Metode Investasi : Dollar Cost Averaging (DCA)

Dollar Cost Averaging (DCA) adalah salah satu metode yang dipakai banyak orang dalam investasi, baik dalam saham maupun reksa dana.

Kita pasti tahu kalau pasar bisa berfluktuasi dalam waktu singkat. Kita bisa gain tinggi, namun juga punya risiko untuk loss. Maka beberapa investor menerapkan Dollar Cost Averaging untuk mengurangi dampak dari volatilitas harga.

Dengan menerapkan DCA, kita menginvestasikan dana kita dengan nominal yang sama secara periodik.

Contoh:

Saat harga saham/reksa dana naik, kita menjadi takut ketinggalan kereta (keserakahan). Namun ketika harga turun, kita menjadi takut kalau harga tersebut akan terus menerus turun (ketakutan).

Pastinya, kita akan selalu tidak yakin apakah harga yang kita beli adalah harga terbaik (best price) atau bukan.

Jadi kurangi kekuatiran tersebut dengan menggunakan DCA. Kita tidak perlu kuatir akan harga tinggi/rendah, yang penting selalu konsisten. Kumpulan pembelian kita akan secara otomatis merata-ratakan (averaging). Kita tidak akan membeli di harga terlalu tinggi, walaupun juga tidak bisa membeli di harga terendah.

Perhitungan Dollar Cost Averaging (DCA)

Untuk menghitung, kita langsung pakai ilustrasi singkat saja ya.

Misalkan kita Rp 1.000.000 pada saham/reksa dana ABCD setiap bulan selama 5 bulan. Berapa pun harga yang sedang terjadi, tidak dipertimbangkan. Maka berikut ini contoh perhitungannya:

1. Jika harga terus naik

perhitungan dollar cost averaging

Jika harga terus naik, maka rata-rata pembelian kita (Rp 2.213) akan lebih rendah dari pada harga pasar (Rp 2.500) >> Profit.

1. Jika harga terus turun

dollar cost averaging

Jika harga terus turun, maka rata-rata pembelian kita (Rp 1.748) akan lebih tinggi dari pada harga pasar (Rp 1.500) >> Loss. DCA memang tidak pernah menjanjikan tidak akan bisa rugi.

Lalu bagaimana jika sudah di posisi loss? Pilihannya hold / sell.

  • Kalau kita yakin dengan produk yang kita pegang akan naik kembali = Hold (tunggu hingga harga naik).
  • Kalau tidak yakin dengan produk tersebut, lebih baik Sell (jual rugi / cut loss) untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Manfaat Dollar Cost Averaging

Manfaat menerapkan DCA dalam investasi:

  1. Mengurangi emosi investor dalam mengambil keputusan. Apa pun kondisi pasar, emosi investor akan muncul. Entah ketakutan atau keserakahan. DCA membuang emosi tersebut karena sudah direncanakan untuk investasi secara berkala,
  2. Berpikir jangka panjang. Jika dalam posisi loss, namun kita yakin harga akan naik dalam jangka panjang, maka nantinya return yang didapat justru akan lebih besar karena jumlah yang kita beli (Qty beli) lebih banyak.
  3. Cocok untuk investor yang tidak punya waktu. Istilahnya seperti menabung jangka panjang. Tidak perlu memperhitungkan faktor timing saat beli.
  4. Meminimalisir risiko harga yang fluktuatif. Jika harga pasar sedang tinggi / rendah, harga rata-rata (DCA) kita akan di dalam range. Tidak akan lebih tinggi / lebih rendah dari pasar.

Metode DCA memang tidak cocok untuk jangka pendek, karena masih berpengaruh pada fluktuasi harga.

Metode Dollar Cost Averaging hanyalah alat/metode bagi investor. Untung/rugi di tangan masing-masing, harus bijak dalam memutuskan. Jika metode belum perform, sebaiknya evaluasi ulang dan belajar lebih baik.

Pendapat pribadi:

Saya menggunakan DCA untuk reksa dana karena seperti menabung dan saya tidak terlalu peduli dengan fluktuasi NAB setiap hari (tapi direview berkala setiap 3/6 bulan).
Sementara untuk saham, saya masih menimbang untuk timing buy/sell nya.

Semoga bermanfaat.

Baca juga : Belajar Investasi Saham.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

One Reply to “Metode Investasi : Dollar Cost Averaging (DCA)”

  1. setuju, metode DCA paling ampuh buat compounding nimbun saham/ reksadana. sense of investingnya kena,,, jauh2 dari market timing haha

Leave a Reply