Review Saham: IGAR, Si Produsen Kemasan

Saham IGAR

Bagi yang tertarik dengan saham farmasi, mau info saja kalau kita tidak hanya bisa beli saham farmasi, tapi juga ada perusahaan pendukung yang bisa kita beli. Salah satunya adalah perusahaan kemasan (flexible packaging). Yang mau kita bahas saat ini adalah saham IGAR, PT Champion Pacific Indonesia. Bagaimana kinerja perusahaannya?

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Profil saham IGAR

PT Champion Pacific Indonesia (IGAR) pertama kali didirikan pada tahun 1975 dengan nama PT Igar Jaya. Setelah diambil alih PT Kingsford Holdings (perusahaan asal Jepang) tahun 2010, maka perusahaan berubah nama menjadi PT Champion Pacific Indonesia.

Komposisi pemegang saham IGAR hingga saat ini adalah sebagai berikut:

  • PT Kingsford Holdings = 79.42%
    • PT Kingsford Holdings dikendalikan oleh Fujimori Kogyo Co, Ltd dan Mitsui & Co. (Asia Pacific) Pte. Ltd.
  • PT Kalbe Farma Tbk = 5.40%
  • Masyarakat (<5%) = 15.18%

Jadi tidak aneh kalau beberapa direksi dan komisaris mereka ada yang warga negara Jepang sebagai perwakilan dari induk perusahaan.

Bisnis IGAR berasal dari produksi kemasan plastik. Mayoritas pelanggan mereka adalah perusahaan farmasi, tapi perusahaan non farmasi juga ada.

Kinerja perusahaan

To be honest, sepanjang 10 tahun IGAR bukanlah perusahaan yang wah. Pertumbuhan sales dan labanya sekitar 2%-4%/tahun. Tapi di perusahaan yang cenderung stabil ini, kita tidak pernah menemukan 1 tahun pun mengalami kerugian bahkan di masa pandemi.

Penjualan 2020 perusahaan sebesar 739M dengan segmen farmasi mendominasi 86%, sementara non farmasi menyumbang 14% dari penjualan. Customer nya banyak dan tersebar. Tidak ada 1 main customer yang membeli >10% dari penjualan, jadi perusahaan tidak bergantung pada customer mana pun.

Sementara beli bahan baku dari beberapa supplier baik luar negeri maupun dalam negeri. Major supplier nya adalah Kokusai Pulp and Paper Co., Ltd (luar negeri). Jadi ada risiko mata uang asing setidaknya kalau IDR sedang melemah terhadap USD/Valas lain.

Dari sisi margin, perusahaan menghasilkan gross profit sebesar 16%-18%, hingga net income margin nya menghasilkan sekitar 4%-7%. Not bad.

Keterangan12M 202012M 201912M 201812M 201712M 2016
 Total Pendapatan100%100%100%100%100%
 Total Beban Pokok Penjualan-83%-84%-87%-83%-82%
 Laba Kotor17%16%13%17%18%
 Total Beban Usaha-7%-6%-6%-5%-6%
 Laba Usaha10%10%7%12%12%
 Penghasilan/beban Lain-lain1%1%1%1%0%
 Laba Sebelum Pajak11%11%8%13%12%
 Beban Pajak Penghasilan-3%-3%-2%-3%-3%
 Laba Bersih Tahun Berjalan8%8%6%9%9%
 Laba Bersih Yang Dapat Diatribusi6%6%4%7%6%
Margin Laba Rugi IGAR

Balance sheet

Jika sudah pernah mengecek laporan perusahaan, yang paling menarik perhatian pasti CASH perusahaan. Bagaimana tidak, cash nya tercatat 240M (2020) dari total aset 666M. Artinya, 36% aset perusahaan dalam bentuk cash. Sisanya baru terbagi-bagi antara piutang usaha, persediaan dan aset tetap.

Perusahaan juga debt free. Tidak ada utang berbunga baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Sehat? Most likely yes. Perusahaan tergolong aman dan mungkin kecil bangkrut, setidaknya jika tidak ada kabar buruk mendadak.

Liabilitasnya hanya 72M, berbanding ekuitas yang sebesar 594M. Bahkan dengan cash, perusahaan dapat melunasi semua liabilitasnya.

Valuasi saham IGAR

Jika berminat membeli saham IGAR, di harga berapa yang cocok? Sekali lagi, cara orang memvaluasi saham bisa berbeda pandangan ya.

Kalau pakai PE Standard Deviation 10Y, kelihatannya memang masih murah. Hal ini juga karena IGAR pernah mencapai PE 25x, jadi PE saat ini, 7x kelihatan murah. Namanya juga relative valuation.

Dengan Price 426 dan EPS (TTM Q1 2021) 56, maka PE = Price/EPS = 7x.

Sementara Yield = EPS/Price = 13%. Yield sekian tentu masih make sense jika dibandingkan dengan yield deposito saat ini yang hanya 3%-4%.

Terlebih jika kita beli saat ini, market cap IGAR adalah 414M, kita mendapat perusahaan yang cash di dalamnya senilai 278M (Q1 2021). Asumsinya seperti membeli 414M kemudian mendapat cashback 278M. Dengan menghitung kepentingan non pengendali, maka Enterprise value IGAR menjadi 313M (Rp 321/lembar saham). Ini angka nett yang kita beli.

Yield nya menjadi 56/321 = 17%.

Jika tertarik di angka sekian, maka silakan melakukan research lebih lanjut tentang saham IGAR ini.

Apa yang kurang dari saham IGAR ini?

1. Minim dividen

Jangan terlalu berharap dividen dari perusahaan ini. Meskipun rajin membagi dividen, tapi yieldnya hanya senilai 1%. Dividen tahun buku 2020 belum dibagikan, kita tunggu RUPS mendatang untuk pengumumannya.

2. Too much Cash

Hanya pendapat pribadi, kalau cash rich memang aman bagi perusahaan. Tapi terlalu banyak juga tidak saya sukai.

Dengan melihat data historis, perusahaan sepertinya tidak berencana untuk melakukan ekspansi usaha yang membutuhkan banyak dana. Tidak juga memiliki banyak utang untuk dilunasi. Lalu perlu diapakan cash dalam perusahaan?

Jika perusahaan memiliki banyak cash, namun tidak ada rencana penggunaannya. Maka lebih baik dikembalikan ke pemegang saham dalam bentuk dividen atau buyback saham.

RUPS rencananya akan diadakan tanggal 28 Juni 2021. Coba cek hasil dari RUPS tersebut, apakah perusahaan akan terus menimbun cash nya.

Cash di masa krisis memberi keamanan bagi perusahaan. Cash di masa inflasi juga adalah boomerang karena tidak dapat berkembang dan termakan inflasi juga nantinya.

Masa’ kita yang individu saja tidak ingin taruh uang di bank karena termakan inflasi, kemudian membeli perusahaan yang justru tidak mempertimbangkan faktor inflasi?

3. Tidak likuid

Bagi yang berminat pada saham IGAR, mohon diketahui dulu kalau saham ini tidak terlalu likuid. Turnover hariannya sekitar 100jtaan jika dibandingkan dengan ICBP yang turnover harian mencapai 20M. Beda market cap juga sih keduanya. Trader mungkin tidak akan menyukai jenis saham ini.

Kalau investor justru peluang untuk mengakumulasi saham sebelum ditemukan oleh smart money.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : review saham PBID.

Leave a Reply