EPS dan PER: Studi Kasus BBRI

EPS dan PER adalah metrik dasar pertimbangan dalam analisa saham. EPS menunjukkan keuntungan, PER menunjukkan mahal atau murahnya suatu saham.

Ada beberapa metrik yang menjadi dasar pertimbangan dalam analisa saham, kamu bisa baca di sini.

Namun di post ini, kita bahas khusus mengenai EPS dan PER saja dulu.

Gambaran Umum EPS dan PER

EPS

EPS adalah Laba Bersih (Net income) dibagi jumlah saham. Sama dengan berapa laba bersih yang diperoleh dari setiap lembar saham yang kita miliki.

Bagi seorang fundamentalis, EPS adalah faktor yang penting. Perusahaan yang bisa menghasilkan profit adalah hal mutlak.

Dalam hal ini, kita jelas mencari EPS yang selalu positif dan meningkat setiap tahunnya secara konsisten.

Ini menunjukkan seberapa bagus perusahaan (apakah perusahaan memiliki value) untuk dimiliki.

PER

PER adalah harga (price) yang kita beli dibagi dengan EPS.

Entah mahal atau murahnya sebuah saham dibandingkan dengan laba yang dihasilkan perusahaan. Dan jelas kita ingin membeli barang bagus (Value) di harga (Price) yang murah.

Tidak ada catatan pasti PER berapa terhitung mahal/murah. Kita harus bandingkan dengan PER industri tersebut atau PER dari masa lalu atau PER perusahaan sejenis.

Contoh EPS dan PER

Kita langsung menggunakan contoh 1 saham saja, BBRI.

Disclaimer: Ini bukan rekomendasi saham, melainkan untuk studi kasus.

PER EPS BBRI

Berikut ini adalah tabel EPS dan PER BBRI tahun 2010 – 2019 (10 tahun terakhir). Ambil data dari Stockbit.

Apa yang bisa kita baca dari data tersebut?

How profitable?

BBRI merupakan contoh perusahaan yang profitable. Setiap tahun BBRI menghasilkan laba dan secara konsisten meningkat (lihat EPS adjusted).

EPS adjusted dibuat karena tahun 2011 dan 2017 terjadi stock split sehingga jumlah saham menjadi lebih banyak.

Kita bisa lihat dalam jangka panjang Price akan mencerminkan EPS. Jika EPS naik, maka Price juga akan naik. Bahkan kenaikannya melebihi kenaikan EPS.

PER sendiri mencerminkan berapa lama (tahun) kita akan balik modal dengan EPS di tahun tersebut.

Contoh tahun 2010, PER BBRI = 11.29.

Artinya, Rp 1050 (price) akan balik modal dari Rp 93.01 (asumsi EPS akan sama setiap tahun) dalam waktu 11.29 tahun.

Tapi apakah demikian? Tidak, karena EPS BBRI terus bertumbuh.

Jika kita beli BBRI tahun 2010 dengan harga 1050. Maka kita sudah balik modal di tahun ke-7 (bukan ke-11). Lebih cepat dari estimasi, itu sebabnya harga BBRI menjadi premium.

Malah jika kita lihat secara pertumbuhan harga, 1050 akan menjadi 2x (gain 100%) lipat dalam waktu 4 tahun.

Apa yang bisa kita pelajari? Keuntungan membeli perusahaan berfundamental bagus.

Jelas data itu terjadi di masa lalu, dan tidak ada jaminan akan terulang hal yang sama. Tapi ada konsistensi yang memberi potensi lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang tidak bertumbuh.

Membeli value di harga diskon adalah target investor. Namun jika sulit menemukannya, maka membeli wonderful company di harga wajar juga merupakan good deal.

Yield = EPS/Price

PER=Price/EPS, maka Yield=EPS/Price. Hanya memutar pembilang dan penyebut saja, tapi memberi arti berbeda.

Yield adalah % keuntungan selama setahun.

Kita beli BBRI di harga 1050, kemudian BBRI menghasilkan EPS 93.01. Maka ada yield yang kita dapat dari menjadi pemegang saham BBRI sebesar 9% di tahun 2010.

Coba kita hitung jika kita sudah beli BBRI tahun 2010 (P=1050), kemudian simpan hingga tahun 2019. Berapa yield yang didapatkan?

Total EPS (2010-2019) = 1930.63.

Yield = 1930.63/1050 = 184% (10tahun) = 18.4%/tahun.

Dari 9% (2010) tidak menjadi 90% (dalam 10tahun), melainkan 184%. Impressive, isn’t it?

PER selalu berubah

Jika kita menganalisa suatu saham, kita akan menyadari bahwa PER akan berubah bukan hanya setiap tahun, melainkan setiap bulan, minggu, hari, jam, bahkan menit.

Hal ini harena PER terbentuk dari Price (yang selalu berubah setiap menit), padahal EPS hanya berubah setiap kuartal/tahun.

Anehnya, tanpa EPS yang berubah, Price akan terus berubah.

Pergerakan Price dalam jangka panjang dipengaruhi oleh EPS.

Pergerakan Price dalam jangka pendek dipengaruhi oleh sentimen pasar seperti berita ekonomi, politik dan lainnya.

Bagaimana menyikapi perubahan PER?

Menurut saya, tergantung pada masing-masing pribadi.

Jika fokus kita adalah jangka panjang, maka EPS adalah faktor yang lebih penting. Maka perubahan Price dalam hitungan jam/menit tidak akan banyak mempengaruhi emosi. Ini yang dipegang oleh seorang investor (analisa fundamental).

Namun jika Price adalah faktor penting bagi kita, yang harus diperhatikan pergerakannya setiap jam, maka sepertinya lebih cocok ke trading (analisa teknikal).

Dalam trading, kinerja perusahaan (EPS) tidak bisa memberikan efek. Pergerakan harga tidak bisa menunggu pergerakan EPS yang makan waktu lebih panjang untuk berubah.

Sekian sharing saya, semoga dapat memberi pemahaman lebih baik.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply