus ROE, ROIC

Kedua rasio sebenarnya mirip. Kebanyakan orang menggunakan ROE.

Ilustrasi perhitungan ROE:

Kita sebagai pemegang saham (terwakilkan dalam total ekuitas). Mau menghitung berapa % keuntungan yang didapat dari modal kita. Carilah perusahaan dengan ROE > 10%. Semakin tinggi, semakin baik.

Kenapa ROE > 10% baru diterima? Karena jika <10%, lebih baik berinvestasi di instrumen yang lebih mudah dan rendah risiko, seperti deposito, SBN ritel, reksa dana pasar uang.

Namun ROE yang tinggi juga biasa terjadi dengan perusahaan yang mempunyai hutang berbunga (Debt) lebih besar dari Ekuitas. Jadi, beberapa orang lebih nyaman menggunakan ROIC.

ROIC sendiri menghitung % dari modal (baik pinjaman maupun ekuitas).

Kapan-kapan kita bahas ROE dan ROIC lebih dalam ya.

2. Kesehatan finansial perusahaan

Finansial perusahaan biasa indikatornya berhubungan dengan hutang. Umumnya, perusahaan dengan sedikit hutang jelas lebih aman daripada banyak hutang (sama seperti keuangan pribadi).

Namun pernyataan di atas bisa salah jika disimpulkan “perusahaan dengan hutang banyak jelas buruk”. Ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan, contohnya:

  • Model bisnis, seperti bank pasti memiliki banyak hutang. Nasabah menyimpan dana dan bank mencatatnya sebagai liabilitas.
  • Cek dulu asal hutang tersebut, apakah hutang pinjaman (yang berbunga) atau hutang usaha.

Apa indikator untuk kesehatan perusahaan?

2.1 DER (Debt to Equity Ratio)

Ada 2 pandangan dalam menghitung DER, saya cantumkan keduanya saja ya.

Rumus DER untuk filter saham

DER menghitung jumlah hutang dengan jumlah modal.

Umumnya, DER maksimal 100%, semakin kecil semakin baik. DER > 100% memberikan risiko bagi pemegang saham.

Rumus pertama, memakai total liabilitas (keseluruhan hutang). Sementara rumus kedua berpandangan bahwa yang perlu diperhitungkan hanya hutang berbunga (Debt) saja. Karena hutang usaha tidak berisiko tinggi.

Mana yang lebih baik? Silakan sesuaikan dengan pandangan pribadi ya.

2.2 Current Ratio

rumus current ratio

Dalam Current Ratio, kita mengecek apakah aset lancar (current asset) dapat membayar seluruh liabilitas lancar (current liabilities)?

Standarnya, perusahaan yang sehat mempunyai CR antara 1-3.

Di bawah 1, berisiko tidak dapat melunasi hutang jangka pendek. Di atas 3, bisa dibilang perusahaan tidak produktif karena bisa dipakai untuk ekspansi namun tidak digunakan.

3. Pertumbuhan (Growth)

Kita biasa lebih memilih perusahaan yang bertumbuh setiap tahunnya bukan?

Jadi cek saja selama 5 tahun atau 10 tahun terakhir mengenai nilai Penjualan (Sales), Laba Bersih (Net Profit), dan Total Ekuitas (Equity). Jika cenderung naik, it’s a good sign.

4. Economic Moat

Perusahaan yang bagus memiliki keunggulan kompetitif yang akan melindungi profitnya dari pesaingnya.

Ini kita cari tahu secara kualitatif, tidak ada indikator perhitungannya.

Beberapa tipe moats yang bisa menjadi keunggulan suatu perusahaan adalah:

  • Merek dagang. Jika brand mereka sudah diingat masyarakat, maka itu moat mereka. Perusahaan air minum mineral? Mie instan merek apa?
  • Ada hak cipta/paten yang tidak boleh ditiru perusahaan lain.
  • Biaya bahan baku sangat murah.
  • Jaringan distribusi sudah luas.
  • Skala ekonomi besar.
  • Biaya substitusi yang tinggi.

5. Harga (Price)

Kalau keempat kriteria di atas sudah terlewati, maka saatnya kita mau cek harga saham tersebut. Pertanyaannya, harga saham yang kita beli itu murah atau mahal?

Indikatornya adalah:

rumus pER

Umumnya, PER yang semakin kecil disebut semakin murah. Sebaliknya semakin besar PER, maka semakin mahal.

Benjamin Graham (pencetus value investing) menyatakan PER < 15 baru bisa disebut murah. Lebih dari itu, dianggap mahal.

Misal, beli saham BBCA dengan harga Rp 31.000, EPS = Rp 1.068.

Maka PER = 31.000/1.068 = 29x.

Artinya: BCA perlu 29 tahun dengan asumsi EPS selalu sama setiap tahun agar modal kita 31.000 kembali.

Namun, jangan telan itu mentah-mentah.

Barang bagus jelas mahal. Jadi jangan langsung menilai buruk jika PER tinggi.

Murah dan mahal kan sifatnya subjektif, harus ada pembandingnya. Bisa dibandingkan dengan PER perusahan lain di sektor yang sama atau bandingkan dengan rata-rata PER tahun sebelumnya atau rata-rata PER sektor.

Kesimpulan mengenai cara filter saham

Seluruh kriteria di atas baru alat untuk mem-filter saham. Untuk menjatuhkan pilihan pada saham tertentu, perlu analisa lebih mendalam ya.

Jika kamu berpikir apa iya harus menghitung seluruh indikator tersebut secara manual? Tidak perlu.

Ada beberapa aplikasi / website yang menyediakan rasio perusahaan, jadi kita tidak perlu hitung. Asal kita sudah mengerti dari mana rasio itu berasal dan maksud dari hasil rasio tersebut.

Saya coba share beberapa website yang mungkin bisa membantu dalam mengecek saham ya. (Disclaimer: Bukan promosi).

Sekian sharing-nya, semoga bisa membantu.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Baca juga : Perbedaan Reksa Dana, Reksa Dana Indeks, dan ETF

Leave a Reply