Review Saham : DLTA, Produsen Bir Milik Pemda DKI

saham DLTA

Kalau bicara soal saham bir, sepertinya hanya ada 2 besar emiten di BEI. Mereka adalah MLBI (Multi Bintang) dan DLTA (Delta Djakarta). Lalu setelah screening sedikit, ternyata lebih menarik DLTA.

Yuk mari dibahas lebih lanjut.

Disclaimer : Ini bukan rekomendasi saham. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Do your own research before you buy/sell.

Kenalan dengan saham DLTA

PT Delta Djakarta sudah berdiri sejak 1932, berarti sebelum Indonesia merdeka. Hingga tahun 1984, DLTA mencatatkan sahamnya dalam BEI (dulunya BEJ).

Pemegang saham DLTA adalah sebagai berikut:

Sumber : Laporan Tahunan Perusahaan

San Miguel Malaysia adalah pemegang saham terbesar dengan 58.33% merupakan anak usaha dari San Miguel Corporation asal Filipina. Mereka sudah memiliki saham DLTA sejak tahun 1990. Bahkan jajaran direksi dan komisarisnya sebagian berasal dari perwakilan San Miguel Group.

Sementara Pemda DKI Jakarta memegang 26.25% kepemilikan dari perusahaan. Sisanya 15.42% dipegang oleh publik.

Jadi, 84.58% (mayoritas) dipegang oleh 2 institusi yang tidak akan mudah melepaskan kepemilikian saham hanya untuk profit taking. Jika mayoritas kepemilikan dipegang oleh publik, ada kemungkinan harga saham akan sangat berfluktuasi.

Produk DLTA

produk saham DLTA
Nama ProdukKeterangan
Anker BirProduk unggulan perusahaan sejak 1932
Anker StoutBir hitam
Anker LycheeBir rendah alkohol rasa leci
CarlsbergDiproduksi di bawah lisensi Carlsberg, salah satu merek bir terkenal di dunia
San Miguel Pale PilsenMerek bir tertua di Asia Tenggara, diproduksi di bawah lisensi San Miguel
San Mig LightBir kalori rendah
San Miguel Cerveza NegraBir hitam kental. Bisa diekspor ke Thailand dan Vietnam.
Kuda PutihBir ekonomis di Indonesia
BataviaUntuk ekspor ke Taiwan

Kompetitornya DLTA siapa? Jelas Multi Bintang Indonesia (MLBI) yang punya produk Bir Bintang, Heineken hingga Green Sands. Juga ada Bali Hai Brewery Indonesia dengan produknya, Bali Hai. Mereka pemegang sebagian besar market share di Indonesia.

Untungnya pemain di industri bir Indonesia hanya sedikit. Dan DLTA termasuk produsen yang sudah lama berdiri dan punya nama di pasar. Butuh usaha ekstra untuk pemain baru masuk ke pasar bir Indonesia.

Kinerja DLTA

1. Laba rugi

Mulai dari Sales, penjualan perusahaan memang bukan tipe yang konsisten naik. Ada masa penjualan turun karena regulasi pemerintah dan cukai yang naik. Hal ini juga terjadi di penjualan MLBI.

Sales saham DLTA 2008-2019

Kalau dihitung dari 2008-2019, penjualan meningkat dari 674M menjadi 827M (naik 153M dalam 11 tahun, atau CAGR 2%) bukan hal yang impresif. Artinya, perusahaan bir memang tidak bisa berkembang signifikan dari tahun ke tahun. Mereka tipikal yang slow growth.

Tapi coba kita cek gross profit-nya.

Kita ambil data 3 tahun terakhir saja ya. Karena kalau makin panjang, gambarnya makin kecil dan ga kelihatan.

Asli, COGS produsen bir itu cukup minim. Gross profit nya bisa capai sekitar 70%, which is profitable.

Jadi kalaupun sales mereka stagnan atau slow growth, mereka tetap profit tahun ke tahun.

Lalu gimana dengan Net Profit?

net profit DLTA
Sumber : Stockbit

Net profit-nya secara konsisten selalu meningkat. Kecuali tahun 2015 adalah tahun pertama dimana regulasi pemerintah melarang penjualan alkohol di minimarket. Jadi ya drop gitu penjualan dan labanya. Tapi mereka recovery di tahun-tahun berikutnya.

Net Income Margin perusahaan pun masih tebal, sekitar 33%-38%/tahun.

Gimana dengan tahun 2020? Tidak usah ditanya lagi. Pasti turun.

Apa yang bisa diharapkan oleh produsen bir jika pandemi masih ada? Restoran, bar, dan sejenisnya mana ada yang bisa buka hingga malam. Jadi mana ada juga yang minum bir. Tujuan wisata juga sepi dari wisatawan. Padahal bir dikonsumsi jika ada liburan atau acara.

Jadi jangan harapkan melihat pertumbuhan di laba rugi perusahaan tahun ini. Their focus should be to survive rather than to grow.

Penjualan mereka 349M (Q3 2020) berbanding 606M (Q3 2019), turun 42.4%.

Net income 74M (Q3 2020) berbanding 221M (Q3 2019), turun 66.5%.

Meskipun turun, namun perusahaan masih profit. Itu adalah hal yang positif. Net income margin berkurang menjadi 20.2% karena beban usaha mereka hanya hampir sama dengan tahun lalu.

Per Q3 2020, ROA dan ROE DLTA berada di 6% dan 7%. Turun jauh dari rata-rata tahun sebelumnya, ROA 22% dan ROE 26%.

Saya pikir ini bisa jadi kesempatan. Nanti akan dibahas di kesimpulan.

Next, kita lihat ke Balance Sheet mereka.

2. Balance Sheet

Garis besarnya, total asset dan total equity mereka selalu konsisten naik selama 10 tahun terakhir dengan CAGR sekitar 8%-9%. Hanya ada beberapa hal yang menarik dari balance sheet DLTA.

Cash

Cash rich memang bagus. Current account jadi besar akan menghasilkan current ratio dan quick ratio yang tinggi. Tapi terlalu banyak juga tidak baik (hanya pendapat pribadi).

Cash DLTA ada 844M di tahun 2019 atau setara 65% dari total aset lancar. Current ratio juga berada di posisi 8x, yang artinya aset lancar 8x lipat lebih besar dari pada kewajiban lancarnya.

Kalau memang tidak direncanakan untuk ekspansi atau lainnya, maka akan lebih berguna juga DLTA buyback saham atau membagi dividen ke shareholders.

Namun di sisi lain, cash rich ini juga keuntungan bagi perusahaan selama masa pandemi. Walaupun perusahaan terdampak parah oleh pandemi ini, namun mereka bisa survive hingga saat ini. Cash perusahaan tidak terganggu, hanya menurun dari 844M (Q4 2019) menjadi 651M (Q3 2020).

Debt

DLTA is debt-free company. Jarang memang menemukan perusahaan yang tidak memiliki hutang berbunga. Untuk apa berhutang kalau cash mereka saja sudah amat banyak.

Tidak ada debt, artinya mengurangi beban bunga pinjaman juga. Sehingga tidak menambah beban perusahaan di masa sepi penjualan.

Inventory

Bagi yang menghitung days to sell inventory DLTA mungkin hasilnya akan jelek. Sepanjang tahun 2019, days inventory perusahaan cukup panjang yaitu 323 hari (11 bulan).

Kebayang kan umur bir yang biasanya bertahan 6-9 bulan, apa tidak rusak?

Ternyata ini karena inventory perusahaan juga berisi material packaging dan containers. Nyatanya, yang bahan baku dan barang jadi bir hanya 10% dari total inventory.

Jika hanya menghitung bahan baku hingga barang jadi bir saja, days inventory bisa memendek menjadi sekitar 38 hari (1 bulan).

Piutang usaha

Ini mungkin salah satu kelemahan DLTA. Kebijakan piutang yang melonggar. Selama 3 tahun terakhir, A/R perusahaan meningkat 35% padahal penjualan hanya naik 6% di periode yang sama.

A/R >120 hari pun menumpuk dari tahun ke tahun menjadi 21M dari total A/R 216M (gross) pada akhir tahun 2019.

3. Cash flow

Cash flow operasional DLTA cukup simpel. Uang yang diterima hampir 50% dibayarkan untuk cukai dan pajak, sisanya untuk supplier dan karyawan. Setiap tahun cash flow operasional perusahaan selalu positif.

Investing cash flow setiap tahun hanya terpakai sekitar 10-20M untuk perolehan aset tetap, kebanyakan untuk mesin dan equipment.

Sementara financing cash flow yang cukup besar setiap tahun, dipakai untuk membayar dividen.

Dividen Saham DLTA

Jika dilihat 5 tahun terakhir, cash in DLTA yang berasal dari net income sebagian besar dipakai untuk pembagian dividen, menambah porsi cash dan sedikit capex di aset tetap.

Untuk yang cari saham dividen, DLTA boleh jadi salah satu alternatif nih. DPR mereka setiap tahun selalu >50% dari net income.

Kita coba hitung. Jika menggunakan dividen tahun 2020, senilai Rp 390/lembar. Dan harga saham per 03/02/2021 Rp 3.800. Maka dividend yield sebesar 10.26%. Lumayan untuk harga saat ini.

Untuk tahun buku 2020, mungkin perusahaan akan mengurangi nilai dividen karena net income pun berkurang. Tapi bisa disimpan untuk beberapa tahun ke depan setelah pandemi berakhir dan operasional sudah pulih kembali.

Valuasi saham DLTA

PER 3Y rata-rata ada di 15.79. Kalau pakai EPS tahun 2019, yakni Rp 397, maka harga sahamnya sekitar Rp 6.200. Sementara sekarang ada di harga Rp 3.800 (03/02/2021).

PBV 3Y rata-rata ada di 3.23x. Dengan BV tahun 2019, di Rp 1.500, maka estimasi harga saham di Rp 4.800.

Jika menggunakan EPS dan BV tahun 2020, maka kita akan melihat DLTA kemahalan. Kita tidak bisa mengukur kinerja mereka tahun 2020 karena pandemi berada di luar kontrol management.

Ada potensi naik, tapi berapa valuasi pasti dan MOS nya saya kembali ke pribadi masing-masing dalam menghitungnya.

Kesimpulan

Perusahaan bagus, management bagus. Margin tinggi membuat DLTA perusahaan yang profitable. Bukan hanya DLTA, sepertinya semua perusahaan bir punya margin yang tebal.

Tidak terlalu banyak saingan dalam industri bir. Top 3 hanya MLBI, DLTA dan Bali Hai. Tapi pasar juga tidak terlalu berkembang. Indonesia bukan negara yang mengkonsumsi bir secara reguler.

Kecuali wisata Indonesia berkembang sehingga mengundang banyak turis datang dan tempat wisata semakin banyak. Industri bir memang berbanding lurus dengan pariwisata.

Beban berat muncul jika melihat cukai minuman alkohol. Hampir sama seperti rokok, pemerintah selalu menaikkan cukai alkohol. Belum lagi ada rencana RUU larangan minuman alkohol (belum diputuskan memang). Ini adalah tantangan yang harus dihadapi industri bir.

Tapi kalau mau membeli kepemilikan saham DLTA, lebih baik di saat harga masih terpuruk.

Yang pasti, operasional perusahaan baru bisa pulih setelah pandemi covid berlalu. Jadi tidak bisa mengharapkan pergerakan yang cepat dari saham ini.

Selanjutnya silakan lakukan research sendiri ya.

Baca juga : Analisa ADES, MTDL atau PWON.

Menurutmu post ini bermanfaat? Boleh bantu untuk share post ini. Terima kasih.

Leave a Reply